
Pagi ini Ara merasa tubuhnya lebih sehat dibanding kemarin. Dia bangun dari tidurnya, menatap Jevan yang masih tertidur dengan senyum merekah. Ara menjatuhkan satu kecupan kecil di kening Jevan, sebelum melangkah ke kamar mandi.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Ara menuruni tangga untuk menghampiri Mbok Ijah yang menyiapkan sarapan pagi mereka.
“Pagi, Mbok,” sapa Ara dengan ramah.
Mbok Ijah tersenyum membalas senyuman Ara. “Mbak Ara sudah sehat?”
Ara mengangguk. “Udah enakan, Mbok. Mbok Ijah masak apa?”
“Bikin capcay sama ayam goreng tepung.”
Mata Ara berbinar senang. “Wih, enak itu, Mbok. Ara jadi lapar. "
“Mbak Ara tunggu di meja saja.”
Ara menggeleng. “Ara bantu aja, Mbok.”
“Nggak usah, Mbak, nanti Tuan Jevan marah.”
“Dia belum bangun, jadi nggak apa-apa. Ara bantu goreng ayamnya, ya,” ujar Ara sambil meraih wadah berisi ayam yang tinggal digoreng saja.
“Kenapa kamu selalu membantah akhir-akhir ini, Ara?”
Ara hanya memberikan cengirannya dan berjalan ke arah wastafel untuk mencuci tangannya, lalu berjalan menghampiri Jevan.
“Kamu udah bangun?” tanya Ara pelan.
“Maaf,” cicit Ara pelan, saat Jevan hanya diam.
"Kamu baru aja sakit, Ara," Jevan bersimpuh di depan Ara seraya mengelus pelan pipi wanitanya. "Aku khawatir tahu gak!"
“Aku udah sembuh, kok.”
“Aku cuman mau bantu Mbok Ijah. Kasihan dia, udah berumur, masih harus kerja. Cuci baju, masak, nyapu, ngepel,” ujar Ara pelan.
“Dia aku gaji.”
“Tahu, kok. Tapi, kamu pelit, sih. Punya banyak uang, tapi cuman punya satu ART.”
“Apa kamu bilang?” tanya Jevan kesal.
Ara hanya diam dan kembali menunduk.
“Ini sarapannya, Mbak.” Mbok Ijah datang sambil membawa sepiring ayam goreng dan semangkuk capcay.
“Mbok capek kerja sama saya?”
Perempuan tua itu buru-buru menggeleng. “Tidak, Tuan.”
“Kalau capek, bilang. Saya bisa nambah orang buat bantuin Mbok,” ujar Jevan, berusaha terdengar angkuh. Tapi kenyataannya, hal itu membuat Ara tersenyum menatap Jevan.
Mbok Ijah menggeleng. “Saya masih sanggup, Tuan.”
“Saya juga nggak akan mengurangi gaji, Mbok, kalau ada orang baru. Uang saya banyak,” ujar Jevan kembali.
Mbok Ijah menatap Ara dengan bimbang. Ara mengangguk beberapa kali. Keduanya berbicara melalui tatapan mata mereka. Ara berusaha mengatakan kepada Mbok Ijah, agar dia menerima saja tawaran yang Jevan berikan.
“Tapi, kalau Tuan mengizinkan, saya tidak apa-apa. Saya senang ada teman yang membantu,” ujar Mbok Ijah sambil menahan senyumnya.
Jevan mengangguk mengerti. “Besok saya usahakan sudah ada orang yang membantu Mbok.”
Ara masih menatap Jevan sambil tersenyum setelah Mbok Ijah meninggalkan mereka. Merasa diperhatikan, Jevan menoleh kepada Ara. Keningnya mengerut melihat senyuman Ara.
“Kamu ngejek aku?”
Ara menggeleng. “Siapa yang ngejek kamu? Aku senang kamu mau nambah orang buat bantu Mbok Ijah.”
Sesaat, Jevan tertegun melihat bagaimana tulusnya senyuman Ara. Jevan kemudian mengalihkan pandangannya ke koran yang tadi dia baca. Sebenarnya dia tidak suka ada banyak orang di rumahnya. Namun, entah kenapa ketika Ara yang memintanya, Jevan tak kuasa menolak.
Jevan mengembuskan napasnya pelan. Dia harus berhati-hati. Ara membawa pengaruh yang cukup besar untuk dirinya. Jika Jevan tak mampu mengendalikan diri, dia akan terjatuh semakin dalam ke pelukan Ara, tanpa gadis itu sadari.
Selesai sarapan, Ara tengah berada di kamar untuk berganti pakaian. Dia harus berangkat bekerja. Namun, gerakan Ara terhenti ketika Jevan memasuki kamar mereka dan menatap Ara heran.
“Kamu mau ke mana?”
“Kerja.”
“Nggak. Hari ini kamu libur, nggak usah masuk kerja.”
“Kenapa?” Protes Ara.
“Kamu sakit,” jawab Jevan sambil meraih jasnya dan memakainya.
“Aku udah sembuh, Je. Aku masuk aja, ya,” ujar Ara memohon kepada Jevan.
Jevan menggeleng. “Sekali enggak, tetap enggak. Kamu di rumah. Istirahat.”
Ara mengembuskan napasnya. Dia kalah berdebat. Jevan pasti akan sangat marah kalau Ara bersikeras kali ini. Jadi, Ara hanya bisa diam sambil memperhatikan Jevan.
Ketika Jevan telah siap dengan pakaiannya, dia menoleh kepada Ara. Jevan mendekat dan meraih tubuh Ara ke dalam pelukannya. Ara hanya bisa diam di dalam pelukan Jevan.
“Aku cuman nggak mau kamu sakit lagi, Ara. Kamu ngerti, kan,” gumam Jevan.
Masih dalam pelukan Jevan, Ara mengangguk. “Iya, aku ngerti.”
Jevan melepas pelukannya, tangannya yang besar merangkum wajah Ara yang mungil. Jevan menjatuhkan kecupan di bibir Ara beberapa kali, sebelum melepasnya.
“Aku pergi dulu.”
“Iya,” jawab Ara pelan.
Sebelum tiba di pintu kamar mereka, Jevan berhenti melangkah. Lelaki itu menoleh kepada Ara. Dia harus menyampaikan ini sekarang, kalau tidak, dia bisa lupa.
“Ara, aku harus mengunjungi orangtuaku.”
“Hari ini?” tanya Ara.
Jevan menggeleng. “Weekend. Aku akan menginap.”
Walau terkejut, Ara tetap mengangguk. Jika Jevan menginap, itu artinya dia tidak akan bertemu dengan lelaki itu selama beberapa hari. Hanya beberapa hari, tapi kenapa rasanya berat untuk Ara?
“Aku pergi. Kamu istirahat,” ujar Jevan, lalu meraih kenop pintu dan pergi meninggalkan Ara yang masih terdiam di tempatnya.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-