
Jevan mengembuskan napas pelan sebelum meraih gagang pintu ruang kantornya, lalu membukanya. Di sana, di sofa ruangannya, sang ayah tengah duduk dengan penuh wibawa sambil membaca koran.
Jevan menghampiri sang ayah dan duduk di sofa tunggal tidak jauh dari tempat beliau duduk. Ayah Jevan melipat korannya kembali.
“Ada perlu apa Ayah kemari?” tanya Jevan langsung.
“Bagaimana perusahaan?”
Jevan mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan itu. Tidak lama kemudian, dia terkekeh pelan.
“Ayah nggak perlu pura-pura begitu. Jevan yakin Ayah sudah tahu gimana perkembangan perusahaan. Bukannya selama ini, meski Jevan adalah pemimpin tertinggi perusahaan, Ayah masih tetap memantau kinerja Jevan?”
Jonathan Smith bukan tipe orang yang berbasa-basi seperti itu. Jevan mengenal watak ayahnya. Yang selama ini dia tahu, sang ayah tidak pernah berbicara hal tidak berguna begitu.
Ayah Jevan terkekeh mendengar penuturan sang anak. “Kamu masih mengenal ayahmu, Nak.”
Jevan berdecak mendengarnya. Ayahnya hanya mengetes dirinya. “Ada apa Ayah? Jujur saja. Apa yang akan Ayah mau dari Jevan?”
Jonathan menatap sang anak dengan serius. “Pulanglah. Ibumu sudah merindukanmu. Menginaplah di rumah selama beberapa hari.”
Jevan memberikan tatapan protes kepada sang ayah. “Jevan nggak bisa,” jawabnya angkuh.
“Kamu sudah lama tidak pulang. Bahkan sudah genap satu bulan kamu tidak menjenguk dua orangtua ini.”
Jevan membuang muka mendengarnya. Bukannya dia tidak ingin menjenguk kedua orangtuanya. Namun, untuk menginap, itu tidak mungkin. Jika menginap, itu sama saja dia tidak akan bertemu dengan Ara selama beberapa hari. Dia mana bisa seperti itu? Apalagi membayangkan tidak tidur di ranjang yang sama dengan Ara. Jevan tidak bisa melakukan itu.
“Jevan akan pulang ke rumah. Tapi tidak untuk menginap,” ujar Jevan dengan tegas.
“Kenapa? Apa karena perempuan itu?”
Jevan memandang ayahnya dengan terkejut. Bagaimana bisa sang ayah tahu mengenai Ara? Padahal selama ini Jevan selalu berusaha menyembunyikan Ara sebaik mungkin.
“Ayah mengirim mata-mata untuk Jevan?” tanyanya marah.
Jonathan terkekeh mendengarnya. “Jadi, benar karena perempuan itu?”
“Jangan memojokkan perempuan itu, Ayah,” ujar Jevan dengan serius.
Jonathan memandang sang anak yang tengah menampilkan raut wajah serius itu. Dia belum pernah melihat Jevan menatapnya dengan sungguh-sungguh begini ketika anaknya itu berhubungan dengan seorang perempuan. Perempuan kali ini, dia pasti spesial di mata Jevan.
“Kamu tahu ayahmu, Nak. Apa mungkin ayah melakukan hal seperti itu? Lain lagi kalau sampai ibumu tahu. Ayah tidak bisa menjamin apa yang akan dilakukan ibumu kepada gadis itu,” balas Jonathan dengan tenang.
Jevan mengembuskan napasnya pelan. “Ayah tidak memberitahu Ibu soal masalah ini?”
Jonathan menggeleng. “Selama kamu bisa menjalankan semuanya dengan baik. Ayah rasa, ibumu tidak perlu tahu.”
Diam-diam Jevan mengembuskan napasnya lega. Setidaknya dia harus bersyukur karena hanya ayahnya yang tahu. Kalau sampai ibunya juga tahu, Jevan tidak menjamin bahwa Ara akan baik-baik saja.
“Jadi, bagaimana? Kamu akan pulang dan menginap, bukan?”
Dengan berat hati, Jevan mengangguk. “Weekend. Hanya di hari itu Jevan akan menginap.”
Jonathan mengangguk puas. “Tidak masalah. Ayah akan mengatakannya kepada ibumu.” Dia beranjak dari duduknya. Pria tua itu merapikan sedikit jas yang dia kenakan sebelum berjalan ke luar ruangan Jevan. Namun, saat sampai di pintu keluar, dia berhenti.
Sepeninggal sang ayah, Jevan menyandarkan punggungnya dengan kasar ke sofa. Dia menghela napas pelan. Dia belum ingin sang ibu mengenali Ara dan mengetahui keberadaan gadis itu di rumahnya. Semuanya bisa kacau kalau itu terjadi.
***
Jevan melangkah masuk ke rumahnya. Tadi dia meminta Sarah untuk menghubungi klinik dan menanyakan keadaan Ara. Saat Sarah mengatakan bahwa Ara sudah pulang beberapa menit yang lalu, Jevan segera menyusulnya.
Di sinilah Jevan berada sekarang. Di dalam kamarnya dan Ara. Jevan bisa melihat Ara yang sedang tertidur di ranjang mereka. Jevan pun melepas jas yang dia kenakan, hanya menyisakan kemeja putih.
Rupanya Ara terbangun saat merasakan ada yang bergerak di sebelahnya. Ara melihat ke samping. Gadis itu tersenyum lembut ketika melihat Jevan tengah tidur di sampingnya. Ara segera masuk ke dalam pelukan Jevan. Jevan membalas pelukannya. Tubuh gadis itu terasa panas.
“Jangan sakit, Ara,” gumam Jevan pelan sambil mengusap lembut punggung Ara.
“Aku nggak apa-apa, Je. Cuman kecapean biasa. Bentar lagi juga sembuh,” balas Ara pelan.
Jevan hanya diam dan mempererat pelukannya.
“Je,” panggil Ara pelan.
“Hmm...,” Jevan hanya bergumam sambil menutup kedua matanya. Menikmati keintimannya dengan Ara sekarang.
“Kata Desi, kamu yang gendong aku sampai klinik. Benar?”
“Hmm....” Lagi-lagi Jevan hanya bergumam sebagai jawaban.
“Kenapa?” tanya Ara pada Jevan. Kali ini Jevan sedikit memberikan ruang di dalam pelukannya agar dia bisa melihat wajah Ara yang juga tengah menatapnya.
“Maksud kamu?”
“Kenapa kamu melakukan itu? Karyawan-karyawan kamu lihat itu, Je. Aku takut nanti kamu digosipin sama mereka.”
Jevan berdecak mendengarnya. Gadis itu masih sakit, tapi dia terus saja memikirkan Jevan. Lagi pula, yang seharusnya dikhawatirkan adalah Ara, bukan dirinya.
Jevan menilai bahwa gadis itu terlihat sangat lemah. Jevan sendiri bahkan tidak peduli kepada mereka yang bermulut besar. Dia lebih mengkhawatirkan Ara. Bagaimana jika gadis itu yang menjadi bahan ejekan mereka?
“Kamu dengar aku, Ara. Aku nggak peduli walau satu perusahaan tengah menggosipkan aku. Kamu pikir, aku bisa diam aja waktu melihat kamu pingsan di depanku? Aku masih punya hati. Lagi pula, kamu sakit gara-gara aku. Kata dokter sialan itu, kamu kelelahan. Itu pasti karena aku yang membuatmu begini, hingga waktu istirahat kamu berkurang.”
Pipi Ara memerah mendengarnya. Jevan terlalu gentleman mengakuinya. Dia juga bilang merasa tidak keberatan dengan gosip-gosip di perusahaannya. Apakah Jevan mencintainya? Apakah Jevan-
“Ck! Begitu saja malu. Wajahmu memerah begini hanya dengan kata-kataku. Kau pasti sedang memikirkan yang tidak-tidak ya," ledek Jevan pada Arana.
Ara memukul dada Jevan kesal. Dia mencemberutkan bibirnya lalu memeluk Jevan lebih erat lagi. Diam-diam, Jevan tersenyum tipis tanpa sepengetahuan Ara. Dia juga membalas pelukan Ara lebih erat lagi.
“Lebih baik kamu sekarang tidur. Aku nggak mau lihat kamu sakit seperti ini."
Ara hanya diam dan mengangguk sebagai jawaban.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-