Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 52



Ara mengerjapkan matanya pelan. Gadis itu menyesuaikan pandangannya dengan sinar lampu, sebelum menyadari bahwa dirinya tidak sendirian di sini.


“Kamu udah sadar, Ra? Mau apa? Minum?” tanya Sarah yang merasa lega melihat Ara sudah bangun.


Ara bangun dibantu dengan Sarah. Gadis itu memandang Sarah dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.


“Ibu aku, ibu aku--”


Sarah mengusap pelan punggung Ara. “Iya, aku tahu, Ra. Kamu nggak usah ngomong lagi,” ujar Sarah sambil berusaha menahan air matanya.


“Aku mau ke Ibu, Mbak. Aku mau lihat Ibu,” katanya.


“Tapi, kamu baru aja sadar, Ra.”


Ara menggeleng pelan. “Aku nggak apa-apa. Aku mohon, Mbak. Aku mau lihat Ibu.”


Sarah akhirnya mengangguk. “Kamu bisa jalan, kan?” tanyanya memastikan, yang dijawab anggukan oleh Ara.


“Aku bantu, ya. Ibu kamu sekarang ada di ruang jenazah. Pak Nicol tadi kasih kabar ke aku.”


Mendengar kamar jenazah, Ara kembali menangis sesenggukan sambil berusaha berjalan dibantu oleh Sarah. Sedangkan Sarah yang merasa salah bicara, langsung menggigit bibirnya. Kenapa dia menjadi begitu bodoh?


“Maaf, Ra. Aku nggak sengaja,” ujarnya pelan.


Ara hanya menggeleng sambil terus menangis. Keduanya kini menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di lorong rumah sakit itu. Jelas, kedua gadis itu masih mengenakan gaun pesta dengan dandanan yang cantik, ditambah lagi Ara yang tidak bisa berhenti menangis.


“Sebentar, kamu duduk di sini dulu, ya. Aku mau tanya sama petugas jaga dulu,” ujarnya ketika mereka telah tiba di depan ruang jenazah. Sarah mendudukkan Ara di salah satu kursi tunggu di depan ruangan itu.


Beberapa detik kemudian, Sarah kembali keluar dari ruangan yang terasa menyeramkan itu.


“Ra, ibu kamu masih dimandikan. Katanya sebentar lagi bakal dibawa pulang. Kita balik ke kamar aja, yuk,” ajak Sarah.


Ara menggeleng. “Aku mau di sini, Mbak,” katanya pelan.


Sarah menatap sekelilingnya tidak nyaman. Ayolah, mereka sekarang tengah berada di depan ruang jenazah. Ditambah lagi ini sudah malam. Siapa yang bisa tenang saja duduk diam di sini?


Namun, Sarah juga tidak bisa meninggalkan Ara sendirian di sini. Bos galaknya itu tadi mengatakan agar dirinya menemani Ara, bukan? Jadi, dengan terpaksa Sarah ikut duduk di samping Ara, sambil terus merapalkan doa di dalam hatinya.


Sementara di lain tempat, Jevan dan Nicol berjalan ke arah kamar yang Ara tempati tadi. Setelah mengurus administrasi, keduanya tadi menghampiri sopir Jevan dan menyuruhnya pulang, untuk mengabari Mbok Ijah tentang persiapan pemakaman.


Saat membuka pintu kamar itu, Jevan terkejut ketika tidak melihat Ara dan Sarah di dalam sana. Dia segera masuk, disusul Nicol di belakangnya.


Lelaki itu membuka kamar mandi dan berteriak memanggil Ara. Tapi, ruangan itu memang kosong. Tidak ada siapa pun di sini.


“Ara! Kamu di mana, Ra?!”


“Je,” panggil Nicol sambil meraih bahu Jevan, lalu mendudukkannya di sofa yang ada di sana. “Tenang. Dari tadi gue perhatikan, lo nggak fokus. Tenang, Je. Ara nggak akan kenapa-napa,” ujarnya begitu melihat Jevan yang tampak tidak fokus sedari tadi.


Jevan sendiri hanya mampu mengembuskan napasnya kasar. Jujur saja sedari tadi pikirannya tidak enak mengenai Ara. Dia takut sesuatu yang buruk terjadi kepada gadis itu. Dia takut gadis itu akan meninggalkannya.


“Biar gue telepon Sarah dulu.” Nicol kembali berucap ketika melihat Jevan yang sudah tampak tenang.


“Kamu di mana?” tanya Nicol langsung saat sambungan teleponnya dengan Sarah terhubung.


“Bapak ngagetin saya aja. Saya lagi takut sebenarnya.” Sarah terdengar berbisik dari seberang sana.


“Iya, saya sama Arana. Bapak tahu nggak saya di mana? Saya di depan ruang jenazah, Pak. Serem, kan?”


Nicol tersenyum tipis mendengar nada bicara gadis itu yang terdengar lucu. “Ngapain kamu di sana?”


“Arana mau lihat ibunya.” Kali ini Sarah lebih memelankan suaranya.


“Ya udah kamu tunggu di sana. Saya sama Jevan ke sana sekarang.” Setelahnya, Nicol kembali menatap Jevan yang memerhatikannya sedari tadi.


“Gimana?” tanya Jevan sambil bangkit berdiri.


“Mereka di depan ruang jenazah.”


Kening Jevan mengerut mendengarnya. “Ngapain mereka di sana?”


“Arana mau lihat ibunya.” Nicol mengulang jawaban yang Sarah berikan kepadanya.


Jevan kembali mengembuskan napasnya kasar. “Kita ke sana.”


Keduanya berjalan dengan langkah lebar ke arah ruang jenazah yang dimaksud Sarah. Dari kejauhan Jevan bisa melihat Ara yang tengah duduk dengan wajah yang menunduk.


Lelaki itu semakin mempercepat langkahnya. Dia segera bersimpuh di depan Ara setelah tiba di depan gadis itu.


“Hei,” panggilnya pelan, yang membuat Ara menoleh ke arahnya dengan mata memerah yang masih mengeluarkan air mata.


Nicol memanggil Sarah mendekat, dia tahu Ara dan Jevan membutuhkan waktu berdua. Sarah yang mengerti, segera beranjak dan berdiri di samping Nicol.


“Je, Ibu... Ibu meninggal,” katanya pelan.


Jevan hanya bisa diam, dan mengusap air mata yang jatuh di pipi Ara. Hatinya terasa diiris melihat bagaimana rapuhnya gadis itu sekarang.


“Aku... aku udah nggak punya siapa-siapa lagi, Je.”


Kali ini Jevan menggeleng pelan. Dia duduk di samping Ara dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. “Ada aku, Ra. Kamu punya aku,” ujarnya pelan sambil mengusap pelan punggung gadis itu.


Ara terus menangis di pelukan Jevan. “Aku takut, Je.”


Jevan hanya bisa diam dan terus berusaha menenangkan gadis di dalam pelukannya ini. Dia tidak suka melihat gadis itu menangis. Dia tidak bisa melihat gadis itu seperti ini.


“Ada aku. Aku di sini, sama kamu. Kamu nggak sendiri, Ara. Jangan pernah takutkan hal apa pun.” Jevan kembali berbisik pelan di telinga gadis itu.


Sarah yang memandangnya sedari tadi, segera mengalihkan pandangan sambil mengusap air mata yang akan jatuh dari matanya.


“Kamu nangis?” tanya Nicol memastikan.


Sarah menggeleng. “Saya cuman kasihan sama Arana, Pak. Hidupnya dia gini banget, sih. Kalau saya jadi Ara, belum tentu saya bisa sekuat dia,” ujarnya sambil mencebikkan bibirnya.


Ya. Yang dikatakan oleh Sarah memang benar. Siapa pun itu, belum tentu mereka sekuat Ara dalam menjalani hidupnya. Karena Tuhan selalu memilih orang yang tepat untuk menjalani hidup yang seperti Ara.


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-