
Setelah urusan di rumah sakit selesai, jenazah ibu Ara kini tengah dalam perjalanan menuju rumah Jevan, untuk dimakamkan di sana. Orang suruhan Jevan sudah mengurus semuanya.
Ara tengah berada di dalam ambulan bersama Sarah. Sebenarnya Sarah merasa takut, karena ini adalah pengalaman pertamanya menaiki ambulan dengan jenazah. Apalagi, suara sirene itu benar-benar membuat suasana tegang.
Awalnya Jevan akan membawa Ara menaiki mobil milik Nicol. Tapi, gadis itu menolak. Dia mengatakan ingin terus berada di sisi ibunya sampai sang ibu dimakamkan nanti.
Jevan tak kuasa menolak. Akhirnya dia menyuruh Sarah untuk menemani Ara. Sebenarnya bisa saja dia yang menemani Ara menaiki ambulan itu. Tapi, Jevan tidak bisa melihat Ara terus menangisi ibunya seperti itu.
“Kejutan!” seru Nicol saat mobil yang dia kendari berhenti di depan rumah Jevan.
Bukan tanpa alasan Nicol mengatakan itu, karena di depan rumah Jevan, sudah ada kedua orangtua lelaki itu dan Natasya. Di belakang keduanya, juga ada Mbok Ijah dan sopir yang tampak takut melihat mobil Nicol dan ambulan yang datang.
Jevan menyuruh mereka mengurus rumah untuk dijadikan rumah duka. Tapi, kedatangan kedua orangtua bosnya itu, menghentikan mereka.
Jevan berdecak, mengembuskan napas pelan, sebelum akhirnya membuka pintu dan keluar dari mobil Nicol.
“Bisa kamu jelaskan, Jevan?” tanya ibu Jevan ketika melihat Jevan datang bersama ambulan.
Jevan memandang lurus ke arah Natasya yang tengah tersenyum penuh kemenangan ke arahnya. Jevan kemudian beralih kepada sang ayah yang tampak memandang ke arah ambulan. Jevan yakin, ayahnya sudah tahu mengenai ini.
“Besok. Besok Jevan akan jelaskan, Bu. Sekarang, tolong biarkan pemakaman ini berjalan dengan damai.” Jevan mencoba memberikan pengertian kepada ibunya.
“Berjalan damai bagaimana? Pertunangan kamu kacau, Je! Dan sekarang kamu malah mengurusi kematian seseorang yang tidak jelas begitu. Mau kamu apa?!”
Tangan Jevan mengepal erat di kedua sisi. Dia tidak terima dan marah saat mendengar perkataan yang dilontarkan sang ibu.
“Bu, tolong. Jevan mohon kali ini, biarkan pemakaman ini berjalan dengan damai, dan besok, besok Jevan akan jelaskan semuanya kepada Ibu.”
“Tidak bisa. Kamu harus jelaskan ini sekarang. Kamu juga harus jelaskan siapa gadis itu, Je!” Ibu Jevan menunjuk ke arah belakang Jevan, yang membuat lelaki itu ikut menoleh. Ara tengah berjalan ke arahnya dengan Sarah yang memapahnya.
“Sarah, kamu bawa Ara ke kamar, dan temani dia,” suruhnya kepada sekretarisnya itu.
“Iya, Pak.” Sarah hendak kembali melangkah, tapi seruan ibu bosnya itu menghentikan langkahnya.
“Jevan!” Jevan menatap sang ibu yang tampak sangat marah kepadanya. “Tidak ada yang boleh masuk ke rumah ini, sebelum kamu jelaskan semuanya.”
Jevan menggeram marah, apalagi melihat Ara yang menangis dalam diam. Gadis itu terlihat sangat rapuh, dan Jevan tidak tega melihatnya.
“Sarah, kamu dengar kan, apa yang saya katakan?” tanyanya sambil memandang Sarah dengan tajam dan memperingatkan.
“Iya, Pak.” Sarah mencoba mengabaikan tatapan tajam yang juga diberikan oleh ibu Jevan kepadanya. Perempuan itu hendak kembali membawa Ara meneruskan langkah mereka, tapi perkataan yang keluar dari mulut ibu Jevan kembali membuatnya berhenti.
“Kamu tidak dengar apa yang saya katakan?! Tidak ada yang boleh masuk ke dalam rumah ini, sebelum-”
“Cukup, Bu!” sentak Jevan keras. Ibunya pun sampai terkejut mendengarnya. Karena Jevan selama ini tidak pernah membentaknya. Anaknya itu biasanya selalu menjadi anak yang penurut.
“Kamu barusan membentak ibu, Je?” tanyanya tidak percaya.
Jevan mengembuskan napasnya kasar. Dia kembali memandang Sarah. “Saya nggak harus mengulang perkataan yang sama untuk ketiga kalinya, kan?”
Sarah mengangguk dengan cepat, berusaha mengabaikan semuanya, dan membawa Ara masuk ke rumah.
Plak.
Satu tamparan mendarat di pipi Jevan. Semuanya terkejut, termasuk Nicol yang baru saja datang setelah memarkir mobilnya.
“Kamu sudah berani membentak ibu di tempat umum sekarang? Kamu bahkan sudah berani berbohong kepada ibu, dan semua itu karena gadis itu. Iya, kan?!”
Jevan mengembuskan napasnya pelan. “Jevan cuman mau pemakaman ini berjalan dengan damai, Bu. Cuman itu,” tegasnya kepada sang ibu.
“Kamu bahkan tidak punya hubungan darah dengan orang yang meninggal itu. Kenapa kamu harus repot-repot melakukan pemakaman ini?!” teriak ibu Jevan marah.
Jevan benar-benar berusaha mengontrol emosinya. Berulang kali dia mencoba meningatkan dirinya sendiri, bahwa yang tengah berhadapan dengan dirinya sekarang adalah ibu kandungnya sendiri. Jevan tidak boleh lepas kendali.
“Lebih baik sekarang Ibu pulang. Besok pagi Jevan akan ke rumah dan menjelaskan semuanya,” ujarnya.
Ayah Jevan, yang melihat bahwa sang anak sudah lelah dengan pertengkaran ini, meraih lengan sang istri. “Ayo pulang, Bu. Biarkan Jevan menyelesaikan urusannya.”
“Ayah gimana, sih? Ibu nggak akan bisa pulang, kalau Jevan belum mengatakan apa-apa,” balas ibu Jevan dengan marah. Dia beralih memandang Jevan yang tengah membuang muka ke arah lain. “Pertunangan kamu batal, Je. Penyebabnya adalah gadis nggak tahu diri tadi. Iya, kan?!”
Jevan memandang sang ibu dengan marah. “Dia bukan gadis nggak tahu diri. Lebih baik Ibu diam, sebelum Jevan semakin marah,” desisnya marah.
“Apa lebihnya dia dibanding Natasya? Natasya jelas jauh di atas gadis itu, Je. Tapi, kamu memilih menghancurkan pertunangan kamu dengan Natasya hanya karena gadis tidak tahu diri itu!”
“Bu! Ini yang aku mau, pertunanganku dengan Natasya hancur. Itu yang aku inginkan. Karena sedari dulu, aku nggak pernah menginginkan pertunangan ini terjadi. Kalau Ibu bertanya, apa lebihnya gadis itu dari Natasya, jelas aku mengatakan bahwa Natasya nggak ada apa-apanya dibanding gadis itu. Gadis itu namanya Arana, dan dia jauh lebih terhormat dari pada perempuan ular di samping Ibu sekarang.” Puas mengatakan itu, Jevan beralih memandang ke arah sang ayah. “Kali ini Jevan minta tolong, Yah. Tolong bawa istri Ayah dan perempuan di sampingnya ini pergi dari rumah Jevan. Jevan akan pulang ke rumah besok pagi dan menjelaskan semuanya,” ujarnya sambil menatap ke arah sang ayah dengan sungguh-sungguh.
Ayah Jevan mengangguk. Dia hendak meraih lengan sang istri, tapi lagi-lagi istrinya itu menolak dan menyentak tangannya dengan kasar.
“Ibu nggak akan pergi dari sini, Yah.”
“Ibu ini kenapa?” tanya ayah Jevan. “Natasya kasih jampi-jampi apa ke Ibu, sampai Ibu jadi perempuan bar-bar seperti sekarang? Ibu tadi sudah dengar sendiri kan, Jevan akan datang dan menjelaskan kepada kita besok pagi. Dia anak kita. Dia pasti menepati janjinya. Sekarang, biarkan dia mengurusi masalahnya. Lagi pula, nggak baik teriak-teriak di depan jenazah. Sekarang kita pulang!” Sebelum menarik lengan sang istri, dia lebih dulu berbicara dengan Natasya. “Kamu juga pulang! Jangan ganggu anak saya malam ini.”
Setelah kedua orangtuanya dan Natasya pergi dari rumahnya, Jevan mengembuskan napas kasar. Dia menyuruh sopirnya dan Mbok Ijah untuk mengurus jenazah ibu Ara sebentar. Dia perlu mendinginkan pikirannya.
“Nih, minum,” ujar Nicol yang berjalan keluar sambil membawa sebotol air putih dingin, dan menyerahkannya kepada Jevan.
Jevan meraih dan meminumnya dengan rakus. Lelaki itu kembali mengembuskan napasnya. Ini bahkan belum apa-apa, tapi kenapa rasanya Jevan sudah melalui hari yang berat?
“Sarah masih sama Ara, kan?” tanyanya memastikan.
Nicol mengangguk. “Ya. Mereka berdua masih di kamar.”
“Bilang sama Sarah untuk nggak biarin Ara sendiri dulu buat saat ini. Gue takut dia melakukan sesuatu yang buruk.”
Nicol kembali mengangguk. “Gue paham. Sarah juga udah pasti ngerti.”
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-