Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 51



Jevan menatap lurus ke arah Ara, sebelum berjalan ke arah gadis itu. Lelaki itu bahkan tidak memedulikan panggilan sang ibu. Saat ini yang ada di pikirannya hanyalah Ara.


Ara sendiri tampak berdiri takut di tempatnya. Gadis itu mengira Jevan akan sangat marah melihat keberadaannya di sini. Lelaki itu bahkan dengan berani mengabaikan panggilan sang ibu.


Jevan sudah berada di depan Ara. Matanya menyorot lurus ke arah gadis itu, yang membuat Ara segera menunduk. Gadis itu takut dengan pandangan yang diberikan oleh Jevan.


Saat Jevan akan meraih lengan Ara, sebuah tangan menepisnya lebih dulu, yang membuat dia menatap sinis ke arah orang itu.


“Apa-apaan kamu, Je? Kamu mau berterus terang sekarang? Di depan keluarga kamu dan pegawai kamu. Iya?!” Natasya berseru dengan marah. Dia tidak akan membiarkan acaranya hancur karena ulah bodoh Jevan.


“Jangan ikut campur,” desis Jevan marah.


Dia hendak kembali meraih lengan Ara, tapi lagi-lagi Natasya menghalanginya. Kali ini perempuan itu memegangi tangan Jevan dengan erat.


“Kamu mau aku bongkar semuanya sama ibu kamu?”


Jevan memandang Natasya dengan marah, sebelum dia menyentak keras tangan perempuan itu, yang membuat dirinya mundur beberapa langkah.


“Lakukan apa pun sesukamu, sialan!” Setelahnya, dengan mengabaikan akibat dari perkataannya, Jevan menarik tangan Ara dan membawanya keluar dari ballroom hotel itu.


Sedangkan Ara hanya bisa diam dan mengikuti ke mana Jevan melangkah. Ingin bertanya tapi terlalu takut. Laki-laki itu terlihat amat sangat marah. Dia saja bisa mengumpat kepada Natasya di saat ada orangtuanya. Tidak ada yang menjamin bahwa Jevan akan bertindak baik kepada Ara sekarang, bukan? Apalagi, mereka hanya berdua.


Jadi, Ara hanya diam. Meski Jevan memintanya naik ke dalam mobil, gadis itu pun masih diam. Saat mobil sudah melaju beberapa menit, Ara tetap diam. Sesekali gadis itu memandang ke arah Jevan yang duduk di sampingnya dengan rahang yang mengetat.


Sebenarnya ada apa dengan lelaki itu?


Ara kembali melihat ke arah jalanan di sampingnya. Sepertinya ini bukan jalan menuju rumah. Lalu, ke mana lelaki itu membawanya sekarang?


Lelah karena terus diam, Ara akhirnya memberanikan diri menoleh ke arah Jevan, dan memanggil lelaki itu pelan.


“Je.”


Jevan menoleh, masih dengan tatapan lurus yang dia berikan tadi. “Ada apa?” Suaranya pun terkesan dingin.


“Kita mau ke mana? Ini bukan jalan pulang,” ujar Ara pelan.


Jevan membuang muka ke arah depan. “Lebih baik kamu diam.”


Ara mengembuskan napasnya pelan. Dia kembali memandang jalanan di sampingnya. Sampai beberapa menit kemudian, Ara baru menyadari kalau jalanan ini mengarah ke tempat rumah sakit sang ibu.


Ada apa?”


“Je, kita ke rumah sakit? Ada apa?” tanya Ara heran.


Jevan masih diam sampai mobil yang mereka tumpangi sampai di pelataran rumah sakit, dan berhenti di tempat parkir.


“Je,” panggil Ara lagi karena Jevan masih diam.


Jevan mengembuskan napasnya pelan, dan menoleh ke arah Ara. “Aku baru dapat kabar dari dokter. Ibu kamu—“ Jevan terlihat sulit melanjutkan perkataannya yang membuat Ara menatapnya waspada.


“Ada apa sama Ibu, Je?”


“Kata dokter Ibu kamu—“


Ara menatap Jevan dengan mata berkaca-kaca. Perasaannya tidak enak. Kemarin malam dia bermimpi melihat sang ibu yang sudah sehat. Ibunya yang bisa tersenyum lagi kepadanya.


“Je,” panggil Ara dengan suara serak dan mata memerah menahan tangis.


“Ibu kamu meninggal.” Akhirnya Jevan bisa mengatakan itu dari mulutnya.


Ara terpaku sesaat, sebelum keluar dari mobil dan berlari ke ruang rawat sang ibu. Jevan mengembuskan napasnya kasar. Ara-nya hancur. Dia bisa melihat dari pandangan gadis itu tadi.


Sesampainya Ara di ruang rawat sang ibu, sudah ada beberapa perawat dan dokter di sana. Ara berjalan dengan penuh air mata ke arah ranjang sang ibu. Segala alat yang biasanya dipakai oleh sang ibu, telah dilepas. Ara mendekat dengan langkah goyah.


“Ibu,” panggilnya pelan saat sudah berada di samping ibunya. “Bu, bangun. Ara datang. Jangan gini, Bu.” Gadis itu menangis sambil berusaha membangunkan ibunya.


“Bu, bangun. Ara sama siapa kalau Ibu pergi? Ara mohon bangun, Bu. Jangan tinggalin Ara sendiri,” bisiknya di telinga sang ibu dengan berlinang air mata.


“Ara takut, Bu. Bangun. Walau Ibu cuman tidur di sini selama ini, Ara nggak apa-apa. Tapi, jangan tinggalin Ara, Bu. Ara sama siapa kalau Ibu pergi?” Gadis itu menangis sambil terus berusaha membangunkan sang ibu.


Sementara Jevan berdiri di belakang Ara dengan tangan yang mengepal erat di kedua sisinya. Kenapa Tuhan begitu kejam kepada gadis rapuh itu? Kenapa takdir senang sekali mempermainkan perasaan gadis itu? Kenapa Tuhan tidak mengizinkan gadis itu untuk bahagia?


“Ibu,” panggil Ara lagi, kali ini gadis itu menangis sesenggukan.


Membayangkan bahwa dirinya benar-benar telah sendiri di dunia ini, membuat Ara benar-benar takut. Apa yang akan dia lakukan sekarang? Dulu, dia bekerja mati-matian untuk bisa membayar perawatan ibunya. Lalu sekarang, untuk apa Ara hidup? Untuk siapa perjuangannya kini?


“Bu, bangun. Jangan tinggalin Ara sendiri, Bu. Ara sama siapa sekarang, Bu? Ibu!”


Jevan dikejutkan dengan tubuh Ara yang pingsan di samping ranjang ibunya. Lelaki itu segera mengangkat Ara ke dalam gendongannya dan membawa Ara ke salah satu kamar VIP yang dia minta kepada suster.


Ara kini tengah berada di ruang VIP, di samping kamar ibunya. Jevan memandangnya lurus. Gadis itu masih belum bangun dari pingsannya.


“Ada aku, Ra. Kamu nggak sendiri. Jadi, kamu harus kuat,” bisiknya di telinga Ara. Setelah lelaki itu mengecup kening Ara lama, dia melangkah ke luar kamar.


Di luar kamar yang Ara tempati, sudah ada Nicol dan Sarah. Jevan memang menghubungi keduanya, menyuruh mereka datang. Jevan merasa di saat seperti ini, Ara membutuhkan teman untuk berada di sampingnya.


“Gimana keadaan Ara, Pak?” tanya Sarah dengan ekspresi panik.


“Masih pingsan. Kamu temani dia, saya sama Nicol mau mengurus kepulangan dan pemakaman ibunya Ara dulu,” ujar Jevan.


Sarah mengangguk dan langsung berjalan masuk ke dalam kamar.


Jevan mengembuskan napas pelan, duduk di kursi yang ada di sana. Ara yang kehilangan, tapi seolah-olah dirinya juga yang merasa sakit.


“Lo nggak apa-apa, Je?” tanya Nicol sambil menepuk pelan bahu Jevan.


“Gue cuman nggak tahu gimana Ara hidup setelah ibunya nggak ada. Dia hancur, Nic. Selama ini, gue tahu ibunya yang jadi semangat dia buat memulai hari baru. Tapi, setelah ibunya nggak ada, gue nggak tahu gimana dia sekarang,” ujar Jevan sambil memandang lurus ke arah depan.


“Karena itu lo harus di sisinya Arana, Je. Dia butuh lo. Kalau sekarang aja lo udah kayak gini, gimana nanti kalau Ara udah sadar dan ingat lagi kalau ibunya meninggal?”


Jevan mengembuskan napasnya pelan dan mengangguk. “Lo benar. Lo urus administrasinya. Gue mau telepon orang gue, buat ngurus pemakamannya.”


“Di rumah lo?”


“Apa?” tanya Jevan heran.


“Rumah duka.”


Jevan mengangguk dengan mantap.


“Orangtua lo sama Natasya gimana? Mereka tadi marah banget lo main pergi gitu aja. Apalagi, sambil bawa Arana.”


“Gue nggak peduli. Gue akan hancurin siapa pun orang yang ganggu gue, atau mempersulit pemakaman ibunya Ara hari ini,” ujarnya dengan sungguh-sungguh.


“Termasuk ibu lo?”


“Ya. Termasuk ibu gue sendiri.”


***


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-