
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam, Jevan dan Ara akhirnya tiba di salah satu pantai di pinggiran kota. Ara bilang, ini adalah pantai yang sering dia kunjungi dengan ibunya.
Walau keberatan karena Ara memilih pantai yang biasa-biasa saja, Jevan menuruti kemauan gadis itu. Tadinya dia sudah menawarkan Ara untuk langsung pergi ke Bali menggunakan helikopter miliknya. Namun, gadis itu menolak mentah-mentah.
Ara dan Jevan berjalan menuju ke bibir pantai. Pantai itu cukup sepi pengunjung. Mungkin karena terletak di pinggiran kota dan tidak terlalu dikenal.
Sejujurnya, Jevan baru pertama kali tahu ada pantai di pinggiran kota. Itu pun karena Ara memberitahunya. Hal itu pun berlaku bagi sopir pribadi Jevan. Lelaki paruh baya itu juga mengatakan ini kali pertama dia ke tempat tersebut.
Jevan dan Ara sudah berada di bibir pantai. Ara tersenyum memandang lautan yang begitu luas itu. Dia menoleh kepada Jevan yang juga tengah menatap lautan sambil terdiam.
“Kamu mau tahu nggak, gimana aku sama Ibu melepas penat di sini?”
Jevan menoleh kepada Ara. Lelaki itu hanya memberikan ekpresi bertanya kepada Ara.
Ara kembali menatap ke depan. Tanpa aba-aba, gadis itu berteriak sekencang-kencangnya, yang membuat Jevan cukup terkejut.
“Kamu kenapa?” tanya Jevan dengan heran.
Ara terkekeh pelan dan kembali menatap ke arah Jevan. “Teriak, Je. Itu salah satu cara aku sama Ibu buat melepas penat. Hidup kami susah semenjak Ayah meninggal. Rumah kami dijual. Ayah meninggalkan utang yang cukup banyak. Karena itu, Ibu harus kerja mati-matian buat biaya hidup kami dan biaya sekolahku. Ke pantai dan berteriak sudah merupakan hiburan bagi kami. Rasanya lega. Walau teriak nggak akan bisa membuat utang ayah lunas, rasanya lega sudah mengeluarkan apa yang kami pendam.”
Jevan tertegun mendengarnya. Dia tidak tahu ada orang yang hidupnya sangat susah seperti Ara dan keluarganya. Selama ini yang Jevan kira, kehidupan orang lain baik-baik saja seperti hidupnya. Memiliki hidup nyaman sedari kecil, membuat Jevan mengira bahwa mereka yang hidupnya susah adalah orang-orang yang tidak mau berusaha.
Tapi kenyataannya dia salah. Keluarga Ara contohnya, mereka sudah bekerja dengan keras. Namun, keadaan terus saja memaksa mereka untuk berjuang hingga akhir.
“Kamu juga harus coba, Je,” ujar Ara membuyarkan lamunan Jevan.
“Coba apa?”
“Teriak.”
“Nggak. Aku nggak punya beban berat kayak kamu.”
Bukannya tersinggung. Ara malah terkekeh pelan mendengarnya. “Iya aku tahu. Kamu kan anak sultan dari kecil.”
Ara kembali memandang lautan lepas. Dia memilih kembali berteriak dengan kencang.
“IBU HARUS SEMBUH! ARA SAYANG IBU!”
“AYAH! ARA MASIH BUTUH IBU! BIARIN IBU SAMA ARA DULU!”
“ARA SAYANG AYAH IBU!”
Jevan memperhatikan itu dalam diam. Dia membiarkan Ara terus berteriak mengungkapkan isi hatinya. Untung saja keadaan pantai tengah sepi pengunjung. Kalau tidak, mungkin Jevan sudah membekap mulut Ara karena malu dengan pengunjung lain.
Setelah puas berteriak, Ara kembali menatap Jevan dengan napas terengah-engah. Gadis itu tersenyum menatap Jevan yang hanya diam dan menatapnya lurus. Ara berjalan lebih ke depan dan dengan sengaja dia mencipratkan air kepada Jevan.
“ARA!” seru Jevan marah saat melihat bagian depan bajunya basah.
Bukannya takut, Ara malah terkekeh pelan. “Bukan main ke pantai kalau nggak basah, Je.”
Jevan menggeram kesal saat Ara kembali mencipratkan air. Apalagi, kali ini air itu mengenai sebagian wajahnya.
“Awas kamu, ya.”
Jevan segera mengejar Ara dan menangkap tubuh gadis itu, lalu menceburkannya ke dalam air. Ara terkekeh diperlakukan seperti itu. Saat hendak beranjak berdiri, Ara menarik lengan Jevan hingga membuat lelaki itu ikut tercebur.
Ara kembali terkekeh. Dia bangkit berdiri dan meninggalkan Jevan yang masih terduduk di dalam air. Jevan berdecak melihatnya, segera saja dia bangun dari duduknya dan mengejar Ara yang sudah berlari menjauhinya.
Jevan tak tahu kapan terakhir dirinya melakukan hal kekanakan seperti itu. Berlarian di pinggir pantai dan saling mengejar. Bermain air hingga membuat pakaiannya basah. Jevan menggeleng, mungkin saja itu sudah berpuluh tahun yang lalu. Saat dirinya masih berumur lima tahun.
Jevan kini sedang duduk di pasir sambil berselonjoran kaki. Dia tengah menunggu Ara yang ingin membeli kelapa muda. Cukup lama menunggu, Ara akhirnya datang dan menyerahkan satu kelapa kepada Jevan.
“Kenapa lama banget?”
“Maaf. Tadi aku kasih ke Pak Sopir dulu,” jawab Ara sambil duduk di samping Jevan.
“Kamu beliin dia juga?”
“Iya. Nggak boleh?”
Jevan mengangkat bahu. “Terserah kamu.”
Satu hal yang Jevan tahu dari Ara, gadis itu sangat memperhatikan orang di sekelilingnya. Siapa pun itu, Ara akan selalu mengingat dan memperhatikan mereka. Hal baik yang selama ini tidak pernah Jevan lakukan.
“Makasih ya, Je,” ujar Ara sambil menoleh kepada Jevan.
“Makasih kenapa?”
“Karena kamu udah buat aku senang hari ini.”
Jevan menatap Ara yang masih memandangnya sambil tersenyum. “Ini nggak gratis.”
Mata Ara membulat. “Aku harus bayar?”
Jevan tersenyum melihatnya. Ara menggemaskan sekali. “Iya. Bayarannya mahal.”
Ara terlihat mencebikkan bibirnya. “Aku mana punya uang. Kan selama ini aku minta ke kamu. Lagi pula, kamu kan udah kaya. Masa mau minta uang ke aku? Nggak malu?”
Kali ini Jevan terkekeh pelan. Tangannya tergerak untuk mengacak rambut Ara dengan gemas.
“Je, aku serius,” ujar Ara sambil melepaskan tangan Jevan di kepalanya. “Aku nggak punya uang. Aku harus bayar kamu pakai apa?”
Jevan mendekat. Dia mengunci tubuh Ara di sampingnya serta menatap mata wanitanya dengan intens. "Kamu mau tahu kan aku harus bayar dengan apa?" tanya Jevan dan Ara mengangguk seraya meminum air kelapanya. Lalu Jevan membisikkan sesuatu di telingan Ara.
Ara menatap Jevan dengan terkejut. Kedua pipi gadis itu memerah. Segera saja, dia memukul dada Jevan dengan keras. Mengambil jarak dari tempat dia duduk dengan tempat Jevan duduk.
“Kenapa ngomong itu di sini?” tanya Ara sambil membuang muka ke arah samping, mengipas-ngipaskan tangannya ke arah wajahnya yang tiba-tiba saja terasa panas.
Jevan terkekeh puas mendengarnya. Dia membaringkan dirinya di pasir sambil menjadikan tangannya bantalan kepala. Walau siang hari, cuaca hari ini cukup mendung. Mendukung sekali untuk bermain di pantai.
Jevan mengembuskan napasnya pelan. Dia bahagia hari ini. Dia tidak ingat kapan dirinya pernah merasa bisa begitu bahagia seperti ini. Selama ini, Jevan selalu saja disibukkan dengan pekerjaannya. Kalau pun berlibur, dia pasti akan memilih Kanada, Inggris, atau Prancis sebagai tujuannya, Bukannya berlibur sederhana ke pantai yang cukup terpencil seperti ini.
Tanpa Jevan sadari, Ara benar-benar mengubah dirinya secara perlahan. Lalu entah kenapa, Jevan menikmati semuanya.
Baru kali ini, aku merasa hari-hariku sangat bahagia, Arana
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-