Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 42



Lelah karena sibuk memikirkan bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Jevan, Ara memilih untuk mengelilingi vila milik lelaki itu. Di sini memang nyaman. Pantas saja Jevan senang menetap di sini saat masa terpuruknya. Ini lebih seperti tempat untuk menenangkan diri dari segala aktivitas yang terasa membosankan.


Ara tiba di depan pintu kamar yang letaknya hampir tidak diketahui orang, karena terselip di antara banyaknya lemari kayu. Gadis itu menoleh ke kanan dan kiri, berharap menemukan pelayan Jevan, tapi tidak ada.


Dia ingin masuk, tapi takut kalau ini adalah area Jevan yang tidak boleh diketahui orang lain. Ara menghela napas pelan, gadis itu akan beranjak dari sana, tapi lagi-lagi matanya menatap pintu kamar itu dengan penasaran.


Akhirnya, berbekal rasa penasarannya, Ara memberanikan diri membuka gagang pintu yang tidak dikunci itu. Dia kembali menoleh, memastikan jika tidak ada orang yang melihatnya, sebelum berjalan cepat masuk ke dalam dan menutup pintu.


Ini adalah sebuah kamar biasa. Ara mengelilinginya, gadis itu berhenti di sebuah meja yang terdapat buku di atasnya.


“Buku harian,” gumamnya sambil menyentuh buku itu, lalu tanpa sadar tangannya mulai membuka halaman pertama.


Pada halaman pertama, berisi curahan hati Jevan saat pertama kali membangun tempat ini dan tujuannya membangun tempat ini. Halaman kedua, Jevan menulis bagaimana perasaannya saat Natasya membatalkan pertunangan mereka begitu saja.


Ara tersenyum miris setelah membaca itu. Jevan terlihat sangat mencintai Natasya, terbukti dari tulisan ini ketika Jevan mengungkapkan rasa terpukulnya.


Gadis itu hendak menutup buku harian itu, sebelum dia tidak sengaja membuka halaman terakhir yang ditulis Jevan.


Aku, Jevan Smith berjanji, tidak akan membawa seorang perempuan pun untuk datang ke sini. Kecuali, dia yang akan menjadi istriku nanti.


Tanpa sadar pipi Ara bersemu merah. Astaga. Manis sekali. Gadis itu menutup buku harian itu dan tersenyum tipis. Kata pelayan tadi, dia adalah perempuan pertama yang dibawa Jevan ke mari. Apakah itu artinya Jevan sedang menepati janjinya kepada dirinya sendiri? Apakah ‘dia’ yang dimaksud Jevan adalah dirinya? Perempuan yang akan menjadi istrinya?


Ara keluar dari kamar itu sambil terus tersenyum tipis. Jika memang begitu, Ara juga tidak akan menyerah. Dia akan menghapus lelahnya. Dia dan Jevan harus berjuang untuk hubungan mereka.


“Mbak Arana dari mana?”


Ara menoleh dan menemukan salah satu pengawal Jevan. “Saya habis keliling. Boleh antar saya ke pantai? Saya mau ketemu Jevan.”


Pengawal itu mengangguk. “Baik, Mbak. Mari.”


“Em, tunggu dulu,” sela Ara sebelum pengawal itu berjalan.


“Iya, Mbak?”


“Bisa tunggu saya ganti baju dulu?”


Pengawal itu kembali mengangguk. “Baik. Saya tunggu di luar, Mbak.”


Beberapa menit kemudian, Ara sudah siap dengan pakaiannya. Dress bunga-bunga selutut, dengan sandal sederhana di kakinya. Tidak lupa, gadis itu mengenakan topi lebar pemberian Jevan.


“Jevan di mana?” tanya Ara ketika dia sampai di pantai, tapi tidak melihat keberadaan Jevan.


“Di sana, Mbak.” Pengawal yang masih bersama Ara itu menunjuk ke arah pantai.


Mata Ara membulat melihatnya. Di sana, Jevan tengah berselancar dengan ombak yang cukup besar menurutnya. Apakah tidak apa-apa?


Ara berteriak terkejut karena melihat Jevan jatuh ke dalam air. Dia menoleh panik ke arah pengawal Jevan.


“Jevan jatuh!” serunya.


Pengawal itu terlihat sedang menahan tawanya. “Tidak apa-apa, Mbak. Itu sudah biasa untuk Tuan Jevan.”


Ara masih menatap ke arah pantai dengan terkejut. Dia mencoba mencari Jevan yang seperti tergulung ombak tadi, dan betapa leganya dia, ketika melihat Jevan yang berenang ke tepi.


Tanpa sadar, Ara mengembuskan napas lega. Hal itu juga membuat pengawal Jevan itu tersenyum melihat kepolosan kekasih tuannya itu.


Jevan berjalan sambil membawa papan selancarnya. Lelaki itu melambai ke arah Ara sambil tersenyum. Namun, tiba-tiba saja Ara tidak bisa melihat wajah Jevan, karena tiga orang perempuan mendadak mengerumuni lelaki itu.


Kening Ara mengernyit tidak suka. Siapa mereka? Kenapa mereka dengan berani menyentuh Jevan begitu? Apalagi, pakaian yang mereka kenakan. Bukan. Itu bukan pakaian. Mereka hanya mengenakan pakaian dalam saja, memperlihatkan lekuk tubuh mereka dengan sengaja.


Ara membuang muka. Beberapa menit kemudian, Jevan datang menghampirinya. Lelaki itu menyuruh pengawalnya pergi, lalu mencium pelipis Ara cepat.


Ara hanya melirik Jevan sebentar, sebelum kembali membuang muka, enggan bertatapan dengan lelaki itu. Sementara Jevan mengerutkan kening melihatnya.


“Ada apa?” tanyanya heran.


Ara diam tidak menjawab.


“Ara, aku tanya. Ada apa?” Kali ini Jevan bertanya sambil merangkum wajah Ara untuk melihatnya.


Ara mengerucutkan bibirnya sambil menatap Jevan lurus. “Kamu dikerumuni mbak-mbak yang nggak pakai baju tadi,” sungutnya kesal.


Jevan terkekeh mendengarnya. Ya. Hal seperti itu, sudah sangat biasa untuknya. Tapi, sepertinya Ara tidak menyukai itu.


“Terus?”


Ara menatap Jevan kesal saat mendengar lelaki itu bertanya dengan santainya.


“Kamu kelihatan nyaman-nyaman aja sama mereka.”


“Memang iya? Terus?”


Ara melepaskan tangan Jevan yang tengah merangkum wajahnya. Gadis itu menoleh ke arah lain sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


Jevan tersenyum tipis melihat itu. Dia melingkari pinggang Ara dengan tangannya dan menumpukan kepalanya di bahu Ara.


“Basah, Je,” rengek gadis itu sambil berusaha melepaskan diri, tapi tentu saja Jevan tidak memperbolehkannya. Lelaki itu semakin mempererat pelukannya.


“Kamu cemburu.” Itu bukan sebuah pertanyaan. Jevan tengah menegaskan apa yang sedang Ara rasakan sekarang.


“Enggak!” Ara berseru keras sambil berusaha melepas pelukan Jevan.


Jevan akhirnya melepas pelukannya dan membalikkan tubuh Ara menghadap ke dirinya.


“Justru aku yang harusnya cemburu.”


Kening Ara mengerut. “Kenapa kamu?”


“Kamu nggak lihat kalau lelaki bule dari tadi lihatin kamu terus? Rasanya pengen aku colok mata mereka satu-satu.”


Ara mencibir tidak percaya. “Aku pakai baju. Masih tertutup. Sedangkan perempuan yang dekatin kamu tadi, nggak pakai baju, cuman pakai dalaman aja. Yang harusnya jadi tontonan mereka, bukan aku.”


Jevan menggeleng pelan sambil mengusap pelan pipi gadis itu. “Kamu salah, Ara. Justru yang masih pakai baju kayak kamu sekarang lebih bikin penasaran. Daripada mereka yang udah hampir telanjang.”


Ara diam dan menatap lurus ke arah mata Jevan yang… tampak bergairah? Astaga. Di sini? Di pantai dengan ramai orang seperti ini?


“Kamu tahu apa yang sedang aku pikirkan sekarang?” bisik Jevan lembut di depan wajah Ara.


Ara hanya menggeleng pelan.


“Aku rasa aku harus membeli pantai ini. Supaya kita berdua bisa bebas melakukan apa pun di sini, dan aku nggak perlu merasa marah karena banyak lelaki yang memperhatikan kamu.”


Ara menatap Jevan tidak percaya. Membeli pantai ini? Jevan mengucapkannya seperti ingin membeli makanan saja. Terasa begitu mudah untuk diucapkan, dan Ara rasa sebentar lagi lelaki itu akan melaksanakan kemauannya.


 


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-