Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 38



Perlahan, Ara mulai menatap tepat ke arah tatapan lelaki itu. “Habisnya kamu dari tadi diam aja. Aku pikir kamu memang menyesal.”


Jevan mengembuskan napasnya kasar. “Aku diam bukan berarti menyesal, Ara. Aku sedang memikirkan cara bagaimana membuat mereka yang menghina kamu mendapatkan balasan yang setimpal, atau mungkin lebih.”


“Jangan, Je.”


“Kenapa?” tanya Jevan heran.


“Emm, aku memang terluka karena mereka. Tapi, kalau membalas mereka, menurutku kita sama aja. Balas dendam itu nggak akan ada selesainya, Je.” Ara berusaha menjelaskan. Ibunya dulu selalu mengajarkan kepadanya untuk selalu bersikap baik kepada orang lain. Meski orang itu berlaku jahat sekalipun.


Jevan terkekeh sinis. “Sayangnya aku nggak sebaik kamu, Ara.”


“Tapi, Je, dalam hal ini kan aku yang mereka bicarakan.”


Jevan menatap Ara marah. “Jadi, menurut kamu, karena yang mereka bicarakan adalah kamu, aku nggak boleh ikut campur?!”


Ara hanya diam dan menunduk.


“Bagiku sama, Ara. Mereka membicarakan kamu, itu berarti mereka juga membicarakan aku. Mereka melukai kamu, mereka juga melukaiku. Kamu paham?!”


Ara hanya mengangguk sebagai jawaban. Pertanyaan Jevan itu, kenapa malah membuat perasaannya berbunga-bunga? Meski lelaki itu memandangnya dengan keras, dan nadanya pun terdengar ketus, kenapa hal itu malah membuat Ara bersemu merah? Jevan terlihat sangat melindunginya.


“Turun, dan kemasi baju-baju kamu.” Jevan berucap setelah mobil yang mereka tumpangi sampai di depan rumah, lalu lelaki itu turun lebih dulu tanpa menunggu Ara.


Ara, yang kebingungan mendengar perkataan Jevan, langsung menyusul lelaki itu.


“Kemasi barang-barang? Memangnya aku mau ke mana?” tanyanya heran.


“Kamu ikut aku. Kita liburan.”


Mata Ara membulat begitu dia mendengarnya. “Liburan? Kenapa tiba-tiba? Pekerjaan kamu bagaimana?” Gadis itu masih setia mengekor ke mana pun langkah Jevan melangkah.


“Ada Sarah,” jawab Jevan singkat.


“Tapi, Je. Kenapa tiba-tiba? Kamu—”


Jevan berhenti dan membalikkan badan ke arah Ara. “Kamu bisa berhenti bertanya, dan lakukan apa yang aku apa yang aku perintahkan?!”


Ara cemberut menatap Jevan. Perlahan, gadis itu mengangguk dan berjalan lebih dulu ke arah kamar mereka.


Jevan menggeleng pelan melihat kelakuan Ara. “Jangan lupa kemasi pakaianku juga!” teriaknya ketika Ara sudah beberapa langkah di depannya.


Beberapa menit kemudian, Ara membawa dua koper miliknya dan milik Jevan. Dia tidak tahu mereka akan berlibur ke mana. Jadi, Ara hanya memasukkan pakaian santai ke dalam koper.


“Udah,” kata Ara ketika dia sudah berada di belakang Jevan yang tengah menelepon.


Jevan menjauhkan ponsel dari telinganya. “Kamu suruh sopir, taruh di bagasi mobil.” Lalu lelaki itu kembali sibuk mengobrol di ponselnya.


Ara cemberut melihat itu. Jevan benar-benar menyebalkan. Tapi, gadis itu tetap membawa koper mereka ke luar, ke arah sopir Jevan yang sudah menunggu di depan.


“Pak, ini taruh di bagasi, ya,” kata Ara.


“Baik, Mbak.”


Ara mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Banyak notifikasi di sana. Salah satunya dari Desi. Ara tahu bahwa temannya itu pasti bingung dengan apa yang sudah terjadi tadi. Kantor pasti sedang berisik-berisiknya menggosip tentangnya dan Jevan.


“Sudah?”


Ara tidak jadi membalas pesan Desi, karena tiba-tiba saja Jevan sudah berada di sampingnya. Gadis itu hanya mengangguk sebagai jawaban.


“Ya udah, kamu masuk mobil sana.”


Kali ini Ara tidak langsung menurut. Dia menatap Jevan lebih dulu. “Kita mau ke mana?”


“Nanti kamu juga tahu.”


“Ara. Aku nggak mau berdebat.” Jevan berkata tegas, yang selalu membuat Ara tidak bisa menolak keinginan lelaki itu.


Gadis itu akhirnya masuk ke mobil, disusul Jevan setelahnya. Beberapa menit perjalanan berlangsung, Ara tidak mengatakan apa pun. Meski dia penasaran, Ara menahannya. Jevan terlihat tidak ingin diganggu.


Ara terbangun ketika seseorang meniupi matanya yang tengah terpejam. Gadis itu menggeliat pelan sebelum membuka matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah Jevan yang begitu dekat dengan wajahnya. Refleks Ara mendorong mundur wajah lelaki itu.


“Kamu ngapain?” tanyanya sambil duduk dengan tegak.


“Bangunin kamu. Kamu tidur udah kayak kebo. Dasar pemalas,” jawab Jevan sambil duduk di tempatnya lagi.


“Kita di mana?” tanya Ara lagi, begitu menyadari bahwa mereka bukan lagi berada di dalam mobil.


“Pesawat.”


Ara membulatkan matanya. Mereka sekarang tengah berada di pesawat? Ara mencengkeram sisi kursinya dengan erat. Mereka terbang sekarang?


“Kenapa?” Jevan bertanya begitu melihat gelagat aneh Ara.


“Kita terbang, Je?” tanya Ara polos, yang hampir saja membuat Jevan tertawa, jika dia tidak menahannya.


“Iya, kita terbang sekarang, dan berhenti memasang ekspresi bodoh seperti itu, Ara. Kamu akan membuatku malu kalau sampai ada yang melihat.”


Ara kelihatan tidak peduli. Dia menoleh ke sisi kanannya, di mana terdapat jendela di sana. Yang bisa gadis itu lihat hanyalah awan putih. Astaga. Ara tidak percaya ini. Ini adalah pengalaman pertamanya naik pesawat. Kenapa Jevan tidak bilang? Jika lelaki itu mengatakannya lebih dulu tadi, Ara tidak akan tidur dan melihat secara langsung pesawat seperti apa yang akan mereka naiki.


Tapi, tunggu dulu. Dia tadi tertidur di mobil. Lalu, jangan katakan kalau Jevan-lah yang menggendongnya sampai di sini. Ara menatap Jevan sambil menggigit bibir bawahnya.


“Kenapa lagi?” Jevan mendengus kesal. Ara memang tidak pernah berani bertanya sesuatu yang mengganjal di hatinya, kepada Jevan secara langsung. Gadis itu pasti akan menatap Jevan seperti sekarang, lalu menunggu Jevan yang akan bertanya kepadanya.


Ara gadis yang penakut. Apalagi, terhadap Jevan. Lelaki itu terlihat menyeramkan ketika sedang marah. Soal kejadian di kantor tadi, anggap saja Ara sempat lupa siapa dirinya, karena telah berani berteriak dan menyentak Jevan.


“Kamu yang gendong aku sampai sini?”


Jevan mengangguk enteng. “Kamu harus membayar itu. Kamu pikir, tubuhmu seringan kapas?”


Ara mengulum senyum malu. “Maaf,” gumamnya pelan. “Tapi, aku nggak seberat itu, kok.”


Jevan hanya mendengus. “Oh, ya? Memangnya kamu merasakan apa yang aku rasakan?”


Ara cemberut dan menggeleng. Secara tiba-tiba saja, gadis itu mencondongkan bibirnya ke arah wajah Jevan, dan mengecup cepat pipi lelaki itu, yang membuat Jevan terkejut.


“Makasih,” katanya pelan sambil tersenyum tipis.


Jevan menoleh ke arah Ara. Dia terkejut melihat keberanian Ara kepadanya. Sebelumnya, setiap kali mereka berciuman, selalu Jevan memulai. Tapi, kali ini Ara mencium pipinya lebih dulu. Hal itu memang sangat sederhana, dan Jevan pun dulu sering mendapatkan ciuman pipi dari setiap gadis yang dia kenal. Tapi, dengan Ara semuanya berbeda. Jevan merasa sangat senang sekarang.


“Kita mau ke mana?” tanya Ara berusaha mengalihkan kejadian tadi.


Jevan masih memandang Ara, sebelum mengembuskan napasnya pelan. “Kamu harus tanggung jawab setelah kita tiba di sana, Ara,” bisik Jevan tegas.


Ara hanya bisa bersemu merah dan mengangguk pelan. Dia sudah cukup mengerti arti dari kalimat yang Jevan katakan itu.


“Kita akan liburan.”


“Kamu udah jawab itu tadi,” ujar Ara sambil cemberut.


Jevan menyahut dengan kesal. “Kalau sudah tahu, kenapa kamu masih bertanya?”


“Maksudku, ke mana tujuan kita,” ujar Ara merasa gemas dengan tingkah Jevan.


“Lombok.”


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-