Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 12



Setelah kepergian Jevan, Ara lebih memilih membantu Mbok Ijah membersihkan rumah. Bukannya tidak mau mematuhi perintah Jevan, Ara hanya tidak suka jika cuma disuruh istirahat di dalam kamar.


Ara melangkah ke taman kecil di samping rumah Jevan. Dia membantu menyiram tanaman. Taman itu adalah favorit Ara di rumah Jevan. Rasanya nyaman berada di sini.


Saat Ara asyik dengan kegiatannya, telepon rumah berbunyi. Ara menatap Mbok Ijah yang juga tengah menatapnya.


“Biar Ara aja, Mbok. Mbok lanjutin aja beresinnya,” ujar Ara.


“Iya, Mbak. Terima kasih.”


Ara berjalan masuk ke rumah dan mengangkat telepon yang terus berbunyi itu.


“Hallo,” sapa Ara.


“Kamu sedang apa?”


Kening Ara mengernyit mendengarnya. “Jevan,” panggilnya terdengar ragu.


“Hmm, ini aku. Kamu sedang apa?”


“Kenapa kamu telepon? Ada yang ketinggalan?”


“Aku hanya mau memastikan kamu di rumah.”


Ara terkekeh. “Aku di rumah, memangnya aku ke mana lagi?”


Terdengar hembusan lega dari seberang sana. “Kamu belum jawab pertanyaanku. Kamu sedang apa?”


Ara menggigit bibirnya, tidak mungkin dia menjawab jujur. Jevan pasti akan marah. “Aku lagi istirahat, seperti perintah kamu.”


“Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya.”


Ara ingin mengatakan sesuatu tapi suara sambungan terputus. Ara pun tersenyum. Dia menatap gagang telepon yang dia pegang seraya menggelengkan kepalanya. ya Tuhan, ada apa dengan Jevan? Lama-lama dia terlalu posesif, tapi Ara menyukainya.


****


Sementara itu, di dalam ruangannya, Jevan memberikan tatapan tajam kepada Nicol yang duduk di sofa ruang kerjanya, setelah menutup sambungan teleponnya dengan Ara.


“Ara ada di rumah,” ujar Jevan serius.


Nicol terkekeh. “Iya, gue tahu.”


Jevan menggeram marah, merasa dipermainkan oleh Nicol. “Tadi lo bilang Ara lagi di jalan, berduaan sama cewek. Tapi, kenyataannya dia yang angkat telepon rumah gue.”


“Gue kan tadi bilang ‘kayaknya’. Lo aja yang salah mengartikan,” jawab Nicol acuh.


Jevan mengembuskan napasnya kasar. Seharusnya, Jevan paham bagaimana sikap Nicol, karena dia telah berteman bertahun-tahun dengan lelaki itu. Meski sudah bukan anak ABG lagi, sikap Nicol tidak pernah berubah. Jail dan menyebalkan.


“Mending sekarang lo balik,” usir Jevan sambil kembali memfokuskan diri dengan kertas-kertas di depannya ini.


“Lo ngusir gue?”


“Gue sibuk. Nggak kayak lo yang keluyuran kayak pengangguran.”


Nicol kembali terkekeh. “Gue bukan pengangguran. Gue baru merintis perusahaan gue sendiri.”


“Lo udah bilang itu dari dua tahun yang lalu, dan hasilnya? Lo masih aja kayak dulu,” ujar Jevan tidak peduli.


“Lo lihat aja, akhir tahun ini perusahaan gue bakalan berdiri di depan gedung perusahaan lo,” kata Nicol menyombongkan diri.


“Ya, ya. Terserah. Gue tunggu perusahaan lo tetanggaan sama perusahaan gue. Lagian gue heran, kenapa lo nggak ikut perusahaan papa lo aja, sih? Kenapa harus susah-susah mendirikan perusahaan sendiri?”


Bukan tanpa alasan Jevan mengatakan itu. Jevan dan Nicol bertetangga sedari kecil. Mereka tinggal di kawasan perumahan mewah yang sama. Di saat Jevan mengambil alih perusahaan yang ayahnya dirikan, di situ juga papa Nicol menginginkan anaknya melakukan hal yang sama seperti Jevan.


Namun, Nicol menolak. Dia bilang, dia tidak suka melakukan pekerjaan kantor. Berurusan dengan kertas dan komputer itu sungguh melelahkan menurut Nicol.


Nicol sedang berusaha mendirikan usahanya sendiri, dan perusahaan yang dia maksud adalah sebuah kedai kopi. Rencananya, Nicol akan membuka lima cabang sekaligus di berbagai kota. Namun, itu masih rencana. Kenyataannya, sampai dua tahun berlalu, kedai kopi yang Nicol banggakan itu belum juga ada bentuk nyatanya.


“Udahlah, gue mau balik. Ngomong sama lo bikin darah tinggi,” ujar Nicol sambil berdiri dari duduknya.


Lelaki itu sedikit membenarkan pakaiannya yang kusut, lalu berjalan ke arah pintu keluar. Namun, saat akan meraih gagang pintu, lelaki itu berhenti dan kembali menoleh kepada Jevan yang masih fokus dengan pekerjaannya.


“Je,” panggil Nicol.


“Apa lagi?” tanya Jevan dengan tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari komputer di depannya.


“Lo belum dengar kabar?”


“Kabar apa?” Jevan kembali menyahut dengan tatapan yang masih fokus pada pekerjaannya.


“Natasya udah balik dari Amerika.”


Jevan membatu di tempatnya begitu mendengar Nicol menyebut satu nama yang sempat menempati hatinya. Atau mungkin sampai saat ini masih menempati hatinya?


Kali ini Jevan mengalihkan pandangannya ke arah Nicol yang masih berdiri di depan pintu ruangannya.


Jevan diam, tapi kepalanya menggeleng.


Nicol manggut-manggut mengerti. “Dia kirim pesan ke gue. Kalau ada waktu, temui dia. Kita bertiga masih berteman, kan?”


Jevan mengalihkan pandangannya dari Nicol. “Gue banyak kerjaan. Gue sibuk.”


“Ya, gue tahu. Itu cara lo menghindar dari masa lalu. Gue balik.”


Setelah Nicol menghilang dari pandangannya, Jevan mengempaskan punggungnya ke sandaran kursi dengan keras. Kenapa gadis itu harus kembali di saat Jevan mulai bisa membuka hati untuk gadis lain?


***


Siang ini Ara tengah berbelanja kebutuhan dapur bersama dengan Mbok Ijah, di salah satu pasar modern di dekat rumah Jevan. Ara sudah meminta izin kepada Jevan. Awalnya memang Jevan tidak memperbolehkan, tapi Ara memberikan kalimat bujukannya yang akhirnya membuat Jevan menyerah.


“Mbak Ara, Mbok mau ke bagian daging dulu, ya,” ujar Mbok Ijah kepada Ara yang tengah memilih-milih buah.


“Iya, Mbok. Ara tunggu di sini, ya.”


“Iya, Mbak.”


Pandangan Ara tertuju ke arah buah naga yang terlihat segar itu. Saat akan meraih buah naga itu, seseorang juga akan meraihnya, yang membuat tangan Ara dan tangan orang itu bersentuhan. Ara melepaskan tangannya dan menatap gadis cantik di depannya dengan senyuman sopan.


“Mbak mau ambil juga?” tanya Ara ramah.


Gadis itu tersenyum manis. Cantik sekali. Ara seolah terpesona hanya dengan melihat senyuman gadis itu. Ara mencibir dirinya sendiri. Kalau dia yang seorang perempuan saja merasa terpesona, apalagi laki-laki yang melihat gadis ini.


“Kamu aja yang ambil. Kayaknya stoknya belum dipenuhi,” ujar gadis cantik itu tak kalah ramah.


Belum sempat Ara menjawab perkataan gadis itu, seseorang memanggil gadis cantik tersebut, membuat gadis itu menoleh.


“Natasya!”


“Iya, aku ke sana.” Gadis itu kembali memandang Ara. “Kamu aja yang ambil. Aku pergi dulu.”


Ara mengangguk dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. Sampai punggung gadis itu tak terlihat lagi, Ara masih mempertahankan senyumnya. Dia senang bertemu dengan orang baik dan ramah seperti itu.


“Mbak Ara,” panggil Mbok Ijah yang sudah kembali sambil membawa beberapa daging.


“Udah, Mbok?”


“Sudah, ayo ke kasir, Mbak.”


“Iya,” jawab Ara sambil mengangguk.


***


Setelah makan malam, Jevan dan Ara lebih memilih bersantai di depan televisi sambil saling berpelukan di sofa. Sesekali Ara menyuapi Jevan dengan buah yang dia beli tadi.


“Tadi, belanja apa aja?” tanya Jevan sambil mengusap-usap lengan Ara.


“Belanja keperluan dapur, terus aku beli buah.”


Seolah teringat sesuatu, Ara melepaskan diri dari pelukan Jevan. Gadis itu duduk tegap sambil menatap Jevan. Siap untuk bercerita. “Pas tadi aku beli buah, aku ketemu sama mbak-mbak gitu, orangnya cantik, Je. Ramah lagi,” ujarnya penuh semangat.


“Terus?” Jevan hanya menyahut singkat. Sejujurnya dia tidak peduli dengan cerita Ara, tapi melihat gadis itu terus berbicara membuat Jevan senang. Dia suka mendengar suara Ara.


“Aku suka aja gitu ketemu sama orang yang ramah kayak dia,” kata Ara sambil terkekeh.


“Aku lebih suka kamu," sahut Jevan dengan ringan dan santai membuat Ara menatap Jevan dengan pipi yang merona.


"Ihhh gombal! aku serius tahu, Je!" kata Ara mencubit dada Jevan membuat Jevan meringis pelan.


"Aku juga serius kok," kata Jevan, tapi Ara tanggapi dengan bola mata yang dia putar.


“Siapa ya, tadi namanya,” gumam Ara mencoba mengingat nama gadis cantik yang dia temui tadi.


“Penting mengingat nama dia?”


“Iya, dong. Kan orangnya ramah, siapa tahu aku ketemu dia lagi,” sahut Ara. “Oh, iya. Namanya Natasya,” Ara berseru keras saat sudah ingat.


Jevan tersedak air putih yang tengah dia minum begitu Ara menyebut nama ‘Natasya’.


“Je, kamu nggak apa-apa?” tanya Ara panik sambil mengusap punggung Jevan pelan.


Jevan mengumpat pelan di dalam hati. Mengapa dia harus mendengar nama itu dua kali hari ini?