Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 83



Setelah kejadian itu, Ara masih belum diperbolehkan Jevan untuk bekerja. Lelaki itu menyuruh Ara untuk tetap diam di rumah. Walau Ara menolak, Jevan tetap memaksa. Setidaknya, sampai dia berhasil menangkap pelaku itu. Begitu katanya.


Jevan tengah berada di ruangannya. Sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk, sebelum dering ponsel menganggunya.


“Jevan sibuk, Yah. Ada apa?” sapanya ketika sambungan telepon terhubung dengan sang ayah.


“Kalau begitu nanti siang saja kita bertemu.”


“Memangnya ada apa?”


“Kamu tidak mau tahu pelaku yang mendorong Ara?”


Jevan memutus tatapannya dengan layar laptop di depannya. “Ayah sudah menemukannya?” tanyanya semangat.


“Ya. Tapi, katanya kamu sibuk. Jadi, nanti siang saja.”


Jevan menggeleng dan segera bangkit dari duduknya. “Ayah ada di mana? Jevan ke sana sekarang,” ujarnya tergesa sambil berjalan keluar ruangannya dan berhenti di meja Sarah.


Terdengar kekehan dari seberang sana yang membuat Jevan merasa gemas. Dia benar-benar ingin bertemu dengan orang yang sudah mendorong Ara.


“Di rumah tua.”


Jevan mengangguk dan segera mematikan ponselnya. Dia beralih menatap Sarah yang sedari tadi menatapnya dengan bingung.


“Saya ada urusan penting. Kamu atur ulang semua jadwal saya.”


“Iya, Pak.”


Saat Jevan hendak berjalan ke arah lift, dia kembali berhenti dan menoleh ke arah Sarah. “Bilang ke Nicol, saya sudah menemukan orang yang mendorong Ara.”


Sarah mengangguk patuh.


Saat sampai di tempat parkir, Jevan segera meminta sopirnya untuk ke rumah tua. Rumah tua adalah rumah yang dulu ditinggali sang ayah ketika masih muda. Rumah mungil yang terletak di pinggiran kota.


“Lebih cepat sedikit,” suruhnya kepada sang sopir. Jevan benar-benar tidak sabar untuk mengetahui pelaku itu. Lihat saja, Jevan pasti akan membalasnya dengan setimpal.


“Baik, Tuan.”


Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, kini Jevan sudah tiba di rumah tua. Di depan sudah banyak orang-orang suruhan Ayahnya yang berjaga. Mereka menunduk hormat ketika Jevan datang dan mengatakan jika sang ayah sudah menunggunya di dalam.


“Yah,” panggil Jevan ketika dia sudah berada di dalam rumah, dan melihat sang ayah yang sedang duduk santai sambil memainkan game di ponsel.


“Kamu lama sekali. Ayah sudah hampir bosan menunggu,” keluh ayah Jevan.


“Maaf. Jadi, di mana orangnya?”


Lalu, sang ayah mematikan ponselnya dan menyuruh salah satu orangnya untuk membawa pelaku itu ke hadapan mereka.


Jevan mengepalkan kedua tangannya dengan eskpresi marah ketika melihat jika pelaku itu memang salah satu dari mantan pegawainya. Lelaki itu bangkit dari duduknya, dan berjalan ke arah perempuan itu. Tanpa banyak suara, Jevan langsung menjambak rambut perempuan itu hingga kepalanya mendongak ke atas.


“Sialan! Rupanya kamu sama sekali tidak paham apa yang saya katakan waktu itu. Berani sekali kamu berusaha mencelakai Ara?!” sentak Jevan keras sambil melepaskan tangannya dengan kasar, yang membuat perempuan itu jatuh terduduk sambil menangis. Perempuan itu terlihat sangat ketakutan.


“Maaf, Pak. Saya mohon, maafkan saya. Lepaskan saya, Pak,” ujarnya sambil memeluk kaki Jevan.


Perempuan itu menangis histeris. “Maafkan saya, Pak. Saya menyesal. Saya terpengaruh. Maafkan saya.”


Jevan memandang perempuan itu cepat. “Apa tadi yang kamu katakan? Kamu terpengaruh? Siapa orang yang mempengaruhi kamu? Cepat katakan!”


Masih dengan menangis, perempuan itu mencoba berkata. “Mbak Natasya, Pak.”


“Sial!” Jevan membuang muka mendengarnya. Berarti dugaannya tidak salah. Natasya memang dalang dibalik ini semua. Kali ini Jevan tidak boleh lengah, perempuan itu harus diberi pelajaran.


Jevan berjalan ke arah perempuan itu, hendak melampiaskan amarahnya dengan perempuan itu, tapi suara sang ayah menahannya. Lelaki tua itu seolah tahu apa yang akan Jevan lakukan.


“Ara nggak akan senang kalau tahu kamu melukai wanita, Je,” ujarnya santai.


“Dia bukan wanita,” desis Jevan sambil menjambak rambut perempuan itu.


“Ara akan kecewa kalau kamu sampai melukainya, Je.”


Jevan mengembuskan napas kasar. Ara. Dia selalu lemah jika menyangkut gadis itu. Jevan akhirnya melepas tangannya yang ada di rambut perempuan itu hingga membuatnya menangis.


Jevan merapikan kembali jasnya. Dia berjalan menghampiri sang ayah. “Ayah urus dia. Jevan ada urusan.”


“Natasya perempuan, Je. Dia juga pernah menjalin hubungan dengan kamu. Ingat itu!” teriakan sang ayah, Jevan abaikan begitu saja.


Lelaki itu berjalan kembali ke arah mobilnya, dan meminta sang sopir untuk menuju ke apartemen perempuan itu.


Sepeninggal Jevan, ayah Jevan mengeluarkan ponselnya dan memilih menghubungi Nicol. Tidak berapa lama kemudian, telepon-nya tersambung.


“Nicol, bisa bantu, om?” tanyanya tanpa basa-basi.


“Bisa, Om. Ada apa?”


“Jevan sedang menuju ke apartemen Natasya. Bisa kamu ke sana? Jangan cegah, Jevan. Hanya untuk berjaga-jaga, jika saja dia sudah kelewat batas.”


“Iya, Om. Nicol langsung ke sana setelah ini.”


“Terima kasih, ya.”


“Om.”


“Ya?”


“Kalau boleh tahu, memangnya ada apa?”


“Pelaku dibalik pendorongan Ara di restoran waktu itu. Dia adalah Natasya. Dia mempengaruhi mantan karyawan Jevan.”


Hening beberapa saat, sebelum Nicol kembali bersuara. “Ya sudah, Om. Nicol tutup telepon-nya. Nicol ke apartemen Natasya sekarang.”


***


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-