
Setelah mengambil beberapa berkas, Sarah kembali ke meja kerjanya. Beberapa menit usai dia menekuni berkas di depannya, Sarah berhenti dan memilih mengeluarkan jajanan dari kolong mejanya, beserta minumannya juga.
“Gue heran sama mereka, sampai segitunya ngatain orang. Nggak mikir apa, ya, kalau orang yang mereka katain itu punya hati. Bisa ngerasain sakit hati. Seenak mulut ngataian orang jual diri,” gumamnya sambil terus memasukkan jajanan ke dalam mulut.
Pada saat yang sama, Jevan keluar dari ruangannya, hendak meminta laporan kepada Sarah, tapi terhenti ketika melihat sekretarisnya itu malah asyik ngemil dan berbicara sendiri. Sarah sendiri tidak tahu menyadari keberadaan Jevan, karena Jevan tidak perlu membuka pintu yang sudah terbuka sejak tadi.
Lelaki itu hendak menegur Sarah, tapi terhenti ketika mendengar gadis itu menyebut nama Ara.
“Arana juga gitu. Kok bisa dia diam aja? Kalau gue yang jadi Ara, udah gue robek itu mulutnya mereka. Enak aja ngatain jual diri. Mereka nggak tahu aja siapa Ara—”
“Siapa yang mengatakan itu?!”
Sarah terperanjat di tempat dia duduk. Gadis itu bahkan sampai tersedak jajanan yang tengah dia kunyah. Buru-buru dia berdiri dan menatap takut kepada Jevan yang sudah berdiri di sampingnya.
Mata lelaki itu tampak marah. Pandangannya tajam seakan menembus tubuh Sarah.
“Saya tanya, Sarah. Siapa yang mengatakan kalau Ara menjual diri?” tanya Jevan lagi.
Dia tidak terima dengan apa yang baru saja dia dengar. Siapa orang bodoh yang dengan beraninya mengatakan hal kotor itu kepada Ara-nya? Mereka mungkin belum tahu, siapa yang akan mereka hadapi jika mereka mengusik atau menyentuh gadis itu.
Sarah memandang takut kepada Jevan yang terlihat menyeramkan di depannya ini. “Itu, Pak, tadi saya tidak sengaja mendengar ada beberapa karyawan yang menggunjingkan Arana. Dia diam saja, Pak. Jadi, terpaksa saya bilang ke mereka, kalau mereka terus begitu, saya akan lapor ke Bapak, dan memecat mereka.”
Jevan mengembuskan napas kasar. “Kamu ikut saya!” titahnya sambil berjalan ke arah lift.
Sarah tidak perlu bertanya lagi. Dia langsung mengikuti langkah Jevan di belakang lelaki itu. Di dalam lift, rasa penasaran Sarah semakin kuat, hingga gadis itu pun memberanikan bertanya kepada Jevan.
“Kita mau ke mana, Pak?” tanyanya pelan, dan berusaha terdengar sopan.
“Membuktikan perkataan kamu,” jawab Jevan singkat.
Sarah mengerutkan keningnya heran. “Maksud Bapak apa?”
Jevan menoleh ke arah Sarah yang berdiri di belakangnya. “Kamu bilang, kamu akan lapor ke saya. Lalu, saya akan memecat mereka, kan?”
Sarah mengangguk pelan.
“Ya sudah, mari kita buktikan perkataan kamu.” Jevan tersenyum sinis, sebelum membalikkan badannya menghadap ke depan.
Mata Sarah membulat. Astaga. Dia tadi hanya sedang menggertak para karyawan itu. Bagaimana bisa Jevan menanggapinya dengan serius seperti sekarang?
“Tapi, saya cuman menggertak mereka aja, kok, Pak,” cicit Sarah pelan, tapi sayangnya Jevan tidak peduli tentang itu.
“Tunjukkan di mana ruangan mereka?” tanya Jevan ketika mereka sudah berada di lantai yang dimaksud oleh Sarah.
Sarah berjalan lebih dulu untuk menunjukkan ruangan para karyawan yang menggunjingkan Ara tadi.
“Di sini, Pak.” Sarah membukakan pintu dan mempersilakan Jevan masuk lebih dulu.
Beberapa karyawan yang sedang bekerja, heran dan terkejut melihat Jevan. Mereka semua menghentikan pekerjaan mereka dan berdiri menyambut Jevan yang tampak marah itu.
“Tunjuk yang mana saja orangnya!”
Meski begitu, perlahan tangan Sarah tergerak menunjuk beberapa karyawan yang kedapatan bergosip tadi. Totalnya ada empat orang, dan semuanya berjenis kelamin perempuan.
“Kalian lihat sendiri, kan? Empat orang yang ditunjuk oleh sekretaris saya, mulai hari ini tidak akan menjadi bagian dari JS Group lagi.” Jevan berkata dengan tegas.
Keempat perempuan itu terkejut di tempatnya, begitu pun beberapa karyawan yang berada di sana.
“Tidak bisa begitu, Pak. Apa alasannya Bapak tiba-tiba saja memecat kami? Kami bisa saja menuntut perusahaan ini ke jalur hukum,” ujar salah satu dari empat orang itu dengan berani.
Jevan tersenyum sinis. “Kamu mau menuntut perusahaan saya? Kalau begitu lakukan. Kamu pikir, kamu siapa sampai bisa melawan saya?” tanya Jevan, yang membuat Sarah menggeleng pelan. Gadis itu salah berkata seperti itu kepada Jevan. Dia sama saja dengan cari mati.
“Tapi, Pak, kami harus tahu apa kesalahan kami, sampai-sampai Pak Jevan memecat kami seperti sekarang.” Kali ini perempuan lain yang berbicara.
“Alasannya simple. Saya tidak suka dengan pegawai yang tidak profesional. Menggosip saat bekerja. Saya tidak membayar kalian untuk itu!” Jevan hendak membalikkan badan untuk berjalan kembali ke ruangannya, tapi perkataan yang dia dengar, mampu membuatnya berhenti karena marah.
Begitu pun dengan Sarah, dia cukup terkejut melihat keberanian empat karyawan tersebut.
“Berarti apa yang kami bicarakan memang benar. Bapak memecat kami karena Bapak sedang menjalin hubungan dengan gadis OG itu. Entah itu Bapak yang menjalin hubungan gelap dengan gadis itu, atau gadis itu yang menyerahkan tubuhnya kepada Bapak,” katanya dengan berani.
Jevan membalikkan badan dan tersenyum sinis menatap keempat perempuan di depannya. Tolong ingatkan Jevan, jika yang tengah dia hadapi sekarang ini adalah perempuan. Pantang baginya untuk memukul perempuan, tapi mendengar mereka bicara seakan memojokkan Ara, membuat hatinya panas dan tidak terima. Siapa mereka sampai bisa mengatai Ara begitu?
“Seperti kamu tidak tahu siapa yang sedang kamu hadapi sekarang,” ujar Jevan sambil menatap tajam kepada keempat perempuan itu.
“Buat apa kami takut? Lagi pula, kami sudah tidak bekerja di sini lagi,” kata mereka lagi.
Jevan terkekeh sinis, yang membuat bulu kuduk Sarah berdiri. Para perempuan itu salah mencari musuh. Jevan bukan orang yang mudah mereka hadapi begitu saja.
“Ya. Kalian boleh sangat percaya diri sekarang. Tapi, tolong ingat baik-baik perkataan saya. Kalian berempat tidak berhak mengatai Ara seperti itu. Kalau memang saya menjalin hubungan dengan Ara, ada masalah dengan kalian?”
Sarah terkejut di tempatnya, tidak percaya Jevan bisa mengakui itu sekarang. Di sini, di saat bisa saja mereka yang mendengar akan menyebarluaskan masalah ini.
“Hubungan gelap atau menjual diri, bukankah itu menjadi urusan kami? Asal kalian tahu, Ara jauh lebih baik dari kalian berempat. Dia gadis baik yang tidak pantas kalian gunjingkan seperti tadi.” Jevan kembali terkekeh meremehkan. “Sarah,” panggilnya.
“Iya, Pak,” jawab Sarah segera. Dia tidak mau terkena dampak amarah Jevan. Lelaki itu sangat menyeramkan sekarang. Matanya memandang lurus kepada empat perempuan yang sepertinya belum mengenal dirinya dengan baik itu.
“Kamu harus pastikan kalau empat perempuan ini akan bekerja di klub malam setelah keluar dari JS Group. Menawarkan tubuhnya kepada para lelaki yang datang, lalu dibayar. Karena saya juga akan memastikan bahwa setelah mereka angkat kaki dari perusahaan, tidak akan ada lagi perusahaan yang akan menerima mereka,” ujarnya santai, yang membuat keempat perempuan itu terkejut.
“Kamu mendengar saya kan, Sarah?” tanya Jevan lagi.
“Iya, Pak,” jawab Sarah cepat sambil mengangguk.
Jevan menatap raut wajah ketakutan empat perempuan itu, lalu membalikkan badan dan kembali berjalan ke ruangannya.
“Oh, satu lagi.” Jevan berkata lagi, saat dirinya hendak melangkah. “Siapa pun yang membantu mereka berempat, maka nasibnya akan sama dengan mereka.”
Sarah meringis pelan. Apa yang tadi dia bilang? Mereka berempat salah mencari musuh. Jevan dilawan—tentu saja orang yang melawannya tidak akan memperoleh apa pun selain kekalahan.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-