Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 9



Pagi ini Ara masuk kerja seperti biasa. Dia tadi berangkat bersama Jevan dan turun di pertigaan. Dia merasa ada yang berbeda dengan tubuhnya hari ini. Rasanya tubuh Ara sangat lemas. Kepalanya pusing. Matanya sedari tadi berkaca-kaca dan terasa perih. Tapi Ara membiarkan. Mencoba tidak merasakan suhu badannya yang mulai meninggi. Ara terus melaksanakan tugasnya. Membersihkan kaca di lobi utama, meski sesekali berhenti dan berpegangan pada sesuatu di dekatnya. Untunglah dia akhirnya bisa melaksanakan tugasnya itu hingga selesai.


Dia berjalan dengan pelan ke ruangan khusus untuk petugas kebersihan. Dia duduk di salah satu kursi di pojokan sambil meminum segelas air putih.


“Ra,” panggil Dewi, senior Ara di petugas kebersihan.


“Kenapa, Mbak?” tanya Ara.


“Lo udah nggak ada kerjaan?”


“Aku habis lapin kaca di lobi. Ada apa, Mbak?”


“Di ruang rapat ada yang numpahin minuman. Lo ke sana gih, beresin. Gue harus beresin ruangan HRD.”


Meski merasa tubuhnya perlu istirahat, kenyataannya Ara tetap mengangguk.


“Iya, Mbak. Aku ke sana.”


“Makasih, ya.”


Ara kembali mengangguk sambil memberikan senyuman tipis. Setelah Dewi pergi, Ara mencoba mengatur tubuhnya. Mencoba bersikap biasa saja. Mencoba tidak merasakan sakit yang tiba-tiba menyerang tubuhnya.


Ara berjalan ke arah lift dan menekan lantai lima, tempat ruangan rapat berada. Setelah sampai di lantai lima, pusing di kepala Ara semakin menjadi. Gadis itu bahkan sempat berhenti melangkah untuk berpegangan pada tembok di dekatnya.


“Kamu nggak apa-apa, Ara!" gumamnya meyakinkan diri sendiri.


Mengembuskan napasnya pelan, Ara akhirnya berjalan ke arah ruang rapat. Mengetuknya pelan, sebelum mulai membuka pintu ruangan itu. Hawa dingin yang menerpanya membuat Ara menggigil. Padahal biasanya tidak seperti ini.


“Kenapa lama sekali?” Pertanyaan yang terdengar sinis itu dilontarkan oleh salah satu orang yang berada di dalam ruang rapat. Ara hanya bisa menunduk dan bergumam dengan pelan.


“Maaf.”


Ara berjalan ke arah tumpahan minuman yang harus dia bersihkan. Letak minuman yang terjatuh itu cukup dekat dengan kursi sang CEO.


Jevan mengernyitkan keningnya melihat wajah Ara sekilas tadi. Wajah gadis itu tidak terlihat seperti biasanya. Dia terlihat pucat. Apakah Ara sakit? Sepertinya gadis itu masih baik-baik saja tadi pagi. Lalu kenapa mendadak wajah Ara menjadi pucat seperti itu?


Apalagi dia tampak mengepel lantai dengan tidak fokus. Sesekali, gadis itu berhenti dan melanjutkan kembali. Kerutan di kening Jevan semakin dalam. Apakah Ara benar-benar sakit? Pertanyaan Jevan terjawab saat dia melihat tubuh Ara nyaris merosot jatuh ke lantai. Jevan menghancurkan kertas di tangannya dan segera berdiri meraih tubuh Ara ke dalam dekapannya.


“Ara, kamu kenapa? Bangun, Ara,” ujar Jevan sambil menepuk-nepuk pelan pipi Ara. Gadis itu kehilangan kesadarannya.


Semua yang berada di dalam ruangan itu terkejut. Apalagi ketika CEO mereka malah dengan santainya meraih tubuh petugas kebersihan ke dalam dekapannya. Wajah Jevan terlihat panik dan khawatir. Mereka semua bertanya-tanya, hubungan apa yang sedang terjalin antara bos besar mereka dengan pegawai kelas rendah itu?


Jevan berdiri masih dengan Ara di dalam dekapannya. Dia menoleh, menatap sekretarisnya yang berdiri di sampingnya. “Sarah, batalkan rapat kali ini. Saya harus bawa Ara ke klinik.”


“Iya, Pak.” Tanpa bantahan, Sarah langsung menyanggupi apa yang dikatakan oleh bosnya itu.


Tanpa banyak bersuara, Jevan langsung membawa Ara keluar dan masuk ke lift. Klinik di perusahaannya berada di lantai dasar. Di dalam lift, tak henti-hentinya dia memberikan tatapan khawatirnya kepada Ara yang belum membuka matanya.


Jevan hanya berharap Ara baik-baik saja. Karena demi Tuhan, Jevan belum pernah merasakan kepanikan seperti ini sebelumnya.


Sesampainya di lantai dasar, Jevan disambut dengan pandangan heran dan terkejut para karyawannya. Jevan tidak peduli. Bahkan jika mereka mulai menyebar gosip tentang dirinya dan Ara pun, dia tidak peduli.


“Astaga! Arana!”


Seruan itu membuat Jevan yang tengah melangkah berhenti dan menoleh ke asal suara. Dia melihat seorang gadis yang memakai seragam yang sama dengan Ara tengah berlari menghampirinya.


“Pak, Arana kenapa?”


“Pingsan. Kamu temannya Ara?”


Gadis itu mengangguk cepat.


Jevan menendang pintu klinik, karena kedua tangannya tengah menggendong tubuh Ara. Dokter dan perawat di sana cukup terkejut ketika melihat bos besar mereka tengah menggendong seseorang.


Jevan meletakkan tubuh Ara di ranjang, lalu menatap dokter yang mendekat itu. Sialan. Jevan sebenarnya tidak ingin peduli. Namun, ketika dokter laki-laki itu mendekat, perasaan asing mulai merasukinya. Apalagi, dokter itu adalah dokter yang pernah berbicara dengan Ara waktu itu.


“Mau apa?” tanya Jevan cepat saat melihat tangan dokter itu hendak membuka dua kancing teratas seragam yang dikenakan Ara.


“Maaf?” tanya dokter bernama Sean itu. Tentu saja dia akan memeriksa Arana. Kenapa bos besar ini masih bertanya?


“Kamu mau apa?” ulang Jevan sambil memberikan tatapan tajamnya kepada Sean.


“Saya mau memeriksa Arana, Pak,” jawab Sean bingung.


Jevan mengembuskan napasnya pelan, sebelum akhirnya membiarkan Sean melakukan tugasnya. Jevan bersumpah dia harus menahan emosinya saat melihat Sean menyentuh tubuh Ara. Kenapa dia bereaksi berlebihan begini saat melihat Ara disentuh orang lain?


“Tekanan darah Arana rendah. Suhu tubuhnya juga tinggi. Sepertinya Arana kelelahan,” ujar Sean setelah memeriksa kondisi Ara. Dia beralih kepada Desi yang tadi mengikuti Jevan sampai ke klinik.


“Kamu temannya?” tanya Sean kepada Desi.


Desi mengangguk.


“Kalau Ara sudah sadar, suruh dia ambil cuti. Dia perlu istirahat.”


“Iya, Dok.”


Jevan sedari tadi hanya diam dan memandang khawatir ke arah Ara yang belum membuka kedua matanya. Ara kelelahan. Itu pasti karena ulahnya. Sepulang dari pantai kemarin, dia langsung menagih janji Ara. Mereka berdua melakukannya hingga pukul dua dini hari tadi. Gadis itu kurang tidur karenanya.


“Pak Jevan.”


Semua yang berada di dalam klinik itu menoleh ke arah pintu masuk. Di sana, Sarah—sekertaris Jevan—tengah memanggil Jevan dengan ekpresi tidak nyaman.


“Ada apa?” tanya Jevan singkat.


“Maaf, Pak. Tapi, Pak Jonathan Smith tengah berada di ruangan Bapak sekarang,” ujar Sarah dengan takut-takut.


“Apa kamu bilang? Ayah di ruangan saya?” tanya Jevan dengan terkejut.


“Iya, Pak.”


“Sial,” umpat Jevan dengan keras.


Dia masih ingin di sini, menemani Ara hingga gadis itu terbangun dari pingsannya. Namun, kenapa tiba-tiba saja tanpa pemberitahuan lebih dulu, sang ayah malah datang ke kantornya? Jika sudah begini, Jevan tidak bisa berbuat banyak. Dia mana bisa membantah perkataan sang ayah?


Jevan mengembuskan napasnya kasar. Dia menatap Ara yang masih menutup matanya. Dia beralih pada teman Ara yang tadi mengikutinya.


“Kalau Ara sudah sadar, suruh dia langsung pulang. Tidak usah bekerja lagi. Kamu paham?”


“Iya, Pak,” jawab Desi sambil mengangguk.


Jevan menatap Ara sekali lagi. Walau berat meninggalkan Ara sendirian, dia harus pergi. Ayahnya bisa saja melakukan hal yang tidak diinginkan jika dia tidak segera datang.


Jevan akhirnya berjalan meninggalkan klinik dengan Sarah di belakangnya. Dia harus menyelesaikan urusannya dengan sang ayah, lalu pulang ke rumah untuk memastikan apakah Ara sudah berada di sana.


 


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-