Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 91



“Posesif,” kata Ara sambil memandang Jevan dengan mata menyipit. Gadis itu merasa kesal karena Jevan tetap ngotot tidak memperbolehkan Sean berfoto bersama mereka. Padahal, di setiap pesta pernikahan, berfoto dengan pengantin adalah hal yang wajar bukan?


Dasar Jevan! Selalu saja melebih-lebihkan.


Tangan Jevan singgang ke pinggang Ara, dan berbisik pelan di telinga istri barunya itu. “Kamu harusnya mengerti itu dari dulu, Ara.”


Ara memberengut sebal, dan melepaskan diri dalam pelukan Jevan. Sementara Jevan, lelaki itu terkekeh pelan melihat sikap Ara. Dia mencuri satu kecupan di pipi gadis itu yang membuatnya malah semakin melotot kepadanya.


“Ara!”


“Desi!” Ara berseru senang ketika melihat Desi dan teman-temannya yang lain, yang dulu bekerja di kantor Jevan datang malam ini. Sedangkan Jevan mendengus kesal. Hilang satu, muncul lagi satu. Adi. Bocah itu ternyata juga ikut datang.


Desi menunduk hormat saat melewati Jevan, lalu langsung berhambur memeluk Ara.


“Gue nggak nyangka, Ra. Selamat, gue ikut senang,” ujar Desi sambil melepaskan pelukannya dengan Ara.


Ara ikut terkekeh. “Makasih, aku juga senang banget bisa lihat kamu lagi.”


Desi menepi, berganti dengan Mbak Dewi. Perempuan itu memeluk Ara sembari mengucap selamat. Setelah beberapa teman yang lain turun, kini Adi berdiri di depan Jevan sambil tersenyum kikuk.


“Selamat, Pak,” ujarnya sambil mengulurkan tangan ke arah Jevan. Ekspresinya tampak tidak nyaman karena sedari tadi Jevan memberikannya tatapan kurang mengenakkan.


Jevan masih menatap uluran tangan Adi tanpa minat, sebelum Ara menyenggol lengan suaminya itu yang membuat Jevan mau tidak mau menjabat uluran tangan Adi.


“Ya. Terima kasih.”


Adi mengangguk kaku, lalu beralih ke arah Ara. “Selamat Mbak Ara atas pernikahannya,” ujarnya sambil mengulurkan tangan ke arah Ara.


Ara menyambut uluran tangan itu dengan senang. “Makasih kamu udah mau datang. Kuliah sama kerjaan kamu lancar, kan?”


Adi mengangguk. “Iya, Mbak.”


Ara menepuk pelan bahu Adi yang membuat Jevan memandangnya tidak suka. “Kerja yang semangat, kuliahnya juga gitu. Supaya cepat lulus.”


Adi kembali mengangguk. Setelah berpamitan, Adi turun dari pelaminan yang membuatnya sulit bernapas itu, karena sedari tadi Jevan terus memberikannya tatapan tajam.


Ara menoleh ke arah Jevan. “Kalau semua tamu kamu pelototin kayak tadi. Mending nggak usah buat acara resepsi,” ujarnya kesal.


Jevan mengembuskan napas pelan, dia meraih pinggang Ara mendekat dan berbisik di telinga gadis itu. “Aku udah pernah bilang kan, sama kamu. Jangan senyum ke pria lain. Kamu buat aku cemburu, Ara.”


Ara mendorong tubuh Jevan menjauh saat beberapa tamu terlihat menaiki pelaminan. Gadis itu masih cemberut menatap Jevan. Lelaki itu benar-benar berlebihan.


***


Pagi harinya, setelah selesai menggelar pesta resepsi mewah dan megah. Jevan sudah mengajak Ara untuk terbang ke salah satu negara, untuk bulan madu mereka.


“Sebenarnya kita mau ke mana, Je?”


“Rahasia.” Jevan menjawab sambil memejamkan matanya. Dia tampak masih sangat mengantuk.


Jelas saja. Pesta mereka selesai hampir tengah malam. Lalu, pagi-pagi buta Jevan sudah membangunkan Ara untuk bersiap.


“Masih lama?” Ara kembali bertanya.


Jevan berdecak dan memandang Ara yang duduk di sebelahnya dengan kesal. “Kita terbang belum ada satu jam, Arana. Dan kamu sudah berisik bertanya sedari tadi. Perjalanan kita masih jauh. Lebih baik sekarang kamu tidur, karena sesampainya di sana nanti, kamu nggak akan bisa tidur.”


Kening Ara mengernyit. “Kenapa aku nggak bisa tidur? Tempatnya berisik, ya?”


Jevan memandang gadis yang baru saja berganti status sebagai istrinya itu dengan gemas. “Karena aku yang akan buat kamu nggak bisa tidur.”


Mendengar itu, Ara segera mengalihkan pandangan ke arah lain dengan pipi yang bersemu merah. Jevan tersenyum melihat itu. Dia menyamankan posisinya dan kembali memejamkan matanya.


Setelah beberapa jam menempuh perjalanan, Jevan dan Ara akhirnya tiba di Paris, ibu kota Prancis. Hawa dingin yang menusuk kulit membuat Ara semakin mengeratkan jaket tebal yang dia kenakan.


“Dingin, Je.” Gadis itu berucap sambil terus menempel dengan Jevan.


Jevan hanya terkekeh, dan melingkarkan tangannya di bahu Ara. “Tenang, nanti sesampainya di hotel, aku akan menghangatkan kamu.”


Ara segera memukul dada Jevan kesal. “Aku serius.”


Lelaki itu kembali terkekeh. Dia mengecup pelan pelipis Ara. “Sebentar lagi kita sampai di hotel. Aku sengaja pilih hotel yang nggak terlalu jauh sama bandara.”


Ara hanya mengangguk acuh. Ini kali pertama dia bepergian ke luar negeri. Ini juga kali pertama dia bisa melihat salju secara nyata. Biasanya, Ara hanya melihat itu di film-film yang dia tonton.


“Kita nanti ke menara eiffel?” tanya Ara ketika dia melihat puncak menara itu dari kejauhan.


“Kamu mau ke sana?”


Ara mengangguk dengan semangat. “Ya sudah, nanti kita ke sana.”


“Nanti malam?” tanya Ara memastikan.


Jevan menggeleng. “Nanti malam kita berdua nggak boleh ada yang turun dari ranjang.”


Ara segera mengalihkan pandangan ke arah lain. Beruntung saja sopir itu tidak mengerti bahasa mereka. Jadi, Ara tidak terlalu malu. Walau sudah pernah melakukan itu dengan Jevan, tapi tetap saja, membicarakan hal itu tetap membuat Ara merasa malu.


***


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-