Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 90



Sebenarnya belum cukup sampai di situ. Saat memutuskan tamu undangan juga begitu. Jevan dan Ara kembali berdebat. Seperti sekarang.


Ara menyipitkan matanya ke arah Jevan yang duduk di sofa, sementara dia duduk di karpet berbulu di bawah Jevan.


“Kenapa mandangin aku kayak gitu banget?” tanya Jevan.


“Ini, kenapa pada dicoret tamu undangan aku.”


Jevan melihat ke arah kertas yang ada di tangan Ara. Lelaki itu mengendikkan bahunya. “Oh, itu berarti aku nggak kasih izin kamu undang dia.”


“Kenapa gitu?!”


Jevan menatap heran ke arah Ara. “Kenapa nada suara kamu naik?”


Ara mengembuskan napas kesal. “Kamu nyebelin. Kamu boleh undang banyak orang, sementara aku nggak boleh.”


Jevan berdecak sambil menyandar ke arah punggung. “Itu cuman dua orang yang aku coret.”


“Iya, tapi ini dokter Sean sama Adi. Kamu ada masalah sama mereka berdua?”


Jevan mengeluarkan ponselnya dan mulai memainkan ponsel di sana. “Ya. Aku nggak suka sama mereka.”


“Tapi, mereka teman aku.” Ara masih tidak mau kalah.


Jevan kembali memandang ke arah Ara. “Oh, ya? Tapi, kayaknya mereka nggak anggap kamu teman, tuh.”


Ara yang merasa kesal, memukul paha Jevan dengan penuh tenaga.


“Sakit, Ara!”


“Bodo. Kamu nyebelin.” Ara kembali mencatat nama-nama tamu undangannya.


Jevan menggeram marah, lalu menggigit pelan telinga gadis itu yang membuatnya menjerit.


“Sakit!” Ara menoleh ke arah Jevan.


“Bodo. Kamu nyebelin.” Jevan mengulang kalimat Ara yang membuat gadis itu semakin kesal.


“Yaudah, aku tetap undang mereka.”


“Oh, gampang aja, sih. Aku akan robek undangannya. Masalah selesai.”


Ara bangkit berdiri. “Nyebelin.” Setelahnya gadis itu berjalan dengan menghentakkan kakinya kesal ke arah dapur.


Jevan mengendikkan bahunya dan kembali bermain game di ponselnya.


***


Waktu terus berlalu. Tadi pagi akad Jevan dan Ara sudah dilaksanakan, dan malam ini pesta resepsi mereka dilaksanakan. Ara dan Jevan tampil cantik, tampan dan mempesona. Keduanya memang seolah menjadi raja dan ratu sehari. Ara memakain gaun yang tertutup tapi tetap membuatnya tampak menakjubkan.


“Capek istriku?” tanya Jevan sambil menoleh ke arah Ara yang menghela napas panjang sedari tadi.


Gadis itu mengangguk. “Kaki aku sakit, Je,” keluhnya dengan pipi yang merona. Tidak terbiasa dengan panggilan Jevan kepadanya tadi.


Jevan mengusap pelan pipi Ara. “Sabar, ya. Bentar lagi selesai dan kamu bisa istirahat.”


Gadis itu mengangguk dan tersenyum.


Tidak lama kemudian senyuman gadis itu berhenti tersenyum ketika melihat kedatangan Sarah dengan lelaki lain, dan di belakang gadis itu ada Nicol juga bersama dengan lelaki lain.


Ada apa dengan mereka berdua?


“Je, itu malah bawa pasangan sendiri-sendiri?” bisik Ara kepada Jevan.


“Jangan tanya sekarang, Ara.”


“Ara,” sapa Sarah sambil tersenyum lebar dan memeluk Ara.


Ara balas memeluk Sarah, lalu mereka melepaskan pelukan mereka. Dari jarak dekat, Ara bisa melihat kalau Sarah tampak tengah bersedih meski dirinya tersenyum lebar begitu.


“Selamat ya, aku senang banget akhirnya kamu sama Pak Jevan bisa menikah.”


Ara mengangguk dan tersenyum. “Makasih, ya, Mbak. Aku juga senang Mbak Sarah bisa hadir di sini.”


Jevan mengangguk. “Terima kasih,” jawabnya sambil membalas uluran tangan Sarah.


“Udahan dulu ya, Ra. Masih banyak yang antre. Aku turun dulu.”


Ara mengangguk. Dia tersenyum menyambut uluran tangan lelaki yang bersama Sarah, lalu gadis itu bersama pasangannya berjalan menuruni pelaminan. Setelahnya, Nicol mendekat dan bersalaman dengan Jevan bersama pasangannya juga.


Ara mengernyitkan kening melihat keduanya. Entah kenapa, tapi dia tidak suka melihat Nicol dan Sarah seperti itu. Pertengkaran yang entah apa sebabnya, menjadi tidak terselesaikan, bahkan ini sudah berbulan-bulan berlalu.


“Selamat, Je. Akhirnya lo bisa nikah juga sama Ara, setelah semua yang udah terjadi.”


Ara melihat Nicol tersenyum. Tapi, seperti Sarah tadi, Ara tahu kalau Nicol tengah bersedih. Sebenarnya ada apa dengan mereka berdua?


Jevan mengangguk. “Thank’s” Lalu pandangannya beralih ke perempuan yang bersama Nicol. “Siapa?”


Nicol menoleh ke arah perempuan yang bersamanya. “Pasangan gue malam ini.”


“Calon istri?” tanya Jevan.


Nicol mengendikkan bahunya. “Mungkin?” Lalu dia beralih kepada Ara yang memerhatikannya sedari tadi. Lelaki itu ingin memeluk Ara, tapi Jevan menahan dadanya.


“Lo mau kita berantem di sini?”


Nicol terkekeh begitu pun dengan Ara. Lelaki itu mengulurkan tangannya kepada Ara, yang disambut gadis itu dengan senang hati sambil tersenyum lebar.


“Selamat, Ra. Gue senang lihat lo bahagia.”


Ara mengangguk. “Makasih, Mas. Aku juga senang lihat Mas Nicol datang malam ini. Aku juga mau bilang makasih, karena di saat aku sama Jevan susah dulu, Mas Nicol sama Mbak Sarah selalu ada buat kita berdua.”


Mendengar nama Sarah disebut, Nicol tersenyum getir. “Ya. Seenggaknya gue pernah punya kenangan sama kalian.”


Kening Ara mengernyit mendengarnya. Hendak bertanya, tapi Nicol sudah berpamitan dengan Jevan. Ara tersenyum ketika perempuan yang bersama Nicol menyelamatinya.


Setelah kepergian Nicol dan pasangannya, Ara kembali menoleh ke arah Jevan yang ternyata masih memerhatikan kepergian Nicol.


“Mereka kenapa, sih, Je? Masalah yang mereka hadapi besar, ya?”


Jevan mengembuskan napasnya pelan. Dia masih ingat dengan jelas kalau Nicol mengatakan dia sedang berusaha mendekati Sarah dan akan menikahinya dengan segera tahun depan. Lalu, ada apa dengan hubungan mereka?


“Udahlah, bukan urusan kita juga.”


Ara menatap protes ke arah Jevan. “Mana bisa gitu? Mereka banyak membantu kita, jadi kalau sekarang mereka punya masalah, kita juga harus bantu balik, Je.”


Belum sempat Jevan menjawab, seseorang yang mengulurkan tangan ke arahnya, membuatnya menoleh dan terkejut melihat orang itu.


“Sean?! Lo ngapain di sini?” tanyanya tidak suka. Lalu, lelaki itu beralih menatap Ara. “Kamu undang dia di belakang aku?”


Gadis itu buru-buru menggeleng. “Enggak, kok. Aku bilang sama dokter Sean, kalau aku nggak akan undang dia, karena kamu nggak ngebolehin,” ujarnya jujur.


Sementara Sean tertawa pelan melihat kedua pasangan baru itu. “Je, jangan salahin Ara. Gue di sini sama Mama gue. Kebetulan banget Papa gue nggak bisa hadir, jadi gue yang mewakili.”


“Sial!” Jevan mengumpat kasar.


Sementara Ara tersenyum lebar. Dia meraih uluran tangan Sean yang tidak digubris oleh Jevan sedari tadi.


“Makasih udah mau datang, Dok. Saya senang banget.”


Sean mengangguk dan tersenyum. “Boleh, kita foto bareng?”


“Boleh.”


“Enggak.”


Dua jawaban berbeda itu, membuat Ara dan Jevan saling pandang. Jevan menatap tajam ke arah Ara.


“Aku nggak mau dibantah, istriku.”


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-