
“Apa syaratnya?” tanya Ara pelan.
Senyum kemenangan terbit di wajah Jevan. Sudahkah Jevan katakan bahwa melihat kepasrahan Ara, merupakan kesenangan tersendiri untuknya?
“Kiss me,” bisik Jevan.
Kedua mata Ara membulat. Sontak saja kedua pipinya memerah. Gadis itu melirik ke depan, tempat sopir Jevan berada. Laki-laki paruh baya itu tampak berdeham canggung setelah mendengar perkataan yang diucapkan Jevan dengan santainya.
Jevan berusaha untuk tidak menyerang Ara sekarang juga. Demi Tuhan. Melihat pipi gadis itu memerah, sungguh membuat Jevan hampir saja kehilangan kendali.
“Ara,” desis Jevan. Dia kini sudah meletakkan tabletnya dengan asal.
Ara menatap Jevan dengan malu-malu. Dengan perlahan, Ara menggeleng.
“Kamu nggak mau?” tanya Jevan sambil mempersempit jaraknya dengan Ara. Mengurung tubuh gadis itu dalam pelukannya.
“Malu. Ada Pak Sopir,” ujar Ara dengan suara pelan.
“Dia nggak akan berani melihat kita.”
Jevan semakin memajukan bibirnya ke arah bibir Ara. Dia benar-benar menahan diri untuk tidak menyerang lebih dulu. Ara yang berada di depannya ini, benar-benar membuat kesabarannya hilang.
Mata Ara melirik ke arah supir Jevan yang menatap lurus jalanan di depannya. Benarkah tidak apa-apa? Kalau Ara tidak menurut, Jevan tidak akan mengabulkan permintaannya. Akhirnya dengan wajah memerah, Ara mulai memperdekat jaraknya dengan Jevan. Sejenak Ara larut dengan ciuman lembut itu, sampai mobil yang ditumpangi mereka berhenti di pertigaan yang Ara sebutkan. Keduanya pun melepaskan diri atau lebih tepatnya, Ara yang mendorong tubuh Jevan menjauh.
“Kenapa berhenti?” tanya Jevan tidak suka.
“Maaf, Pak Jevan. Tapi ini sudah di pertigaan.”
Jevan menatap sekelilingnya. “Kenapa cepat sekali sampainya?!” Tampak sekali Jevan jengkel dengan keadaan yang baru saja dia alami.
Ara berusaha merapikan rambutnya. Jevan melirik ke arah Ara. Tangannya terulur untuk membantu merapikan rambut Ara.
“Sudah, terima kasih,” ujar Ara sambil memberikan senyuman manis kepada Jevan.
Jevan terdiam begitu melihat senyuman itu. Kenapa baru sekarang dia menyadari, kalau senyuman Ara begitu indah dan terasa meneduhkan? Jevan menggeleng, dia tidak boleh goyah.
“Sana keluar,” usir Jevan.
Ara mengangguk dan membuka pintu mobil, lalu keluar dari sana. Meninggalkan Jevan yang masih memperhatikan punggung Ara menjauh.
“Kita jalan sekarang, Pak?”
“Belum. Ara belum sampai di kantor,” ujar Jevan sambil memperhatikan tubuh Ara yang berjalan ke arah kantornya.
Beberapa menit menunggu, Jevan akhirnya menyuruh sopirnya untuk melaju setelah memastikan Ara sampai di kantor dengan selamat. Entah dimulai sejak kapan. Namun, memastikan Ara sampai di kantor dengan selamat adalah kebiasaan yang dilakukan Jevan akhir-akhir ini.
***
Siang ini, Ara tengah mengepel lantai di depan kamar mandi. Kemudian, seseorang memanggilnya.
“Arana.”
Ara menoleh dan menemukan Desi – sahabat baiknya di kantor – tengah berdiri beberapa langkah tidak jauh darinya.
“Ada apa, Des?”
“Kamu disuruh antar kopi ke Pak Jevan.”
Mata Ara membulat. Mengantar kopi untuk Jevan? Kenapa dirinya? Kenapa bukan orang lain? Selama hampir satu bulan bekerja di sini, Ara sama sekali tidak bertegur sapa atau berdekatan dengan Jevan sama sekali jika berada di kantor. Ini kali pertama Jevan memintanya mengantar kopi.
“Kenapa aku, Des? Biasanya kan Mbak Dewi yang antar,” ujar Ara bingung.
“Gue juga nggak tahu. Mbak Dewi bilang, Pak Jevan nyuruh lo yang antar.”
Ara menggigit bibirnya bawahnya bingung.
“Lo ada masalah sama Pak Jevan?”
Buru-buru Ara menggeleng. “Enggak, kok, Des. Aku nggak ada masalah apa pun sama Pak Jevan.”
“Terus, kenapa lo dipanggil ke ruangannya? Biasanya kan cuman pegawai yang bermasalah yang dipanggil,” ujar Desi.
Ara dibuat bingung dengan pertanyaan Desi. Untung saja Dewi segera memanggilnya.
“Aku masih ngepel, Mbak.”
“Biar gue aja yang terusin,” ujar Desi sambil mengambil alih tongkat pel di tangan Ara.
“Makasih ya, Des. Aku ngantar kopi dulu.”
Ara segera beranjak dan mengambil nampan berisi secangkir kopi untuk Jevan. Dia kemudian berjalan menuju lift, untuk sampai ke ruangan Jevan.
Ara mengembuskan napasnya pelan. Berada di lantai tempat kerja Jevan, membuat Ara merasa deg-degan. Dia tidak pernah menginjakkan kaki di lantai tertinggi perusahaan itu. Apalagi, lantai itu hanya dikhususkan untuk Jevan dan sekretarisnya.
“Permisi,” ujar Ara pelan kepada sekretaris Jevan.
“Kamu Arana?” tanya sekretaris Jevan dengan ramah.
Ara tersenyum tipis dan mengangguk.
“Langsung masuk aja. Itu perintah Pak Jevan.”
Walau ragu, Ara tetap masuk ke ruangan Jevan setelah mengucapkan terima kasih kepada sekertaris Jevan lebih dulu.
Ara terpukau melihat ruangan Jevan. Benar-benar indah dan terlihat elegan. Tampak sangat mahal di mata Ara yang sederhana. Dahi Ara mengerut begitu melihat kursi yang kosong.
Jevan ke mana?
Ara berjalan mendekat ke arah meja dan meletakkan kopi itu di sana. Dia tidak langsung keluar. Gadis itu mengamati ruangan itu dengan tatapan memuja. Seumur-umur, baru kali ini dia memasuki ruangan kerja seorang pemimpin perusahaan.
Tubuh Ara membeku saat seseorang memeluknya dari belakang. Ara memiringkan kepalanya dan melihat Jevan-lah pelakunya. Lelaki itu tengah memeluknya sambil memejamkan kedua matanya.
“Kopinya aku taruh di meja,” ujar Ara.
“Hmm...,” Jevan hanya menyahut dengan dehaman.
Ara membalikkan tubuhnya menghadap Jevan. Gadis itu bisa melihat raut tidak suka yang Jevan tunjukkan karena Ara melepas pelukan mereka begitu saja.
“Nanti ada yang masuk,” ujar Ara salah tingkah.
“Nggak akan ada yang masuk,” balas Jevan sambil meraih tubuh Ara dalam gendongannya dan membawa Ara untuk duduk di sofa bersamanya.
“Je,” panggil Ara memperingatkan.
“Aku capek.”
Posisi mereka kali ini adalah Ara berada dalam pelukan Jevan dan duduk di pangkuan lelaki itu. Lelaki itu merengkuh tubuh Ara sambil memejamkan kedua matanya.
“Kamu sakit?” tanya Ara pelan.
Jevan hanya diam. Ara mengerucutkan bibirnya kesal. Gadis itu pun bangun dari pangkuan Jevan dan memilih duduk di ujung sofa. Jevan memandang Ara dengan tajam.
“Ara,” desis Jevan marah.
“Sini,” ujar Ara sambil menepuk-nepuk pahanya. Mengisyaratkan Jevan agar tidur di pahanya.
Jevan terdiam dan termenung sesaat. Sesuatu dalam dirinya terasa bergetar setiap kali mendapatkan perlakuan tak terduga dari Ara. Tanpa banyak bertanya lagi, Jevan menjatuhkan kepalanya di pangkuan Ara.
Tangan Ara tergerak mengusap rambut hitam tebal milik Jevan dengan pelan. Jevan pasti lelah. Memimpin perusahaan sebesar ini tidaklah mudah. Walau Ara tidak pernah merasakannya, dia tahu bahwa Jevan pasti lelah.
“Mau aku pijit?” tanya Ara menawarkan diri. Dia ingin memberikan waktu terbaiknya pada Jevan. Ara ingin membuat pria ini merasa nyaman ketika bersamanya.
Jevan membuka matanya dan menatap wajah Ara yang tengah menunduk.
“Memangnya kamu bisa?”
Senyuman di bibir Ara terbit. “Tentu aku bisa. Dulu aku sering pijitin ibu juga.” Tangan gadis itu terulur memijit pelan kepala Jevan.
Keduanya larut dalam situasi menenangkan itu, sebelum pintu ruangan Jevan terbuka dan menampilkan sosok laki-laki yang cukup terkejut melihat keadaan di dalam.
“Terusin aja. Anggap gue nggak ada,” ujar lelaki itu dengan santai sambil melenggang masuk ke ruangan Jevan.
Jevan melihat lelaki itu dengan pandangan kesal. Sial. Dia menganggu kegiataannya dengan Ara.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-