Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 49



Pagi ini Ara terbangun dengan Jevan yang masih tidur di sampingnya. Hari ini hari pertunangan lelaki itu. Hari yang menyedihkan untuk Ara. Tapi, gadis itu tahu bahwa sebenarnya Jevan juga tidak menginginkan hari ini terjadi. Meski begitu, jika lelaki itu terus tidur dan tidak mau bangun, dia akan membuat masalah baru.


“Je, bangun. Udah pagi. Hari ini, hari pertunangan kamu sama Mbak Natasya,” katanya sambil mengguncang pelan bahu lelaki itu.


Jevan hanya bergumam pelan, lalu membalikkan badan memunggungi Ara, dan kembali melanjutkan tidurnya.


Ara berdecak melihatnya. “Bangun. Kamu nggak lupa pesan yang dikirim Mbak Natasya kemarin malam, kan? Kalau kamu nggak datang, dia akan bawa Ibu dan Ayah kamu ke rumah ini.”


Setelah beberapa detik menunggu, Jevan akhirnya membuka matanya. Dia memandang Ara dengan tajam. Lelaki itu bangun, dan duduk sambil menghadap ke arah Ara.


“Kamu kelihatan biasa aja.”


Ara mengerutkan keningnya heran. “Biasa aja gimana maksud kamu?”


“Ini hari pertunanganku dengan Natasya. Tapi, kamu nggak kelihatan sedih atau kecewa. Kamu kelihatan biasa aja.”


Ara manggut-manggut mengerti. “Memangnya aku harus gimana? Kalau pun aku menampilkan ekspresi sedih atau kecewa, itu nggak akan mengubah keadaan, kan?”


Jevan masih memandang gadis itu lurus, sebelum kemudian mengembuskan napas kasar, lalu beranjak berdiri untuk ke kamar mandi.


“Siapin sarapan!”


Ara hanya mengangguk walau Jevan tidak melihatnya, karena lelaki itu sudah menghilang di balik pintu kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Jevan mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Lelaki itu memilih memejamkan mata, untuk menikmati dinginnya air yang menetes ke kepalanya.


Perkataan Ara barusan membuatnya merasa marah. Bukan marah kepada gadis itu, melainkan karena apa yang dikatakan Ara memang benar. Semuanya percuma. Tapi, kenapa melihat kepasrahan gadis itu, malah membuat Jevan bertambah kesal?


Jevan meninju dinding kamar mandinya. Seandainya Natasya tidak kembali ke Indonesia, semua ini tidak akan terjadi. Seandainya Jevan memiliki sedikit saja celah untuk melawan, dia pasti akan melakukannya. Tapi, kenyataannya Jevan terlalu lemah karena Natasya selalu membawa Ara ada di antara mereka. Jevan terlalu takut jika nantinya Ara akan lebih terluka dari ini, jika ibunya tahu kebenarannya.


Selesai mandi, Jevan berjalan turun untuk sarapan bersama Ara. Di meja makan, gadis itu tengah menuangkan sirup ke dalam gelas. Saat melihat Jevan, Ara melemparkan senyuman tipisnya kepada lelaki itu.


“Kamu mau sirup, atau kopi?”


“Kopi,” jawab Jevan sambil duduk di salah satu kursi. “Kamu udah rapi? Mau ke mana?” tanyanya saat melihat penampilan Ara.


“Kerja,” jawab Ara sambil meletakkan secangkir kopi di hadapan Jevan.


“Kerja?” tanya Jevan memastikan, yang hanya dijawab anggukan oleh Ara.


“Kenapa kerja? Perusahaan diliburkan hari ini sama Ayah,” ujar Jevan.


“Oh, petugas kebersihan kan nggak libur, Je,” jawab Ara sambil tersenyum tipis. “Tapi, nggak akan lama, kok. Selesai beres-beres juga pulang.”


“Enggak.”


“Ha?” Ara menatap bingung kepada Jevan.


“Enggak. Kamu nggak boleh masuk kerja.”


“Tapi, kasihan teman-teman yang masuk-”


Jevan menatap Ara tajam, yang membuat gadis itu menghentikan kalimatnya. “Kamu nggak dengar apa yang aku bilang?”


Ara menunduk. “Dengar,” jawabnya pelan.


Jevan mengangguk puas. “Bagus. Sekarang duduk, dan sarapan. Aku mau kamu hari ini di rumah aja, nggak ke mana-mana. Paham?”


Ara duduk di seberang Jevan, lalu mengangguk pelan.


“Acaranya baru dimulai sekitar jam tujum malam. Jadi, aku akan berangkat sore aja.”


Ara secara otomatis memandang ke arah Jevan terkejut. Jika lelaki itu berangkat sore hari, mana sempat dia berdandan bersama Sarah?


“Kenapa?” tanya Jevan heran.


Saat tengah fokus dengan sarapan mereka, Mbok Ijah datang ke arah mereka.


“Maaf, mengganggu Tuan. Tapi, Ibu menelepon lewat telepon rumah,” katanya.


Jevan mengembuskan napasnya kasar. “Habisin makanan kamu!” suruhnya kepada Ara, sebelum dia bangkit untuk menerima telepon dari sang ibu.


Diam-diam Ara mengulum senyum melihat itu. Semoga saja ibu Jevan akan menyuruh lelaki itu pergi sekarang juga. Jadi, Ara akan memiliki waktu luang bersama Sarah nanti.


Tidak lama kemudian, Jevan kembali dengan wajah yang terlihat kesal. Dia duduk di samping Ara, yang membuat gadis itu menoleh ke arahnya.


“Ada apa?” tanya Ara pelan.


“Ibu minta aku datang sekarang ke hotel,” ujarnya tidak menutupi kekesalannya.


Ara hanya manggut-manggut mengerti.


“Baju yang kamu beliin kemarin, udah dicuci, kan?”


Ara mengangguk.


“Bilang ke Mbok Ijah, kalau aku bakal pakai baju itu.” Setelah mengatakan itu, Jevan beranjak berdiri dan berjalan ke arah tangga untuk ke kamarnya.


Ara tersenyum. Jevan sebenarnya lelaki yang baik. Hanya saja, terkadang keadaan yang membuat lelaki itu berubah menjadi kejam dan menakutkan.


“Ingat pesanku. Jangan ke mana-mana hari ini. Kemungkinan aku pulang malam, nggak usah ditunggu. Kamu tidur duluan aja,” pesan Jevan kepada Ara saat dirinya sudah berada di dalam mobil.


Ara hanya mengangguk dan tersenyum.


Gadis itu memang terlihat sangat penurut. Tapi, mengapa kali ini Jevan ragu terhadap Ara?


“Aku marah kalau kamu nggak tepati janji,” ujar Jevan kembali.


“Iya.”


“Hati-hati di rumah. Kalau ada apa-apa, hubungi aku.” Setelahnya, Jevan menyuruh sopirnya untuk mulai menjalankan mobil yang mereka tumpangi.


Ara pun segera menghubungi Sarah untuk menanyakan jam berapa keberangkatan mereka nanti. Entah kenapa, dia hanya ingin membuktikan kepada Natasya bahwa dirinya juga pantas disandingkan dengan Jevan.


“Hallo, Mbak Sarah,” sapanya ketika sambungan teleponnya sudah terhubung.


“Hai, Pak Jevan udah berangkat?”


“Udah, Mbak. Kita jadi berangkat jam berapa?”


“Em, aku masih sarapan, sih, sekarang. Gimana kalau siangan aja? Jam sebelas gitu?”


“Iya, Mbak. Nggak apa-apa. Aku harus ke mana, Mbak?”


“Kamu di sana aja. Aku yang samperin kamu ke sana.”


“Ya udah kalau gitu, aku tunggu, Mbak.”


“Oke.”


Ara tidak tahu kenapa dia merasa sesemangat ini, rasanya menunggu jam sebelas sangat lama, padahal biasanya waktu berjalan cukup cepat untuknya.


Begitu pukul sebelas, Ara sudah selesai bersiap-siap. Dia hendak meraih ponselnya yang ada di ranjang, tapi dia urungkan. Lebih baik dia tidak membawa ponsel. Itu akan membuatnya lebih mudah memberikan alasan kepada


Jevan nantinya jika dia ketahuan.


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-