
Jevan baru saja menyelesaikan makan siangnya bersama client penting di restoran dekat perusahaannya, tapi tiba-tiba ketika dia akan kembali ke ruangannya. Dia mendapatkan pemandangan yang tidak ingin dia lihat di depannya. Bagaimana tidak, jika yang dia lihat sekarang adalah Ara yang tengah mengobrol dengan seorang lelaki.
Sial!
Siapa laki-laki itu? Berani-beraninya dia mengajak ngobrol wanita miliknya. Apalagi mereka tampak akrab. Ara dan laki-laki itu sesekali tertawa. Apa itu tadi? Laki-laki itu sekarang bahkan berani menepuk-nepuk kepala Ara.
Jevan berjalan ke arah keduanya dengan langkah lebar. Dengan sekali entakan, Jevan menarik Ara ke arahnya, yang membuat keduanya terkejut.
Ara menatap Jevan. Kenapa Jevan melakukan itu kepada dirinya? Mereka kan tidak sedang berada di rumah. Bagaimana kalau ada yang berpikir tidak-tidak tentang mereka?
“Pak Jevan,” panggil laki-laki itu dengan heran.
Jevan menatap laki-laki itu dengan napas memburu. Dia mengalihkan pandangannya kepada Ara saat merasa ada pergerakan dari gadis itu. Jevan memberikan tatapan tajamnya kepada Ara.
“Pak Jevan ada perlu apa?” tanya Ara dengan pelan dan takut. Dia tetap berusaha melepaskan cekalan tangan Jevan di lengannya.
Jevan sadar akan apa yang dilakukannya sekarang. Dia tahu bahwa dirinya sedang menjadi perhatian para pegawainya. Namun, Jevan tidak bisa diam saja melihat ada laki-laki lain yang menyentuh wanitanya.
“Ikut saya!” Jevan berucap sambil menarik tangan Ara pergi. Meninggalkan laki-laki tadi, yang masih menatap kepergian Jevan dan Ara dengan heran.
Jevan menyeret Ara berjalan ke arah lift khusus para petinggi perusahaan. Di dalam lift hanya ada mereka berdua. Jevan masih diam. Aura yang Jevan keluarkan juga membuat Ara ikut terdiam.
Sampai di lantai ruangan Jevan, laki-laki itu belum juga melepaskan cekalan di tangan Ara. Bahkan sekeetaris Jevan ikut terkejut melihat kedatangan Jevan bersama office girl yang waktu pernah dia temui.
“Saya tidak mau diganggu sampai jam pulang nanti,” ujar Jevan sambil berhenti sejenak di depan meja sekretarisnya.
“Baik, Pak.”
Setelah mendengar jawaban sang sekretaris, Jevan kembali menarik Ara ke dalam ruangannya. Di dalam ruangan, Jevan melepaskan cekalan tangannya dengan kasar.
Laki-laki itu berjalan ke arah kulkas kecil di dalam ruangannya. Mengambil kaleng soda dan meminumnya hingga habis. Ara hanya menyaksikan itu dalam diam. Dia sendiri masih bingung kenapa Jevan menariknya sampai ke sini.
“Je,” panggil Ara pelan saat Jevan sudah meminum habis kaleng sodanya dan membuangnya ke sudut ruangan.
Jevan menatap Ara dengan tajam. Hal itu membuat Ara langsung menundukkan kepalanya. Dia takut. Jevan berjalan mendekat kepada Ara. Sementara itu, Ara malah melangkah ke belakang, hingga membuat Jevan menggeram marah.
Ara baru berhenti ketika tubuhnya menabrak punggung sofa. Dia semakin menundukkan kepalanya saat Jevan sudah benar-benar berada di depannya.
“Kamu mau apa?” tanya Ara sambil berusaha menahan dada Jevan dengan kedua tangannya.
“Siapa lelaki itu, Ara?” Jevan bertanya dengan nada suara rendah. Mendengar itu, Ara merasakan seolah darahnya mendesir.
“Siapa?” tanya Ara heran sambil menatap Jevan.
“Kamu tahu siapa yang aku maksud.” Senyum sinis Jevan muncul saat menjawab pertanyaan Ara. “Lelaki yang dengan beraninya menyentuh kamu tadi.”
Di tengah debaran jantungnya yang menggila karena jaraknya dan Jevan yang sangat dekat, Ara mencoba berpikir laki-laki mana yang dimaksud oleh Jevan. Lalu Ara sadar, yang dimaksud Jevan adalah orang yang bersamanya tadi. Segera saja gadis itu menatap Jevan.
“Kamu nggak tahu?” tanya Ara sambil tersenyum kecil. Hal yang membuat Jevan sedikit kehilangan amarahnya.
“Dia Dokter Sean. Dokter klinik perusahaan,” jawab Ara tanpa beban.
“Kenapa kamu bisa dekat dengan dia?” tanya Jevan dengan marah. Apalagi Ara menyebut nama laki-laki itu dengan senangnya.
“Dokter Sean, dia yang-” Ara ingin melanjutkan kalimatnya, tapi tatapan Jevan terlihat tidak suka. Rahangnya mengeras dan terlihat sekali kalau pria ini sangat emosi karena tangannya mengepal kuat.
.............
Beberapa jam setelah meredakan amarah Jevan, mereka pun hanya terdiam. Jevan masih berada di kamar dengan Ara yang berada dalam dekapannya. Jevan menunduk, memperhatikan Ara yang ternyata masih membuka kedua matanya, padahal dia kira Ara tertidur.
“Kenapa nggak tidur?” tanya Jevan. Siang hari pastinya nikmat untuk tidur dan malas-malasan. Apalagi mereka habis makan siang.
“Ini kan di kantor,” jawaban Ara terdengar seperti merajuk.
“Memangnya kenapa kalau di kantor?”
“Aku harus balik kerja lagi.”
Jevan mempererat pelukannya pada tubuh Ara. “Seperti ini pun kamu sudah bekerja menemaniku. Jadi kamu nggak usah balik kerja keras seperti yang lainnya.”
Ara mendongak, menatap Jevan dengan pandangan protes. “Mana bisa gitu, Je? Nanti aku kena marah Mbak Dewi.”
Kening Jevan mengernyit mendengarnya. “Kamu sering kena marah kalau kerja?”
“Iya, kalau aku nggak fokus.”
“Siapa yang berani marah sama kamu?”
Ara menatap Jevan dengan pandangan meniliti. “Memangnya kenapa?”
“Aku akan pecat orangnya.”
Ara buru-buru menggeleng. “Jangan, Je.”
“Aku nggak peduli.”
“Je, mereka marah karena memang aku yang salah.”
“Siapa tadi namanya? Dewi, kan? Aku akan telepon Sarah untuk menghubungi HRD buat—”
Cup.
Jevan terdiam dengan mata membulat. Dia menatap Ara dengan pandangan terkejut. Sedangkan Ara hanya diam sambil menggigit bibir bawahnya takut. Apa yang dilakukan oleh gadis itu tadi? Dia mencuri ciuman di pipi Jevan dengan cepat. Apakah Ara mencoba menggodanya? Amarah yang sempat berada di dalam diri Jevan tadi, mendadak sirna. Kebahagiaan yang tak dapat Jevan pungkiri, telah hadir di dalam hatinya.
“Jangan marah, ya,” ujar Ara pelan sambil meraih tangan Jevan yang hendak mengambil ponsel, lalu menuntun tangan lelaki itu untuk merengkuh tubuh mungilnya. “Orang kalau marah selalu ada alasannya. Aku nggak apa-apa, kok. Itu wajar, Je.” Lagi, Ara menyentuh mata Jevan pelan, lalu ke hidung dan juga bibir Jevan. Jevan menatap Ara sejenak dan tersenyum ke arahnya.
Kini Jevan tidak terlalu memedulikan perkataan yang keluar dari mulut Ara. Yang dia tahu sekarang, dia cukup bahagia. Mengapa gadis ini sangat manis? Membuat Jevan tidak rela membaginya dengan laki-laki mana pun.
Ingatan Jevan kembali pada kejadian beberapa jam lalu. Dia menggeram marah saat mengingat lelaki tadi, yang menyentuh Ara di bagian kepala. Dengan cepat Jevan, menjatuhkan kecupan di kepala Ara dengan cukup lama.
“Kamu belum menjelaskan, Ara.”
“Menjelaskan apa?”
“Siapa laki-laki tadi?”
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-