
“Lo udah nggak waras!” sentak Nicol setelah dia memastikan kalau Ara sudah pergi menaiki lift bersama Sarah.
Jevan hanya mendengus sebagai jawaban. Dia mengabaikan perkataan Nicol, lelaki itu kembali berjalan ke arah kursinya, dan menjatuhkan dirinya di sana. Untuk sesaat dia terdiam mengingat perlakuannya kepada Ara tadi. Dia tidak bermaksud melakukan itu. Tapi, dia benar-benar masih belum bisa bertatap muka lebih lama dengan gadis itu. Rasa marahnya timbul begitu saja.
“Je! Lo beneran udah nggak waras?!” Nicol berjalan mendekat ke arah Jevan.
Jevan diam, tapi setelahnya dia menatap ke arah Nicol. “Ara pulang naik apa?” tanyanya pelan.
Nicol tersenyum sinis mendengarnya. “Lo punya kepribadian ganda?!”
Jevan berdecak. “Tinggal jawab pertanyaan gue aja, ribet!” dumelnya kesal.
“Yang bikin ribet itu, lo! Je, lo sadar nggak sih, sama apa yang udah lo lakukan ke Arana, tadi?! Sikap lo menunjukkan seolah-olah kalau lo marah sama Arana. Karena apa?”
“Nic, sebagai sesama lelaki, dan sahabat gue, seharusnya lo ngerti keadaan gue sekarang!”
“Gimana bisa gue ngerti kalau lo nggak ngomong apa-apa, Je! Berhenti bersikap kayak cewek, yang selalu minta dimengerti, tanpa mau bicara.” Nicol ikut emosi melihat kelakuan Jevan saat ini. “Lo nggak lupa kan, kalau Ara baru aja sembuh?”
Jevan kembali tertegun di depannya. Karena masalah pernikahan yang dikatakan oleh sang ibu, membuatnya lupa bagaimana keadaann Ara sebelumnya.
Jevan mengusap wajahnya dengan kasar. “Gue banyak pikiran,” katanya pelan.
“Dan lo melampiaskan semuanya ke Arana? Salah dia di bagian mana, Je?”
Jevan membuang napas kesal. “Pernikahan, Ibu, dan Ara. Mereka semua berkeliaran di otak gue.”
Nicol diam mendengarnya. Jadi, ini masalah pernikahan yang diusulkan ibu Jevan waktu itu?
“Katanya Arana punya lo. Tapi, lo nggak mau nikahin dia?” tanya Nicol tidak mengerti.
“Gue, gue... Sial. Gue belum kepikiran buat nikah, Nic. Apalagi, setelah pernikahan gue dan Natasya batal. Gue belum kepikiran sama sekali. Dan tiba-tiba aja, Ibu gue nyuruh gue nikah sama Ara. Menurut lo, gimana gue nggak stres karena hal ini?”
“Terus, salahnya Arana di mana? Dia nggak melakukan apa pun, Je. Gue yakin dia sama terkejutnya dengan lo. Tapi, lo malah bersikap menyalahkan dia!” Entah kenapa, tapi Nicol seakan tidak bisa diam saja melihat perlakuan Jevan kepada Arana. Gadis itu sudah Nicol anggap sebagai adiknya sendiri. Dia hanya ingin melindungi Ara.
“Gue belum siap disuruh nikah sama Arana!” balas Jevan dengan keras. Egonya tersentil mendengar Nicol berucap seolah memojokkannya.
“Dan lo cuman harus bilang itu ke Arana. Sesusah itu, ya?!” tanya Nicol tidak mengerti.
Jevan mengembuskan napasnya pelan. Lelaki itu kemudian diam, memilih tidak menjawab pertanyaan Nicol. Kenapa semua seolah tengah memojokkannya? Ibunya, keadaan, dan Nicol. Kenapa semua menjadi menyebalkan di mata Jevan?
“Mending lo pergi dari ruangan gue,” katanya pelan sambil memijit pelan keningnya yang mendadak pusing.
Nicol tersenyum sinis. “Oke, gue bakal pergi dari ruangan lo. Tapi, jangan lupa kalau lo bisa aja kehilangan Ara karena sikap pengecut lo ini!” Setelahnya, lelaki itu berjalan keluar ruangan Jevan.
“Antar Ara pulang. Dia ada di kantor sekarang.” Tanpa menunggu balasan, Jevan memutuskan sambungan telepon lebih dulu.
Saat termenung dengan pikirannya, dering ponsel Jevan terdengar. Dia melirik ponselnya yang berada di meja. Ibu. Jevan mengumpat pelan. Kenapa di saat seperti ini, sang ibu malah menelepon-nya?
Dengan gesture ogah-ogahan, Jevan meraih ponsel, dan menjawab panggilang sang ibu.
“Ada apa, Bu?” tanyanya langsung.
“Sabtu kamu ke rumah, ya.”
“Iya.”
“Bawa Arana juga.”
Kali ini raut wajah protes Jevan perlihatkan, meski sang ibu tidak akan bisa melihat itu. “Kenapa dengan Arana?”
“Pernikahan kalian. Kita akan membicarakan itu sabtu besok.”
“Bu,” panggil Jevan keberatan.
“Kamu ke sini, atau Ibu dan Ayah yang ke rumah kamu?”
Jevan mendengus kasar mendengarnya. “Fine! Aku sama Ara ke rumah sabtu besok!”
Jevan tahu, Ibunya pasti tengah menyunggingkan senyuman kemenangan di seberang sana, dan dia tidak menyukai fakta itu.
“Ya sudah, Ibu tutup. Kamu jangan lupa makan.”
Mendengar kata ‘makan’, Jevan melirik wadah bekal yang sengaja ditinggal Ara tadi. Setelah panggilan telepon-nya dengan sang ibu terputus, lelaki itu bangkit berdiri, dan duduk di sofa di depan bekal yang dibawakan gadis itu.
Perlahan, Jevan membuka wadah itu. Sederhana seperti biasa. Nasi, sayur, dan lauk. Jevan meraih sendok dan mulai memakannya. Di tengah kunyahannya, lelaki itu tersenyum sinis. Menertawakan dirinya sendiri.
Dia memang begitu munafik. Tadi mengusir Ara sampai gadis itu terlihat kecewa. Tapi, sekarang dia malah memakan dengan lahap masakan pemberiannya.
Jevan benar-benar tidak bermaksud membuat gadis itu terluka. Dia juga masih ingat dengan betul, kalau Ara baru saja bangkit dari keterpurukannya. Tapi, mendengar kata menikah, membuat Jevan tidak bisa berpikir dengan jernih. Dia takut dengan pernikahan. Dan itu semua karena Natasya.
Bahkan karena masalah ini, Jevan sampai lupa untuk memberikan pelajaran dengan Natasya. Perempuan itu pasti masih merasa di atas awan sekarang. Diundang di beberapa stasiun televisi swasta untuk mengklarifikasi perihal batalnya pertunangannya. Tidak apa-apa. Biarkan dia menikmatinya sekarang. Saat Jevan sudah bisa menguasai dirinya kembali, dia berjanji akan membalas perempuan itu.
***
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-