Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 7



Pagi ini, Jevan sudah siap di ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Dia menunggu Ara yang tengah bersiap-siap. Beberapa menit kemudian, suara lembut yang memanggilnya membuat Jevan mengalihkan pandangannya dari ponsel di tangannya.


Jevan mengernyit melihat penampilan Ara sekarang. Kaus polos berwarna putih dan celana jeans yang warnanya sudah memudar?


Jevan berdecak. Bahkan harga satu set pakaian Ara pun sepertinya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan jam tangan yang tengah dia kenakan sekarang. Mengapa gadis itu sangat sederhana?


“Kamu pakai itu?” tanya Jevan sambil mendekat ke arah Ara berdiri.


Ara melihat penampilannya sendiri. Tidak ada yang aneh. Pakaiannya masih sopan, tidak ada robek-robek di mana-mana.


“Ada apa dengan pakaianku?” tanya Ara dengan polosnya.


“Kamu nggak ada pakaian lain?”


“Ini yang paling sering aku pakai kalau mau keluar rumah,” jawab Ara sambil menampilkan cengirannya.


Jevan membuang napasnya kasar. Sepertinya bukan hal buruk jika sesekali dia mengajak Ara berbelanja. Gadis itu benar-benar membutuhkannya.


“Ayo,” ajak Jevan sambil berjalan ke luar rumah lebih dulu. Ara, yang sempat heran mendengar pertanyaan Jevan, akhirnya mengedikkan bahunya dan mulai berjalan mengikuti langkah Jevan.


Begitu mobil yang ditumpangi Ara dan Jevan tiba di tempat parkir rumah sakit, Jevan berjalan ke luar, diikuti Ara setelahnya. Keduanya berjalan ke arah kamar rawat ibu Ara, dengan Ara yang berjalan di belakang Jevan. Jika seperti ini, tampak sekali Ara seperti pembantu yang tengah berjalan di samping majikannya.


Jevan berhenti berjalan, membuat Ara juga ikut berhenti. Lelaki itu menoleh dengan sebal ke arah Ara. Ara hanya diam dan menatap Jevan dengan pandangan polosnya.


“Kenapa jalan di belakangku?”


“Nggak boleh, ya, Je? Terus aku harus jalan di mana? Nunggu kamu jauh dulu?” tanya Ara dengan polosnya.


Jevan berdecak mendengarnya. “Di sampingku, Ara. Kamu harusnya jalan di sampingku, bukan di belakang atau jauh dari aku. Kamu paham?”


Ara hanya mengangguk. Jevan kembali meneruskan langkahnya. Kali ini, Ara berjalan di samping Jevan.


Perawatan ibu Ara, semuanya Jevan yang membayarnya. Termasuk menempatkan ibu Ara di ruang VVIP. Perempuan paruh baya itu belum sadarkan diri setelah operasi yang dia jalani satu bulan yang lalu.


Jevan dan Ara masuk ke ruangan ibu Ara. Ara mendekat ke ranjang sang ibu dan duduk di kursi yang disediakan di sana. Gadis itu mengambil tangan sang ibu yang tidak terkena infus.


“Ara datang, Bu,” bisik Ara dengan pelan sambil menciumi tangan sang ibu dengan penuh sayang.


Jevan memilih memberikan waktu kepada anak dan ibu itu. Dia duduk di sofa di ujung ruangan sambil memperhatikan apa yang Ara lakukan.


“Ibu harus sembuh. Ibu harus bangun. Ara janji akan kerja keras supaya Ibu nggak perlu kerja susah lagi.”


Air mata Ara menetes. Dia merindukan belaian sayang sang ibu. Dia merindukan pelukan menenangkan beliau. Ara merindukan semua kenangan yang sudah pernah dia alami bersama ibunya.


“Ara rindu, Bu,” bisik Ara dengan pelan sambil menciumi tangan sang ibu. “Kalau nanti Ibu bangun. Ibu boleh marah sama Ara, tapi apa yang Ara lakukan sekarang, semuanya demi Ibu. Demi supaya Ibu bisa bangun dan lihat Ara lagi.”


Setelah dua puluh menit menunggu, Jevan akhirnya bangkit dari duduknya. Dia berjalan ke arah Ara dan memegang pundak gadis itu. Membuat Ara mengalihkan pandangan ke arahnya.


Jevan berdecak tidak suka. Apalagi ketika melihat kedua mata Ara yang sangat memerah, juga hidung gadis itu yang ikut memerah. Jevan menarik Ara berdiri dari duduknya.


“Kita pulang. Kapan-kapan ke sini lagi,” ujar Jevan sambil menatap wajah Ara lurus-lurus.


Ara hanya diam dan mengangguk. “Aku mau pamit sama Ibu dulu,” ujarnya dengan suara serak dan pelan.


“Aku tunggu di luar,” ujar Jevan sambil melangkah ke arah pintu. Membiarkan Ara berpamitan dengan ibunya.


“Ibu, Ara udah harus pergi. Ibu harus kuat, ya. Ibu harus bangun. Demi Ara, anak Ibu.” Ara mengembuskan napasnya pelan. “Ara harus pergi. Nanti Ara pasti ke sini lagi.” Dia menjatuhkan kecupan di kening sang ibu. “Ara sayang Ibu.”


Jevan menatap Ara dengan lurus. Ara yang ditatap seperti itu menundukkan kepalanya. “Kamu nggak lupa, kan kalau kita masih harus belanja?”


Ara menatap Jevan dan mengangguk. “Iya, aku nggak lupa.”


Jevan meraih tangan Ara dan menggenggamnya. “Aku nggak suka lihat kamu nangis. Kamu tahu, aku ingin kita pergi, bukan karena mau pisahin kamu sama ibu kamu. Tapi aku nggak suka lihat kamu nangis, Ara.”


Ara mencebikkan bibirnya. Dia kembali mengeluarkan air matanya dan menangis di hadapan Jevan.


Jevan mengembuskan napas pelan sebelum meraih Ara ke dalam pelukannya. Dia memeluk Ara dengan erat. Mengusap punggung Ara yang tengah menangis sesenggukan. Ini yang tidak Jevan sukai jika Ara pergi menjenguk ibunya. Ara jadi gampang sekali menangis dan akan sangat sensitif setelah pergi menjenguk ibunya.


“Udah, ibu kamu pasti sembuh. Kita udah usaha sebisa kita, Ara.”


Ara hanya bisa mengangguk dalam pelukan Jevan.


 


***


Kenyataannya Ara belum bisa melupakan kesedihannya. Gadis itu masih terlihat murung, walau Jevan sudah mengajaknya berkeliling ke beberapa toko dan membelikan baju serta perhiasan untuk gadis itu.


Jevan mengembuskan napasnya kasar. “Kamu kenapa, sih, Ra? Mau kamu apa? Jangan diam aja, dong!”


“Maaf,” gumam Ara dengan pelan sambil menunduk.


Jevan kembali mengembuskan napasnya pelan. “Sekarang kamu mau ke mana? Tempat yang bisa buat kamu berhenti murung.”


Ya. Jevan kembali meruntuhkan egonya. Dia memilih bertanya kepada Ara soal tempat yang ingin dia kunjungi, agar bisa membuat gadis itu tersenyum kembali. Kenyataannya, melihat Ara murung membuat hati Jevan tidak tenang.


“Nggak apa-apa?” tanya Ara memastikan.


“Ya. Asal kamu berhenti murung.”


Mata Ara langsung berbinar. Tiba-tiba dia langsung bergelayut manja di lengan Jevan seolah Jevan adalah ayah yang akan mengajak anaknya jalan-jalan. “Ke pantai boleh?”


“Pantai?" ulang Jevan dengan heran. “Kamu mau ke Bali?”


Ara buru-buru menggeleng. “Bukan Bali, Je. Aku cuman mau ke pantai. Memangnya pantai cuman ada di Bali?”


Jevan mengangguk-ngangguk pelan. Dia menyingkirkan helaian rambut yang sedikit menutupi wajah Ara. “Jadi, kamu ke pantai mana?”


“Di dekat sini aja. Biasanya kalau lagi liburan akhir tahun, aku sama Ibu sering pergi ke pantai. Soalnya tiket masuknya murah.”


Jevan terdiam dan memandang Ara lurus. “Oke, kita ke pantai.” Dia pun menarik tangan Ara keluar toko.


“Kita nggak jadi belanja?”


Jevan melirik Ara dengan jengkel. “Mana bisa belanja kalau kamu dari tadi diam aja,” sungutnya dengan kesal.


Ara hanya tersenyum tipis. “Maaf.”


“Berhenti bilang maaf, Ara. Aku nggak suka dengarnya.”


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-