
“Kalau emang masih nggak bisa, seenggaknya lo jangan terlalu ngekang Ara kayak gini!”
Jevan mengembuskan napasnya kasar. Dia diam masih dengan ekspresi kesal. Beberapa menit kemudian, Jevan beranjak dari duduknya.
“Gue mau bawa Ara pulang sekarang.” Setelah mengucapkan itu, Jevan berjalan keluar dari ruangan Nicol untuk menghampiri Ara yang masih melayani pelanggan di balik meja kasir.
“Ara, kita pulang,” ujarnya ketika sudah berada di depan Ara.
“Pulang, Je?” tanya Ara bingung.
“Aku nggak harus mengulang kalimatku untuk kedua kalinya, kan?” tanya Jevan sambil memberikan Ara tatapan tajam.
Ara menoleh ke arah tangga, sesaat kemudian Nicol turun dari tangga dan berdiri di ujung tangga. Dia memberikan tatapan bertanya kepada lelaki itu.
“Lo pulang aja, Ra. Besok balik kerja lagi.”
“Nggak apa-apa, Mas? Bukannya tadi Mas Nicol kekurangan karyawan, ya?”
Nicol menggeleng pelan. “Pulang aja, nggak apa-apa. Sebelum Jevan bikin kerusahan lagi.”
Ara menatap ke arah Jevan yang hanya diam, dan menatap lurus ke depan. Dia kemudian mengangguk, dan melepas apron yang dia kenakan, lalu mengambil tasnya dan berjalan keluar kedai bersama dengan Jevan yang hanya diam sedari tadi.
Di sepanjang perjalanan, Jevan hanya diam. Lelaki itu tampak marah. Tapi, karena apa? Bukannya yang seharusnya merasa kesal di sini, adalah Nicol? Lalu, alasan Jevan diam seperti sekarang apa?
“Kamu udah makan?”
“Ya?” Ara bertanya bingung kepada Jevan. Lelaki itu tiba-tiba saja berbicara setelah sedari tadi hanya diam.
Jevan memandang ke arah Ara dengan tajam. “Makan. Kamu udah atau belum?”
“Belum,” jawab Ara pelan.
Jevan mendengus mendengar itu. Dia kemudian kembali memandang ke depan. “Kita mampir ke tempat makan dulu,” ujarnya kepada sang sopir.
***
Setelah mampir ke restoran dan makan siang di sana. Kini Jevan dan Ara telah tiba di rumah mereka. Lelaki itu masih diam, bahkan di saat mereka tengah makan siang bersama tadi.
“Je,” panggil Ara ketika Jevan hendak berjalan ke kamar mandi di dalam kamar mereka.
“Apa?” tanya Jevan sambil memandang Ara yang tengah duduk di ranjang.
“Kamu kenapa?”
“Ya?” Jevan menatap Ara bingung.
“Setelah kejadian di kedai tadi, kamu mendadak diam. Kamu marah sama aku?”
“Enggak.”
“Terus kenapa kamu diam sedari tadi?”
Jevan mengembuskan napasnya kasar. “Aku mau mandi.” Lelaki itu hendak berjalan ke arah kamar mandi, tapi terhenti ketika sebuah tangan melingkar di perutnya.
“Maaf. Aku nggak tahu kenapa kamu kelihatan marah dan diam terus sedari tadi, tapi aku tetap minta maaf. Kelakuan kamu di kedai tadi, Mas Nicol bilang itu karena kamu belain aku.” Ara memeluk Jevan dari belakang sambil menyandarkan pipinya di punggung tegap milik Jevan.
Jevan diam dengan posisinya dengan Ara sekarang. Dia juga tidak mengerti dengan dirinya. Kenapa dia selalu merasa sangat marah saat menyangkut Ara. Dia hanya ingin memiliki gadis itu untuk dirinya sendiri. Bukan untuk berbagi dengan orang lain.
Jevan melepaskan tangan Ara di perutnya. Dia membalikkan badan menghadap gadis itu. Tangannya mengusap lembut pipi Ara.
“Aku mau mandi. Kita bicarakan itu setelah aku mandi, ya.” Setelah itu, Jevan melanjutkan langkahnya memasuki kamar mandi.
Ara hendak kembali meraih ponselnya, tapi ketuka di pintu kamarnya membuat Ara berjalan ke arah pintu, lalu membukanya.
“Mbok Ijah, ada apa?”
“Di bawah ada orangtuanya Tuan Jevan, Mbak.”
Kening Ara mengerut. “Orangtuanya Jevan? Di bawah?” tanya Ara sambil menutup pintu, dan berjalan ke arah bawah.
“Iya, Mbak. Saya permisi ke dapur dulu, mau buat minum.”
Ara mengangguk. “Makasih, Mbok.” Gadis itu meneruskan langkah menuju ruang tamu.
Dia tersenyum ke arah orangtua Jevan yang tengah duduk di sofa. Setelah menyalami kedua orangtua Jevan, Ara duduk di hadapan keduanya.
“Om dan Tante, apa kabar?”
“Kami berdua baik. Kamu dan Jevan bagaimana?” tanya ayah Jevan.
“Baik, Om,” jawab Ara masih sambil tersenyum.
“Arana.”
Arana mengalihkan pandangan ke arah ibu Jevan. “Iya, Tante?” tanyanya.
“Kamu kerja di kedai kopi milik Nicol?”
Ara memandang ke arah ibu Jevan dengan terkejut. “Tante tahu?”
Ara terperanjat di tempatnya. Meski Jevan memang tidak memberikannya uang, tapi lelaki itu selalu memastikan hidup Ara nyaman. Lagi pula, Ara memang tidak terlalu memedulikan itu.
“Bukan, Tante. Saya cuman merasa bosan kalau hanya berdiam diri di rumah saja.”
Ibu Jevan memandang ke arah Ara tidak percaya. Dia hendak kembali berkata, tapi kedatangan Jevan menghentikannya.
“Ayah sama Ibu berkunjung, kenapa tidak bilang lebih dulu?” tanyanya sambil mengambil tempat di samping Ara.
“Sengaja. Ibumu yang meminta,” jawab ayah Jevan.
“Kenapa kamu ada di rumah? Kamu tidak bekerja?” tanya sang ibu.
Jevan hanya mengendikkan bahunya. “Aku baru saja pulang.”
“Di jam makan siang seperti sekarang?”
Jevan terkekeh. “Ini sudah lewat jam makan siang, Ibu.”
Ibu Jevan mendengus mendengarnya. “Ara kerja di kedai kopi Nicol. Tapi, kamu tidak memberitahu Ibu?”
Jevan manggut-manggut mengerti. “Ibu dan Ayah pasti sudah tahu, tanpa Jevan yang memberitahu lebih dulu.”
“Kenapa?”
“Ara mau kerja. Dia bosan di rumah sendirian.”
“Kenapa nggak kerja di tempat kamu?”
“Jevan memang sudah menawarkan, Tante. Tapi, saya menolak itu,” jawab Ara sambil meringis pelan.
“Kenapa?”
“Bu,” sela ayah Jevan cepat. “Bukannya tujuan Ibu ke sini, karena ingin menyampaikan sesuatu kepada Jevan dan Ara?”
Jevan memandang ke arah sang ibu. “Ada apa, Bu?”
Sang ibu menatap Jevan sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Ibu dan Ayah sudah mendiskusikan ini.”
“Tentang apa?” tanya Jevan heran. Dia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi di sini.
“Arana.”
Merasa namanya disebut, Ara akhirnya juga mengarahkan tatapan heran kepada ibu Jevan.
“Kamu masih belum merubah keputusan, kan?”
“Mengenai?” tanya Jevan.
“Pernikahan.”
“Ya. Jevan masih belum siap.”
“Ya sudah. Berarti kamu setuju dengan keputusan Ibu dan Ayah.”
Jevan duduk tegap. “Tentang apa dulu? Jevan nggak bisa main setuju gitu aja, Bu.”
“Selama kamu dan Ara belum menikah. Arana akan tinggal di rumah bersama Ayah dan Ibu.”
“Apa?!” seru Jevan tidak percaya. Sementara Ara memandang ibu Jevan dengan terkejut.
“Jevan nggak setuju!”
Sang ibu malah mengangkat bahunya tidak peduli. “Ibu sedang tidak meminta persetujuan kamu.”
Jevan menggeram marah. “Tapi, Ara punya Jevan, Bu.”
“Oh, ya? Bukannya di antara kalian masih belum terjalin ikatan apa pun?” tanya sang ibu sambil melemparkan pandangan mengejek.
“Bu!”
“Je, Ayah rasa apa yang dikatakan Ibu kamu ada benarnya juga. Kamu dan Ara belum bisa menikah. Tidak baik kalian tinggal bersama terus menerus,” ujar ayah Jevan.
Jevan terkeke pelan mendengarnya. “Jevan sudah dewasa, Yah. Dan tinggal bersama bukan hal besar yang harus diributkan? Lagi pula, kami sudah tinggal bersama sejak dulu.”
“Justru karena itu,” sela ibu Jevan cepat. “Karena kalian sudah tinggal bersama sejak dulu. Jadi, sekarang kalian harus dipisahkan sebelum ada ikatakan pernikahan. Ibu tidak mau cucu Ibu lahir tanpa Ayah dan Ibu.”
“Bu,” sela Jevan. “Ara nggak hamil, Bu. Berapa kali Jevan harus mempertegas itu?!”
“Belum. Dan kalau kamu dan Ara terus tinggal bersama. Bisa saja secepatnya cucu Ibu ada di dalam perut Arana.” Sang ibu tampak kesal karena penolakan Jevan.
“Sudah, Je. Turuti saja kemauan Ibu kamu. Lagi pula, Ara tidak pergi ke mana-mana. Dia tinggal bersama kami. Kami pasti akan menjaga dia dan memperlakukan dia dengan baik,” ujar ayah Jevan.
Jevan mengembuskan napasnya kasar. Dia menatap ke arah Ara yang tampak pasrah dan menunduk. Tidak. Dia tidak meragukan kenyamanan Ara di rumah kedua orangtuanya. Hanya saja, yang dia takutkan adalah dirinya sendiri.
Bisakah dia tanpa Ara di sisinya?
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-