Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 40



“Jevan ada di dalam?”


Sarah menggeleng pelan.


“Nggak ada? Tumben jam segini dia belum datang? Apa Jevan ada meeting di luar?”


Sarah menggigit bibir bawahnya gugup. Haruskah dia mengatakan yang sejujurnya?


“Itu, Mbak, Pak Jevan memang tidak datang ke kantor hari ini,” katanya pelan.


Kening Natasya mengerut. “Kenapa?”


“Bapak ambil cuti.”


“Cuti? Untuk apa?” Natasya tidak menutupi keterkejutannya.


“Bapak sedang berlibur sekarang.”


“Apa?! Jevan berlibur? Di mana? Dengan siapa?”


Saat melihat Sarah yang tidak berani menjawab dan menunduk, Natasya pun mulai mengambil kesimpulan.


“Jangan bilang, kalau Jevan pergi berlibur dengan Arana?” tebaknya tepat sasaran. Sedangkan, Sarah hanya mengangguk pelan.


Natasnya mengembuskan napasnya kasar. Dia tidak percaya ini. Jevan pergi berlibur dengan Arana, tanpa memberitahunya lebih dulu? Apakah lelaki itu tidak takut Natasya akan melaporkan hal ini kepada ibunya?


“Ke mana? Ke mana Jevan pergi berlibur?” tanya Natasya lagi.


“Maaf, Mbak. Tapi, Pak Jevan melarang saya memberitahu jika ada yang bertanya ke mana dia pergi berlibur sekarang,” jawabnya takut.


Natasya memandang Sarah tidak percaya. “Kamu tidak tahu siapa saya? Saya Natasya Cyntia. Saya tunangannya. Cepat kasih tahu saya sekarang!”


Sarah menggeleng pelan. “Maaf, Mbak. Tapi, saya tidak bisa.”


“Kamu mau dipecat?!” teriak Natasya marah.


“Maaf, Mbak. Tapi, Pak Jevan bilang, yang bisa memecat saya, hanyalah dia.”


“Kamu!” Natasya menunjuk marah ke arah Sarah yang menunduk.


“Hei, ada apa, sih? Kenapa, Nat?”


Sarah dan Natasya menoleh, dan melihat Nicol yang tengah berjalan ke arah mereka.


“Masih pagi. Kenapa lo udah marah-marah aja?”


“Tanya aja sama sekretaris nggak guna itu,” jawab Natasya sambil memelotot marah kepada Sarah, sebelum pergi meninggalkan Sarah dan Nicol.


“Ada apa?” tanya Nicol kepada Sarah ketika Natasya sudah masuk ke dalam lift.


Sarah cemberut. “Pak Jevan berlibur dengan Arana. Tapi, dia melarang saya memberitahu ke mana mereka berlibur. Mbak Natasya memaksa, saya tetap tidak mau. Dia marah, dan nunjuk-nunjuk saya. Ngeselin,” jelasnya.


“Jevan berlibur? Mulai kapan?”


“Kemarin.”


“Hanya berdua dengan Arana?”


“Iya,” jawab Sarah sambil mengangguk. “Memang lebih baik Pak Jevan bersama Arana, daripada Mbak Natasya. Cantik, sih. Tapi, cuman luarnya aja.”


Nicol terkekeh pelan mendengar Sarah yang terus mendumel mengenai Natasya.


***


Sedangkan di tempat lain, Jevan dan Ara masih tidur di kamar mereka. Jevan meminta Ara melayaninya semalam, setelah lelaki itu melampiaskan amarahnya dengan berteriak kemarin. Dia langsung meminta Ara untuk mempertanggungjawabkan kelakuannya waktu itu.


Ara terbangun lebih dulu. Dia masih menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang menembus masuk ke dalam kamar mereka. Dia mencoba menyingkirkan lengan Jevan di perutnya, tapi lelaki itu malah semakin mempereratnya.


“Je, aku mau pipis,” kata Ara.


Masih sambil memejamkan matanya, Jevan melepas pelukannya dari tubuh Ara, dan berganti memeluk guling di sampingnya. Lelaki itu kembali melanjutkan tidurnya sambil memunggungi Ara.


Ara terkekeh kecil melihatnya, sebelum memutuskan untuk bangun dan mandi. Beberapa menit kemudian, Ara yang sudah terlihat segar keluar dari kamar mandi. Dia masih melihat Jevan yang tengah tertidur di ranjang.


Ara berganti baju dan menata rambutnya, juga mengenakan bedak tipis di wajahnya, kemudian keluar kamar. Gadis itu memilih menghampiri beberapa orang yang tengah memasak di dapur villa Jevan.


“Selamat pagi,” sapanya ramah.


Dua orang yang tengah memasak itu menoleh, tersenyum. “Selamat pagi, Mbak mau teh?”


Ara menggeleng. “Nanti aku bikin sendiri aja.”


Dua orang itu kembali fokus memasak. Setelahnya, mereka menyajikan masakan di meja di depan Ara.


“Makasih. Aku nunggu Jevan aja,” kata Ara.


Dua orang itu tersenyum dan mengangguk.


“Maaf kalau saya lancang, tapi saya senang melihat Tuan Jevan membawa gadis ke sini,” ujar perempuan yang lebih tua dari Ara itu.


“Memangnya Jevan tidak pernah membawa seorang gadis berlibur ke mari?” tanya Ara heran.


Perempuan itu menggeleng. “Saya menjadi saksi, bagaimana Tuan Jevan sangat terpuruk ketika pernikahannya batal dengan Mbak Natasya. Tuan bersembunyi di sini, mengurung diri beberapa bulan, sebelum akhirnya memilih kembali ke rumahnya.”


Jadi, tempat ini adalah saksi bagaimana Jevan sangat terpuruk gara-gara batalnya pernikahannya dengan Natasya dulu?


“Setelah itu, Jevan tidak pernah membawa seorang gadis ke mari?”


Perempuan itu kembali menggeleng. “Ini seperti tempat privat untuk Tuan Jevan. Tidak sembarang orang bisa berkunjung ke mari. Bahkan, orangtuanya pun tidak dia perbolehkan datang ke mari.”


Kening Ara mengerut heran. “Kenapa?”


“Tuan Jevan seperti menciptakan dunianya sendiri di sini. Dia bisa menjadi dirinya sendiri di sini.”


Walau tidak mengerti apa yang dikatakan perempuan tua di depannya ini, Ara tetap mengangguk dan tersenyum tipis.


“Mbak Ara orang yang spesial bagi Tuan. Kalau tidak, Tuan Jevan tidak akan membawa Mbak Ara ke mari.” Setelahnya, perempuan tua itu beserta perempuan muda itu pun pergi dari hadapan Ara. Meninggalkan Ara sendiri dengan kebingungannya.


“Kenapa nggak bangunin aku?”


Ara menoleh dan tersenyum melihat Jevan yang sudah tampak segar dengan kaus polos berwarna putih, dipadukan dengan celana pendek berwarna cokelat.


“Kamu kelihatan capek. Jadi, aku sengaja nggak bangunin.”


“Hmm, aku memang capek. Kamu tinggal tiduran aja—”


“Jevan!” Ara berseru keras ketika mengerti ke mana arah pembicaraan mereka sekarang.


Jevan hanya terkekeh pelan, sebelum meraih apel dan menggigitnya.


“Aku lapar, ambilin aku makan,” suruhnya kepada Ara.


Tanpa bantahan, Ara segera mengambilkan Jevan sarapan.


“Je,” panggil Ara ketika mereka tengah fokus pada makanan masing-masing.


“Apa?”


“Em, aku boleh keliling vila ini?” tanyanya sambil menatap Jevan penuh harap.


Kening Jevan sempat mengerut sebentar, sebelum lelaki itu bertanya. “Kamu nggak mau jalan-jalan keluar?”


“Hari ini aku mau keliling vila ini aja, boleh?”


“Tapi, hari ini aku mau main di laut.”


“Nggak apa-apa. Kamu main di laut. Aku di sini, keliling vila ini,” kata Ara semangat. Itu akan semakin memudahkannya melihat-lihat vila ini, jika Jevan tidak ada di sini.


“Ya sudah, terserah kamu. Tapi, kalau kamu bosen, minta salah satu pegawaiku untuk anterin kamu ke laut.”


Ara hanya mengangguk dengan antusias.


Dia ingin mengelilingi vila ini bukan tanpa sebab. Saat perempuan tua tadi mengatakan bahwa Jevan membangun dunianya sendiri di sini, Ara jadi ingin tahu apa saja yang ada di sini. Dia juga ingin mengenal dunia Jevan yang sesungguhnya.


“Kamu udah selesai makan?” tanya Jevan setelah beberapa menit mereka hanya fokus dengan sarapan mereka.


Ara mengangguk setelah meminum air putihnya. “Ada apa?”


“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”


Ara kembali mengangguk. “Tentang apa?” tanyanya.


“Pertunanganku dengan Natasya.” Jevan sengaja menjeda perkatannya. Dia melihat ekspresi tidak nyaman yang ditunjukkan oleh Ara, tapi gadis itu berusaha menyembunyikannya.


“Kenapa sama pertunangan kamu?” tanya Ara sambil berusaha menyunggingkan senyuman tipis.


Jevan memandang Ara lurus. Lelaki itu mengembuskan napas pelan, sebelum kembali berucap kepada Ara.


“Pertunanganku dengan Natasya akan dilaksanakan bulan depan.”


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-