
Sarah yang melihat tingkah bosnya itu hanya bisa mengelus dada. Untung saja Jevan memberikannya gaji besar, jika tidak, sudah dapat dipastikan jika Sarah akan mengundurkan diri.
Dia membuka pintu kedai, dan masuk. Dia berjalan ke arah Jevan yang malah berdiri dan memandang Ara tajam.
“Ngapain dia ke sini?!” tanya Jevan sambil memandang Ara tajam.
“Dia siapa?” tanya Ara tidak mengerti.
Jevan mendengus mendengarnya. “Lelaki kurang ajar tadi!”
Sarah meringis mendengarnya. Mungkin Jevan perlu berkaca. Dia bahkan lebih kurang ajar dari Sean.
“Siapa, Je?”
“Dokter itu!” sentak Jevan marah.
“Oh, Dokter Sean? Ya, dia ke sini beli kopi.”
“Sekalian kangen-kangenan sama kamu?!”
Ara memandang heran kepada Jevan. “Kamu ngomong apa, sih? Siapa juga yang kangen-kangenan sama Dokter Sean. Dia ke sini emang cuman beli kopi, kok. Kalau kamu nggak percaya, tanya aja sama Mas Nicol nanti.”
Jevan mendengus, lalu beranjak duduk di salah satu kursi di sana. “Sarah! Pesankan kopi dingin untuk saya!” teriaknya dari tempat dia duduk, yang membuat beberapa pengunjung menatap ke arahnya, tapi seperti biasa. Jevan tidak akan peduli tentang itu.
Sarah menatap ke arah Ara yang kebetulan juga menatap ke arahnya. Keduanya sama-sama meringi melihat sikap Jevan.
“Mbak Sarah mau pesan apa?”
Sarah menyebutkan pesanannya, setelah itu dia kembali ke meja yang ditempati Jevan.
“Saya boleh duduk di sini, Pak?”
Jevan menatap sinis ke arah Sarah. “Memangnya kamu mau duduk di mana lagi? Di bawah?”
Sarah hanya menampilkan cengirannya, dan duduk bersebrangan dengan Jevan.
Beberapa menit kemudian, Jevan dan Sarah sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Sarah yang sibuk memakan beberapa roti yang tersedia di meja, sedangkan Jevan malah sibuk memandangi Ara yang tengah bekerja.
Sampai pembicaraan seseorang tiba-tiba terdengar di telinganya. Dia menoleh ke meja di belakangnya. Meja yang ditempati beberapa anak sekolah, terlihat dari seragam yang mereka kenakan.
“Mbak kasirnya cantik. Ajak kenalan sana.”
Jevan mendengus mendengarnya. Apakah mereka tidak tahu jika pemilik gadis yang tengah mereka bicarakan, ada di depan mereka?
“Sekalian nomor ponselnya.”
Kali ini Jevan tersenyum sinis. Nomor ponsel? Mari berkelahi lebih dulu, dan Jevan memastikan jika mereka tidak akan selamat dari dirinya.
“Tapi, udah punya cowok belum?”
“Nggak usah peduli, lah. Yang penting ajak kenalan dulu. Siapa tahu mau.”
“Siapa, nih?”
“Lo aja duluan.”
“Yaudah, gue yang akan duluan.”
Percakapan itu begitu menggangu telinga Jevan. Saat bocah itu berdiri dari duduknya, Jevan menggebrak mejanya dengan keras, yang membuat Sarah tersedak kopi yang tengah dia seruput.
Jevan bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah bocah yang berdiri itu. “Pulang sana!”
Bocah itu menatap heran kepada Jevan. “Siapa yang disuruh pulang, Om?”
“Om?” ulang Jevan tidak percaya.
Kini semua pandangan di dalam kedai, mengarah kepada Jevan. Begitu pun dengan Nicol dan Ara yang memandang heran kepada Jevan.
“Iya, Om. Emangnya harusnya panggilnya gimana?” sahut salah satu bocah yang masih duduk di tempatnya.
Jevan tersenyum sinis. “Kalian semua pulang cepat. Kalian membuat telinga dan mata saya sakit. Cepat pulang!”
Bocah yang berdiri itu memandang Jevan aneh. Dia hendak berjalan ke arah Ara, tapi Jevan menahannya dan mendorong tubuh bocah itu hingga jatuh dan menabrak kursi, yang membuat teman-temannya terkejut.
Hal serupa dirasakan oleh Nicol, Ara, dan Sarah. Nicol bahkan sudah meninggalkan mesin pembuat kopinya, dan berjalan ke arah Jevan. Begitu pun dengan Sarah yang sudah berdiri dari duduknya.
“Apa-apaan, nih?!” teriak salah satunya dengan marah.
Jevan memandang remeh keempat bocah di depannya itu. “Mbak cantik di kasir itu, milik saya. Jadi, jangan sekali pun kalian membicarakan tentang dia, atau berusaha mendekati dia. Kalian mengerti?!” sentaknya keras.
Nicol mengembuskan napas pelan mendengarnya. Dia menoleh ke arah Ara yang tampak terkejut mendengar perkataan Jevan.
“Je, udah. Mereka masih kecil,” ujar Nicol.
“Jadi, kalian cepat pulang, sebelum saya bersikap lebih kasar dari sekarang!”
Keempat bocah itu meraih tas mereka masing-masing dan berdiri di hadapan Jevan.
“Kami akan melaporkan kerjadian ini,” kata salah satu dari mereka.
Jevan memandang mengejek ke arah mereka. “Saya akan dengan senang hati bertemu kalian lagi.”
Setelah mendengar jawaban dari Jevan. Keempatnya berjalan keluar kedai dengan perasaan marah. Nicol menghela napas melihatnya. Dia menatap ke arah Sarah, memberikan isyarat untuk mengurui keempat bocah itu, dan untung saja Sarah cepat berpikir, lalu dengan segera mengejar keempat bocah itu.
Ara diam di balik meja kasir, dan memandang kesal ke arah Jevan yang kini tengah berjalan menuju ruang pribadi Nicol yang berada di lantai dua. Sepertinya lelaki itu ingin berbicara dengan Jevan.
Di dalam ruangan, Nicol menyuruh Jevan duduk di sofa yang berada di sana. Sementara dirinya tengah berdiri sambil berkacak pinggang. Dia menatap Jevan kesal.
“Ada apa? Gue mau bawa Ara pulang sekarang!” kata Jevan sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Nicol berdecak. “Je, lo masih ingat kan ini kedai kopi milik gue. Ini usaha yang gue bangun dengan kerja keras gue.”
Jevan memandang Nicol heran. “Ya. Gue tahu. Terus maksud lo apa?”
“Dan apa yang lo lakukan tadi, bisa aja bikin usaha gue jelek di mata orang.” Nicol mencoba memberikan pengertiannya kepada sang sahabat yang sulit mengontrol emosi itu.
“Gue nggak ngapa-ngapain!” bela Jevan kepada dirinya sendiri.
Nicol terkekeh pelan, dan duduk di samping Jevan. “Ngusir pelanggan gue lo bilang nggak ngapa-ngapain?”
Jevan berdecak. “Mereka ngomongin Ara. Coba lo pikir, gimana bisa gue nggak marah? Kalau yang lagi mereka omongin itu Sarah, emang lo bisa diam aja kalau ada di posisi gue?”
Nicol mengembuskan napasnya pelan. Kenapa Jevan jadi membawa Sarah dalam masalah ini?
“Ini yang lagi kita bahas kelakuan lo tadi.”
Jevan kembali berdecak. “Gue nggak bisa lihat Ara dekat sama cowok lain. Gue nggak bisa lihat cowok lain bicarain Ara di belakang gue. Gue nggak bisa berbagi. Lo ngerti itu nggak, sih?!” Lelaki itu menyadarkan punggungnya dengan kasar ke sofa.
“Kalau emang kayak gitu, lo nikahin aja si Ara!” seru Nicol akhirnya dengan suara keras.
Jevan memandang tajam ke arah Nicol. “Gue nggak bisa, sialan!” desisnya.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-