Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 60



Suasana saat ini.


Jevan berjalan masuk ke arah ruang UGD. Di paling pojok, dia bisa melihat Sarah yang duduk menunggui Ara yang matanya masih terpejam, dengan berlinang air mata.


“Sarah,” panggil Jevan pelan.


Sarah mendongak, dan langsung berdiri begitu melihat Jevan-lah yang memanggilnya. “Pak, saya minta maaf. Seharusnya saya nggak ninggalin Ara sendirian.” Gadis itu terlihat sangat bersalah.


Jevan menggeleng mendengarnya. Dia memang ingin marah. Namun, melampiaskan amarahnya dengan Sarah bukanlah hal benar. Sekretarisnya ini sudah banyak membantunya.


“Tidak apa-apa. Lebih baik kamu keluar, tenangkan diri dengan Nicol. Biar saya yang menjaga Ara,” ujar Jevan.


Tanpa bantahan, Sarah mengangguk dan berjalan keluar dari ruang UGD. Meninggalkan Jevan berdua dengan Ara yang masih belum bangun dari pingsannya.


Jevan duduk di tempat Sarah tadi, mengusap pelan tangan Ara yang diperban.


“Kenapa kamu ngelakuin ini, Ra? Apa kamu nggak mikir, gimana aku kalau kamu pergi?” bisiknya pelan.


Beberapa menit menunggu, bahkan hingga Nicol dan Sarah kembali menghampiri Jevan pun, Ara belum juga terbangun.


“Kata dokter, Ara nggak usah dirawat inap. Habis infus, dia bisa pulang,” kata Nicol, yang dijawab anggukan oleh Jevan.


“Lukanya nggak terlalu dalam, tapi dia harus balik lagi buat ngelihat jahitannya. Dokter juga bilang, sebaiknya Ara menemui psikolog. Jiwanya terganggu.” Nicol kembali memberitahukan apa yang disampaikan dokter tadi kepadanya.


“Psikolog?” ulang Jevan, yang dijawab anggukan oleh Nicol. “Lo cariin aja, deh. Gue nggak akan sempat buat cari gituan.”


“Iya. Sarah ada kenalan teman yang jadi psikolog, kok,” ujarnya.


Jevan hanya mengangguk dan kembali diam. Dia terus menatap wajah Ara, sampai kedua mata gadis itu terlihat mengerjap pelan.


“Ara, kamu bangun? Kamu udah sadar?” tanya Jevan senang.


Ara kembali mengerjap pelan, mencoba menyesuaikan pandangannya dengan cahaya, sebelum matanya terbuka dengan sempurna. Gadis itu bisa melihat Jevan, Nicol, dan Sarah yang menatapnya lega.


Ara beralih kepada Jevan. Lelaki itu tengah menggenggam tangannya erat. Perlahan, Ara melepas tangan itu, lalu membuang muka, dan kembali menangis. Dia teringat dengan pesan yang dia baca sebelumnya. Jevan akan meninggalkannya.


“Kenapa, Ra?” tanya Jevan bingung.


“Kenapa?” Ara malah balik bertanya, yang membuat Jevan mengernyitkan kening bingung.


“Kenapa apa maksud kamu?”


“Kenapa aku dibawa ke rumah sakit?” tanyanya pelan. “Biarin aja aku mati. Aku mau nyusul Ibu,” katanya pelan.


Jevan bangkit dari duduknya. Tangannya mengepal erat di kedua sisinya. Sial. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan gadis itu. Namun, sesaat setelah sadar, dia malah mengucapkan omong kosong seperti itu.


“Kenapa kamu bilang gitu?! Kamu mau mati?! Setelah semua ini, kamu bilang mau mati?!” Jevan tersenyum sinis, melihat Ara yang masih membuang muka darinya. “Kamu pikir gampang mati, setelah semua yang udah aku berikan ke kamu?! Bahkan sampai di neraka pun, aku akan bawa kamu kembali sama aku,” desisnya marah.


“Diam, dan jangan nangis. Kita pulang sekarang!” Jevan berusaha mencabut infus di tangan Ara, tapi Nicol mencegahnya.


“Lo apa-apaan, Je?!” tanya Nicol tidak percaya.


“Lepas. Gue mau tunjukin ke gadis ini, kalau dia nggak akan mudah lepas dari gue gitu aja,” katanya sambil menatap Nicol marah.


Nicol berdecak mendengarnya. Jiwa Ara memang tengah terguncang, tapi ternyata Jevan malah sudah gila. Ada apa dengan sepasang manusia di depannya ini?


“Je, lo ingat kan kata gue sebelum ini? Udah, jangan kayak gini. Ara masih sakit.”


“Gue nggak peduli!” sentak Jevan keras, yang menimbulkan perhatian beberapa orang di UGD. “Gue nggak peduli, Nic. Dia mau mati! Dia berusaha bunuh diri! Dia berusaha tinggalin gue! Lo pikir, gue akan diam aja?!”


“Je!” Nicol balik menyentak Jevan. Demi Tuhan, kalau ini bukan berada di rumah sakit, dia sudah pasti akan menghajar Jevan saat ini juga. “Daripada lo merusuh di sini. Lebih baik lo ikut gue keluar. Sekarang.” Nicol berusaha menarik Jevan, tapi lelaki itu melepaskannya dengan kasar.


“Gue nggak mau! Gue harus bawa Ara pulang sekarang! Gue akan tunjukin ke dia, kalau nggak mudah lepas dari seorang Jevan Smith.” Jevan tetap keras kepala dengan kemauannya. Lelaki itu begitu kalut. Apalagi setelah mendengar Ara yang ingin menyusul ibunya. Itu adalah hal paling mengerikan yang pernah Jevan dengar sampai sekarang.


“Je! Lo dengar apa kata gue nggak, sih?! Ara sakit! Kita anggap wajar apa yang dia mau. Lo nggak lihat akibat ulah lo? Ara makin sedih, Je!” Nicol berucap sambil menunjuk Ara yang tengah menangis sambil menggigit bibirnya. Lelaki itu berdecak pelan, sebelum meraih lengan Jevan untuk menyingkir.


“Sarah, kamu jagain Ara. Saya sama Jevan mau keluar dulu,” katanya kepada Sarah, dan langsung membawa Jevan, yang akhirnya menurut, untuk keluar ruang UGD.


***


Nicol mengajak Jevan untuk duduk berdua di kantin rumah sakit. “Nih,” ujarnya sambil menyerahkan kopi dingin ke hadapan Jevan yang hanya diam dan melamun sedari tadi.


Jevan menerimanya, dan segera meminum habis kopi dingin itu. Dia mengembuskan napasnya kasar, tangannya meremas erat botol kopi dingin itu hingga remuk.


“Gue akan hancurkan si Natasya. Berani banget dia ganggu Ara di saat kayak gini. Padahal, gue selalu memperingatkan untuk nggak membawa Ara dalam masalah kami,” gumamnya penuh dendam.


Nicol hanya memandangnya lurus, sambil meminum kopi dingin miliknya. Ya. Dia pikir juga harus begitu. Natasya kali ini sudah kelewat batas. Meski mereka bersahabat, Nicol tidak membenarkan apa yang dilakukan perempuan itu saat ini.


“Jadi, lo akan laporin dia ke polisi?” tanya Nicol memastikan.


Jevan tersenyum sinis mendengarnya. “Polisi terlalu biasa buat dia. Gue akan hancurin dia dengan tangan gue sendiri. Dia udah hampir buat Ara mati, dan bikin Ara berpikiran meninggalkan gue. Maka, balasan gue akan lebih dari itu.”


Nicol hanya manggut-manggut mengerti. Dia percaya perkataan yang keluar dari mulut Jevan. Lelaki itu tidak pernah main-main. Yang akan dia lakukan sekarang hanya menunggu. Jika apa yang dilakukan Jevan sudah kelewat batas, sudah menjadi tugas Nicol untuk memperingatkannya. Bukankah berteman memang harus seperti itu?


***


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-