
Setelah menempuh perjalan yang terasa sangat lama untuk Jevan, dia akhirnya telah sampai di tempat parkir apartemen yang ditempati oleh Natasya.
“Kamu tunggu di sini,” ujarnya kepada sopir.
“Baik, Tuan.”
Jevan keluar dari mobil. Dengan langkah lebar, Jevan berjalan memasuki lobi apartemen itu. Jevan berhenti melangkah ketika seseorang memanggilnya.
“Je.”
Dia menoleh dan menemukan Nicol yang tengah berjalan ke arahnya. Untuk apa dia ke mari?
“Ngapain lo di sini?”
“Ayah lo telepon gue.”
Jevan berdecak. “Lo nggak akan bisa menghentikan gue.”
Nicol menggeleng. “Siapa juga yang mau menghentikan lo? Gue cuman disuruh jaga-jaga aja. Lanjutkan.”
Tanpa membalas perkataan Nicol, Jevan langsung menaiki lift yang akan memabanya ke unit yang ditinggali Natasya.
“Btw, lo tahu di unit berapa?”
Jevan hanya menjawabnya dengan dehaman. Sedangkan Nicol hanya manggut-manggut mengerti. Jevan benar-benar terlihat tidak ingin dihentikan.
Sesampainya di depan apartemen milik Natasya. Jevan menyingkir, memberikan jalan untuk Nicol.
“Lo yang pencet bel. Kalau dia lihat gue, bisa aja dia nggak akan mau buka pintu,” ujarnya.
Nicol mengangguk, dan segera melaksanakan apa yang dikatakan oleh Jevan. Sesaat kemudian, pintu terbuka memeperlihatkan Natasya yang hanya gaun tipis yang membalut tubuhnya.
Gadis itu melebarkan matanya saat melihat Jevan ada di belakang Nicol. Hendak menutup pintu, tapi Nicol lebih dulu menahannya dan memberikan jalan untuk Jevan lewat.
Natasya berjalan mundur. Perempuan itu hendak berlari ke arah kamar tapi Jevan lebih dulu menahannya.
“Mau ke mana?” tanyanya sambil memberikan tatapan tajam kepada Natasya.
Natasya hanya diam dan mengalihkan pandangan ke arah lain. Jevan terlihat mengerikan saat ini.
“Udah puas celakain Ara? Tahu nggak kalau kamu habis buat Ara celaka?!” sentak Jevan.
Natasya memberanikan diri menatap ke arah Jevan. “Itu belum sebanding dengan rasa sakit yang aku rasakan.”
Plak.
Segera saja satu tamparan Jevan berikan kepada Natasya, yang membuat Nicol meringis pelan melihatnya.
“Sialan! Aku udah pernah bilang ini dari awal. Ini masalah kita. Jangan libatkan Ara di dalam masalah kita. Kalau kamu mau balas dendam, itu aku orangnya. Bukan Ara. Dia nggak tahu apa-apa!”
Natasya menangis karena sakitnya tamparan yang Jevan berikan. Perempuan itu menatap Jevan penuh luka.
“Gimana bisa aku diam aja dan nggak memberikan perlawanan apa pun, untuk gadis yang sudah merebut kamu dari aku, Je?!” teriaknya marah sambil berlinang air mata.
Jevan mendengus mendengarnya. “Merebut kamu bilang? Kalau kamu lupa, kita sudah tidak memilik hubungan apa pun setelah kamu pergi gitu aja!”
“Aku punya alasan!” Natasya menangis. “Aku punya alasan untuk semua itu, Je,” ujarnya pelan sambil terus menangis.
“Apa pun alasannya, itu nggak bisa dibenarkan, Ca! Kamu pergi, di hari pernikahan kita. Kamu pikir, gimana aku saat itu?! Aku hancur, Aca. Aku hancur. Kamu wanita yang saat itu sangat aku cintai. Pergi meninggalkan aku di saat hari pernikahan kita akan digelar! Kamu tahu itu!”
Natasya menangis. Dia memeluk kaki Jevan. “Maafin aku, Je. Waktu itu Ayah butuh uang banyak, dia punya hutang. Aku malu kalau harus minta itu ke kamu. Aku harus ambil tawaran itu. Ayah maksa aku. Meski saat itu kita akan menikah. Maafin aku, Je.”
Jevan diam di tempatnya. Cukup terkejut mendengar alasan yang selama ini dia tidak mengerti. Jadi, hanya karena uang?
“Seharusnya kamu bilang ke aku, Ca. Kamu pikir, aku nggak bisa kasih kamu uang? Kamu pikir, aku akan jatuh miskin hanya karena aku melunasi hutang-hutang ayah kamu?”
Natasya semakin menangis. “Maafin aku, Je. Aku mohong sama kamu, tinggalin Ara dan kembali sama aku. Aku ngomong jujur, Je. Itu alasan yang membuat aku begitu malu untuk bilang ke kamu. Maaf, Je.”
Nicol diam sambil duduk di sofa. Menonton pertengkaran mantan kekasih itu. Dia mengamati Jevan yang tampak sedikit goyah mendengar perkataan Natasya.
Perlahan, Jevan menjauhkan kakinya dari Natasya. “Aku nggak bisa. Ara sekarang adalah duniaku. Melihat kamu yang berusaha mencelakainya, membuatku ingin sekali menghancurkan kamu, Aca. Tapi, setelah mendengar pengakuan kamu. Aku mengurungkan niatku. Aku bahagia hidup dengan Ara. Dan aku harap, kamu juga bahagia dengan kehidupan kamu.” Jevan menghela napas pelan, matanya memandang ke arah Natasya yang masih duduk di tempatnya tadi.
“Kamu cantik. Jangan sia-siakan kecantikan kamu untuk hal tidak berguna. Perbaiki hidup kamu. Lupakan masa lalu kita. Anggap semuanya tidak pernah terjadi. Jauhi aku dan Ara. Jauhi hidup kami. Maka, kamu akan bahagia dengan hidup kamu sendiri.”
Jevan mengembuskan napasnya kasar. “Bisa. Pasti bisa. Aku bukanlah satu-satunya lelaki di dunia ini. Kamu harus melepasku, Aca. Jangan buat aku lebih benci dan kasihan sama kamu, lebih dari ini.”
Setelahnya, Jevan menoleh ke arah Nicol yang duduk di sofa. “Gue balik duluan,” katanya sambil memberikan kode untuk Nicol tetap berada di sini. Setidaknya untuk menemani Natasya yang tampak kacau. Seburuk apa pun hubungannya dengan Natasya. Nicol dan perempuan itu pasti masih berteman. Jevan tahu itu.
“Je! Jevan! Jangan tinggalin aku!” Natasya hendak mengejar Jevan yang berjalan keluar, tapi Nicol lebih dulu menghadang gadis itu. Nicol memegangi pundak gadis itu.
“Sadar, Nat! Jevan udah bukan punya lo lagi!” sentak Nicol marah. Bagaimana pun mereka pernah bersahabat dekat, menganggap satu sama lain seperti keluarga. Nicol menyayangi Natasya. Dan jujur saja, Nicol tidak sampai hati melihat Natasya yang sampai seperti ini karena Jevan. Perlahan, Nicol membawa tubuh Natasya ke dalam pelukannya. Berusaha menenangkan gadis yang sudah dia anggap sebagai saudaranya itu.
***
Sementara itu, setelah dari apartemen Natasya, Jevan menyuruh sang sopir untuk pulang ke rumah orangtuanya. Dia membutuhkan Ara. Saat ini, hanya gadis itu yang bisa menenangkannya.
Jevan tidak habis pikir dengan sikap Natasya. Jadi, uang lebih penting dari pernikahan mereka? Sial! Seandainya dulu perempuan itu berkata jujur kepadanya, Jevan pasti akan melunasinya. Ayolah. Uang yang dia miliki sangat banyak. Melunasi hutang calon mertuanya bukan hal besar untuk Jevan.
Lelaki itu mendengus, dan memejamkan matanya, menyandarkan punggungnya ke sandaran. Hari yang cukup melelahkan. Setelah ini, dia hanya ingin tidur dan memeluk Ara. Jevan ingin melupakan kejadian di hari ini.
Setelah sampai di rumah orangtuanya, Jevan segera keluar dan berjalan dengan langkah lebar ke dalam rumah. Di ruang tamu, Jevan terdiam ketika melihat siapa yang berada di sana.
Ara dengan mantan pegawai yang mendorongnya.
Sial!
Untuk apa sang ayah membawa perempuan itu menemui Ara? Jevan berjalan tergesa ke arah Ara. Dia segera menarik Ara berdiri dari duduknya, menjauhkan gadisnya dari perempuan yang mendorongnya waktu itu.
“Mau apa kamu ke mari?!” tanya Jevan tidak santai.
“Je, Mbak itu cuman mau minta maaf, kok,” jawab Ara mewakili perempuan yang menunduk takut itu.
“Dan kamu memaafkan?” tanya Jevan sambil menoleh ke arah Ara.
Gadis itu mengangguk. “Iya.”
“Ara,” desis Jevan. “Kenapa kamu maafin?” tanyanya terlihat kesal.
Ara mengelus pelan lengan Jevan, gadis itu mengerti jika Jevan tidak dalam kondisi yang baik. Laki-laki itu terlihat diselimuti kemarahan.
“Aku udah nggak apa-apa, kok, Je. Lagi pula, nggak baik menyimpan dendam. Mbak itu juga udah minta maaf, kita anggap selesai, ya?”
“Mana bisa gitu!” seru Jevan tidak terima. “Kita harus laporin dia ke polisi.”
“Jangan, Pak. Saya mohon,” ujar perempuan itu sambil menatap Jevan dengan air mata yang kembali meluruh.
Ara kasihan melihatnya. Dia mendekat dan mengusap pelan bahu perempuan itu. “Mbak tenang aja. Aku nggak akan laporin Mbak ke polisi, kok.”
“Ara!”
Ara menoleh ke arah Jevan. Gadis itu menyipitkan matanya ke arah Jevan. “Kamu nggak akan bisa laporin Mbaknya ke polisi. Aku sebagai korban nggak menuntut apa pun.”
Jevan menatap marah ke arah Ara. Lelaki itu mendengus. “Terserah.” Setelahnya, lelaki itu berjalan dengan langkah lebarnya ke arah kamar.
Ara diam melihat itu. Dia kembali menenangkan perempuan yang telah mendorongnya itu. Tidak lama kemudian, orangtua Jevan menghampirinya.
“Ara, ayo. Saya sudah siap, ayo berangkat sekarang. Saya udah nggak sabar laporin dia ke polisi,” kata ibu Jevan.
Ara meringis mendengarnya. “Ada yang mau saya bicarakan sama Tante dan Om.”
“Apa?” tanya ibu Jevan tidak sabar.
“Em, gimana kalau kita nggak usah laporin Mbak itu ke polisi, lagi pula saya kan udah nggak apa-apa.”
“Mana bisa gitu!” sela ibu Jevan cepat. Tampak ekspresi tidak suka di wajahnya. “Dia udah hampir buat kamu celaka. Gimana kita nggak laporin dia ke polisi?!”
“Bu, tenang dulu. Dengarin dulu penjelasannya Ara,” kata ayah Jevan berusaha menenangkan sang istri.
“Saya rasa nggak semua masalah penyelesaiannya di kantor polisi, Tante. Dan saya juga udah sehat, nggak ada hal besar yang terjadi. Jadi, saya rasa lapor ke polisi itu nggak perlu.”
Ibu Jevan terlihat kesal, tapi dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. “Yaudah terserah,” katanya sambil kembali berjalan ke arah kamar.
Ara meringis melihat itu, sedangkan ayah Jevan tersenyum ke arah Ara, sebelum menyusul kepergian sang istri.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-