Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 20



Sempurna.


“Cantik,” kata Jevan, lalu mengecup dahi Ara. Dia kini hanya ingin menghabiskan malam yang romantis dengan Ara. Sedangkan Ara hanya tersenyum dengan pipi yang merona.


Jevan lalu menggandeng tangan Ara dan membawanya berjalan ke luar rumah. Sudah ada sopir yang menunggu mereka.


“Kita mau ke mana?” tanya Ara setelah mobil berjalan.


“Makan,” jawab Jevan singkat.


“Makan aja pakai banyak uang kayak gini,” gumam Ara, yang masih bisa didengar oleh Jevan.


“Bilang apa kamu?”


Ara hanya menampilkan cengirannya dan menggeleng. “Aku lapar,” katanya.


Jevan mendengus dan kembali menekuni tabletnya. Dia tidak bisa lepas dari benda itu, karena semua pekerjaannya ada di sana. Tidak masuk kerja satu hari saja, membuat pekerjaan Jevan menumpuk. Untungnya dia masih sempat meluangkan waktu berdua dengan Ara.


“Je, weekend nanti, aku boleh, nggak, jenguk Ibu lagi?” tanya Ara sambil menatap Jevan dengan memohon.


Jevan mengalihkan pandangannya. Dia mendesah melihat tatapan yang diberikan oleh Ara. “Aku akan periksa jadwalku dengan Sarah dulu.” Dia sebenarnya tidak ingin mengizinkan, karena Ara pasti akan kembali bersedih jika melihat ibunya. Tapi, melihat tatapan yang diberikan gadis itu, Jevan merasa dirinya goyah. Jadi, hanya jawaban itu yang bisa dia katakan kepada Ara.


Setelah beberapa menit di perjalanan, Jevan dan Ara tiba di sebuah restoran terkenal di kota. Jevan menggenggam tangan Ara untuk memasuki restoran tersebut.


Ara sendiri memandangi interior restoran itu dengan terpukau. Ini adalah kali pertama Ara makan di tempat sebagus dan semewah itu.


“Duduk,” suruh Jevan kepada Ara begitu mereka tiba di meja yang laki-laki itu pesan.


Ara duduk dan masih memandang sekitarnya dengan kagum. Jevan, yang duduk di depan Ara, hanya menggeleng. Ara terlihat seperti orang kampung sekali.


“Je, kamu sering makan di sini?” tanya gadis itu setelah puas memandangi sekelilingnya.


“Hmm, biasanya untuk bahas masalah bisnis,” jawab Jevan santai.


“Keren, restorannya bagus, mewah lagi. Makanan di sini mahal, Je?”


Kening Jevan mengerut mendengar pertanyaan Ara. “Memangnya kenapa kalau makanannya mahal?”


“Sayang aja gitu, Je. Padahal makanan mahal belum tentu enak, uang kamu jadi sia-sia,” kata Ara jujur.


Kali ini Jevan berdecak mendengarnya. “Uangku nggak akan habis, walau untuk kasih makan kamu makanan mahal setiap hari,” katanya ketus.


Ara hanya terkekeh. Ya. Dia percaya akan hal itu. Dia hanya senang menggoda Jevan, karena itu merupakan hal yang menyenangkan untuknya.


Tidak berapa lama kemudian, beberapa pelayan datang untuk menyajikan makanan di meja Jevan dan Ara. Gadis itu mengamati piring yang disajikan dengan teliti. Semua terlihat sangat menggiurkan, dan beruntungnya Ara saat dia tidak melihat makanan mentah di situ.


“Kamu mau makan yang mana dulu?” tanya Jevan saat melihat pandangan lapar Ara.


“Itu,” jawab Ara sambil menunjuk piring steak di samping Jevan.


Jevan menggesernya ke arah Ara. “Makan.”


Ara masih diam dan melihat steak itu dengan bingung.


“Kenapa lagi?” tanya Jevan heran.


Kali ini Ara menampilkan cengirannya. “Cara makannya gimana?”


Jevan terbengong di tempatnya, tidak menyangka Ara akan bersikap seperti sekarang. Apakah gadis itu tidak pernah menonton televisi atau drama yang memperlihatkan para pemerannya memakan steak?


Jevan meraih kembali piring steak di depan Ara dan mulai memotong-motongnya menjadi bagian-bagian kecil. Ara yang melihat itu tersenyum tipis. Jevan terlihat romantis ketika bersikap seperti ini. Setelahnya, Jevan kembali menyodorkan piring Ara.


“Makannya pakai garpu, bukan sendok,” kata Jevan ketus.


Ara manggut-manggut mengerti, mulai meraih garpu, lalu memakan daging tersebut. Jevan memandang Ara tidak percaya. Kalimatnya tadi sebenarnya adalah bentuk sindiran untuk gadis itu. Tapi ternyata Ara menganggapnya serius? Jadi, tadinya gadis itu hendak memakan steak menggunakan sendok? Yang benar saja!


Beberapa menit setelah menghabiskan makanan di meja, Ara bersandar di punggung kursi dan mengusap-usap perutnya yang kenyang. Bibirnya masih menyunggingkan senyuman untuk Jevan.


“Makasih, Je. Aku kenyang,” ujarnya.


“Aku mau pipis,” ujar Ara.


“Ayo,” ajak Jevan sambil beranjak berdiri.


“Eh, kamu mau ke mana?” tanya Ara heran.


“Katanya mau ke kamar mandi.”


“Iya, aku sendiri, nggak usah sama kamu.”


“Kamu berani?” tanya Jevan memastikan.


Ara mengangguk. “Berani. Di sebelah mana kamar mandinya?”


Jevan menunjuk ke arah lorong di belakang Ara. “Kamu masuk ke lorong itu, nanti sebelah kanan itu kamar mandi perempuan.”


Ara mengangguk dan mulai berjalan ke arah yang ditunjukkan oleh Jevan. Jevan diam memperhatikan dan memastikan Ara tidak salah jalan. Setelahnya, Jevan kembali fokus dengan ponselnya.


Ara memasuki lorong yang temaram itu, kemudian masuk saat melihat tanda “perempuan” di depan pintu toilet. Saat baru saja menginjakkan kakinya di dalam kamar mandi, Ara dikagetkan oleh suara tangis seorang perempuan. Dia melihat seorang perempuan dengan gaun yang sangat cantik, yang tengah menangis di depan wastafel.


Karena tidak ingin mengganggu, Ara pun meneruskan masuk ke salah satu bilik. Namun, dia masih saja mendengar tangis perempuan itu, walau sudah tidak sekeras tadi.


Setelah selesai dengan urusannya, Ara keluar. Perempuan tadi, sementara itu, tengah membasuh wajahnya di wastafel. Ara berjalan mendekat untuk mencuci tangan.


Saat perempuan itu mulai mengangkat wajahnya, Ara melirik dan berseru dengan keras.


“Mbak!” serunya senang.


Perempuan itu menoleh heran ke arah Ara. “Maaf, kita saling kenal?”


Ara mengangguk, tapi sedetik kemudian dia menggeleng. “Kita pernah ketemu waktu mau belanja.”


Melihat kerutan di kening perempuan itu, Ara lagi-lagi berucap. “Buah naga,” katanya.


Setelahnya, perempuan itu manggut-manggut mengerti dan tersenyum tipis. “Maaf, saya pelupa orangnya.”


Ara membalasnya dengan senyum. Dia mencuci tangan, kemudian mengulurkan tangannya ke arah perempuan itu.


“Ara,” sapanya.


Perempuan itu tersenyum dan membalas uluran tangan Ara.


“Natasya,” jawabnya.


“Mbak lagi makan di sini?” tanya Ara setelah tautan tangan mereka terlepas.


“Iya, kamu juga?”


Ara mengangguk, lalu, seolah teringat keberadaan Jevan, dia pun buru-buru pamit. “Aku pamit dulu ya, Mbak Natasya. Takut kelamaan di kamar mandi.”


Natasya hanya tersenyum melihat Ara yang keluar dengan tergesa-gesa. Saat hendak mengeringkan tangannya, Natasya merasa sepatunya menginjak sesuatu. Dia berjongkok dan memungut benda itu. Anting. Ini pasti milik Ara.


Natasya segera meraih tasnya dan berjalan keluar untuk memberikan anting tersebut. Lorong tampak sepi tanpa orang. Begitu tiba di restoran, Natasya mengedarkan pandangannya. Dia segera berlari kecil ketika melihat Ara yang beranjak keluar bersama seorang laki-laki. Saat sudah berada di dekat gadis itu, Natasya meraih lengannya.


“Anting kamu jatuh—” Natasya tidak bisa melanjutkan perkataannya ketika laki-laki di samping Ara menoleh.


“Jevan,” gumamnya pelan.


Jevan memandang Natasya terkejut. “Aca?!”


Ara melihat keduanya dengan heran. Mereka berdua saling kenal?


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-