Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 78



Jevan hendak memakan sarapan yang telah diambilkan oleh Ara, sebelum seruan keras mengganggu telinganya.


“Pagi!”


Jevan mendengus begitu melihat keberadaan Nicol dan Sarah di sana. Lelaki itu meletakkan sendoknya, dan menatap Nicol yang duduk di depannya.


“Ra, kata Sarah lo keserempet motor. Benar?”


Ara mengangguk. “Duduk, Mbak,” ujarnya kepada Sarah yang masih berdiri. Setelah Sarah duduk, dia kembali menatap Nicol. “Iya, Mas. Tapi aku udah nggak apa-apa.”


“Mana yang luka, Ra?” tanya Sarah.


Ara menunjukkan sikunya. “Tapi, udah nggak apa-apa, kok.” Gadis itu berulang kali meyakinkan keadaannya.


“Gimana bisa?”


“Lo nggak ada kerjaan?”


Nicol memandang ke arah Jevan yang akhirnya berbicara, dan menatapnya sebal. “Lo lupa kalau gue udah punya kedai?”


“Terus, kenapa lo masih di sini? Kenapa nggak buka kedai aja?” tanya Jevan kesal, karena kedatangan Nicol dan Sarah benar-benar mengganggu waktu berduanya dengan Ara.


“Gue bosnya, Je. Jadi, buka kedai kapan aja, terserah gue.”


Jevan mendengus mendengarnya, dia menoleh ke arah Sarah yang menampilkan cengiran kepadanya. “Kamu juga. Kenapa ada di sini?”


“Gue yang bawa dia. Udah lo santai aja, nggak ada sekretaris lo di kantor, perusahaan lo juga nggak akan bangkrut.”


Ara terkekeh mendengarnya. “Mas Nicol sama Mbak Sarah udah sarapan?”


“Kebetulan belum,” jawab Nicol sambil tersenyum.


“Ya udah, makan bareng. Aku ambil piring dulu.” Saat Ara hendak berdiri, Jevan kembali menariknya untuk duduk.


“Biar Nicol ambil sendiri. Biasanya juga gitu.”


Nicol mencibir Jevan, dan berjalan ke arah dapur untuk mengambil piring untuknya dan juga untuk Sarah.


Setelah sarapan bersama. Kini Jevan dan Nicol tengah berada di teras depan. Keduanya sengaja menjauh dari Ara dan Sarah.


“Jadi, ini ulah siapa?” tanya Nicol.


Jevan menggeleng. “Bukan Natasya. Gue udah suruh orang buat selidiki. Yang bawa motor masih bocah. Dia emang suka kebut-kebutan di jalan. Rumahnya di daerah situ juga. Nggak ada kaitannya sama Natasya,” jelasnya.


Nicol manggut-manggut mengerti. “Syukurlah. Tapi, bukan berarti lo lemah dalam menjaga Ara, Je.”


“Gue paham.”


***


Sore ini, Ara memilih membantu pekerja rumah orangtua Jevan untuk membersihkan taman di depan. Sebenarnya mereka menolak, tapi Ara memaksa. Dia benar-benar tidak melakukan apa pun sedari pagi, dan itu terasa sangat membosankan.


“Mbak Ara benar tidak apa? Kalau terasa sakit, jangan dipaksa, Mbak.”


Ara terkekeh mendengarnya. Gadis itu mengusap peluh di pelipisnya menggunakan punggung tangannya.


“Iya, Mbak. Aku nggak apa-apa. Lagi pula, aku udah sehat, kok.” Gadis itu menjawab dengan tangan yang terus mencabuti rumput liar yang ada di sana.


“Tapi, kalau nanti Tuan dan Nyonya tahu, bagaimana?”


“Nanti aku yang tanggung jawab, Mbak.”


“Arana!”


Gadis itu berdiri saat merasa seseorang memanggilnya. Dia menoleh ke belakang, tapi yang ada hanya para pekerja.


“Arana!”


“Itu Mbak Ara, di jalan.”


Ara melihat keluar rumah. Matanya membulat saat menemukan Sean yang berada di sana. Ara mencuci tangannya, dan berjalan keluar untuk menghampiri lelaki itu.


“Saya dari rumah teman. Kamu, kok, bisa ada di rumah itu?”


“Oh, ini rumah orangtua Jevan. Saya sekarang tinggal di sini, Dok,” jawab Ara sambil tersenyum malu.


Sean mencoba tetap tersenyum, meski hatinya sedang terluka mendengar pengakuan gadis itu.


“Dokter mau masuk? Tapi, sampai terasa saja. Yang punya rumah, nggak ada.”


Sean terkekeh dan mengacak pelan rambut Ara. “Boleh.”


Ara akhirnya menyuruh Sean duduk di teras depan, sementara dirinya membuatkan minum untuk lelaki itu.


“Silakan, Dok.”


“Iya, terima kasih.” Sean menyesap minuman dingin pemberian Ara, sebelum kembali menatap gadis itu. “Kamu sudah lama tinggal di sini?”


Ara menggeleng. “Belum ada satu minggu, Dok.”


“Tinggal bersama Jevan di sini?”


“Bukan. Sama orangtuanya. Jevan masih tinggal di rumahnya yang dulu.”


Sean manggut-manggut mengerti. Lalu, tanpa sengaja pandangannya jatuh kepada siku Ara yang terluka.


“Tangan kamu kenapa?”


Ara melihat sikunya dan tersenyum. “Jatuh kemarin di jalan.”


“Astaga. Sudah diobati?” Tanpa sadar tangan Sean sudah meraih tangan Ara dan memeriksanya.


“Udah, Dok. Nggak sakit, kok.”


“Kamu harusnya lebih hati-hati, Arana.”


“Iya, kemarin emang kurang hati-hati.” Ara buru-burur melepas tangannya ketika melihat mobil Jevan memasuki rumah.


Tidak lama kemudian, Jevan keluar dari mobil dengan wajah marah. Gadis itu mendesah pelan. Jangan lagi. Jangan ada pertengkaran antara Jevan dan Sean lagi.


“Mau apa lo ke sini?!” sentak Jevan langsung sambil menarik tangan Ara berdiri, lalu menyembunyikan tubuh gadis itu ke belakang tubuhnya.


“Tidak sengaja bertemu dengan Arana?” tanya Sean santai sambil ikut berdiri dari duduknya.


Jevan mendengus sinis. “Gue nggak tahu, ya. Kenapa gue harus selalu lihat lo didekat Ara? Lo mau merebut Ara dari gue?”


Sean mengendikkan bahunya. “Kalau Arana mau, kenapa tidak?”


“Lo!”


“Je,” panggil Ara ketika Jevan hendak mengarahkan tangannya ke arah Sean. “Jangan. Dokter Sean cuman mampir. Dia dari rumah temannya.”


“Alasan!” seru Jevan kasar. Dia menatap Sean marah. “Jangan pernah berpikir kalau lo bisa merebut Ara dari gue. Karena sampai kapan pun, hal itu nggak akan terjadi. Lo nggak akan bisa memiliki Ara, karena dia punya gue!”


Sean memandang Jevan lurus. “Belum ada ikatan resmi di antara kalian, Jevan Smith yang terhormat. Selama masa itu, Ara masih bisa dimiliki siapapun, termasuk saya,” ujarnya dengan tenang.


Jevan melepas pegangan tangan Ara, dan memukul wajah Sean dengan keras.


“Je!” Ara kembali memegangi tangan Jevan.


“Pergi dari rumah gue sekarang!” kata Jevan sambil memberikan tatapan mengintimidasinya kepada Sean.


Sean menatap Jevan remeh. “Cuman orang yang tidak berpendidikan, yang menyelesaikan segala sesuatu dengan kekerasan.” Dia beralih menatap Ara lembut. “Arana, saya pulang.” Setelah mengatakan itu, lelaki itu berjalan keluar rumah.


Jevan mengembuskan napasnya kasar, dan berjalan masuk dengan langkah lebarnya. Ara mendesah pelan, dia memandang seluruh pegawai orangtua Jevan yang menyaksikan itu dengan terkejut.


“Maaf semuanya. Saya mau susul Jevan ke dalam dulu,” katanya sebelum berlari kecil menyusul langkah Jevan.


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-