Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 48



“Kamu yakin nggak mau belanja?” tanya Sarah memastikan.


Ara tersenyum dan menggeleng. “Kita ke sana aja, Mbak.” Lagi-lagi gadis itu berucap dengan semangat.


Sarah mengangguk dan membalas senyuman Ara. “Ya udah, kita ke sana aja.”


Keduanya mulai memasuki toko itu. Ara terlihat begitu senang melihat banyaknya kemeja, jas, dan sepatu.


Gadis itu berjalan ke arah kemeja yang terlihat mewah itu. Baru saja tangannya akan menyentuh kemeja tersebut, sebuah suara menginterupsinya.


“Jangan dipegang Mbak, itu mahal.”


Ara menarik tangannya kembali dan menatap satu pelayan toko itu dengan gugup.


“Maaf, Mbak.”


Gadis itu berbalik badan, dan mendapati Sarah memelototi pelayan toko tadi. Dengan langkah berani, Sarah berjalan menghampiri pelayan toko itu.


“Maksud kamu apa bilang gitu?!” tanyanya tidak santai.


Pelayan toko itu memandang Sarah dan Ara secara bergantian. Kemudian dia mengangguk paham.


“Ini pembantunya mau pegang-pegang kemeja, Bu. Makanya saya larang. Dia juga nggak akan mampu buat bayar.”


Ara terdiam. Gadis itu semakin menundukkan kepalanya. Kenapa semua orang menilai seseorang berdasar uang?


Sarah menggeram marah. “Nggak mampu buat bayar kamu bilang? Hei, asal kamu tahu, ya. Perempuan yang baru saja kamu katai tadi, adalah calon istri investor terbesar di tempat kamu kerja ini!”


Pelayan itu tampak terkejut, tapi sedetik kemudian dia tertawa pelan, yang membuat Sarah bertambah marah.


“Ngapain ketawa? Ada yang lucu?!”


“Ibu ini lucu. Memangnya Ibu tahu siapa investor mal ini?”


Sarah hendak menjawab, tapi Ara lebih dulu meraih lengannya. Mereka sudah menjadi pusat perhatian banyak pengunjung di toko ini.


“Mbak, udah. Aku nggak apa-apa, kok. Kita cari tempat lain aja,” bisiknya kepada Sarah.


Namun, mengalah bukanlah sifat Sarah. Gadis itu melepas pegangan tangan Ara.


“Kamu diam aja, Ra. Orang sok kaya kayak dia ini, perlu dikasih pelajaran.” Sarah memandang pelayan toko itu dengan marah. “Sekarang, panggil manajer kamu.”


“Ada apa ini?”


Seorang pria menghampiri mereka. Sarah mengingatnya. Dia pernah bertemu pria itu itu saat dirinya dan Jevan berkunjung ke mari beberapa bulan lalu. Pria itu mengenalkan diri sebagai manajer.


“Ibu Sarah,” sapanya terkejut melihat kedatangan Sarah.


“Iya. Ini saya.” Sarah tersenyum sinis melihat raut wajah pelayan toko tadi yang tampak pucat.


“Ada yang bisa saya bantu, Ibu?”


“Ya. Ada. Anda memang harus segera mengurusnya,” jawab Sarah sambil melirik ke arah pelayan tadi.


“Ada apa?” tanya manajer itu dengan bingung.


“Tolong kalau memilih karyawan, attitude didahulukan. Jangan asal pilih cuman modal tampang aja.”


Kening manajer itu bingung. “Bisa dijelaskan, Ibu Sarah, bagaimana maksud perkataan Anda?”


“Pegawai Anda sudah menghina calon istri dari Bapak Jevan Smith,” katanya dengan lancar.


Manajer itu terkejut. Dia menoleh kepada pelayannya dan memberinya tatapan peringatan, lalu kembali menoleh ke arah Sarah dan tersenyum tipis.


“Tolong maafkan pegawai saya, Bu. Dia memang masih baru di sini. Saya mempekerjakan orang bukan berdasarkan tampang saja.” Lalu dia beralih kepada Ara yang berdiri di belakang Sarah.


“Maafkan saya, Bu. Saya janji akan mengawasi karyawan saya lebih lagi. Tolong jangan laporkan masalah ini kepada Bapak Jevan. Saya mohon.”


Ara memandangnya tidak enak. Beberapa kali pria itu bahkan menunduk kepadanya.


“Nggak apa-apa, Pak. Saya nggak akan lapor ke Jevan. Bapak nggak usah minta maaf,” ujarnya.


“Terima kasih, Bu. Kalau begitu, silakan dilanjutkan belanjanya. Pelayan saya yang lain akan menemani Ibu, dan Bu Sarah. Saya permisi.” Manajer itu pergi dari hadapan Sarah dan Ara, sambil membawa pelayan yang menghina Ara tadi.


Ara mengembuskan napasnya pelan melihat itu. Gadis itu pasti akan kehilangan pekerjaannya sebentar lagi.


“Mbak Sarah sebenarnya tadi nggak usah gitu. Aku nggak apa-apa, kok, Mbak,” katanya kepada Sarah.


“Arana, kalau ada orang yang menghina kamu, kamu jangan diam aja. Seberapa tinggi derajat mereka, itu nggak bisa membuat mereka dengan mudah menghina orang lain. Udah sana, kamu pilih-pilih baju buat Pak Jevan. Aku juga mau lihat-lihat jas.”


“Buat Mas Nicol ya, Mbak?” tanya Ara dengan ekspresi menggoda.


“Bahkan apa yang aku lakukan tadi, nggak sebanding dengan apa yang udah Pak Jevan lakukan pada mantan pegawai yang udah menghina kamu, Ra,” gumamnya pelan.


***


 


 


Setelah puas berbelanja dan makan, Ara pulang saat jarum jam menunjukkan pukul delapan malam. Dia tadi sangat bersenang-senang dengan Sarah. Mempunyai teman memang semenyenangkan itu.


“Udah makan?”


Ara, yang tengah mengambil minum di kulkas, menoleh. Dia mendapati Jevan tengah duduk di salah satu kursi ruang makan sambil menatapnya.


Ara mengangguk. “Udah tadi sama Mbak Sarah. Kamu udah makan?” tanyanya balik sambil duduk di depan Jevan.


Jevan juga ikut mengangguk. “Nggak terjadi sesuatu kan, Ra?” tanyanya memastikan.


Sesaat Ara terkejut mendengar pertanyaan itu. Tapi, sedetik kemudian dia menggeleng dan tersenyum.


“Enggak, kok.” Ara hanya tidak ingin memperbesar masalah dengan menceritakan kejadian yang sebenarnya.


Jevan manggut-manggut mengerti. “Belanja apa?”


Ara tersenyum dan mengambil paper bag berisi baju yang dia beli untuk Jevan.


“Ini, buat kamu,” katanya sambil menyodorkan paper bag tersebut.


Jevan memandangnya heran. “Kamu belanja buat aku?”


Ara tersenyum dan mengangguk. “Pakai uang kamu. Tapi, yang pilih aku. Semoga suka ya, Je,” katanya dengan tulus.


Jevan meraih paper bag itu dan membukanya, lalu mengeluarkan isinya. Sebuah kemeja, jas, dan celana. Ini satu paket.


Jevan meletakkan semua itu, dan memandang ke arah Ara, yang sedari tadi masih menatapnya.


“Buat kamu mana?”


“Ha?” tanya Ara tidak mengerti.


“Baju buat kamu. Mana?” Jevan masih memandang Ara lurus.


“Aku nggak beli,” kata Ara polos.


Kini giliran Jevan yang memandang Ara tidak mengerti. “Kamu nggak beli?” tanyanya memastikan, yang dijawab Ara dengan anggukan.


“Iya.”


Jevan mengembuskan napasnya kasar, dan memandang Ara tajam. “Kamu keliling mal cuman buat beliin aku baju. Tapi, kamu sendiri nggak beli?”


Walau merasa heran, Ara tetap mengangguk. Ada apa? Memangnya ada yang salah, ya?


Jevan berdecak kesal. Dia membuang muka ke arah lain. Kenapa gadis di depannya ini begitu bodoh?


“Kenapa, Je? Kamu nggak suka, ya?” tanya Ara takut-takut.


Jevan kembali memandang Ara. “Gimana aku bisa suka, kalau kamu aja nggak beli sesuatu! Kamu itu harus buat diri kamu senang dulu, sebelum membuat orang lain senang. Ngerti nggak, sih?!” sentaknya keras, yang membuat Ara terkejut.


Gadis itu menunduk. “Maaf,” gumamnya pelan.


Jevan berdecak. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Ara duduk. Lelaki itu membawa tubuh Ara berdiri bersamanya.


“Aku nggak marah. Aku cuman kesal,” ujarnya sambil meraih wajah Ara untuk melihat wajahnya.


“Kamu suka kan, sama bajunya?”


Jevan mengecup bibir Ara cepat. “Ya. Aku suka.”


Senyuman di bibir gadis itu terbit. “Itu aku sendiri yang pilih, lho,” ujarnya dengan bangga.


Jevan tersenyum melihatnya. “Lain kali, utamakan diri kamu dulu, Ara. Baru pedulikan orang lain. Kamu paham, kan?”


Ara mengangguk.


Jevan kembali tersenyum dan menarik Ara ke dalam pelukannya. “Gimana aku nggak risau setiap kali membiarkan kamu pergi sendiri, kalau kamu memang sebaik ini, Ra. Kamu terlalu gampang dibodohi,” gumamnya pelan.


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-