
Setelah pembicaraan Jevan dan Nicol satu minggu lalu, kini Jevan tidak lagi ikut campur dalam masalah percintaan sahabatnya itu. Dia juga tidak menceritakan masalah Nicol kepada Ara. Alasannya sederhana, dia hanya tidak mau Ara ikut terlibat. Karena begitu Ara tahu alasannya, istrinya itu pasti akan membela Sarah dan ikut memusuhi Nicol. Bukankah perempuan akan selalu membela kaumnya?
Jevan kembali bekerja seperti biasa. Meski tidak ada Sarah selama satu bulan ke depan, lelaki itu tidak berpikiran mencari pengganti sementara. Jevan tipe orang yang pemilih. Belum tentu jika dia mendapat sekretaris sementara, dia akan cocok. Jadi, dia lebih memilih bekerja sendiri, meski sedikit kesulitan mengatur jadwalnya sendiri.
Dering ponselnya, membuat lelaki itu mengalihkan pandangan, dan melihat nama Ara muncul di layar ponselnya. Jevan segera meraih ponselnya, dan menjawab telepon Ara.
“Ada apa, Ara?”
“Kamu nanti pulangnya jam berapa?”
Kening Jevan mengerut mendengarnya. “Aku pulang seperti biasa. Kenapa? Ada sesuatu sama kamu?” Pasalnya tiga hari yang lalu, mereka sudah pindah dari rumah orangtua Jevan.
“Enggak, kok. Aku nggak apa-apa. Aku mau minta izin.”
“Izin apa?”
“Mau keluar.”
“Ke mana?” tanya Jevan cepat. Dia tidak suka Ara keluar rumah sembarangan.
“Mau jalan-jalan sama Mbak Sarah. Sebentar, kok.”
Jevan diam. Ara memang jarang keluar rumah jika tidak bersama dirinya. Tapi, sepertinya gadis itu butuh waktu untuk bersenang-senang sendiri.
“Je, nggak boleh, ya?” Suara gadis itu terdengar kecewa yang membuat Jevan tak kuasa menolak.
“Boleh.”
“Serius?” Kali ini nada suaranya terdengar antusias.
“Iya. Tapi, nggak sampai sore. Jangan lupa makan siang juga.”
“Iya. Makasih, Je. Emm... Aku sayang kamu.” Lalu sambungan telepon terputus begitu saja.
Jevan diam dan melihat layar ponselnya dengan senyum tipis. Gadis itu masih sama. Selalu malu-malu mengakui perasaannya kepada Jevan. Tapi, tidak apa-apa. Jevan menyukainya.
***
Setelah mendapatkan izin dari Jevan, Ara segera meminta sopir pribadi Jevan untuk mengantarnya ke mall, tempat dia membuat janji dengan Sarah. Minggu depan, Jevan ulang tahun, rencananya dia ingin membuat pesta kejutan untuk lelaki itu, dan meminta bantuan Sarah adalah salah satunya.
“Mbak Sarah,” sapanya ketika memasuki salah satu restoran setibanya di mall itu.
“Hai, duduk, Ra,” ujar Sarah sambil menyuruh Ara duduk.
Ara duduk di depan Sarah.
“Kamu udah makan?”
“Udah, Mbak. Aku mau minta tolong, Mbak Sarah nggak sibuk, kan?”
Sarah tertawa mendengarnya. “Aku masih pengangguran kalau kamu lupa.”
Ara tersenyum tipis mendengarnya. “Jadi, minggu depan Jevan ulang tahun, Mbak. Rencananya aku mau buat pesta kecil-kecilan gitu. Mbak Sarah bisa bantu?”
“Tentu, dong. Untuk bos kesayanganku ini. Jadi, kamu mau buat pesta di mana?”
“Kalau aku mau pesta yang dihadiri keluarga sama teman dekat aja, enaknya dibuat di mana, Mbak?” Ara memang tidak tahu mengenai urusan pesta-pesta seperti ini. Maklum saja, dia tidak pernah menggelar pesta sebelumnya.
“Em, sebentar. Rumah Pak Jevan kan luas. Gimana kalau di sana aja? Di samping kolam renang masih ada tempat, kan?”
Ara mengangguk. “Iya, Mbak. Buat nggak banyak orang, tempat itu masih bisa di bilang luas lah.”
Sarah mengangguk. “Bagus. Jadi, di situ aja. Dan kamu maunya pesta kayak gimana?”
“Itu, sih yang nggak aku ngerti, Mbak. Aku nggak tahu pesta versi Jevan kayak gimana. Takutnya kalau terlalu sederhana, dianya malah nggak suka.”
Sarah mengulum senyum mendengarnya. “Kalau kamu yang mempersiapkan, aku yakin Pak Jevan suka, sesederhana apa pun itu,” ujarnya yang membuat Ara merona.
Pagi menjelang siang itu, keduanya habiskan dengan membahas masalah persiapan pesta kejutan untuk Jevan. Saat jam makan siang tiba, keduanya memutuskan untuk makan siang di tempat mereka sekarang. Semuanya berjalan lancar, sampai mereka melihat sosok Nicol yang tengah berjalan masuk dengan menggandeng seorang gadis cantik di sebelahnya.
“Mbak,” panggil Ara yang membuat Sarah mengalihkan pandangannya. Karena sedari tadi gadis itu tengah asyik saling melemparkan pandangan dengan Nicol.
“Mau ganti restoran aja?” Ara berusaha mengerti perasaan Sarah.
“Makanannya baru aja datang.”
“Nggak apa-apa. Minta dibungkus aja, nanti Mbak bawa pulang. Sekarang kita ganti restoran aja kalau memang Mbak Sarah nggak nyaman.”
Sarah diam, matanya kembali melirik ke meja yang Nicol tempati dengan gadis cantik itu, sebelum kembali menatap Ara.
“Nggak apa-apa kayak gitu?”
Ara tersenyum dan mengangguk. Gadis itu segera berjalan ke arah kasir untuk membayar makanannya, dan sekalian meminta untuk dibungkus.
***
Malam ini, Ara dan Jevan tengah berbaring sambil memeluk satu sama lain di ranjang mereka. Pandangan mereka mengarah kepada layar televisi di depan mereka.
“Je.”
“Hmm,”
“Tadi, waktu aku keluar sama Mbak Sarah, aku ketemu sama Mas Nicol.”
Jevan mencium rambut Ara pelan. “Di mana?”
“Di restoran. Tadi, aku sama Mbak Sarah mau makan siang. Pas kita udah pesan makanan, Mas Nicol datang sama cewek. Aku kasihan, deh, lihat Mbak Sarah, Je. Jadi, aku bilang kita pindah restoran aja. Makanannya biar dibungkus.” Ara mendongak menatap Jevan. “Pakai uang kamu, nggak apa-apa, kan?”
Jevan mengecup pelan bibir Ara. “Pakai semau kamu.”
Ara tersenyum dan balik mengecup rahang Jevan cepat. “Makasih, Je.”
Jevan hanya tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Ara.
“Je, menurut kamu, Mas Nicol kenapa, sih? Kenapa sikapnya jadi berubah gitu? Bahkan tadi, dia nggak nyapa aku.”
Jevan diam. Meski dia tahu, dia tidak akan memberitahukan itu kepada Ara. Setidaknya, hanya ini yang bisa dia lakukan untuk Nicol. Membiarkan temannya itu menyelesaikan permasalahannya sendiri.
“Je, kok, diam?”
“Aku nggak tahu, Ara. Mereka udah dewasa, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Kita nggak berhak ikut campur. Kecuali, kalau mereka minta bantuan.”
Ara cemberut mendengarnya. “Tapi, kasihan sama Mbak Sarah.”
“Sarah nggak apa-apa. Dia perempuan cerdas. Kamu tenang aja. Dia hanya perlu waktu untuk sendiri. Masalah kayak gini, nggak akan buat dia terpuruk lama-lama.”
Sesaat mereka terdiam, sebelum Ara kembali bertanya. “Bentar lagi kamu ulang tahun, lho.”
“Oh ya? Aku malah nggak ingat kapan ulang tahunku,” kata Jevan jujur.
Ara cemberut mendengarnya. Dia mendongak menatap Jevan. “Kamu mau kado apa?”
Jevan menatap tepat ke arah Ara. “Kamu.”
“Ih, aku serius. Kamu mau kado apa? Tapi, jangan yang mahal-mahal. Soalnya aku nggak punya banyak uang. Rencanya aku mau beliin kamu kado pakai gaji yang aku tabung. Nggak banyak memang, makanya aku minta kamu jangan mahal-mahal.”
Jevan tersenyum melihat bagaimana tulusnya Ara mengatakan itu. Pancaran mata gadis itu tidak bisa berbohong.
Sekali lagi, Jevan memberikan kecupan di bibir gadis itu. “Aku juga serius. Aku cuman mau kamu. Kamu yang nggak akan pernah meninggalkan aku, dan kamu yang akan selalu di sisiku. Aku cuman mau itu. Oh, dan satu lagi. Kamu yang selalu mencintaiku.”
Ara diam, gadis itu memandang Jevan dengan penuh cinta. “Kalau itu, tanpa kamu minta pun, aku akan melakukannya, Je.” Gadis itu bersandar nyaman di pelukan Jevan.
Jevan balas memeluk Ara erat. “Nggak ada yang aku minta lagi, Ara. Aku udah punya kamu di hidupku. Perusahaan berjalan dengan lancar. Orangtuaku bahagia. Apa lagi yang harus aku mau?”
“Jadi, kamu nggak mau kado?” tanya Ara memastikan yang dijawab kekehan oleh Jevan.
“Kamu kasih apa pun, aku pasti senang. Karena kado itu, istriku yang beli.”
***
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-