Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 63



Sementara di lain tempat, Ara tengah duduk bersama di ruang tamu dengan Sarah dan juga Sean. Lelaki itu sengaja datang untuk menjenguk Ara. Untuk sekadar memastikan kalau gadis itu baik-baik saja.


“Jadi, setelah ini kamu akan tetap bekerja atau bagaimana, Arana?” tanya Sean.


Ara terlihat berpikir. “Saya nggak tahu, Dok,” jawabnya jujur. “Kalau Jevan mengizinkan, saya mungkin akan kembali bekerja.”


Sean manggut-manggut mengerti mendengarnya. “Kalau boleh saya tahu, hubungan kamu dan Pak Jevan bagaimana?”


Sarah yang sedari tadi asik membolak-balik majalah sambil menyemil, mulai menfokuskan pandangannya ke arah Sean. Gadis itu merasa tertarik dengan apa yang baru saja ditanyakan Sean.


“Em, itu, saya-” Ara terlihat bingung dengan jawaban yang akan dia berikan. Bukannya Sean sudah tahu mengenai hubungannya dengan Jevan. Lalu, kenapa lelaki itu kembali bertanya?


Gadis itu menatap ke arah Sarah yang duduk di sampingnya. Seperti memberi isyarat untuk membantunya.


Sarah berdeham pelan, membuat Sean menoleh ke arahnya. “Dokter Sean mau minum lagi nggak? Itu jus jeruknya udah habis, kan? Sebentar, saya panggilkan Mbok Ijah.” Bahkan tanpa menunggu jawaban Sean, Sarah langsung memanggil Mbok Ijah, dan menyuruhnya membuatkan minuman lagi untuk Sean.


Sarah kembali menatap ke arah Sean yang tampak menatapnya dengan bingung. “Sebentar ya, Dok. Bentar lagi minumnya diantar,” ujarnya sambil tersenyum.


Namun, karena tidak ingin memperpanjang, Sean hanya mengulas senyum mendengarnya. “Tidak apa-apa. Tapi, sebenarnya saya sudah mau pulang, dan karena kamu menyuruh Mbok Ijah membuatkan saya minuman lagi. Maka, saya akan tetap duduk di sini sambil menghabiskan minuman saya.”


Sarah dan Ara bahkan sampai terbengong mendengar penuturan Sean barusan. Apalagi Sarah, gadis itu bahkan menelan ludahnya kasar. Astaga. Kalau Sean terlalu lama di sini, dan Jevan memergokinya. Itu bisa bahaya. Sangat bahaya untuknya.


Sarah memperlihatkan senyuman lebarnya kepada Sean. “Jadi, sebenarnya dokter Sean tadi mau pamit pulang?”


Sean mengangguk dengan polosnya. “Saya ada praktik sebentar lagi.”


“Oh! Kalau gitu praktik aja, Dok. Jusnya nanti biar saya yang minum,” kata Sarah semangat.


Sean mengulum senyum, lalu menggeleng pelan. “Tidak sopan. Saya akan menghabiskan jusnya, dan kembali mengobrol dengan Arana. Lagi pula saya praktik di klinik saya sendiri. Jadi, kamu tenang saja.”


Sarah hanya mengangguk dan terus mempertahankan senyumannya. Padahal, di dalam hati gadis itu, dia tengah ketar-katir karena kapan pun Jevan bisa pulang dan melihat keberadaan Sean.


“Permisi, ini minumnya, Mas.” Mbok Ijah datang sambil membawakan jus milik Sean.


“Terima kasih.” Sean kembali menatap Ara yang diam sedari tadi. “Arana,” panggilnya.


“Iya?”


“Jadi, apa?”


“Apa?” tanya Ara bingung.


“Hubungan kamu dengan Pak Jevan.”


Ara kembali diam, dia melirik Sarah yang ternyata juga diam-diam melirik ke arahnya.


“Maaf kalau saya lancang. Tapi, saya ingin tahu, Arana. Saya sudah tahu kamu memiliki hubungan dengan Pak Jevan. Tapi, saya tidak tahu kalau hubungan kamu dengan Pak Jevan sampai sejauh ini. Bahkan waktu kematian Ibu kamu, rumah duka ditempatkan di sini. Kalian, sudah menikah?” tanya Sean dengan eskpresi serius yang ditunjukkan kepada Arana.


Sedangkan Ara terkejut di tempatnya. Menikah? Ara sempat terpikirkan hal itu. Mempunyai keluarga yang harmonis. Mempunyai anak yang menggemaskan, dan memiliki orang-orang yang tersayang. Siapa yang tidak mau?


Namun, saat Ibunya jatuh sakit. Hal itu hilang dari pikiran Ara. Dia hanya ingin Ibunya sembuh. Lalu, kini saat Tuhan juga ikut mengambil sang ibu. Sean bertanya mengenai hal itu kepada dirinya.


Menikah dengan Jevan? Mungkinkah hal itu akan terjadi?


“Arana,” panggil Sean lagi saat Ara hanya termenung di tempatnya. “Kenapa kamu diam aja? Kamu dengan Pak Jevan sudah menikah?”


“Tidak, Dok,” jawabnya pelan.


Sean tampak menghela napas mendengarnya, sedangkan Sarah hanya bisa diam dan memandang Ara dengan prihatin.


“Saya tahu apa yang ada di pikiran dokter Sean saat ini. Saya tahu saya salah. Saya tahu ini tidak benar. Tapi, saya tidak punya pilihan lain. Bukannya saya berusaha membela diri, tapi saya-”


“Menikahlah dengan saya.”


“Apa?!” seru Sarah terkejut, sedangkan Ara hanya diam dengan ekspresi terkejut.


“Kamu pikir, kamu siapa sampai berani mengajak menikah Arana?” pertanyaan bernada tajam itu, membuat ketiga orang di sana menoleh ke arah pintu masuk.


Di sana, Jevan tengah berjalan masuk dengan Nicol di sebelahnya. Wajah lelaki itu tampak memerah. Rahangnya kaku. Tangannya terkepal erat. Jevan benar-benar tampak marah.


Sean berdiri begitu Jevan telah sampai di sampingnya. Dia tersenyum tipis, dan mengangguk pelan kepada Jevan.


“Saya harap, saya tadi tidak salah dengar, dokter Sean?” tanya Jevan dengan mata yang menyorot tajam ke arah Sean.


Sean melemparkan senyuman santai. “Saya rasa telinga anda masih bisa mendengar dengan baik, Pak Jevan,” jawabnya tenang.


Ara dan Sarah diam mendengarnya. Kedua benar-benar dilanda perasaan takut sekarang. Ara takut Jevan akan marah dengannya karena pernyataan Sean barusan. Sedangkan Sarah takut Jevan marah kepadanya, yang akan berakibat pada kontrak kerjanya. Sementara Nicol, lelaki itu duduk diam di sofa tunggal sambil meminum jus milik Sean yang terlihat masih utuh.


Jevan tersenyum sinis mendengar kalimat itu keluar dari mulut Sean. “Jadi, kamu akan menikahi Ara. Begitu?”


Sean tidak langsung menjawab, dia lebih dulu memandang ke arah Ara yang masih duduk dengan tangan yang saling bertautan di pangkuannya.


“Ya. Kalau Ara bersedia.”


Nicol sudah terkekeh pelan mendengarnya. Sean sangatlah berani. Dia mengatakan itu di depan Jevan, dan di dalam rumah lelaki itu. Apakah dia tidak sadar, tengah melemparkan tubuhnya dengan suka rela ke kandang singa?


Jevan memandang Sean yang masih memandangi Ara dengan marah. Tangannya terkepal erat. Tanpa bisa dicegah, satu pukulan keras mendarat di pipi kanan Sean yang membuat lelaki itu terhuyung ke belakang, dan membuat Ara atau pun Sarah menjerit karena terkejut.


“Sial! Lo pikir, lo siapa berani ngomong gitu di depan gue?! Ara punya gue *******!” Dengan membabi buta, Jevan menghajar Sean sampai tubuh lelaki itu jatuh di sofa.


Sarah dan Ara benar-benar terkejut di tempatnya. Kedua sudah berdiri dari duduknya, berjalan sedikit menjauh dari Jevan yang tengah memukuli Sean.


Dengan langkah takut, Sarah berjalan ke arah Nicol yang masih duduk dan memandang santai ke arah Jevan yang masih memukuli Nicol. Lelaki itu bahkan terlihat seperti tidak berniat untuk melerai.


“Pak,” panggil Sarah sambil menyenggol lengan Nicol keras.


“Ada apa?” tanya Nicol santai.


“Kenapa Bapak diam aja?” tanya gadis itu gemas.


Nicol berdecak. “Memangnya saya harus gimana?”


“Lerai, Pak.”


Nicol menggeleng. “Mereka sudah dewasa. Kalau mereka lelah, mereka akan diam sendiri.”


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-