Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 50



Dan di sinilah Ara sekarang berada. Di salah satu salon langganan Sarah. Sedari tadi Ara pasrah tentang bagaimana penampilannya nanti. Bahkan saat pemilik salon mengatakan akan memotong rambutnya sedikit lebih pendek, Ara setuju saja. Sarah meyakinkannya kalau penampilannya nanti akan sangat memukau Jevan.


Sebenarnya Ara kurang nyaman di sini. Karena Sarah meninggalkannya sendirian dengan alasan dia akan berbelanja baju untuk mereka.


Kartu yang diberikan oleh Jevan beberapa hari yang lalu , belum sempat Ara kembalikan, atau kata lainnya, Ara belum mau mengembalikannya. Lagi pula, lelaki itu juga tidak memintanya. Jadi, Ara membawanya sekarang, untuk membeli keperluannya. Semoga saja Jevan tidak marah.


“Arana, lihat sini bentar, deh.”


Ara menoleh, melihat Sarah dan salah satu pegawai salon tengah membawa tiga gaun yang berbeda.


“Itu punya siapa, Mbak?”


“Kamu,” jawab Sarah sambil menampilkan cengirannya.


Sedangkan Ara memelototkan matanya terkejut. “Aku mana bisa pakai tiga baju sekaligus?” tanyanya polos, yang membuat Sarah dan salah satu pegawai salon itu terkekeh.


“Ya, enggak dipakai semua. Kamu pilih salah satu aja buat sekarang, yang lainnya kamu simpan,” jawab Sarah dengan gemas.


Ara manggut-manggut mengerti. Dia mengamati tiga gaun itu dengan saksama. Ketiganya terlihat indah dan mahal.


“Em, aku pilih itu aja, Mbak,” ujarnya sambil menunjuk gaun yang dipegang oleh Sarah.


“Sempurna. Aku juga suka ini, kok.” Sarah berucap dengan senang sambil memperhatikan gaun putih di tangannya ini.


“Ya udah, kamu lanjut make up. Aku mau beli makanan buat kita. Kamu belum makan, kan?”


“Mbak Sarah,” panggil Ara ketika melihat Sarah begitu repot mengurusi keperluannya. “Makasih, ya,” ujarnya tulus.


Sarah tersenyum tipis mendengarnya. “Biasa aja, ini juga pakai uang kamu yang dikasih Pak Jevan, kok. Aku cuman beliin aja.” Lalu keduanya terkekeh bersama.


Setelah beberapa jam bersiap, Ara dan Sarah sudah berada di luar salon untuk menunggu taksi yang akan mengantar mereka hotel tempat diadakannya pertunangan Jevan dan Natasya. Tapi, belum juga ada taksi yang lewat sama sekali dari tadi.


“Kok, lama, ya? Kalau kita telat gimana?” gumam Sarah sambil terus melihat ke arah jalanan.


“Mbak Sarah,” panggil Ara yang membuat Sarah menoleh.


“Ya?”


“Sebenarnya beberapa hari yang lalu, Dokter Sean nawarin ke aku,” katanya pelan.


“Nawarin apa?” tanya Sarah ingin tahu.


“Katanya, kalau hari ini aku hadir, dia bisa kasih tumpangan ke aku.” Ara tidak tahu yang dia lakukan ini benar atau tidak.


Sarah tersenyum senang. “Ya udah. Telepon aja dia sekarang.”


“Itu, masalahnya aku nggak bawa HP, Mbak. Nomornya Dokter Sean di sana.”


Sarah terlihat berpikir. “Bentar,” ujar gadis itu sambil mengutak-atik ponselnya. Beberapa detik kemudian, gadis itu memperlihatkan sebuah nomor.


“Nomornya Dokter Sean?” tanya Ara memastikan.


“Iya. Aku baru aja dapat dari teman. Buruan telepon,” suruh Sarah.


Ara mengangguk. Dia meraih ponsel Sarah, lalu mulai menelepon nomor yang tertera di sana. Tidak berapa lama kemudian, panggilan telepon itu diangkat.


“Hallo.” Terdengar suara Sean dari seberang sana.


“Dokter Sean, ini Arana,” kata Ara pelan.


“Arana? Nomor kamu ganti?”


“Enggak, kok, Dok. Ini pakai HP-nya Mbak Sarah.”


“Sarah sekretarisnya Pak Jevan?”


“Iya. Dokter lagi di mana?”


“Di jalan mau ke pertunangannya Pak Jevan. Kenapa? Kamu jadi ikut?”


“Iya,” jawab Ara pelan.


“Mau saya jemput?”


“Boleh, kalau Dokter nggak keberatan.”


“Enggak sama sekali. Kamu kirim lokasi kamu sekarang, ya. Saya segera ke sana.”


“Iya, makasih, Dok.” Setelah mematikan sambungan telepon, Ara kembali mengembalikan ponsel itu kepada Sarah.


“Disuruh shareloc, Mbak.”


“Sip.”


***


Sementara di tempat lain, Jevan sama sekali tidak tersenyum sedari tadi. Pertunangannya akan dilaksanakan sebentar lagi. Mereka tengah menunggu kedatangan Natasya dan ibunya yang masih sibuk berdandan.


Sebenarnya tadi sempat terjadi keributan antara Jevan dan juga ibunya. Sang ibu merasa cukup kesal, karena Jevan lebih memilih baju yang dia bawa dari rumah, daripada memakai baju yang sudah dia siapkan dari dulu. Tapi, Natasya akhirnya berbicara kepada ibunya dan mengatakan bahwa masalah baju bukan apa-apa. Lagi pula, Jevan sudah berada di sini.


“Senyum, dong, Je. Ini hari bahagia lo.”


Jevan menoleh dan menemukan Nicol yang tengah berjalan ke arahnya sambil membawa dua gelas minuman di tangannya. Tanpa suara, Jevan meraih salah satu gelas itu dan meminumnya.


“Jangan masang wajah garang kayak gitu. Lo nggak lihat gara-gara lo masang wajah kayak gitu, banyak tamu yang nggak berani nyamperin lo buat kasih selamat?”


Jevan tersenyum sinis mendengarnya. “Ini emang bukan hari bahagia gue. Gue malah pengen patahin kepala mereka yang kasih selamat ke gue,” ujarnya dengan sedikit keras, yang membuat beberapa tamu yang akan menghampirinya berhenti dan malah berjalan menjauh.


Nicol terkekeh menyaksikan itu.


“Santai, Je. Lo yang kayak gini, malah buat ibu lo curiga.”


Jevan mendengus. Apa yang dikatakan oleh Nicol memang benar. Ibunya bisa curiga kalau melihat wajah tidak bahagianya ini.


“Mbak Natasya mau datang!” seruan itu membuat Jevan melirik tanpa minat ke arah pintu belakang ballroom.


“Tuh, calon istri tercinta mau datang. Sana sambut!” suruh Nicol dengan ekspresi menggoda, yang membuat Jevan mengumpatinya dengan kesal.


Grasak-grusuk di depan pintu masuk ballroom, membuat Jevan dan Nicol mengalihkan pandangan mereka. Keduanya terkejut melihat siapa yang memasuki pintu itu.


Ara dan Natasya sama-sama memasuki ballroom hotel dari pintu yang berbeda. Keduanya sama-sama menjadi pusat perhatian kini.


Siulan menggoda yang dilemparkan Nicol, membuat Jevan tersadar dari keterkejutannya.


“Cinderella is coming,” katanya sambil menatap Ara dengan menggoda.


Jevan menggeram marah melihatnya. Dia berdiri di hadapan Nicol. “Dia punya gue kalau lo lupa,” katanya marah.


“Wow, yang harusnya lo bilangin itu bukan gue, deh. Coba lihat lagi ke sana. Siapa yang ada di belakang Ara.”


Mendengar itu, Jevan segera membalikkan badannya. Betapa terkejutnya dia ketika melihat Sean-lah yang berjalan di belakang Ara.


Jevan menggeram marah. Apakah lelaki itu benar-benar telah mengibarkan bendera perang kepadanya? Dan juga, ada apa dengan Ara? Gadis itu sudah berani melanggar perintahnya. Bukan hanya melanggar, melainkan gadis itu benar-benar membuatnya marah karena dia pergi bersama dengan lelaki lain.


“Je, kayaknya lo harus lihat ke kiri, deh.”


Jevan mengikuti perkataan Nicol. Lelaki itu mengumpat ketika melihat ibunya yang melambaikan tangan ke arahnya, tengah memanggilnya untuk mendekat. Apalagi, tampak Natasya yang menatapnya dengan memperingatkan.


Jevan mengembuskan napasnya kasar. “Sial!” umpatnya dengan kasar, sementara Nicol yang mendengarnya hanya terkekeh pelan. Lihat betapa rumitnya hidup sahabatnya itu?


Jevan baru akan melangkah ke arah sang ibu, setelah dia memberikan pelototannya kepada Ara. Tapi, suara dering ponselnya, membuat lelaki itu berhenti melangkah.


Dia mengeluarkan ponselnya dan mendapati telepon rumah tengah memanggilnya. Ada apa?


“Ya. Ada apa, Mbok?” tanyanya masih dengan nada kesal.


“Tuan, ada kabar buruk.” Suara Mbok Ijah terdengar panik dan serak menjadi satu. Jevan duga wanita paru baya itu tengah menangis sekarang.


“Ada apa?” tanya Jevan was-was.


“Saya baru saja dapat telepon dari rumah sakit. Ibunya Mbak Arana meninggal, Tuan.”


Jevan segera menjauhkan ponsel dari telinganya. Dia menatap ke arah Ara yang juga tengah menatapnya takut-takut.


Dia harus bagaimana sekarang? Bagaimana cara menyampaikan hal ini kepada gadis itu? Jevan takut. Dia takut Ara akan hancur mendengar berita ini.


Dia takut, kalau pada akhirnya gadis itu akan meninggalkannya.


 


 


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-