Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 34



Mobil yang ditumpangi Jevan tiba di restoran Jepang yang dimaksud sang ibu. Dia turun dari mobil dan masuk. Setelahnya pelayan menunjukkan di mana kedua orangtuanya sudah menunggu.


“Jevan, kenapa lama sekali? Kamu lupa kalau kita ada makan siang bersama?” Sang ibu menyapa Jevan lebih dulu.


Jevan terlebih dahulu duduk di samping sang ayah. Dia menatap jengkel Natasya yang duduk di depannya.


“Ya. Sedikit lupa,” ujarnya.


Ibu Jevan berdecak. “Kamu itu, kalau nggak ibu telepon. Pasti nggak akan datang.”


Jevan hanya diam, dan mulai meraih sumpit lalu mengambil makanan yang dia mau, karena perutnya sudah lapar.


“Kamu nggak mau menyapa Ayah dulu? Malah langsung makan. Kamu kan sudah lama tidak bertemu dengan Ayah.” Ibunya kembali berceloteh saat Jevan mengunyah makanan di mulutnya.


Jevan sendiri mendengus sebal. Lama bagaimana? Bahkan tadi pagi dia dan sang ayah masih sarapan bersama.


Namun, karena tidak ingin membuat ibunya curiga, Jevan tetap menyapa sang ayah.


“Ayah terlihat sehat.”


Ayah Jevan hanya manggut-manggut dan tersenyum tipis. “Ayah memang selalu sehat.”


“Ibu sudah bilang ke Ayah soal rencana pertunangan kamu dengan Natasya. Ayah udah setuju.”


Jevan melirik ayahnya yang tengah makan dengan santainya.


“Jadi, karena kita udah kumpul sekarang, kenapa nggak sekalian kita bahas waktunya? Lebih cepat, lebih baik. Iya kan, Natasya?” Kali ini ibu Jevan beralih kepada Natasya yang duduk di sampingnya.


Natasya tersenyum dan mengangguk. “Hal baik kenapa harus ditunda, Tante?”


Di tengah santapannya, Jevan tersenyum sinis. Perempuan itu memang pandai bermuka dua. Pantas saja ibunya mudah tertipu.


“Jadi, bagaimana, Je? Ibu sebenarnya sudah mencari hari baik untuk pertunangan kamu dan Natasya.”


Jevan menatap ibunya yang sedang mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Ketika sudah menemukannya, dia menyerahkannya kepada Jevan. Sebuah notes.


“Apa itu?” tanya Jevan yang tidak langsung menerimanya.


“Hari-hari baik,” jawab sang ibu sambil tersenyum senang.


Jevan berdecak, tapi tidak punya pilihan lain selain mengambilnya. Dia memandangnya sesaat, sebelum meletakkan benda itu di sampingnya.


“Paling lama ada yang awal tahun depan, Je. Tapi, karena kita sudah sepakat untuk mempercepat, jadi bagaimana kalau bulan depan?”


Jevan menatap sang ibu terkejut. “Ibu bercanda?!” tanyanya setengah berteriak yang membuat sang ibu cukup terkejut.


“Kamu kenapa teriak ke ibu, gitu?” tanya ibunya kesal.


Jevan tidak memedulikannya. Dia membuka notes itu dan membaca dengan benar kali ini. Dia mengumpat saat melihat barisan pertama, yang bertuliskan hari dan tanggal bulan depan.


Kenapa harus secepat itu?


Secara tidak sengaja, pandangan Jevan bertubrukan dengan pandangan Natasya. Perempuan itu menatapnya seolah mengejek. Jevan menggeram marah. Dia tidak bisa diam saja.


“Bagaimana, Je?” tanya ibu Jevan lagi.


Jevan melirik ke arah sang ayah yang masih makan dengan santainya. Ayahnya tidak akan bisa membantu sekarang. Dia beralih kepada sang ibu, yang tengah memandangnya antusias.


“Apa ini nggak terlalu cepat, Bu? Jevan dan Natasya baru saja kembali bertemu. Apa tidak lebih baik kalau kami lebih mengenal dulu?”


Ibu Jevan menggeleng. “Saling mengenal gimana? Kamu dan Natasya sudah sangat mengenal satu sama lain, Je. Kalian sudah bersama sejak lama. Lebih cepat bukannya lebih baik?”


Jevan kembali diam, berusaha memikirkan cara agar bisa memperlambat acara pertunangan tidak berguna ini.


“Je.”


“Kenapa? Ada hal lain yang mengganggu pikiran kamu tentang pertunangan kita?” tanya perempuan itu sengaja.


Jevan menatapnya lurus, sebelum menepis pelan tangan Natasya dari tangannya. “Bagaimana dengan ayah kamu. Apa dia tahu permasalahan ini?”


Senyum di bibir Natasya terbit. “Tentu saja dia tahu, Je. Putri satu-satunya akan bertunangan dengan lelaki yang dia cintai. Tapi, Ayah memang sedang tidak berada di Indonesia. Dia sedang liburan ke Dubai. Meski begitu, kamu tenang saja, aku akan memastikan Ayah datang di acara pertunangan kita.”


Jevan kembali mengumpat. Sekarang, dia tidak mempunyai alasan untuk menolak. Ibunya bisa curiga kalau dia terlihat enggan dengan pertunangan ini.


“Ada hal lain yang perlu kamu sampaikan ke ibu kamu?” Natasya kembali memancing Jevan.


Lelaki itu memandang Natasya dengan dingin. “Tidak ada,” jawabnya singkat. Mau bagaimana lagi? Tidak mungkin dia mengumpati perempuan itu sekarang, di saat dia tengah bersama sang ibu yang juga tengah menatapnya, menunggu jawaban yang keluar dari mulutnya.


“Jadi, bagaimana, Je? Kamu mau acara pertunangannya bulan depan?” tanya ibu Jevan memastikan.


Jevan mengembuskan napasnya pelan. Dengan sangat terpaksa, dia akhirnya mengangguk.


Senyum kemenangan terbit di bibir Natasya. Jevan yang melihatnya sampai berkeinginan untuk menyobek bibir perempuan itu.


Ibu Jevan tertawa senang mendengarnya. “Ya sudah. Untuk keperluan lainnya, kamu nggak perlu repot, Je. Ibu yang akan menyiapkan. Kamu dan Natasya hanya perlu mencari cincin pertunangan kalian. Luangkan waktu kamu untuk menemani Natasya memilih cincin.”


Jevan hanya mengangguk kaku. Dia tidak punya pilihan lain selain mengiakan segala perkataan sang ibu. Jevan mengakui bahwa dia memang terlihat seperti lelaki pengecut.


Setelah makan siang bersama, ibu Jevan memaksanya untuk mengantar pulang Natasya, dengan alasan perempuan itu tidak membawa mobil. Jevan yakin ini adalah ulah sang ibu—pasti ibunya yang menyuruh Natasya tidak membawa mobil tadi.


“Kamu pasti senang karena rencana kamu berjalan lancar,” kata Jevan ketika dia dan Natasya sudah berada di dalam mobil yang akan mengantar perempuan itu ke rumahnya.


“Ya. Seperti yang kamu lihat? Aku bahagia karena pertunangan kita akan dilaksanakan sebentar lagi.”


Jevan tersenyum sinis. “Boleh aku memberi kamu saran?”


Natasya menoleh sebentar ke arah Jevan, sebelum mengangguk dan kembali memandang keluar jendela.


“Silakan.”


“Jangan terlalu senang dulu. Semua memang terlihat berjalan sesuai rencana kamu. Tapi, kamu nggak akan tahu, bisa saja sesuatu terjadi pada hari itu.”


Natasya kembali menoleh ke arah Jevan. “Kamu mengancam aku, Je?” tanyanya meremehkan.


Jevan hanya mengangkat bahunya. “Aku hanya memberi tahu kamu. Kamu tidak akan lupa kan, bagaimana takdir dengan kejamnya melukaiku beberapa tahun yang lalu?”


Natasya diam mendengarnya. “Sebelum itu terjadi, aku akan memastikan gadis itu sudah tidak berada di samping kamu. Tidak apa-apa jika aku tidak bisa memiliki kamu, tapi jangan harap kamu akan hidup tenang dengan gadis polos itu.”


Jevan menggeram marah dan menatap Natasya tajam. “Jangan pernah sentuh dia. Ini urusan kita berdua. Jangan melibatkan orang lain di sini,” katanya penuh ancaman.


Natasya tersenyum sinis. “Bagaimana bisa aku tidak menyentuh dia? Kalau kini tanpa kamu sadari, kelemahan kamu ada pada gadis itu?”


Jevan masih menatap marah kepada Natasya, sebelum lelaki itu berseru keras.


“Berhenti!”


Tanpa bantahan lagi, sopir pribadi Jevan langsung menghentikan laju mobil dan menepi di pinggir jalan.


“Kamu nggak berharap aku akan mengantar kamu sampai rumah, kan?” tanya Jevan meremehkan.


Walau cukup terkejut dan tidak menyangka Jevan akan menurunkannya di tengah jalan begini. Natasya cukup pandai menyembunyikan raut wajahnya.


“Ya. Aku tahu ini akan terjadi.”


Tanpa berkata apa-apa lagi, perempuan itu pun turun dari mobil dan membanting keras pintu mobil Jevan.


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-