
Saat Jevan tengah sibuk dengan urusannya bersama Natasya, Ara tengah asik menikmati makan siangnya, sebelum salah seorang teman menghampirinya dan berkata ada seseorang yang ingin menemuinya.
“Siapa?” tanya Ara ingin tahu.
Teman Ara itu hanya menggeleng, dan menyuruh Ara untuk segera keluar ruangan. Setelah membereskan makan siangnya, Ara segera keluar dan tersenyum lebar kepada Sean yang menunggunya di depan pintu.
“Dokter cari saya?” tanya Ara setelah berdiri beberapa langkah di depan Sean.
Sean hanya tersenyum tipis dan mengangguk. “Kamu sudah makan siang?”
Ara mengangguk. “Sudah, Dok. Ada apa?”
“Karena kamu sudah makan siang, bagaimana kalau kita minum kopi di depan?”
Gadis itu tidak langsung menjawab, dia terlebih dahulu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
“Masih ada waktu, kok,” kata Sean yang menyadari jika Ara takut waktu mereka tidak akan cukup untuk meminum kopi di kedai depan.
Meski begitu, Ara tidak langsung mengiakan. Dia menatap ragu kepada Sean. Harga kopi di sana cukup mahal untuknya, dia cukup bimbang untuk mengeluarkan uang hanya untuk sekadar membeli kopi.
“Saya yang bayar,” kata Sean lagi, yang kini diiringi kekehan lelaki itu.
Senyuman di bibir Ara terbit. “Sebentar aja ya, Dok. Saya takut kalau lama-lama, terus kita kelewat jam istirahat kantor.”
“Iya, ayo.”
Di sinilah keduanya berada sekarang, duduk berdua di dalam kedai yang dingin itu.
“Sebenarnya ada yang perlu saya katakan kepada kamu,” ujar Sean.
Ara mengangguk tanpa beban. “Bilang aja, Dok.” Gadis itu terlalu bersemangat meminum kopinya.
Sean memandang Ara lurus, sementara gadis itu sendiri tengah asyik meminum kopinya. “Saya melihat kamu dan Pak Jevan di tempat parkir tadi.”
Sean bisa melihat jika Ara termenung di tempatnya. Perlahan, gadis itu mendongak dan menatap langsung ke arahnya.
“Dokter tahu?” tanyanya pelan. Ekspresinya sekarang tampak takut, panik, dan risau. Melihat itu, Sean semakin yakin telah terjalin hubungan di antara Ara dan Jevan.
Sean mengangguk sebagai jawaban.
Ara memilin tangannya gugup. Sekarang dia harus bagaimana? Kalau Jevan tahu, lelaki itu pasti akan marah. Jevan masih dipusingkan dengan urusan pertunangannya dengan Natasya, tidak mungkin Ara menambah masalah Jevan dengan hal seperti ini.
“Saya... saya...”
Ara kembali mengatupkan bibirnya. Dia tidak tahu kalimat apa yang harus keluar dari mulutnya. Otaknya mendadak tidak bisa diajak berpikir cepat. Ara bingung harus bagaimana sekarang.
“Kamu dan Pak Jevan, kalian ada hubungan?” tanya Sean lagi.
Ara menatap Sean sambil menggigit bibirnya, sebelum memilih menunduk.
Ara tahu Sean memang tidak terlihat seperti lelaki yang bermulut besar. Tapi, dari segi mana pun, Ara belum mengenal Sean dengan baik. Bagaimana kalau lelaki itu hanya pura-pura di depannya? Bagaimana jika ketika Ara tidak ada, Sean akan memberitahu seluruh penghuni kantor tentang masalah ini?
“Kamu nggak percaya sama saya?”
Ara kembali menatap Sean, gadis itu menggeleng pelan. “Bukannya gitu, Dok. Saya cuman bingung harus jawab gimana. Saya takut.”
Sean mengembuskan napasnya pelan. “Jadi benar kamu ada hubungan dengan Pak Jevan,” gumamnya. “Tapi, setahu saya bukannya Pak Jevan akan segera bertunangan dengan mantan kekasihnya dulu?” Sean bertanya karena dia teringat berita yang pernah ditayangkan di televisi waktu itu.
Kali ini Ara memilih kembali menunduk tanpa menjawab. Bagaimana dia harus menjelaskan? Haruskah dia mengatakan secara rinci hubungannya dengan Jevan? Haruskah Ara mengatakan bahwa dia sudah menjual tubuhnya kepada Jevan, demi membayar biaya perawatan ibunya di rumah sakit?
Tidak. Itu sangat memalukan. Walau pada kenyataannya, memang seperti itulah hubungannya dengan Jevan sekarang.
Tanpa sengaja, pandangan Ara melihat jam di pergelangan tangannya. Gadis itu langsung mendongak menatap Sean.
“Dokter Sean, maaf. Tapi, saya harus kembali bekerja,” ujar Ara cepat, lalu gadis itu pun buru-buru keluar dari kedai, bahkan saat Sean belum sempat mengatakan sesuatu.
“Ara!” seru Sean yang kini mencoba setengah berlari mengejar Ara yang sudah memasuki kawasan perkantoran mereka.
Jevan yang baru saja tiba di kantor mengernyit melihat pemandangan itu dari dalam mobilnya. Ara berjalan cepat memasuki kantor, disusul Sean yang tampak mengejarnya di belakang.
Ada apa dengan mereka?
Apakah Sean mencoba mengganggu Ara lagi? Jika iya, maka Jevan tidak akan lagi bersikap baik kepada lelaki itu. Kalau perlu, dia akan menyuruh Sarah untuk mencari dokter yang bisa menggantikan lelaki itu.
Setelah jam kantor kembali dimulai, Ara kembali melakukan tugasnya. Membersihkan salah satu ruangan karyawan. Walau pikirannya sedikit terganggu dengan perkataan Sean, Ara mencoba tetap berperilaku profesional.
“Itu anaknya,” bisik salah seorang karyawan perempuan yang terdengar jelas di telinga Ara.
“Yang lo bilang lagi ngopi berdua sama dokter klinik itu?” sahut yang lainnya.
“Iya. Gila, ya. Kayaknya itu cewek pakai susuk, deh. Cantik banget juga enggak, kaya juga enggak. Tapi, dia bisa dekat sama cowok tajir.”
Ara memegang erat gagang pel di tangannya. Dia berusaha mengabaikan suara yang menggunjingkannya itu. Dia ingin membantah semuanya, tapi tidak bisa. Dia tidak punya kuasa untuk itu.
“Kayaknya, sih, gitu. Paling dia juga sama kayak cewek di club, menawarkan tubuhnya ke para lelaki, terus dibayar. Tapi, kalau pagi dia nyamar jadi OG.”
Ara menahan air mata yang nyaris keluar dari matanya. Harga dirinya benar-benar diinjak. Dia tidak serendah itu. Ara akui, dia memang menjual tubuhnya, tapi hanya pada satu lelaki, itu pun Jevan orangnya. Jika saja keadaan tidak mendorongnya melakukan ini, Ara juga tidak akan mau. Dia terpaksa. Apakah orang lain tidak bisa melihatnya? Ara tidak sanggup mendengar semua perkataan itu lagi. Tapi, dia harus bagaimana? Pekerjaannya di sini belum selesai.
“Hei! Kalian niat kerja atau menggosip?! Kalau saya lihat kalian ngobrol nggak jelas kayak tadi, saya akan langsung lapor ke Pak Jevan, supaya kalian langsung dipecat. Buat apa Pak Jevan mempertahankan karyawan yang suka menggosip seperti kalian?”
Ara menoleh, melihat Sarah yang tengah membawa tumpukan berkas, berkata dengan marah kepada beberapa karyawan yang menggunjing tadi. Setelahnya, beberapa karyawan itu pun kembali fokus pada pekerjaan mereka.
Sarah menatap Ara. Gadis itu tersenyum tipis. Ara hanya bisa mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-