
Bukan hanya sampai di situ, saat memilih gaun dan jas yang akan digunakan di respsi mereka, lagi-lagi Jevan menyerahkan semuanya kepada Ara. Sebenarnya, bukan tanpa alasan Jevan melakukan itu. Dia hanya ingin Ara menyiapkan pernikahan sesuai impiannya. Bukannya semua perempuan memilik pernikahan impian mereka sendiri? Jevan hanya ingin Ara bebas menentukan pilihan.
“Pak, Pak Jevan.”
Jevan yang tersadar dari lamunannya menatap ke depannya dengan cepat. Dia menoleh ke arah Sarah yang memanggilnya.
“Ada apa?”
“Presentasinya udah selesai. Menurut Pak Jevan gimana?”
Lelaki itu mengembuskan napas kasar. Karena Ara terus melintas di pikirannya, membuat Jevan tidak bisa fokus dengan pekerjaannya.
“Menurut kamu gimana?” tanyanya balik kepada Sarah yang sempat membuat gadis itu melongo.
Sarah cepat-cepat membaca kembali catatannya. “Udah bagus, sih, Pak. Sesuai dengan standar Pak Jevan. Tapi, kalau saya ada beberapa catatan.”
Jevan mengangguk mendengarnya. “Kalau gitu suruh mereka perbaiki, dan atur ulang jadwal rapat. Saya mau ke ruangan dulu, kamu buatkan saya kopi setelahnya.”
“Baik, Pak.”
Jevan sudah berada di dalam ruangannya, tidak lama kemudian Sarah datang sambil membawa secangkir kopi. Gadis itu meletakkan kopi itu di meja Jevan.
“Silakan, Pak.”
Jevan mengangguk. “Terima kasih,” ujarnya sambil meraih cangkir itu lalu menyesap isinya pelan.
Sarah masih berdiri di sana. Terlihat ragu untuk berbicara, tapi akhirnya gadis itu berdeham yang membuat Jevan mengalihkan pandangan ke arahnya.
“Ada apa?”
Gadis itu menampilkan cengirannya. “Maaf, Pak. Tapi, saya perhatikan beberapa hari ini Bapak nggak fokus. Ada masalah serius, Pak?”
Jevan mendengus dan meletakkan kembali cangkir kopi itu. “Persiapan pernikahan saya dan Ara.”
“Kenapa, Pak? Barang kali saya bisa bantu.”
Belum sempat Jevan bercerita, notifikasi di ponselnya membuat lelaki itu meraih ponselnya, lalu membukanya.
Ada satu pesan dari Ara.
Ini beberapa jas yang akan kamu pakai di resepsi.
Ya. Sangat singkat. Padahal Ara biasanya tidak begitu. Gadis itu lalu mengirimkan beberapa foto jas yang akan dia kenakan. Jevan mengembuskan napasnya pelan, bukannya dia tidak tahu kalau Ara sekarang terlihat lebih diam dengannya. Tapi, apa alasan gadis itu melakukannya?
Jevan memilih mematikan ponselnya dan menatap Sarah yang masih berdiri di tempatnya tadi.
“Kamu punya pernikahan impian?” tanya Jevan langsung.
Sarah mengangguk meski merasa heran. “Semua perempuan pasti memiliki pernikahan impiannya sendiri-sendiri, Pak.”
“Iya, kan?!” seru Jevan keras yang membuat Sarah terkejut.
“Dan masalahnya, Pak?” tanya gadis itu bingung.
“Ara. Saya merasa dia lebih diam dengan saya. Waktu saya pulang kerja, dia tidak menyambut saya seperti dulu. Lalu, di saat sarapan pagi, dia memang melayani saya, tapi tidak berkata apa pun. Aneh, kan?”
Sarah terlihat berpikir. “Bapak buat kesalahan kali.”
Jevan berdecak. “Saya bahkan tidak memarahinya atau membentaknya sama sekali, Sar. Saya malah membebaskan dia untuk mengurus pernikahan kami. Kalau pun semuanya sesuai dia, saya juga akan menurut. Lalu, letak kesalahan saya di mana?”
“Tunggu sebentar, Pak. Bapak tadi bilang membebaskan Ara dalam mengurusi pernikahan, kan?”
Jevan mengangguk.
Kali ini Jevan menggeleng. “Semua sesuai dia. Saya hanya terima jadinya saja.”
“Nah!” Sarah berseru dengan keras. “Itu masalahnya, Pak.”
Kening Jevan mengerut. “Di mana masalahnya?”
“Bapak nggak ikut bantu persiapkan pernikahan sama sekali. Itu masalahnya.”
Jevan memandang sekretarisnya tidak mengerti. “Bukannya lebih bagus kalau saya tidak ikut campur? Ara bisa memilih sesuka dia. Apa pun itu.”
Sarah menggeleng. “Bukan gitu, Pak. Apalagi ini Ara, lho. Gadis terpolos yang pernah saya temui. Saya aja, kalau misal mau nikah. Terus, calon suami saya nggak ikut bantu sama sekali, cuman keluarin duitnya, doang. Jelas saya marah, Pak. Apalagi, Ara? Lagi pula, saya menebak kalau Ara tidak memilik pernikahan impian?”
Jevan terlihat berpikir. Mungkinkah yang dikatakan oleh Sarah benar? Ara marah karena dirinya tidak ikut mempersiapkan pernikahan mereka.
“Lalu, saya harus gimana?”
“Ara sekarang sedang di mana, Pak?”
“Mungkin di butik. Dia tadi mengirimi foto jas yang akan saya kenakan.”
“Yaudah, Pak Jevan langsung susul Ara ke sana, dan minta maaf. Mulai sekarang, Bapak harus turut serta mengurusi persiapan pernikahan kalian.”
Jevan mengangguk. Dia meraih dompet dan ponselnya di meja, lalu beranjak berdiri.
“Makasih. Saya akan memberikan kamu bonus bulan ini.” Setelahnya lelaki itu berjalan menuju pintu.
Sarah tersenyum lebar. “Yes. Bonus tambahan. Sering-sering aja gue jadi penasihat dadakan gini,” ujarnya sambil terkikik geli.
***
Jevan sudah menghubungi sopir pribadi di rumah sang ibu. Dia mengatakan sedang mengantar Ara dan Ibunya ke salah butik langganan keluarga. Setelah meminta alamat, Jevan segera menyuruh sopirnya untuk menuju ke butik itu.
Beberapa menit menempuh perjalanan, Jevan akhirnya sampai di butik yang di maksud tadi. Dia segera berjalan memasuki butik, dan menemukan sang ibu yang tengah duduk di sofa sambil melihat majalah.
“Bu, Ara di mana?”
Sang ibu mendongak dan tersenyum lebar menatap Jevan. “Kata Ara kamu sibuk, nggak akan bisa datang.”
“Rapatnya udah selesai,” jawab Jevan.
Ibu Jevan tersenyum lebar. Dia berdiri dari duduknya. “Ara ada di ruang ganti, kamu sekalian cobain jas kamu, ya.”
“Ruang gantinya sebelah mana?” tanya Jevan tidak sabaran.
“Bentar, ih. Ini jas sama kemeja kamu. Cobain, ya. Ruang gantinya ada di ujung paling belakang. Ara kayaknya masih di sana,” ujar sang ibu sambil memberikan beberapa pasang jas, kemeja dan celana kepada Jevan.
Jevan mengangguk, dia meraih semua yanga da di tangan sang ibu, sebelum berjalan dengan langkah lebarnya ke arah ruang ganti yang disebutkan tadi.
Sesampainya di bilik-bilik ruang ganti itu, Jevan mendenga Ara berbicara.
“Ini emang gini ya, Mbak?”
“Iya, Mbak. Mbak Ara cantik, kok, pakai ini. Kelihatan pas di tubuh Mbak Ara.”
Jevan tersenyum tipis mendengarnya. Ya. Gadisnya memang selalu tampak cantik. Tapi, senyuman itu hilang seketika saat seorang pegawai butik membuka tirai dan dia bisa melihat bagaimana penampilan Ara saat ini.
Jevan menggeram marah. “Baju apa yang kamu pakai sekarang, Arana?!” tanyanya sambil memberikan tatapan tajam kepada calon istrinya itu.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-