
Di sinilah Jevan dan Ara berada. Tengah berjalan dengan tergesa, ke arah UGD salah satu rumah sakit, dengan saling bergandengan tangan. Sesampainya di UGD, sudah ada beberapa polisi dan ada beberapa karyawan kepercayaan Jevan tengah berbincang di sana.
“Kamu mau ke dalam dulu?” tanya Jevan kepada Ara yang terlihat sudah tidak sabar ingin melihat keadaan Sarah.
“Mau,” jawab Ara singkat.
“Sendiri berani?” tanya Jevan memastikan yang dijawab anggukan oleh Ara. “Yaudah, sana masuk. Sebentar lagi aku nyusul.”
Ara mengangguk dan segera berjalan masuk ke dalam UGD sendirian. Sementara Jevan masih harus berbincang dengan beberapa karyawannya dan polisi yang ada di sana.
Ara berjalan masuk dan mencari keberadaan Sarah. Lalu, diujung ruangan, Ara bisa melihat Sarah yang berdiri dengan membawa selang infusnya tengah melihat ke arah salah satu bilik.
Gadis itu berjalan cepat, dan menyentuh pelan bahu Sarah yang membuat gadis itu menoleh.
“Mbak Sarah nggak apa-apa?” tanya Ara yang membuat Sarah menangis dan memeluknya.
Ara melihat ke dalam bilik. Nicol tengah terbaring di sana dengan kaki dan tangan yang diperban, serta luka lecet di wajahnya. Sekilas Ara melihat, keadaan Nicol jauh lebih parah dari Sarah yang sudah bisa berdiri sendiri.
“Pak Nicol nyelematin aku, Ra. Dia belum bangun. Aku takut dia kenapa-napa,” ujar Sarah sambil di sela-sela tangisnya.
Ara hanya bisa mengusap lembut punggung gadis itu. “Mas Nicol pasti baik-baik aja, Mbak. Dia kuat.”
Sarah terus menangis dalam pelukan Ara, sampai Jevan tiba di samping mereka. Jevan memeriksa kondisi Nicol yang tampak kacau itu. Dia beralih melihat ke arah Sarah yang tampak syok. Lelaki itu hanya bisa mengembuskan napasnya pelan.
“Sarah, lebih baik kamu kembali ke ranjang kamu dulu. Keadaan kamu juga masih tidak baik,” kata Jevan yang membuat Sarah melepaskan diri dari pelukan Ara.
Ara mengangguk begitu Sarah menatapnya. Gadis itu hendak membantu Sarah kembali ke ranjangnya, tapi terhenti ketika orangtua Nicol datang dengan tergesa-gesa.
“Jevan, bagaimana keadaan Nicol?” tanya papa Nicol kepada Jevan, sedangkan mama Jevan langsung mengecek keadaan sang anak dengan berlinang air mata.
“Tanah longsor di Bandung, Om. Saat itu hujan, dan mobil yang membawa Nicol lewat. Sopir sudah berusaha menghindar, tapi semuanya tetap terjadi, Om,” jelas Jevan.
Papa Nicol tampak mengembuskan napas kasar, dan melihat keadaan sang anak yang tidak baik itu.
“Nicol sendirian di dalam mobil, Je?” tanya papa Nicol lagi.
“Ada sekretaris saya, Om. Dia juga terluka,” jawab Jevan sambil menunjuk Sarah di belakang papa Nicol.
Mendengar itu, mama Nicol langsung menoleh ke arah Sarah, yang membuat gadis itu menunduk takut.
Mama Nicol menghapus air matanya, dan berjalan dengan langkah lebarnya ke arah Sarah, dan langsung menampar pipi gadis itu hingga membuatnya jatuh karena tubuhnya yang masih terasa lemas.
Ara menjerit karena terkejut. Gadis itu segera membantu Sarah berdiri. Sedangkan Jevan menatap mama Nicol terkejut. Ada apa itu? Dia mengenal orangtua Nicol. Mereka orang berpendidikan. Bagaimana bisa langsung menampar orang tanpa alasan begitu?
“Ini semua pasti gara-gara kamu!” teriaknya keras kepada Sarah yang sudah menangis dalam rangkulan Ara.
“Jika Nicol bersama kamu, dia pasti akan mengalami hal buruk! Kamu sama saja dengan orangtua kamu!” Mama Nicol yang terlihat anggun, sudah tidak peduli lagi dengan pandangan orang. Dia melampiaskan amarahnya kepada Sarah.
Ara terkejut mendengarnya. Dia mengeratkan rangkulannya di bahu Sarah. Matanya memandang Jevan meminta pertolongan.
Jevan mengembuskan napasnya pelan, dan berjalan ke arah Sarah dan Ara, menyembunyikan kedua gadis itu di punggungnya.
“Tante, sebenarnya ini apa?” tanya Jevan kepada mama Nicol yang tampak marah itu.
“Minggir Jevan! Ini bukan urusan kamu! Semuanya salah gadis itu dan orangtuanya! Mereka memang tidak tahu terima kasih!”
Melihat suasana yang tidak lagi kondusif, Jevan menoleh ke arah Ara yang sudah ingin menangis. “Ara, kamu bawa Sarah untuk istirahat, ya,” ujarnya yang langsung diangguki oleh gadis itu.
“Tante, ini memang bukan urusan Jevan. Tapi, kita bisa menyelesaikannya tanpa harus melakukan kekerasa. Dia sekretaris Jevan, Tante. Lagi pula, Nicol belum bangun, Tan.”
Perkataan Jevan membuat mama Nicol mengembuskan napasnya pelan, dan kembali ke ranjang Nicol, memilih duduk di samping ranjang sang anak. Jevan diam melihat orangtua sahabatnya itu. Di saat mama Nicol tampak marah dan menggebu-gebu, papa Nicol malah tampak tidak bisa berbuat apa pun.
Ada apa ini? Nicol memang bercerita masalahnya kepada dirinya, tapi dalam cerita tersebut, lelaki itu tidak bercerita mengenai orangtuanya sedikit pun. Mungkinkah ada sesuatu yang dia lewatkan?
Ringisan pelan yang berasal dari Nicol, membuat semua menoleh ke ranjang. Nicol mengerjab pelan dengan ringisan yang keluar dari mulutnya.
“Nicol, kamu sudah sadar, sayang?” tanya mama Nicol sambil berdiri dan menatap sang anak dengan senyum merekah.
“Ma...” Nicol mencoba memulihkan pandangannya. Dia menatap satu persatu orang yang mengelilinya. Orangtuanya, dan Jevan.
“Kamu mau sesuatu, sayang?”
“Sarah.”
Perkataan bernada pelan yang keluar dari mulut Nicol, membuat orangtuanya saling berpandangan, sementara Jevan hanya diam.
“Je, Sarah di mana? Dia nggak apa-apa, kan?” tanya Nicol kepada Jevan saat orangtuanya tidak menjawab pertanyaannya.
Jevan mengangguk. “Ara lagi temani dia sekarang. Lo tenang aja. Istirahat aja biar cepat pulih.”
“Sampai kapan kamu mau memedulikan gadis itu, Nic? Mama udah bilang berkali-kali, jauhi dia. Dia nggak pantas buat kamu,” ujar sang mama kesal.
“Ma, please. Aku nggak bisa kalau disuruh debat Mama sekarang,” jawab Nicol lemah.
Jevan memandang ketiganya dengan bingung. Sebenarnya ada apa? Saat pandangan matanya bertemu dengan pandangan Nicol, sahabatnya itu hanya bisa membuang muka ke arah lain.
Baiklah. Mungkin saja, Nicol masih belum mau bercerita tentang masalahnya kepada Jevan.
***
Saat ini Ara dan Jevan tengah dalam perjalanan pulang ke rumah mereka. Sarah menginap di rumah sakit, ditemani dengan beberapa karyawan kepercayaan Jevan yang memang dia suruh untuk menjaga Sarah.
Jevan menoleh ke arah Ara yang lebih banyak diam sedari tadi. Tangan Jevan menggenggam tangan Ara yang berada di atas pangkuan gadis itu, yang akhirnya membuat Ara menoleh.
“Kenapa?” tanya Jevan dengan lembutnya.
Ara tersenyum tipis dan menggeleng, tangannya balik menggenggam tangan Jevan.
Jevan mempererat genggaman tangan mereka. “Kenapa? Kamu lebih banyak diam. Cerita sama aku.”
Ara memilih menyandar ke lengan Jevan. “Aku kepikiran Mbak Sarah.”
“Kenapa sama Sarah?” tanya Jevan sambil mengusap lembut kepala istrinya itu.
“Kasihan. Mbak Sarah jauh dari keluarganya. Apalagi, kalau ingat perlakuan mamanya Mas Nicol tadi. Aku aja takut, gimana Mbak Sarah?”
Jevan mengembuskan napasnya pelan. “Aku juga sebenarnya nggak nyangka kalau mamanya Nicol bisa gitu. Dari kecil aku kenal beliau, nggak pernah sekali pun aku lihat beliau semarah tadi. Apalagi sampai mukul. Aku juga kaget.”
“Katanya kamu tahu permasalahan mereka.”
“Ya. Nicol memang cerita. Tapi, dia sama sekali nggak cerita masalah orangtuanya. Kalau ini, aku beneran nggak paham, Ara.”
“Em... gimana kalau setelah Mbak Sarah keluar dari rumah sakit, dia tinggal di rumah orangtua kamu untuk sementara waktu? Sampai dia benar-benar sembuh, dan bisa kerja kayak biasa lagi.”
“Boleh. Nanti aku bicarakan ke Ayah sama Ibu.”
“Beneran, Je?” tanya Ara sambil mendongak menatap Jevan dengan mata berbinar.
Jevan mengangguk dan tersenyum. Dia mengecup pelan bibir istrinya itu. “Kamu lapar?” Sesaat setelah Jevan menjauhkan bibirnya dari bibir Ara, lelaki itu mengernyitkan kening ketika mendengar suara perut berbunyi. “Perut kamu?”
Ara menyengir lebar dan mengangguk. Jevan tertawa melihatnya. Dia mengusap perut Ara lembut.
“Lapar ya, sayang? Maaf ya, tadi nggak jadi makan. Sekarang, anak papa mau makan apa?”
Ara tertawa. “Mau ayam bakar.”
“Siap. Kita meluncur ke restoran ayam bakar,” ujar Jevan sambil meraih Ara ke dalam pelukannya. “Pak, cari restoran yang jual ayam bakar, ya,” kata Jevan kepada sopirnya.
“Je.”
“Hmm,”
“Makasih untuk semuanya.”
Jevan mengecup kepala Ara. “Aku yang seharusnya berterima kasih, Ara. Terima kasih sudah tetap berada di sampingku.”
Ara mengambil tangan Jevan dan mengecupnya. “Kalau nanti anak kita lahir, dan badan aku nggak sekurus dulu. Kamu nggak akan tinggalin aku, kan?”
Jevan tertawa mendengarnya. “Kenapa aku harus meninggalkan kamu?”
“Karena masih banyak wanita cantik dan sexy di luaran sana.”
“Kalau aku ninggalin kamu, itu artinya aku juga ninggalin anak kita. Dan itu aku akan jadi orang terbodoh jika melakukan itu.”
“Janji jangan tinggalin aku?”
“Janji, sayang.”
“Kalau kamu udah mulai nggak sayang, atau udah mulai bosan, bilang aku, ya. Jangan diam-diam pergi.”
“Nggak akan, sayang. Jangan bilang gitulah. Lebih baik, sekarang kamu pikir kandungan kamu. Dan jangan banyak pikiran, supaya anak kita sehat. Aku nggak akan ke mana-mana. Aku di sini sama kamu,” ujar Jevan sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Ara.
Sedangkan Ara hanya bisa mengangguk dan menyandar dengan nyaman di pelukan Jevan. Semoga saja Jevan bisa memegang perkataannya, dan semoga saja ini menjadi awal kebahagiannya dengan Jevan dan anak dalam kandungannya saat ini.
Halo! Author sangat berterima kasih karena kalian telah mengikuti cerita ini hingga selesai. Terima kasih atas dukungannya dan terima kasih atas like serta komennya^^ Jangan lupa untuk baca The Master of Arcana juga ya!!