Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 81



Sesampainya di rumah orangtuanya, Jevan memaksa untuk menggendong Ara untuk sampai di dalam, padahal gadis itu mengatakan jika dia bisa berjalan sendiri. Tapi, seperti biasa, lelaki itu tidak bisa dibantah.


“Astaga, Ara kenapa, Je?” tanya ibu Jevan yang melihat Jevan menggendong Ara masuk dan meletakkan tubuh gadis itu di sofa ruang tamu.


“Jatuh, Tante.”


“Didorong orang.”


Dua jawaban berbeda itu, membuat ibu Jevan menatap heran keduanya. “Jadi, yang benar yang mana?” tanyanya sambil duduk di ujung sofa yang Ara duduki.


“Kita tadi makan siang di restoran. Ada orang yang dorong Ara, Bu,” ujar Jevan.


“Kenapa bisa? Siapa yang melakukan itu? Didorong itu, berarti di sengaja dong?”


Jevan mengangguk pelan. “Belum tahu pastinya. Tapi, kayaknya emang gitu, Bu.”


Ibu Jevan memerhatikan Ara dengan seksama. “Kamu luka parah? Ada yang masih sakit nggak?”


Ara menyengir sambil menggeleng. “Nggak ada, Tante. Saya baik-baik saja.”


“Kamu jatuh dari tangga. Berguling-guling sampai di tanggaa terakhir. Gimana nggak sakit?” tanya Jevan sambil memandang Ara sambil menatap gadis itu dengan sorot matanya yang tajam.


“Udah-udah. Jangan dimarahi Aranya. Dia pasti masih terkejut. Kamu udah makan, Ra?” tanyanya kembali kepada Ara yang dijawab gadis itu dengan gelengan kepala.


“Yaudah, kamu istirahat di kamar aja. Biar nanti saya suruh pelayan menyiapkan makanan untuk kamu.”


“Makasih, Tante.”


Ibu Jevan mengangguk, mengusap pelan lengan Ara, sebelum beranjak dari sana.


Ara diam setelah kepergian ibu Jevan. Sementara lelaki itu tampak memendam emosinya sedari tadi. Ara jadi tidak berani mengeluarkan suara sedikit pun.


Gadis itu hendak bangkit dari duduknya, tapi tertahan dengan suara Jevan yang bertanya dengannya.


“Mau ke mana?”


“Kata tante tadi disuruh istirahat,” jawabnya pelan.


Jevan berdecak. Tanpa banyak bicara, lelaki itu membawa Ara kembali dalam gendongannya, dan membawanya untuk menaiki tangga menuju kamar.


“Istirahat, dan jangan macam-macam,” ujar Jevan ketika dia sudah meletakkan tubuh Ara di ranjang. Dia hendak meninggalkan gadis itu, tapi Ara menahannya dengan menarik ujung kemejanya.


“Apa?” tanyanya.


“Maaf. Aku tahu kamu marah karena kecerobohanku,” kata Ara.


Jevan mengembuskan napasnya kasar, dia duduk di samping Ara dan mengusap pelan rambut gadis itu.


“Aku nggak marah sama kamu. Aku marah karena ada orang yang berani menyentuh kamu.”


“Aku nggak apa-apa, kok, Je. Kamu jangan khawatir. Kata dokter tadi gitu, kan?”


“Tetap aja, Ara. Menyadari ada orang yang berani menyentuh kamu, di saat kamu sedang bersamaku, membuatku marah.” Jevan lalu memberikan kecupan lembut di kening gadis itu. “Istirahat. Tunggu makanan kamu datang. Aku keluar sebentar, ya.”


Jevan keluar dari kamar, dan berpapasan dengan sang ibu bersama dengan pelayan yang membawa makanan untuk Ara.


“Kamu mau ke mana?” tanya ibu Jevan.


“Ayah di mana, Bu?”


“Di ruang kerjanya. Ara tidur?”


Jevan menggeleng. “Di dalam. Ibu temani dia sebentar, ya.”


“Iya.”


Setelah mendapatkan jawaban sang ibu, Jevan menuruni tangga untuk sampai ke ruang kerja sang ayah. Dia harus meminta bantuan sang ayah untuk masalah ini. Ayahnya lebih cepat mendapat informasi dari pada dirinya sendiri.


Jevan masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk lebih dulu. Di kursinya, sang ayah tengah duduk sambil fokus dengan laptop di depannya.


“Ada yang Jevan perlu bicarakan, Yah,” ujar Jevan sambil duduk di sofa yang ada di sana.


Ayahnya melepas kaca mata yang dia gunakan, lalu bangkit dan menghampiri Jevan yang duduk di sofa.


“Ada apa?”


“Ara jatuh karena didorong orang. Ayah pasti tahu masalah ini, kan?”


Sang ayah mengangguk. “Ya. Ayah baru saja menerima informasi itu dari orang ayah.”


“Siapa?”


“Apa?”


Jevan berdecak. “Orang yang dorong Ara. Jevan ngerti, Ayah pasti tahu masalah ini.” Lelaki itu terlihat kesal.


Ayahnya kembali terkekeh. “Kamu pernah memecat orang di kantor?”


Kening Jevan mengerut. Dia mencoba mengingat-ngingat kembali. Setelahnya dia kembali menatap sang ayah.


“Pernah. Memangnya ada hubungannya dengan orang yang mendorong Ara?” Jevan tidak akan lupa pada tiga orang wanita dia pecat karena sudah berbicara yang tidak-tidak tentang Ara.


Ayahnya mengangguk. “Menurut informasi yang ayah terima, orang yang mendorong Ara itu salah satu di antara mereka. Tapi, sampai saat ini ayah masih menunggu kepastian informasinya.”


Tangan Jevan mengepal erat. Sial. Rupanya, ketiga wanita itu tidak takut dengan dirinya. Dia harus membalas mereka dengan tangannya sendiri. Beraninya mereka melukai Aranya.


“Jangan gegabah, Je. Kita masih belum tahu pastinya bagaimana. Orang ayah masih menyelidikinya. Kamu tenang dan jaga Ara lebih baik lagi. Ayah akan sampaikan ke kamu kalau ada sesuatu yang penting lagi.”


Jevan mengembuskan napas kasar. Dia menyandarkan tubuhnya, lalu memejamkan matanya. Dia benar-benar panik tadi. Melihat Ara yang tidak sadarkan diri membuatnya seolah kehilangan kemampuan untuk berpikir.


***


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-