Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 82



Malam harinya, Nicol dan Sarah datang untuk menjenguk Ara. Saat ini, Sarah tengah berada di kamar bersama dengan Ara. Sedangkan Nicol tengah duduk berdua dengan Jevan di ruang tamu.


“Orang yang dorong Ara tadi siang, perempuan. Gue udah periksa CCTV, dari gesture-nya, dia emang lebih kelihatan kayak cewek,” kata Nicol.


Jevan mengangguk. “Orang suruhan Ayah gue juga bilang gitu. Dia emang cewek, dan dia adalah salah satu dari tiga karyawan yang gue pecat, karena mereka suka ngomongin Ara.”


Tampak ekspresi terkejut di wajah Nicol. “Oh, ya? Terus, sekarang gimana?”


“Orang suruhan Ayah gue masih cara tahu motifnya apa.”


“Dan lo akan lapor ke polisi masalah ini?”


“Gue nggak tahu. Antara lapor polisi, atau biarin orang suruhan Ayah gue yang beresin.”


Nicol manggut-manggut mengerti. “Jadi, masalah ini nggak ada kaitannya sama Natasya, menurut lo?”


“Masih terlalu dini buat menyimpulkan, Nic. Bisa aja mereka kerja sama buat jahatin Ara. Tapi, gue juga nggak bisa nuduh tanpa bukti.”


Nicol mengangguk mengerti. “Terus, masalah nikahan lo gimana? Jadi?”


Jevan mendengus. “Tentu aja gue dan Ara akan menikah. Lo berharapnya kita berdua nggak jadi nikah cuman karena hal sepele ini?”


“Bukan gitu maksud gue. Siapa tahu aja lo mau nunda.”


Jevan menggeleng. “Semakin gue nunda pernikahan gue dan Ara, semakin senang mereka. Lagi pula, yang ngurus nikahan juga orangtua gue. Gue sama Ara tinggal terima beresnya aja.”


Nicol kembali mengangguk. “Bagus, deh. Lebih cepat lebih baik.”


Kening Jevan mengerut memandang Nicol. “Kayaknya ada makna tersembunyi dari kalimat lo barusan.”


Nicol terkekeh. “Nggak ada maksud lain. Cuman, kalau lo sama Ara jadi nikah tahun ini, bisa dong tahun depan giliran gue.”


Jevan memberikan tatapan mengejek kepada sang sahabat. “Lo ngomongin nikah, emang ada yang mau sama lo?”


“Sialan lo, Je! Lo nggak tahu aja kalau gue lagi berusaha buat ambil hatinya Sarah. Lagi pula, orangtua gue juga udah pengen punya cucu. Nggak mungkin gue kasih cucu, tapi nggak nikah dulu, dong.”


Jevan manggut-manggut mengerti. “Orangtua dan segala keribetan mereka,” ujarnya yang diangguki oleh Nicol.


***


Setelah kepulangan Nicol dan Sarah, Jevan memutuskan untuk menginap malam ini saja. Tentu saja dia harus tidur sekamar dengan Ara, meski harus terjadi perdebatan kecil antara dia dan Ibunya.


“Kamu maksa banget tadi. Sampai debat dulu sama Ibu kamu,” ujar Ara ketika Jevan baru saja keluar dari kamar mandi.


Lelaki itu ikut bergabung dengan Ara di ranjang. Dia tertidur di pangkuan Ara yang sedang duduk di sana.


“Aku cuman mau tidur bareng kamu. Tapi, Ibu nggak kasih izin. Padahal, kita udah sering melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar tidur.”


Ara memberikan pukulan pelan di mulut lelaki itu. “Malu. Jangan bahas itu.”


Jevan terkekeh mendengarnya. “Kamu nggak apa-apa? Ada yang masih terasa sakit?”


Ara menggeleng. “Aku udah baikan, kok. Mungkin cuman pusing sedikit aja.”


“Kita ke dokter besok, ya.”


“Nggak usah, Je.”


“Kamu harus diperiksa. Kamu tadi siang jatuh dari tangga paling atas ke tangga paling bawah. Gimana nggak apa-apa?!”


Ara diam mendengarnya. Jevan selalu saja bertindak berlebihan menurutnya.


“Yaudah, terserah kamu.”


Jevan memejamkan matanya. “Memang terserah aku. Hidup kamu sekarang milik aku.”


Ara mencibir mendengarnya. Tangannya mengusap perlahan rambut lelaki itu. “Oh, ya. Kamu udah tahu siapa yang dorong aku?”


Pertanyaan yang Ara berikan, membuat Jevan membuka matanya. “Memangnya kenapa?” tanyanya sambil menatap tepat ke mata Ara.


“Nggak apa-apa, sih. Aku cuman tanya aja.”


Jevan kembali memejamkan matanya. “Belum.” Ya. Lelaki itu lebih memilih berbohong kepada Ara. Dia hanya tidak ingin gadis itu terlalu banyak berpikir, yang malah akan membuat kesehatannya memburuk. Jevan ingin Ara hidup dengan nyaman dan bahagia.


“Je, aku boleh minta sesuatu sama kamu,” kata Ara pelan dengan tangan yang masih mengusap rambut Jevan pelan.


“Katakan.”


“Masalah aku jatuh tadi, dan orang yang mungkin dengan sengaja dorong aku. Nggak udah diperpanjang, ya.”


“Maksud kamu apa?”


Ara menggigit bibir bawahnya. “Ya, nggak udah diperpanjang. Anggap aja itu nggak pernah terjadi,” jawabnya sambil tersenyum lebar.


Jevan mendengus mendengar  itu. “Mana bisa?! Mana bisa kejadian tadi dilupakan gitu aja, Ara? Kamu terluka karena ulah orang itu. Mana bisa aku biarin dia gitu aja?!” Tampak sekali jika lelaki itu terlihat kesal dengan Ara.


Ara mengusap pelan lengan Jevan. “Kamu tenang dulu. Aku bilang gitu, karena sekarang aku udah nggak apa-apa. Lagi pula, aku juga nggak mau gara-gara aku, kamu jadi punya banyak musuh.”


Jevan berdecak. “Tanpa ada kamu, sudah ada orang yang nggak suka sama aku dari dulu. Jadi, kamu nggak usah khawatirkan hal nggak penting gitu. Apa pun yang kamu katakan, nggak akan membuat aku untuk membiarkan orang itu gitu aja. Dia harus tahu kalau membuat orang celaka, itu tindakan kriminal. Dia harus tahu, supaya nggak ngulang hal yang sama ke orang lain.”


Jevan membaringkan tubuhnya dengan kasar ke arah ranjang. Sedangkan Ara masih duduk diam, dan memandang takut-takut ke arah lelaki itu.


“Aku cuman nggak mau kamu dapat masalah karena aku.”


Jevan mendengus mendengarnya. “Sebeluma ada kamu, aku juga udah punya banyak masalah. Jadi, kamu tenang aja.”


“Karena itu, aku nggak mau jadi beban buat kamu, Je.”


Jevan memandang Ara tajam. “Siapa yang bilang kamu beban buat aku? Siapa orangnya?! Aku nggak pernah menganggap kamu beban buat aku, Ra. Dari dulu, bahkan sampai sekarang.” Jevan berbalik badan, dan memunggungi Ara.


Ara menghela napas pelan melihatnya. Dia akhirnya ikut berbaring membelakangi Jevan juga. Dia hanya benar-benar tidak ingin Jevan mengalami banyak masalah karena dirinya.


Tanpa sadar, air mata turun dari kedua matanya. Jevan sudah banyak membantunya selama ini. Dia hanya tidak ingin merepotkan lelaki itu terus-menerus.


Beberapa menit kemudian, Ara dikejutkan dengan tangan yang melingkari pinggangnya dengan erat.


“Aku cuman nggak mau kamu kenapa-napa, Ara. Aku nggak mau kamu terluka. Karena itu, aku melakukan semua ini. Kamu berharga untuk aku. Karena itu aku mau mengalami banyak masalah untuk kamu,” bisik Jevan pelan di telinga Ara.


“Kamu sama sekali bukan beban untuk aku, Ra. Justru rasanya akan aneh, kalau kamu nggak bergantung sama aku. Aku udah terbiasa dengan ini semua, Ra. Kamu tenang aja. Asal kamu tetap di sampingku, aku akan baik-baik saja dan akan melewati semuanya.”


Ara berbalik badan, dan masuk ke dalam pelukan Jevan. Gadis itu terisak pelan di dalam pelukan lelaki itu.


“Maaf. Aku merasa nggak pantas buat kamu. Dari dulu kamu terus ada buat aku. Aku takut kamu akan bosan dengan itu, Je,” ujarnya.


Tangan Jevan mengusap pelan rambut serta punggung gadis itu. “Mana bisa aku merasa bosan, Ara? Justru karena semua yang ada di dalam diri kamu, itu yang membuat hidupku lebih berwarna dari dulu. Aku sayang kamu, Ara. Aku hanya mau memastikan kalau kamu bahagia.”


Ara mengangguk dalam pelukan Jevan. “Aku bahagia. Makasih, Je. Aku bahagia sama kamu. Mulai sekarang, aku janji akan lebih hati-hati lagi, supaya nggak buat kamu khawatir terus.”


Jevan tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya. “Ya. Aku akan pegang janji kamu.”


***


Pagi harinya, Ara membangunkan Jevan karena tiba-tiba saja dirinya menginginkan sarapan lontong sayur.


“Ayo, Je,” kata Ara sambil menarik tangan Jevan untuk berjalan lebih cepat.


Jevan berdecak. “Kenapa nggak nyuruh pelayannya Ibu aja, sih? Aku ngantuk, Ara.”


“Aku pengen makan di tempatnya.” Ara mulai melepaskan tangan Jevan yang dia pegang. “Tapi, kalau kamu masih ngantuk, kamu balik ke rumah aja. Aku nggak apa-apa, kok, sarapan sendiri.”


Hal itu membuat Jevan menatap Ara kesal. Dia merangkul bahu gadis itu possesif, lalu menuntunnya untuk berjalan dengan langkah lebar.


“Di mana penjualnya? Paling bisa kamu ya, buat aku nurut sama kemauan kamu.”


Ara terkekeh pelan. “Beberapa hari ini, aku lihat pedagangnya jualan di seberang jalan depan perumahan. Ramai, Je. Kayaknya, sih, enak.”


“Ya. Ya. Ya. Terserah. Kita sarapan, dan aku mau lanjut tidur.”


Ara melihat Jevan yang masih berjalan menatap ke depan sambil merangkulanya. Gadis itu memajukan wajahnya, lalu mencium pipi Jevan cepat yang membuat lelaki itu terkejut.


“Makasih. Aku sayang banget sama kamu.”


Jevan menyodorkan pipi di sampingnya. “Kalau satu doang, yang satunya iri.”


Ara terkekeh, lalu hendak mencium pipi Jevan, tapi lelaki itu malah menoleh, yang membuat Ara mencium bibir lelaki itu.


Jevan terkekeh melihat ekspresi terkejut di wajah Ara. Sementara Ara memukul pelan dada lelaki itu.


“Malu,” bisik gadis itu pelan.


Jevan hanya terkekeh, dan mengeratkan rangkulannya di bahu Ara. Pagi yang cukup menyenangkan.


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-