Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 27



Apa yang dibicarakan oleh Nicol semalam memang benar. Natasya bukan tipe orang yang pengadu, tapi perempuan itu sangat licik. Siang ini, dia dan ibu Jevan datang ke kantor Jevan dan memintanya untuk makan siang bersama, dan Jevan yang tidak mempunyai pilihan selain menurut.


“Ibu sudah dengar dari Natasya. Ibu senang, Je. Kamu benar-benar anak ibu. Tanpa ibu bicara, kamu sudah tahu kemauan ibu,” kata ibu Jevan ketika mereka tengah memakan makan siang masing-masing.


Dahi Jevan mengernyit mendengar perkataan sang ibu. “Maksud Ibu apa?” tanyanya tidak mengerti.


Ibu Jevan terkekeh. “Kamu itu suka pura-pura, deh.”


Jevan menggeleng. “Aku memang nggak ngerti apa yang Ibu maksud,” katanya jujur.


Sang Ibu berdecak. “Pertunangan kamu dan Natasya. Natasya bilang, kamu sudah setuju tentang itu.”


Mata Jevan membulat. Dia segera menatap Natasya yang duduk tenang di samping sang ibu dan terus memakan makan siangnya.


“Aca,” panggilnya pelan. Dia memberikan tatapan tajam kepada Natasya. Apa maksud gadis itu?


Natasya menoleh ke arah Jevan. “Ada apa?” tanyanya santai.


Jevan mengembuskan napas pelan. Dia mencoba mengatur emosinya. Kalau dia marah di sini, ibunya bisa tahu tentang keberadaan Ara.


“Aku rasa kita perlu bicara berdua.”


“Kenapa? Kenapa nggak di sini aja?” Natasya menatap Jevan dengan menantang.


Jevan menggeram marah. “Bukankah lebih nyaman jika hanya ada kita berdua?”


Ibu Jevan terkekeh setelah mendengar percakapan kedua anak muda itu. “Natasya, sepertinya Jevan hanya mau berbicara berdua dengan kamu. Sudah sana, cari tempat. Ibu nggak akan menguping, kok.”


Natasya memberikan senyuman ke arah ibu Jevan. “Iya, Tante.” Lalu gadis itu berdiri dari duduknya dan berjalan keluar restoran, diikuti oleh Jevan di belakangnya.


“Apa maksud kamu?!” sentak Jevan begitu mereka berada di luar restoran.


“Bukannya semua udah jelas? Kita akan melakukan pertunangan,” jawab Natasya santai.


“Pertunangan kita sudah batal, dan aku nggak mau mengulangi hal bodoh itu lagi bersama kamu.”


Natasya terkekeh. “Berarti kamu mau aku ngomong ke Ibu kamu tentang keberadaan Ara? Aku rasa, kamu lebih mengenal Ibu kamu daripada aku. Kamu pasti tahu apa yang akan dilakukan oleh Ibu kamu, ketika tahu anak satu-satunya menjalin hubungan tidak sehat dengan gadis yang tidak jelas asal-usulnya.”


Jevan memandang Ara tajam. Ingatkan Jevan, jika yang berada di depannya sekarang adalah seorang perempuan. Jika tidak, sudah dipastikan tinju Jevan akan mengarah ke wajahnya.


“Kamu memang licik, Aca.”


Natasya kembali terkekeh. “Kita, bukan hanya aku. Kita sama-sama licik.”


“Jangan harap aku akan tunduk dengan permainan kamu. Aku tidak akan melakukan apa yang kamu mau.”


“Silakan. Maka detik itu juga, kamu akan melihat apa yang dilakukan oleh Ibu kamu terhadap Ara.”


Jevan semakin marah. Sial. Perempuan itu benar-benar sedang memanfaatkan keadaan. Untuk sekarang, Jevan belum bisa membiarkan ibunya tahu mengenai keberadaan Ara. Setidaknya bukan sekarang.


“Atau begini saja, aku akan membatalkan pertunangan kita.”


Jevan menatap Natasya waspada.


“Sebagai gantinya, kamu harus melepaskan gadis itu.”


Jevan mendengus mendengarnya. Dia tidak akan melepaskan Ara, apa pun yang terjadi.


“In your dreams!” Setelahnya, Jevan berbalik badan untuk kembali ke meja tempat ibunya tengah menunggu mereka.


“Bu, aku harus kembali. Aku lupa ada rapat sebentar lagi,” kata Jevan ketika dia sudah berada di samping sang Ibu.


“Makanan kamu nggak dihabiskan?”


Jevan menggeleng. “Aku sudah kenyang.”


Jevan menatap tajam kepada Natasya yang berjalan ke arahnya, sebelum berbalik badan dan melangkah keluar.


“Natasya, kalian bertengkar?” tanya ibu Jevan ketika Natasya duduk di tempatnya tadi.


Walau merasa ragu, ibu Jevan tetap melanjutkan makan siangnya bersama Natasya.


 


 


***


Saat melewati lobi kantor, Jevan tidak sengaja berpapasan dengan Ara yang hendak kembali ke ruangan kebersihan. Untuk sesaat, keduanya saling bertatapan, sebelum Jevan memutuskan pandangan mereka lebih dulu dan kembali meneruskan langkahnya.


Ara menghela napas melihat itu. Di kantor, Jevan dan dirinya terasa sangat jauh. Jujur saja, Ara mulai tidak suka dengan fakta itu. Padahal, sebelumnya dia biasa-biasa saja.


“Arana.”


Ara memberikan senyumannya kepada Sean yang berdiri beberapa langkah di depannya.


“Dokter Sean apa kabar? Saya lama tidak melihat Dokter,” sapa Ara ramah.


“Ya. Saya ada seminar di Jogja. Kamu apa kabar? Kurang baik kelihatannya,” ujar Sean.


Ara terkekeh. “Saya baik, kok, Dok.”


“Kamu sudah makan siang? Kalau kita makan siang bersama, bagaimana?”


Ara memang belum makan siang, tapi pergi makan siang bersama Sean juga bukan pilihan yang tepat.


Gadis itu menggeleng. “Maaf, Dok. Tapi saya sudah makan siang.”


Tampak raut kecewa di wajah Sean, tapi sedetik kemudian lelaki itu tersenyum tipis. “Sayang sekali. Bagaimana kalau lain waktu? Saya ingin mengobrol dengan kamu.”


Ara mengangguk. “Iya, lain waktu saja. Kalau gitu, saya permisi, Dok.” Ara pergi setelah Sean mengangguk kepadanya.


Tanpa Ara ketahui, Jevan memperhatikan itu dari jauh sedari tadi. Dia sengaja menghentikan niatannya untuk naik lift, ketika melihat Sean yang berjalan menghampiri Ara.


Jevan hanya ingin tahu, bagaimana Ara bersikap saat dia tidak ada di samping gadis itu. Ketika melihat Ara yang pergi dari hadapan Sean, senyuman di bibir Jevan terbit. Ara menuruti perintahnya untuk tidak dekat-dekat dengan lelaki mana pun. Namun, sepertinya dokter itu harus diberi pengertian.


Sementara itu, Ara kembali ke ruangannya. Ruangan itu tengah ramai, entah apa yang mereka bicarakan. Ara mendekat ke arah Desi yang fokus pada ponselnya.


“Lagi apa, Des?” tanyanya.


Desi menoleh ke arah Ara. “Syukur lo di sini. Ada berita penting. Dengan berita ini, bisa aja nama lo bersih dari skandal di kantor ini.”


Kening Ara mengernyit melihatnya. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Desi. “Memangnya berita apa?”


Desi menyerahkan ponselnya kepada Ara. “Baca sendiri, deh,” suruhnya.


Ara mulai membaca artikel di ponsel Desi.


Pewaris JS Group, Jevan Smith, akan segera melangsungkan pertunangannya dengan model cantik Natasya Cyntia, pada bulan ini. Seperti yang diketahui selama ini, Natasya dan Jevan pernah menjalin hubungan beberapa tahun yang lalu, tapi hubungan mereka kandas, ketika Natasya mengejar karier ke luar negeri. Mungkinkah istilah cinta lama bersemi kembali, sedang terjadi di antara keduanya? 


Ara tidak membaca artikel itu sampai akhir. Dia tidak bisa berkata apa pun sekarang. Pikirannya buntu, lidahnya kelu untuk sekadar berbicara dengan Desi. Jevan dan Natasya akan bertunangan? Lalu, dirinya bagaimana?


“Udah gue duga, sih, Ra. Waktu si Natasya itu ke sini. Dia sama Pak Jevan pasti terlibat dalam suatu hubungan.” Desi kembali berkata, seakan tidak peka dengan perasaan Ara sekarang.


“Arana, kok, lo diam aja, sih?” tanya Desi heran.


Ara hanya tersenyum paksa dan menyerahkan ponsel Desi kembali. “Aku nggak apa-apa, kok. Kayaknya aku lapar, deh. Aku ambil makan dulu, ya.”


“Ya ampun, lo belum makan dari tadi? Ya udah, makan dulu sana.”


Ara berjalan ke luar ruangan. Dia sedang tidak ingin makan. Mana bisa dia makan dalam keadaan seperti ini? Yang ditujunya sekarang adalah kamar mandi, dia ingin menangis tanpa diketahui orang di sana.


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-