
Jevan pulang ke rumah dan tidak menemukan Ara di sana. Dia meneriaki nama Ara dengan keras, lalu mengumpat dengan pelan. Ke mana perginya gadis itu?
“Tuan,” sapa Mbok Ijah, pembantu di rumah Jevan.
“Ke mana Ara?”
“Mbak Ara tadi pamit pergi sebentar, Tuan.”
“Ke mana?”
“Saya tidak tahu, Tuan,” jawab Mbok Ijah takut-takut.
“Kamu harusnya tanya!!” sentak Jevan dengan keras.
“Je.” Panggilan bernada lembut itu membuat Jevan menoleh. Jevan tidak tahu ada apa dengan tubuhnya. Namun, mengetahui Ara berdiri di sana, membuat dirinya menghela napas lega.
“Kamu dari mana?” tanya Jevan sambil mendekat kepada Ara. Dia memeluk Ara erat seakan takut wanitanya ini pergi dari hidupnya. Dia benci kepulangannya tidak disambut oleh Ara dan rasa kekhawatirannya terhadap Ara entah kenapa terus bertamabah setiap harinya.
“Aku tadi beli soto. Lagi pengen,” ujar Ara sambil memamerkan senyumannya yang mau tak mau membuat amarah Jevan menguap begitu saja.
“Kamu baru pulang? Aku siapin air hangat dulu, ya.” Ara beralih memandang Mbok Ijah. “Mbok, tolong taruh sotonya di mangkuk, ya. Ara mau siapin air hangat dan baju Jevan dulu," ucap Ara seraya menggenggam tangan Jevan erat dan menyodorkan soto miliknya pada Bi Ijah.
“Iya, Mbak.”
Ara kembali memandang Jevan dan kembali tersenyum. “Ayo ke kamar.” Jevan merasa terhipnotis. Ada apa dengan dirinya? Sebenarnya mantra apa yang diberikan Ara kepadanya, hingga membuat tubuhnya seperti ini? Jevan menginginkan Ara. Sekarang. Hanya karena melihat senyuman tipis yang diberikan gadis itu.
Tanpa banyak bicara, Jevan meraih tubuh Ara dalam gendongannya, yang membuat gadis itu berteriak terkejut. Namun, segera Ara lingkarkan kedua tangannya di leher Jevan, karena dia takut terjatuh.
“Aku mau kamu. Sekarang,” ujar Jevan saat dia mulai menaiki tangga menuju kamarnya dengan Ara.
Pipi Ara bersemu merah mendengarnya. Segera saja gadis itu menenggelamkan wajahnya di leher Jevan. Hal itu justru semakin membuat Jevan bersemangat.
.................
Jevan mengakhiri kegiatannya bersama Ara. Itu semua karena permintaan Ara yang tidak mau terlalu lama melakukannya. Akhirnya di sinilah Jevan, dia berada di kamar mandi cukup lama. Mungkin hampir tiga puluh menit tidak keluar dari sana karena dia memang perlu mendinginkan bagian dari dirinya. Keluar dari kamar mandi, Jevan melihat Ara yang duduk di ranjang mereka. Gadis itu sudah bangun.
“Kenapa bangun?” tanya Jevan sambil mengenakan celana panjang dan kaus di depan Ara, yang membuat pipi gadis itu kembali memerah.
“Lapar,” jawab Ara pelan.
Jevan mengangguk mengerti. “Aku panggilkan Mbok Ijah supaya makanannya diantar kemari.”
“Je,” panggil Ara buru-buru.
“Apa lagi?”
“Makan di bawah aja.”
“Nggak di sini?”
Ara menjawab dengan menggeleng pelan.
“Ya sudah, kamu bersih-bersih di kamar mandi dulu. Aku ke bawah duluan,” ujar Jevan sambil keluar kamar menuju meja makan.
Sepeninggal Jevan, Ara langsung beranjak ke kamar mandi. Dia hanya mau mandi kilat. Perutnya sudah sangat lapar. Sejak pulang bekerja tadi, Ara tidak makan apa pun. Apalagi Jevan langsung menginginkannya seperti tadi.
Sepuluh menit kemudian, Ara keluar kamar dengan mengenakan piama bergambar beruang miliknya. Dia tidak punya baju rumah dengan jumlah banyak. Yang dia miliki hanyalah piama dan kaus.
Jevan mengernyit melihat Ara yang sudah turun menghampirinya.
“Udah mandi?” tanyanya saat Ara duduk di hadapannya.
“Udah.”
“Cepet banget.”
Ara menatap Jevan sambil menampilkan cengirannya. “Emang kamu, mandinya lama.”
“Kamu makan apa?”
Ara menoleh kepada Jevan. “Soto. Kamu mau?” Ara memang tidak terbiasa memakan makanan yang biasa Jevan pesan untuk makan malam. Lidah Ara tidak terbiasa dengan makanan mahal tapi tidak mengenyangkan itu. Ara pernah mencobanya sekali, yang berakhir dengan dirinya sakit perut semalaman.
Makanan yang dipesan oleh Jevan, kadang kala adalah makanan mentah. Ara bahkan tidak pernah memakan makanan itu seumur hidupnya, sebelum dia mengenal Jevan.
Jevan menatap Ara dalam diam. Di hadapannya sudah ada makanan dari salah satu restoran ternama, tapi mengapa soto yang dimakan Ara lebih terlihat menggoda?
“Pertama kali tinggal di rumah kamu yang besar ini, sebenarnya aku kesulitan cari makanan yang sesuai lidahku. Aku juga harus jalan jauh ke jalan besar, supaya menemukan pedagang kaki lima. Tapi nggak apa-apa. Aku akhirnya ketemu sama yang jual soto Lamongan ini. Rasanya enak banget. Kamu harus coba,” ujar Ara sambil tersenyum senang.
Jevan terdiam melihat bagaimana antusiasnya Ara menjelaskan hal sepele itu. Bagaimana Ara terlihat begitu bahagia, hanya dengan makanan murahan itu?
“Kamu harus coba, dijamin ketagihan.”
Tiba-tiba saja Ara sudah duduk di samping Jevan, yang membuat lelaki itu terkejut. Gadis itu membawa serta piring beserta nasi dan soto ayam itu.
“A …”
Ara mengarahkan satu sendok soto itu ke arah mulut Jevan. Dia tidak tahu dari mana asal keberanian itu. Yang jelas, dia hanya ingin lebih dekat dengan Jevan, karena selama ini hubungan mereka memang terkesan berjarak. Mereka hanya dekat ketika Jevan menginginkan Ara di ranjang.
“Kamu nggak biasa, ya?” tanya Ara sambil meletakkan kembali sendoknya. Dia melihat tatapan tajam milik Jevan.
“Aku mau.”
“Apa?”
Jevan berdecak kesal. “Aku mau soto kamu.”
Senyuman di bibir Ara terbit. Gadis itu segera meraih satu sendok nasi dan mengarahkannya ke arah mulut Jevan. Ara tersenyum ketika Jevan menerima suapannya.
Untuk beberapa saat, Jevan tampak mengerutkan keningnya. Namun, setelahnya Jevan mengangguk.
“Enak,” gumamnya sambil terus mengunyah nasi di dalam mulutnya.
“Iya, kan? Aku bilang juga apa,” ujar Ara dengan senang. Dia kembali memakan soto miliknya. Namun, gadis itu kembali menoleh kepada Jevan setelahnya.
“Kamu mau lagi?”
Jevan hanya mengangguk dengan wajah yang masih menatap lurus ke arah Ara. Dengan perlahan, Jevan menggeser piring miliknya menjauh. Dia menikmati kebersamaan ini. Jevan merasa benar-benar memiliki Ara.
“Oh, ya, Je. Aku mau tanya, boleh?”
“Tanya apa?”
“Yang tadi di ruangan kamu, siapa?”
Jevan mengerutkan keningnya. “Kamu suka sama dia?”
Ara buru-buru menggeleng. “Enggak, kok. Aku cuman takut aja dia bocorin rahasia kita.”
Jevan menyunggingkan senyuman di bibirnya. “Memangnya rahasia apa yang ada di antara kita, Ara?” tanyanya dengan lembut.
Ara terkesiap mendengarnya. Gadis itu menundukkan kepalanya dan mengaduk-aduk soto di piringnya. Sontak saja Jevan terkekeh pelan melihatnya. Merasa heran, Ara menoleh kepada Jevan.
“Lucu,” ujar Jevan pelan sambil mengacak rambut Ara.
Senyuman itu juga menular kepada Ara. Dia ikut tersenyum melihat Jevan yang terkekeh senang. Dia senang dengan kedekataannya dengan Jevan sekarang. Jevan pun merasakan hal yang sama. Tanpa Jevan sadari, ini adalah kali pertama dia makan dari satu piring yang sama dengan perempuan dewasa, dan perempuan itu adalah Ara.
Mau memungkiri sejauh apa pun. Kenyataannya, Ara memang dengan perlahan membawa perubahan dalam hidup Jevan. Haruskah Jevan bersyukur untuk itu atau dia tidak boleh termakan dengan sihir yang Ara berikan?
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-