
Sementara di lain tempat, Jevan tengah berkumpul dengan beberapa temannya di sebuah restoran mewah. Lelaki itu sesekali tertawa menimpali lelucon yang dilemparkan oleh temannya. Namun, Jevan tidak bisa membohongi dirinya sendiri, jika saat ini hatinya merasa tidak tenang karena pembicaraannya dengan Ara di telepon tadi.
Sungguh Jevan tidak bermaksud untuk berbicara begitu kepada istrinya itu. Namun, dia memang tidak bisa membatalkan kehadirannya di reuni kecil-kecilan ini.
“Je, lo kenapa diam aja?” tanya salah satu teman Jevan, yang membuat lelaki itu menoleh ke arahnya.
“Mikirin istrinya kali. Pengantin baru. Nggak bisa jauhan dikit,” jawab yang lainnya.
Jevan hanya tertawa pelan menanggapi obrolan teman-temannya. Obrolan terus berlanjut, sampai ponsel Jevan berdering pertanda jika ada panggilan masuk. Lelaki itu mengeluarkan ponselnya dan mengernyitkan kening begitu melihat nama sang ibu.
Ada apa?
“Hallo, Bu. Ada apa? Tumben Ibu tele-”
“Ara pingsan, Jevan.”
Jevan segera bangkit dari duduknya. “Pingsan? Kenapa, Bu? Sekarang Ara di mana?”
“Di rumah. Kamu cepat pulang.”
Jevan segera mematikan ponselnya. Dia sangat ingin bertanya mengenai keadaan Ara, dan juga penyebab istrinya itu pingsan. Namun, Jevan tahu itu tidak penting. Hal penting yang harus dia lakukan sekarang adalah pulang dengan segera ke rumah.
“Je, ada apa?”
Jevan meraih jas yang tadi dia lepas, lalu memakainya dengan tergesa. “Gue harus pulang. Istri gue sakit. Makanannya biar gue yang bayar.” Setelah mengatakan itu, Jevan langsung berjalan ke arah kasir dengan tergesa.
***
Setelah mengemudikan mobilnya dengan sedikit ugal-ugalan, Jevan akhirnya sampai di pelataran rumahnya. Lelaki itu turun dari mobil dengan sedikit mengernyit. Ada mobil milik orangtuanya, dan ada mobil milik Nicol. Kenapa semuanya ada di sini?
Di ruang tamu, Ayahnya sedang mengantar dokter keluarga mereka yang Jevan tebak sudah memeriksa Ara. Dokter dan sang ayah tersenyum melihat kedatangan Jevan.
Dan tanpa diduga, dokter itu berjalan ke arah Jevan, dan mengulurkan tangannya ke arah lelaki itu.
“Selamat ya, Jevan,” ujar dokter itu sambil tersenyum lebar.
Jevan memandang dokter itu heran, namun tangannya tetap terulur menjabat tangan sang dokter. “Selamat untuk apa, dok? Istri saya gimana?”
“Sebentar lagi kamu akan jadi ayah.”
“Apa?!” seru Jevan terkejut.
“Ara hamil, Je. Memang harus dipastikan dulu ke dokter kandungan. Tapi, dugaan sementaranya begitu.” Kali ini sang ayah yang berucap.
Mendengar itu, Jevan segera melepaskan uluran tangan dokter, dan berlari menuju kamarnya. Sesampainya di dalam kamar, Jevan bisa melihat jika Ibunya, Nicol, dan Sarah tengah berada di sana.
“Kamu tuh, ke mana aja?”
Jevan tidak menjawab, dia memilih duduk di samping Ara sambil mengusap pelan pipi gadis itu. Jika dilihat kembali, Ara memang terlihat pucat. Jevan mengembuskan napas kasar. Kenapa dia tidak peka dengan keadaan Ara, padahal mereka selalu bersama?
“Ara hamil, Bu?” tanyanya pelan.
“Iya. Dan dia masih jalan ke sana ke mari buat persiapkan pesta kejutan untuk kamu.”
“Hari ini ulang tahun kamu, dan Ara mempersiapkan semuanya. Tapi, kamu malah makan malam sama teman-teman kamu. Nggak menghargai usaha Ara.”
Jevan tidak lagi menyahut. Pandangannya kembali beralih kepada Ara. Tangannya tidak berhenti mengusap pipi gadis itu. Perasaan bersalah menyeruak di dalam dadanya. Kalau seandainya dia tahu Ara hamil. Jevan juga tidak akan membiarkan gadis itu pergi ke sana ke mari.
Demi Tuhan, Jevan tidak peduli dengan hari ulang tahunnya.
Pandangan Jevan beralih ke perut rata Ara. Tangannya mengusap ke sana dengan lembut. Hatinya berdesir. Di sana tumbuh calon anaknya. Senyuman di bibirnya terbit. Sebentar lagi dia akan menjadi ayah. Dia akan memiliki anak yang dilahirkan dari rahim Ara, istrinya. Jevan bahagia hanya dengan membayangkannya saja.
“Yaudah, Ibu sama yang lain keluar aja. Biar Jevan yang jagain sampai Ara bangun.”
Ibu Jevan berdecak, begitu menyadari jika sang anak mengusirnya secara halus. Dia berjalan keluar kamar bersama dengan Sarah dan Nicol.
Tidak lama kemudian, setelah sang ibu dan yang lain keluar kamar, mata Ara mengerjab pelan. Gadis itu membuka matanya dengan perlahan yang membuat Jevan tersenyum lebar.
“Ara, kamu mau sesuatu?” tanya Jevan sesaat setelah Ara berhasil membuka matanya dengan sempurna.
Gadis itu menggeleng pelan. “Aku pingsan?” tanyanya.
“Iya, kamu pingsan. Untuk nggak apa-apa.”
Ara berusaha duduk dibantu dengan Jevan. Gadis itu menyandar di kepala ranjang. “Kamu kenapa pulang? Udah selesai acaranya?”
Jevan menggeleng. “Belum, aku pulang dulu. Kamu pingsan, mana bisa aku tetap diam sambil makan-makan di luar?”
“Maaf, ya, Je. Aku ngerusak acara kamu.”
Jevan menggeleng. Dia mengusap pelan pipi Ara. “Kenapa bilang gitu? Kamu sama anak kita jadi yang utama buat aku.”
Kening Ara mengernyit mendengarnya. “Kamu bilang apa? Anak kita?” tanyanya bingung.
Kali ini lelaki itu tersenyum dengan lebarnya. Tangannya berganti mengusap lembut perut Ara. “Di sini, ada anak kita. Kamu hamil, Ra.”
Ara melihat ke arah perutnya. Tangannya ikut menyentuh perutnya yang masih rata itu. Dia hamil? Benarkah? Benarkah di sini ada anaknya dengan Jevan?
“Aku hamil?” tanya Ara dengan mata berkaca-kaca menatap ke arah Jevan.
Jevan mengangguk dan tersenyum lembut. “Iya, kamu hamil. Anak kita.”
Ara memeluk Jevan dengan erat dengan isakan kecil yang membuat Jevan tertawa. Lelaki itu membalas pelukan Ara, tangannya mengusap-usap pelan punggung istrinya itu.
“Kenapa nangis?”
Ara menggeleng di dalam pelukan Jevan. “Aku bahagia,” jawabnya di sela-sela isakannya.
“Iya, aku juga bahagia. Makasih, sayang.” Jevan mengecup pelan kepala Ara. “Kita jaga anak kita sama-sama, ya.”
Ara hanya bisa kembali mengangguk dalam pelukan Jevan.
***
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-