Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 62



Ara lebih dulu berjalan ke arah Nicol yang tiduran di sofa, dengan bantal yang berada di wajahnya. Gadis itu mengguncang pelan bahu lelaki itu.


“Mas Nicol,” panggilnya pelan.


Untung saja Nicol bukan tipe orang yang susah dibangunkan. Lelaki itu mengerjab pelan, sebelum membuka matanya. Jelas Nicol terkejut melihat keberadaan Ara. Lelaki itu segera bangun dari tidurnya, dan duduk di sofa.


“Arana, lo benar Arana, kan?” tanya Nicol memastikan, yang membuat Ara terkekeh pelan.


“Iya, Mas. Ini Arana. Mas Nicol bangun, pindah tidur ke kamar aja. Ini mau diberesin.”


Nicol masih tidak beranjak dari tempat dia duduk. “Ra, ini gue nggak lagi mimpi, kan?”


Lagi-lagi Ara terkekeh mendengarnya. “Lanjut tidur sana,” suruh Ara masih dengan kekehannya.


Walau merasa bingung, Nicol akhirnya beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamarnya. Lelaki itu masih terlihat sangat mengantuk.


Setelah Nicol pergi, Ara beralih kepada Jevan yang tidur di karpet bulu sambil memeluk erat bantalan sofa yang cukup mungil untuknya. Ara tersenyum melihat itu. Lucu sekali.


Ara memilih duduk di samping Jevan, sebelum mengguncang pelan bahu lelaki itu. “Je, bangun,” katanya pelan.


Jevan hanya menggumam tidak jelas, dan semakin mengeratkan pelukannya pada bantalan sofa.


“Bangun,” kata Ara lagi, kali ini guncangan di bahu lelaki itu lebih dia keraskan.


“Gue ngantuk, Nic. Lo aja yang bangun!”


Ara mengerucutkan bibir mendengarnya. Jadi, Jevan mengira yang membangunkannya saat ini adalah Nicol? Gadis itu menggeleng pelan. Apa suaranya terdengar seperti suara lelaki?


“Je, bangun. Pindah ke kamar sana.”


“Nic, ngantuk! Lo pergi aja sana! Jangan ganggu gue!”


Ara berhenti mengguncang bahu Jevan. “Jadi, kamu nyuruh aku pergi? Beneran?”


Untuk sesaat Jevan diam, sebelum dia membuka matanya, dan melotot terkejut ketika melihat Ara duduk di sampingnya sambil mengerucutkan bibirnya. Lelaki itu segera bangkit duduk, dan mengabaikan rasa pusing di kepalanya karena bangun terburu-buru.


“Ara, kamu-” Jevan tidak bisa melanjutkan perkataannya. Dia terkejut melihat Ara yang sudah mau keluar kamar.


Ara tersenyum tipis melihat Jevan. Tangannya terulur mengusap pipi lelaki itu. “Pindah ke kamar, ya. Kamu lanjut tidur di sana aja,” katanya dengan lembut.


Jevan masih diam. Tapi, kedua mata lelaki itu tampak berkaca-kaca. Dia tidak mengatakan apa-apa, tapi perlahan senyuman muncul di bibirnya.


“Aku nggak lagi mimpi kan, Ara? Kamu memang ada di depan aku kan sekarang?”


Ara terkekeh. “Maaf ya, udah buat kamu repot,” katanya pelan.


Jevan buru-buru menggeleng. “Aku yang harusnya minta maaf. Aku kasar sama kamu kemarin. Maafin aku ya, Ra.”


Ara mengulum senyum. “Wajar, kok, Je. Kamu takut waktu itu, akunya aja yang bodoh.”


Jevan menggenggam tangan Ara erat. “Aku senang kamu udah mau keluar kamar. Aku mohon sama kamu, Ra. Jangan pernah melakukan hal bodoh lagi. Aku nggak tahu harus gimana kalu kamu nggak ada.”


“Maaf. Aku nggak seharusnya melakukan itu. Aku janji akan tetap hidup. Untuk kamu.”


Jevan tersenyum mendengarnya. Dia meraih tangan Ara, dan mencium telapak tangan gadis itu lama. “Makasih.” Setelahnya, Jevan menjatuhkan kecupan ringan di bibir gadis itu.


Jevan hendak kembali menjatuhkan kecupan di bibir gadis itu, sebelum suara dehaman menginstrupsi keduanya. Dia berdecak, dan menoleh kesal ke arah Sarah yang berdiri beberapa langkah darinya.


“Maaf Pak, ganggu. Tapi, Bapak ada telepon dari kantor,” ujar Sarah sambil menampilkan cengirannya.


Ara bangun diikuti Jevan setelahnya. “Saya kan sudah bilang, tidak mau diganggu sampai beberapa minggu ke depan!” Jevan berucap dengan marah.


“Ini penting, Pak.”


Jevan menatap tidak suka kepada Sarah. Ara yang melihatnya, menyentuh pelan lengan lelaki itu.


“Je, jangan gitu. Mbak Sarah juga nggak akan ganggu kamu kalau emang itu nggak penting. Sana, mandi dulu. Habis itu kita sarapan bareng.”


Diam-diam, Sarah memberengut setelah kepergian Jevan. Ara terkekeh melihatnya.


“Badan aja gede, tapi hati hello kitty,” dumelnya sambil kembali berjalan ke arah dapur.


Sedangkan Ara hanya tersenyum tipis mendengarnya. Dia masih punya orang-orang yang menyenangkan ini. Kenapa beberapa hari yang lalu, yang ada dipikirannya hanya mengakhiri hidup?


***


Jevan akhirnya berakhir di sini. Di ruangannya sendiri, tengah berkutat dengan berkas-berkas yang harus dia pelajari. Ada hal mendesak yang mengharuskan Jevan turun tangan langsung.


“Sarah! Ambilkan saya kopi!”


Sesaat kemudian, Jevan menghentikan gerakannya mengetik di laptop. Dia lupa kalau Sarah tidak dia perbolehkan ikut dengannya. Dia menyuruh sekretarisnya itu untuk menemani Ara di rumah.


Berdecak kesal, sebelum kembali fokus pada laptop dan berkas yang ada di mejanya. Beberapa menit kemudian, pintu ruangannya dibuka dan menampilkan Nicol yang datang sambil membawa dua kopi di tangannya.


“Kopi,” ujarnya sambil meletakkan kopi di meja Jevan, lalu lelaki itu berjalan duduk di sofa yang ada di sana.


Jevan menghentikan kegiatannya, dan meminum kopi yang dibawakan oleh Nicol. Lelaki itu ikut bangkit dan bergabung dengan Nicol di sofa.


“Lo ke sini cuman buat bawain gue kopi?” tanya Jevan.


Nicol mengendikkan bahunya. “Gue habis lihat pembangunan kedai gue. Jadi, sekalian mampir.”


Jevan manggut-manggut mengerti. Dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya, hendak menghubungi Sarah, tapi batrai ponselnya habis.


“Pinjam hp lo,” ujar Jevan.


“Buat apa?” tanya Nicol sambil menyerahkan ponselnya kepada Jevan.


“Mau telepon Sarah, tanya keadaannya Ara.” Jevan sibuk mengotak-atik ponsel Nicol.


“Kalau telepon nggak akan diangkat.”


Jevan memandang Nicol heran. “Kenapa?”


“Sibuk ngurusin tamu.”


Kening Jevan semakin mengerut. “Tamu? Di rumah gue? Siapa?”


“Sean.”


“Apa?!” seru Jevan dengan keras, yang membuat Nicol berdecak karena terkejut. “Ngapain dia ada di rumah gue?! Bukannya sekarang masih jam kerja?”


Nicol hanya mengendikkan bahunya. “Kata Sarah, Sean datang buat jenguk Arana.”


Jevan mengumpat kesal. Dia berusaha menghubungi nomor Sarah. Tapi, apa yang dikatakan oleh Nicol benar, gadis itu tidak mengangkatnya. Jevan kembali mengumpat. Sebenarnya apa yang sedang mereka lakukan di rumah sekarang?


“Sebenarnya gue punya solusi yang baru aja terlintas di pikiran gue tadi pagi.”


“Solusi mengenai apa?” tanya Jevan sambil tetap berusaha menghubungi nomor Sarah.


“Lo sama kecemburuan lo.”


Jevan terkekeh mendengarnya. “Sok tahu lo!”


“Lo nikah aja sama Arana.”


“Lo gila?!” seru Jevan terkejut.


“Why? Lo marah Ara dekat sama cowok lain. Lo takut dia terluka. Lo nggak tenang kalau dia jauh dari lo. Jadi, yaudah. Nikahin aja Arana. Beres, kan?” ujar Nicol santai.


Jevan mengembuskan napasnya pelan. “Gue nggak pernah mikir buat nikah, setelah waktu itu pernikahan gue batal.”


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-