Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 76



“Untungnya dia datang, pas Ara udah jam pulang. Jadi, Ara nggak lihat kalau Natasya datang. Tapi, si Natasya lihat pas Ara mau pulang.”


Jevan mengembuskan napas lega mendengarnya. Setidaknya Ara belum tahu mengenai kemunculan perempuan itu.


“Seenggaknya Ara belum lihat Natasya. Dia bilang apa aja sama lo? Atau dia tanya-tanya tentang gue dan Ara?”


Nicol menggeleng. “Justru itu yang gue rasa agak nggak wajar. Setiap gue ketemu sama Natasya, dia selalu tanya lo dan Ara. Tapi, waktu kemarin dia datang, dia malah sama sekali nggak membahas masalah lo dan Ara. Aneh, kan?”


Jevan terlihat berpikir setelah mendengar perkataan yang keluar dari mulut Nicol. “Lo menduga kalau Natasya mau berbuat sesuatu ke Ara?” tanyanya memastikan.


Nicol memandang Jevan lurus, sebelum kemudian dia mengangguk, yang membuat Jevan mengumpat.


“Itu cuman dugaan gue, Je,” ujar Nicol ketika melihat Jevan yang tampak marah.


“Gue udah bilang sama lo. Segera urus dia, dan buat dia nggak ganggu gue sama Ara lagi!”


“Nggak gampang, Je. Gue udah coba ngomong sama orang dalam di agensi-nya dia. Nggak gampang mengeluarkan artis tanpa sebab, kecuali kalau masa kontrak mereka udah habis, atau ada skandal besar yang dilakukan sang artis.”


“Skandal besar? Bukannya itu lebih gampang?”


“Je, masalahnya agensi-nya Natasya, nggak suka sama skandal yang sengaja dibuat. Mereka nggak suka memanipulasi.” Nicol mencoba menjelaskan. “Sebesar apa pun, uang yang mereka terima.” Lanjutnya ketika melihat Jevan hendak kembali berbicara.


Jevan mendengus, dan menyadarkan tubuhnya dengan kasar. “Gue harus gimana?” tanyanya sedikit frustasi.


“Jagain aja Ara, dan pastikan dia aman. Kalau pas Ara di kedai, gue bisa menjamin itu. Tapi, kalau udah di luar kedai, gue nggak bisa bantu lo.”


***


Sore ini, jam kerja Ara sudah berakhir. Gadis itu sudah bersiap untuk pulang ke rumah orangtua Jevan. Berbicara mengenai lelaki itu, Jevan bilang mereka akan pulang bersama. Maksudnya Jevan akan mengantar Ara ke rumah orangtuanya.


“Ra, mau pulang?” tanya Nicol sambil menghampiri Ara.


“Iya, Mas,” jawab Ara sambil tersenyum ramah.


“Pulang naik apa?”


“Sama Jevan, Mas.”


“Oh, gitu, yaudah hati-hati.”


“Iya, aku duluan, Mas.” Gadis itu berjalan keluar kedai, dan menyebrangi jalan untuk sampai di depan kantor Jevan.


Beberapa menit menunggu, tapi Jevan belum juga terlihat. Padahal banyak karyawannya yang sudah pulang, karena memang sudah jamnya pulang. Ara melihat ponselnya, tidak ada pesan atau telepon dari Jevan.


“Mungkin turunnya nunggu sepi dulu, ya,” gumamnya kepada dirinya sendiri.


Namun, setelah menunggu hampir lima belas menit. Ara akhirnya memilih menelepon Jevan, hingga beberapa kali Ara mencoba, lelaki itu tidak mengangkat panggilannya.


Ara memilih menghubungi Sarah, dan gadis itu sangat bersyukur, karena Sarah langsung mengangkat panggilannya.


“Mbak Sarah sama Jevan? Aku-”


“Ara.”


“Jevan?” tanyanya memastikan.


“Iya, ini aku.”


“Aku udah di depan kantor kamu, Je.”


“Maaf, aku lupa kasih tahu kamu. Aku ada rapat mendadak. Kamu pulang sendiri nggak apa-apa? Naik taksi aja, jangan naik angkot.”


“Oh, gitu. Iya nggak apa-apa aku pulang sendiri.”


“Nggak marah, kan?”


“Maaf sayang.”


Senyuman gadis itu semakin melebar mendengar panggilan sayang dari Jevan. “Yaudah nggak apa-apa, aku bercanda, kok. Aku pulang sekarang, ya.”


“Naik taksi, ya. Jangan angkot. Selesai rapat, aku susul kamu ke rumah Ayah.”


“Iya.”


“Hati-hati. Kalau ada apa-apa, hubungi nomor Sarah aja, ya. Hp ku ketinggalan di ruanganku.”


“Iya.”


Ara mematikan sambungan telepon-nya. Gadis itu memberhatikan taksi sesuai dengan permintaan lelaki itu tadi. Ara berhenti di jalan besar yang menjual aneka jajanan, tidak jauh dari rumah orangtua Jevan.


Dia ingin membeli es buah. Seharian bekerja dan mencium bau kopi, rasanya Ara ingin merasakan sesuatu yang segar. Jadi, pilihannya jatuh pada es buah.


Gadis itu membeli empat buah. Untuknya, untuk orangtua Jevan, dan untuk lelaki itu sendiri. Tadi, dia berkata akan menyusulnya bukan?


Setelah selesai membeli, Ara berjalan kaki menuju rumah orangtua Jevan. Saat hendak menyebrang jalan, tiba-tiba saja sebuah motor dengan kecepatan tinggi melaju, hampir saja Ara terserempet jika tangannya tidak ditarik oleh bapak-bapak pedagang mainannya di belakangnya.


Ara terjatuh. Es buah yang dibelinya berceceran di jalan. Gadis itu menoleh ke arah bapak-bapak yang menariknya tadi, dia juga terjatuh. Ara segera berdiri dan menghampiri bapak-bapak itu.


“Bapak nggak apa-apa?” tanyanya sambil membantu bapak itu berdiri dengan pedagang lainnya.


“Nggak apa-apa. Kamu nggak apa-apa?”


Ara mengangguk. “Makasih ya, Pak.”


“Hati-hati lain kali. Di sini yang bawa motor, suka pada ngebut-ngebutan.”


Ara mengangguk. “Sekali lagi terima kasih, Pak. Saya pamit pulang dulu.”


Sesampainya di rumah orangtua Jevan. Ara masuk ke dalam, dan menghampiri orangtua Jevan yang tengah berada di ruang tengah.


“Tante, Om,” sapanya.


“Baru pulang, Ra?” balas ayah Jevan.


“Iya, Om.”


“Tangan kamu kenapa?” tanya ibu Jevan.


Ara segera melihat tangannya. Tangan kanannya tidak apa-apa, lalu berganti pada tangan kirinya. Sikunya yang tergore aspal, sedikit berdarah.


“Tadi jatuh keserempet motor,” jawabnya sambil meringis pelan.


Namun, sepertinya Ara harus menjelaskan dengan detail. Karena sekarang orangtua Jevan berjalan ke arahnya dengan panik. Ayah Jevan langsung menelepon dokter keluarga, sementara ibu Jevan melihat lukanya dan membawanya ke sofa, dan menyuruh Ara duduk di sana.


“Tante, Om, saya nggak apa-apa. Ini cuman luka kecil. Tadi itu-”


“Udah, kamu diam aja,” sela ibu Jevan cepat. “Luka itu tetap luka. Sekecil apa pun bentuknya.” Lalu ibu Jevan beralih ke arah sang suami. “Apa Ara kita lab aja, Yah? Siapa tahu ada luka dalam di tubuhnya?”


“Boleh, Bu.”


Sedangkan Ara membulatkan matanya. Dia buru-buru berdiri dan menghampiri kedua orangtua Jevan. “Tante, Om, saya benaran nggak apa-apa. Ini saya bisa obatin sendiri, kok.”


Ibu Jevan menggeleng, dan menyuruh Ara kembali duduk. “Kamu diam aja.”


“Ayah mau telepon Jevan dulu.”


Ara semakin panik di tempat dia duduk. Dia salah bicara. Seharusnya dia mengatakannya dengan jelas. Tapi, sungguh, dia tidak tahu kalau renspon orangtua Jevan sampai seperti ini.


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-