Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 85



Setelah urusan dengan perempuan yang mendorongnya selesai, Ara berjalan ke arah kamar menyusul Jevan. Gadis itu membuka pintu dan melihat Jevan yang tengah berbaring di ranjang sambil menutup matanya menggunakan satu tangannya.


Ara berjalan mendekat setelah menutup pintu. Gadis itu duduk di samping Jevan. “Kamu tidur, Je?” tanyanya, namun setelah tidak mendapat jawaban dari Jevan, gadis itu kembali bertanya. “Je, kamu tidur?”


Setelah beberapa menit menunggu dan Jevan tidak memberikan jawaban, gadis itu hendak turun dari ranjang sebelum suara Jevan mengagetkannya.


“Kamu mau ke mana?”


Ara kembali menoleh ke arah Jevan yang sudah membuka matanya dan memberikannya tatapan tajam. “Aku pikir kamu tidur, makanya aku mau keluar aja, supaya nggak ganggu kamu,” ujarnya.


Jevan mendengus, dan beranjak duduk. “Sini.” Lelaki itu berucap sambil menepuk pelan sisi di sampingnya.


Ara menurut, dan duduk di samping Jevan. Setelahnya, lelaki itu malah menjatuhkan kepalanya di pangkuan Ara. Melihat itu, Ara hanya diam dan mengusap pelan rambut Jevan.


“Kamu terlalu baik, Ara,” kata Jevan sambil menatap tepat ke arah mata Ara.


Gadis itu menggeleng. “Semua orang juga baik, Je.”


“Aku nggak begitu.”


Ara tersenyum mendengarnya. “Kamu baik. Nggak kenal aku, tapi menawarkan bantuan. Kamu juga biayain pengobatan Ibu. Kamu baik, tapi kamu nggak mau di bilang gitu.”


Jevan masih diam sambil menatap ke arah Ara. “Aku ketemu sama Natasya tadi.”


Lelaki itu bisa melihat ekspresi terkejut di wajah Ara. Tapi, gadis itu berusaha menyamarkannya.


“Oh, ya? Ketemu di mana?”


“Aku datang ke apartemen-nya.”


Ara menampilkan eskpresi tidak nyaman, dan Jevan sadar akan itu. Tapi, dia harus cerita. Sebentar lagi Ara akan menjadi istrinya. Gadis itu wajib tahu apa yang dia lakukan.


“Kamu datang ke sana? Untuk apa?”


“Perempuan yang mendorong kamu, dia dihasut oleh Natasya.”


Kali ini gadis itu tidak bisa menutupi keterkejutannya. “Kenapa Mbak Natasya ngelakuin itu ke aku?”


“Dia marah sama kamu. Dia iri sama kamu.”


Ara diam. Terbesit rasa bersalah di hatinya, tapi jika dipikir kembali. Ara memang tidak merebut Jevan dari Natasya. Ara hadir, di saat keduanya sudah berpisah.


“Dia juga bilang alasan beberapa tahun lalu, dia pergi di hari menuju pernikahan kami.”


Ara menatap Jevan ingin tahu. “Apa?”


“Ayahnya punya hutang. Banyak. Dia harus lunasi itu segera. Karena malu minta ke aku, dia ambil tawaran kerja di luar negeri itu. Meski itu mendekati hari pernikahan kami.”


Ara diam, dia menunggu kelanjutan cerita Jevan. Lelaki itu terlihat terluka saat bercerita. Hal yang tidak disukai Ara. Itu seolah membuktikan Jevan masih tidak bisa melupakan masa lalunya.


“Terus, Mbak Natasya bilang apa aja sama kamu?” tanyanya pelan.


“Dia minta kami kembali seperti dulu. Dia minta agar aku meninggalkan kamu.”


Ara menatap Jevan sambil menggigit bibir bawahnya. “Dan kamu mau?”


Jevan diam, sesaat dia melihat ekspresi takut di wajah Ara. “Menurut kamu?” tanyanya balik.


Ara menghentikan usapannya di rambut Jevan. “Mau,” jawabnya singkat.


Jevan terkekeh. Dia menyentil pelan kening Ara yang tetap membuat gadis itu mengaduh. “Kenapa kamu bilang gitu?”


“Terus aku harus jawab gimana? Lagi pula, Mbak Natasya memang jauh lebih cantik dari aku. Dia kan jadi model.”


Jevan bangkit duduk. Dia menangkup kedua pipi Ara. “Kamu juga cantik, walau bukan model. Dan yang membuat aku lebih menyukai kamu dari Natasya, karena kamu penurut.” Jevan mengecup pelan bibir gadis itu sebagai penututp.


Ara tidak tersenyum, gadis itu termenung dan menunduk. Hal itu membuat Jevan mengernyit tidak suka.


“Kenapa lagi?”


“Kamu beneran akan tinggalin aku, Je?”


Jevan terperangah. “Ya, enggaklah, Ara. Mana mungkin aku tinggalin kamu. Aku tadi cuman bercanda. Aku milik kamu, Ara.”


Ara menatap Jevan ragu.


“Kalau kamu nggak percaya, tanya aja sama Nicol. Dia tadi ada di sana sama aku.”


Jevan membalas pelukan Ara lebih erat. “Seharusnya aku yang bilang itu ke kamu. Karena aku sudah menyerahkan hidupku ke kamu. Jadi, jangan pernah buat aku kecewa.”


“Aku janji,” bisik Ara.


Jevan membawa tubuh Ara jatuh ke ranjang. Lelaki itu mengubah posisi menjadi di atas. “Aku mau kamu, Ara.”


Ara tersenyum dan sebagai jawaban, gadis itu mengalungkan tangannya di leher Jevan.


***


Menjelang malam, Jevan terbangun karena suara dering ponsel yang menganggunya. Dia menoleh ke samping, di mana Ara masih tertidur dengan lelapnya. Gadis itu seolah tidak terganggu sama sekali dengan dering ponsel itu.


Jevan meraih ponsel di meja kecil di samping ranjang. Ada satu panggilan dari Sarah. Jevan segera mengangkatnya.


“Ada apa? Kamu mengganggu waktu tidur saya!” sapanya dengan kesal.


“Maaf, Pak. Saya mau tanya, Pak Nicol ada di rumah Bapak? Dari tadi siang saya telepon nggak bisa terus. Soalnya saya disuruh jagain kedainya, Pak.”


“Nicol?”


“Iya, Pak.”


“Terkahir saya bersama dia tadi di apartemen Natasya.” Jevan menjauhkan ponselnya ketika Sarah hanya diam untuk beberapa saat. “Sarah, kamu masih di sana?”


“Oh, iya, Pak. Maaf.”


“Kamu mau alamat apartemen Natasya?”


“Kalau Bapak nggak keberatan, sih.”


Jeven mendengus. “Ya sudah, sebentar lagi saya kirim alamatnya.”


“Baik, Pak. Terima kasih.”


Setelah mengirimi pesan kepada Natasya, Jevan kembali tidur sambil memeluk Ara. Rasanya sudah sangat lama dia tidak tidur sambil memeluk Ara seperti sekarang.


Sementara di lain tempat, setelah mendapatkan pesan dari Jevan, Sarah segera menutup kedai milik Nicol, lalu memesan taksi untuk menuju ke apartemen Natasya.


Gadis itu cemas. Dari siang hingga menjelang malam, Nicol tidak bisa dihubungi. Lelaki itu tadi hanya mengatakan, kalau dirinya akan menemani Jevan sebentar, tapi kenyataannya sampai sekarang tidak kunjung kembali.


Setelah menempuh waktu setengah jam, Sarah sampai di apartemen milik Natasya. Untung saja Jevan tadi juga menuliskan unit berapa Natasya tinggal, kalau tidak, dia pasti akan berlama-lama di sini.


Sarah sudah berada di depan pintu apartemen Natasya. Terbesit rasa ragu untuk menekan bel. Tapi, dia harus melakukannya. Sarah akhirnya menekan bel, tidak lama kemudian pintu terbuka dan menampilkan Nicol yang tengah bertelanjang dada.


Gadis itu terkejut sampai melangkah mundur beberapa langkah. Hal serupa juga dirasakan oleh Nicol. Lelaki itu terkejut melihat keberadaan Sarah di sini.


“Siapa, Nic? Orang yang antar makanan, ya? Kok, cepet- Loh, kamu sekretarisnya Jevan, kan?”


Sarah bertambah terkejut ketika melihat penampilan Natasya. Perempuan itu hanya mengenakan gaun tipis berwarna putih.


“Ini kunci kedainya, Pak. Saya permisi dulu.” Gadis itu menyerahkan kunci kedai ke arah Nicol, dan berjalan cepat ke arah lift.


“Sar, Sarah, tunggu.” Nicol menarik lengan Sarah. Lelaki itu tampak panik. “Ini nggak seperti yang kamu kira. Aku bisa jelasin semuanya. Kamu salah paham.”


Sarah mencoba tertawa. “Saya salah paham kenapa, Pak? Lagi pula, saya kayaknya nggak ada hak buat salah paham, deh. Bapak lanjutin aja tidurnya sama Mbak Natasya.” Gadis itu melepaskan cekalan tangan Nicol dan kembali berjalan.


“Sar, bukan itu yang terjadi.” Nicol tetap mengekor di belakang Sarah. “Ini nggak seperti yang kamu pikirkan.”


“Pak, jangan bikin keributan, malu kalau ada yang dengar.” Sarah berucap sambil menunggu di depan lift yang tak kunjung terbuka.


“Oke, saya antar kamu pulang.” Melihat Sarah yang hendak mengeluarkan suara untuk menolaknya, Nicol kembali bersuara. “Kalau kamu mau, saya anggap kamu nggak salah paham.”


Sarah hendak menolak, tapi dua orang yang tengah menunggu lift bersamanya menatap mereka penuh ingin tahu.


“Oke, saya mau diantar pulang. Tapi, nggak mungkin Pak Nicol antar saya pulang telanjang dada gitu, kan?”


“Saya akan ambil kemeja saya. Tapi, kamu janji tungguin saya.”


“Iya, saya janji.”


Walau merasa ragu, Nicol akhirnya berlari ke arah apartemen Natasya, dia meraih kunci mobil dan kemejanya, mengabaikan Natasya yang bertanya dengan heran kepadanya. Lalu, saat berada di ujung pintu, lelaki itu mengumpat kasar. Sarah sudah tidak ada di depan lift. Sial. Dia dibohongi.


***


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-