Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C HA P T E R 46



“Arana!”


Ara menoleh dan menemukan Sarah yang tengah berjalan ke arahnya dengan semangat.


“Pagi,” sapa Sarah ramah.


“Pagi juga. Mbak Sarah baru datang?” tanya Ara.


Sarah menggeleng. “Aku baru dari kedai. Beliin kopi buat Pak Jevan. Eh, btw, kamu udah bilang belum sama si Bapak, kalau pulang kerja nanti kamu mau jalan sama aku?”


Ara menggeleng lemas. “Aku nggak tahu gimana bilangnya, Mbak. Aku jarang keluar rumah. Sekalinya keluar cuman sama Jevan.”


“Bilang dong, Ra. Kalau kamu nggak bilang, kita nggak akan bisa pergi. Kamu nggak bisa aku ubah jadi cantik.”


Ara mengembuskan napasnya pelan. “Ya udah, nanti waktu makan siang aku coba bilang sama Jevan.”


Sarah tersenyum bahagia, lalu mengangguk dengan semangat. “Gitu, dong. Nih,” ujarnya sambil memberikan satu kopinya kepada Ara.


“Ini apa, Mbak?”


“Minum aja. Pak Jevan suruh beliin kamu juga. Aku balik kerja dulu, ya.” Setelahnya Sarah kembali meneruskan langkahnya dengan gembira.


“Makasih!” Ara masih sempat meneriakkan itu kepada Sarah, sebelum perempuan itu menghilang di balik lift.


***


Jam makan siang sudah dimulai sepuluh menit yang lalu. Ara masih berjalan mondar-mandir di depan lift. Haruskah dia izin kepada Jevan? Atau dia langsung pergi saja bersama Sarah? Tapi, kalau langsung pergi, bisa-bisa lelaki itu marah kepadanya.


Mengembuskan napas pelan, Ara akhirnya memilih menaiki lift menuju lantai ruangan Jevan berada.


“Mbak Sarah,” panggilnya ketika dia tiba di depan meja Sarah.


Sarah mendongak dan tersenyum melihat Ara. “Mau izin ya sama Pak Jevan?”


Ara mengangguk.


“Masuk aja, Pak Jevan ada di dalam, kok.”


“Makasih, Mbak.”


Saat sudah berdiri di depan pintu ruangan Jevan, Ara hendak menarik gagang pintu, tetapi pintu itu malah terbuka lebih dulu, yang menyebabkan Ara jatuh terduduk.


Jevan terkejut melihatnya. Segera dia ikut jongkok di depan Ara. Lelaki itu menangkup wajah Ara dengan ekspresi panik.


“Kamu nggak apa-apa, kan?”


Ara menampilkan cengirannya pada Jevan, sebelum mengangguk. “Nggak apa-apa, kok, Je.”


Jevan memandang tajam ke arah Sarah yang berdiri di depannya. “Kenapa kamu nggak bilang kalau Ara di sini?”


Sarah menunduk. “Maaf, Pak.”


“Ini bukan salah Mbak Sarah, Je,” kata Ara yang mampu menarik perhatian Jevan lagi.


“Ayo bangun.” Jevan membantu Ara bangun. Setelahnya, lelaki itu kembali menatap Sarah. “Ambil beberapa berkas itu, fotokopi rangkap lima semuanya.”


“Baik, Pak.”


Jevan membawa Ara masuk ke dalam ruangannya. Dia menyuruh Ara duduk di sofa, sementara dirinya mengambilkan minuman untuk gadis itu.


“Beneran nggak apa-apa? Nggak ada yang luka, kan?” tanya Jevan memastikan sambil duduk di samping Ara.


Ara tersenyum melihat betapa perhatiannya Jevan kepada dirinya. “Aku nggak apa-apa, kok, Je. Nggak ada yang luka. Kamu tenang aja.”


Jevan mengembuskan napas lega. “Kamu ada perlu apa ke sini?” Lelaki itu melihat arlojinya. “Udah jam makan siang, ya? Kamu udah makan?”


Ara menggeleng.


“Sarah!” teriaknya. Tidak lama kemudian, Sarah berjalan masuk dengan tergopoh-gopoh.


“Belum selesai Pak, fotokopinya. Itu kan banyak,” katanya.


“Siapa yang tanya masalah fotokopian. Saya mau menyuruh kamu pesan makan siang buat saya sama Ara.”


Sarah mengangguk. “Sama saya juga, Pak?”


Jevan memelotot kepada Sarah, sedangkan Ara terkekeh pelan melihat kelakuan perempuan itu.


“Ya udah terserah kamu. Pesan makanan Indo aja.”


Sarah tersenyum senang. “Makasih, Pak.”


“Ada apa?”


Ara mulai mengalihkan pandangannya kepada Jevan.


“Kamu ke mari, ada apa?” Jevan bertanya lagi.


Ara mulai menggigit bibirnya, pertanda gadis itu tengah gugup. “Ada yang mau diobrolin sama kamu.”


Jevan mengangguk. “Apa?”


“Aku sebenarnya mau minta izin,” ujarnya sambil menatap takut-takut ke arah Jevan.


“Minta izin buat apa?” Ekspresi lelaki itu menunjukkan ketidaksukaan.


“Tapi, kalau kamu nggak kasih izin, aku nggak apa-apa, kok.” Ara buru-buru berucap karena tidak ingin membuat Jevan marah.


Jevan mengembuskan napasnya melihat Ara yang begitu takut kepadanya. “Apa dulu?” tanyanya.


“Rencananya nanti setelah pulang kerja, aku sama Mbak Sarah mau jalan.” Ara langsung menunduk begitu dia selesai dengan perkataannya.


“Jalan? Jalan ke mana?” Jevan tidak menutupi raut tidak sukanya mendengar itu.


“Ya, jalan-jalan aja, Je. Boleh?” Ara memandang Jevan dengan tatapan memohon.


Untuk sesaat Jevan menatap Ara lurus dengan mata tajamnya. Lelaki itu meraih air mineral, lalu meminumnya.


“Enggak,” katanya.


Ara mengembuskan napas kecewa. “Jadi, aku nggak boleh pergi sama Mbak Sarah nanti?”


“Iya. Nggak boleh,” jawab Jevan sambil kembali menatap Ara.


Ara mencebikkan bibirnya dan diam. Mau bagaimana lagi, Jevan sudah pasti tidak akan memberinya izin. Tapi, mendengar itu secara langsung membuatnya kecewa dan ingin menangis.


Lama mereka terdiam, sampai akhirnya Sarah masuk ke ruangan sambil membawa dua kotak nasi beserta ayam bakar dan minumnya.


“Silakan, Pak.”


Jevan meraih kotak nasi dan menyerahkannya kepada Ara. “Makan,” suruhnya. Setelah pembicaraan mereka tadi, Ara tidak mengeluarkan suaranya sama sekali.


Ara diam dan mulai memakan nasinya. Jevan memperhatikan. Haruskah dia memberi izin? Tapi, bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Ara? Tidak. Dia tidak akan memberi izin.


Namun, mengapa melihat ekspresi kecewa gadis itu, membuat hati Jevan goyah? Lelaki itu mengumpat di dalam hati. Ara rupanya telah membawa pengaruh cukup besar untuknya.


“Sarah!” teriakan Jevan yang begitu keras itu membuat Ara terkejut di tempatnya.


Tidak lama kemudian, Sarah masuk. Tangannya memegang sendok. “Ada apa, Pak?”


“Duduk.”


Walau terlihat bingung, Sarah akhirnya duduk di depan Jevan dan Ara. Dia merasa begitu gugup ketika Jevan memberikannya tatapan tajam.


“Ada apa, Pak?” tanyanya lagi.


“Kamu mau jalan ke mana bersama Ara?”


Ara menatap ke arah Jevan. Jangan bilang kalau Jevan akan memarahi Sarah. “Je, aku nggak apa-apa, kok. Jangan marahin Mbak Sarah, dia nggak salah. Aku yang minta ditemani buat jalan-jalan,” katanya buru-buru.


Jevan menoleh ke arah Ara. “Diam, dan makan makanan kamu.”


Sarah malah menampilkan cengirannya. Apakah Jevan akan memarahinya sekarang?


“Ke mana?”


“Girls time aja, sih, Pak. Ke salon, belanja baju, yah, pokoknya gitu. Ara bilang, dia belum—”


“Ya sudah.”


Sarah dan Ara sama-sama menoleh ke arah Jevan.


“Kalian boleh jalan bersama.”


Kedua gadis itu tersenyum senang. Ara tersenyum ke arah Jevan. “Makasih, Je,” ujarnya tulus.


Jevan menoleh ke arah Ara. Melihat senyuman gadis itu, entah kenapa mampu membuatnya lebih tenang.


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-