Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 89



Ara terkejut melihat kedatang Jevan. Bukannya tadi lelaki itu mengatakan tidak bisa datang karena ada rapat penting? Lalu, kenapa sekarang dia ada di sini dengan ekspresi marah begitu?


Jevan berjalan mendekat, setelah lebih dulu menyuruh pegawai butik untuk meninggalkan mereka berdua. Ara gugup melihat Jevan yang tampak marah itu. Tapi, dia berusaha menekan rasa gugup dan takut itu.


“Aku tanya Arana, apa yang kamu pakai itu?” tanya Jevan setelah dia berdiri di depan Ara.


Ara mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Baju buat resepsi pernikahan.”


Jevan tersenyum sinis. “Ya. Aku tahu itu baju. Tapi, siapa yang mengizinkan kamu memakai itu?”


Bagaimana tidak, jika sekarang Ara tengah mengenakan gaun putih dengan ekor panjang. Bukan itu masalahnya, masalahnya ada di atas. Di bagian leher gadis itu yang terbuka. Baju itu tidak memilih lengan. Memperlihatkan leher putih Ara, dan juga lengan gadis itu. Sial. Siapa yang memberikan baju kekurangan bahan itu kepada Ara?


Ara masih enggan menatap Jevan. “Aku nggak perlu izin siapa pun buat pakai baju yang aku suka.”


Kali ini Jevan tersenyum mengejek. “Oh, ya? Tapi, aku nggak suka sama baju yang kamu pakai. Gimana, dong?”


“Ibu suka.”


“Tapi, aku enggak.”


Gadis itu akhirnya menoleh ke arah Jevan dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Jevan diam melihatnya. Dia bisa melihat ketakutan dan kemarah menjadi satu dari pancaran mata itu.


Ya Tuhan, Jevan ingin sekali meraih tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Tapi, jika dia melakukan itu, semuanya akan selesai. Permasalahan mereka tidak akan ada jalan keluar. Bisa saja setelah ini Ara akan lebih mendiamkannya, atau paling parah, bisa saja gadis itu kabur di hari pernikahannya. Seperti Natasya.


Jevan menggeleng. Kenapa dia harus berpikir begitu? Ara mencintainya. Gadis itu berbeda dengan Natasya. Jadi, dia tidak akan meninggalkan Jevan.


“Bajunya sepasang sama jas kamu.” Bahkan suaranya sudah bergetar menahan tangis.


“Ganti. Pilih baju lain. Aku nggak suka.” Lelaki itu membalikkan badan dan hendak berjalan kembali ke sang ibu, sebelum sebuah benda cukup keras menghantam punggungnya.


Dia menoleh dan terkejut ketika sepatu hak tinggi baru saja dilemparkan ke arahnya. Siapa? Arakah yang melakukannya?


Lalu, saat Jevan menatap Ara. Mata gadis itu sudah memerah dan berkaca-kaca. Sesaat kemudian, gadis itu berjongkok dan menangis sambil menutupi wajahnya.


Jevan menghela napas melihatnya. Seharusnya dia marah setelah perlakuan Ara kepadanya, tapi setelah melihat Ara yang menangis. Amarahnya hilang entah ke mana.


Lelaki itu meletakkan jas yang dia kenakan, lalu ikut jongkok di depan Ara. Perlahan, tangannya mengusap rambut gadis itu.


“Kamu kenapa?”


Bukannya menjawab pertanyaan Jevan, Ara malah menangis semakin keras, yang membuat Jevan bingung. Lelaki itu memegangi kedua bahu Ara, dan menariknya bangkit berdiri bersamanya.


Jevan melepaskan tangan Ara yang menutupi wajahnya. “Kenapa, hmm?” tanyanya sambil mengusap air mata yang terus meluruh dari wajah Ara.


“Kamu nyebelin,” katanya di sela-sela tangisnya.


“Nyebelin gimana?”


Kali ini, Jevan akan mencoba menahan egonya. Demi Ara, dia akan mengalah dari gadis itu.


“Aku capek nyiapin pernikahan kita sendiri. Kamu malah sibuk kerja.” Gadis itu berucap sambil berusaha menahan tangisnya, lalu memukul dada Jevan pelan.


“Kamu kayak nggak peduli sama pernikahan kita. Seolah-olah kayak aku sendiri yang akan nikah.”


Jevan menyembunyikan tawanya. Setidaknya apa yang dikatakan oleh Sarah memang benar. Gadis ini menangis karena merasa kesal tidak dibantu di saat mempersiapkan pernikahan mereka.


“Kata siapa aku nggak peduli? Aku peduli, Ara. Sangat. Aku bukannya nggak mau membantu kamu. Aku hanya ingin memberikan kamu kebebasan memilih semuanya sesuai keinginan kamu,” ujarnya.


Ara kembali memukul dada Jevan. Kali ini tangisnya sudah berhenti. Gadis itu menatap kesal ke arah Jevan.


“Tapi aku nggak mau gitu. Aku mau kita mempersiapkan semuanya sama-sama, Je. Kalau pun kamu nggak suka sama pilihan aku, aku akan nurut sama kamu, kok.”


Jevan tersenyum mendengarnya. Dia segera membawa Ara ke dalam pelukannya. Memeluk gadis itu dengan erat. Sesaat kemudian, gadis itu membalas pelukan Jevan.


“Maaf, Ara. Aku pikir kamu senang dengan apa yang aku lakukan. Aku nggak tahu kalau itu malah membuat kamu kesal sama aku,” kata Jevan sambil mempererat pelukannya.


“Aku cuman mau kita sama-sama, Je. Nggak udah ada respsi mewah pun, sebenarnya aku nggak apa-apa.”


Jevan lagi-lagi membenarkan apa yang dikatakan oleh Sarah. Sepertinya dia harus memperbanyak bonus yang akan dia berikan kepada gadis itu nanti.


“Sekarang, ganti baju kamu. Aku nggak suka yang kayak gitu. Terlalu terbuka, Ara.”


Ara melihat ke bajunya lagi. Sebenarnya dia kurang nyaman memakain ini. Tapi, ibu mertuanya itu bilang, jika gaun ini sangat cocok dengan Ara. Jadi, dia hanya bisa menurut.


“Tapi, semua model bajunya begitu, Je.”


Jevan menganga. “Semua?!” tanyanya terkejut, yang dijawab anggukan oleh Ara.


“Kenapa kamu mau?” tanya Jevan gemas.


Ara cemberut. “Ibu bilang ini bagus dan cocok buat aku. Jadi, yaudah aku nurut aja.”


Jevan mengembuskan napasnya kasar. Dia menarik tangan Ara untuk keluar dari bilik ruang ganti itu.


“Bentar, lepas sepatu yang satunya dulu,” ujar gadis itu menghentikan langkah Jevan.


Mendengar itu, Jevan jadi mengingat lemparan sepatu yang dia terima tadi. “Kamu, tadi lempar aku pakai itu?”


Gadis itu hanya menyengir tanpa menjawab.


“Sakit, Ara!”


“Maaf. Habisnya kamu bikin aku kesal terus.”


Jevan mendengus kasar, lalu setelah Ara telah melepas sepatunya, dia menarik tangan gadis itu untuk menuju ke sang ibu tadi.


Saat sudah berada beberapa langkah dari sang ibu, Jevan terdiam melihat keberadaan seseorang yang sangat dia benci ada di sana.


“Arana!”


Ara tersenyum lebar ke arah Sean yang menyapanya dengan terkejut. Tanpa sadar, Sean melangkah mendekat ke arah gadis itu, yang membuat Jevan memandangnya tidak suka.


“Lo mau apa?!” tanya Jevan yang melepaskan tangan Ara, lalu berdiri di depan gadis itu. Menghalangi pandangan Sean yang sedari tadi mengarah ke arah Ara.


Sean memandang Jevan kesal. Lelaki itu mengintip Ara yang berada di punggung Jevan sambil tersenyum tipis. “Cantik.”


“Dia istri gue sialan!”


“Jevan! Kamu ngomongnya kasar banget. Itu Sean, anak teman Ibu. Jangan gitu ngomongnya,” ujar sang ibu ketika mendengar perkataan Jevan.


Ara berjalan ke samping, sehingga Sean bisa dengan jelas melihatnya. “Dokter Sean anak teman Ibu? Wah, kebetulan banget,” ujarnya senang.


“Wow, Ra. Kamu beneran kelihatan kayak bidadari.”


Jevan menggeram marah mendengarnya, dia mendorong tubuh Sean kasar, hingga membuat lelaki itu terdorong beberapa langkah ke belakang.


“Jevan!” seru sang ibu terkejut.


Jevan tidak memedulikan perkataan sang ibu. Dia menoleh ke arah Ara yang juga tengah menatapnya. Lelaki itu melepaskan jasnya dan memakaikannya di bahu Ara. Setelahnya, lelaki itu kembali menatap ke arah sang ibu.


“Jevan nggak kasih izin Ara pakai gaun itu di pesta pernikahan nanti, Bu.”


“Kenapa? Itu bagus, Je.”


“Terlalu terbuka. Dan sekali Jevan bilang enggak, ya enggak.” Lelaki itu menuntun Ara untuk kembali berjalan ke arah ruang ganti, sampai telinganya mendengar suara Sean kembali.


“Possesif.”


Jevan membalikkan badan dan menemukan Sean yang tengah memandangnya mengejek.


“Sial!”


“Je, katanya tadi suruh aku ganti baju.”


***


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-