Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
PROLOG



Gadis dengan pakaian sederhana itu mencuri perhatian Jevan, yang sedang duduk di salah satu kursi tidak jauh darinya. Hari ini jadwalnya ayah Jevan untuk check up rutin. Sebagai anak satu-satunya, Jevanlah yang harus menemani sang ayah.


Biasanya menemani sang ayah ke rumah sakit, adalah hal yang membosankan. Namun, kali ini berbeda. Sedari tadi pandangan Jevan tak berhenti memandang gadis dengan pakaian sederhana itu.


Gadis itu tengah menangis sendirian. Jujur saja, Jevan sedikit terganggu melihatnya. Tidak lama kemudian, seorang perawat menyerukan sebuah nama, yang membuat gadis itu berdiri dan menghapus air matanya.


“Ini tagihan yang harus Mbak bayar,” ujar perawat itu sambil menyerahkan sebuah kertas kepada gadis itu.


Jevan masih memperhatikannya, sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


“Saya... saya nggak punya uang sebanyak ini, Sus,” jawab gadis itu terputus-putus.


Jevan berdecak melihatnya. Menyedihkan sekali hidup gadis itu.


“Pasien harus segera melakukan operasi, Mbak.”


“Saya punya kartu jaminan sehat.” Gadis itu hendak mengeluarkan kartu dalam tas lusuhnya. Namun, perkataan perawat itu membuat gadis itu berhenti berbicara.


“Mbak, biaya ini sisa dari kegunaan kartu yang pasien punya. Pihak rumah sakit sudah berusaha mengecilkan biayanya.”


Bahu gadis itu meluruh. “Kalau saya nggak punya uang, apa operasi ibu saya tidak bisa dilakukan?”


Perawat itu memandang gadis itu dengan kasihan. “Saya tidak tahu, Mbak. Mbak bisa tanya langsung ke perwakilan rumah sakit.”


Jevan menggeleng heran. Berapa banyak sih, biaya yang diperlukan? Sampai gadis itu tidak bisa membayar?


Gadis itu mengangguk. “Makasih, Sus.”


Jevan tidak ingin melakukannya, tapi kedua kakinya menuntunnya untuk sampai di depan gadis itu.


“Kamu butuh uang berapa?”


Gadis itu mendongak begitu melihat sepatu hitam mengilap yang tampak mahal, juga seorang pria yang berdiri di depannya. Gadis itu mulai menghapus air mata di kedua pipi.


“Anda siapa?” tanyanya dengan suara serak sehabis menangis.


“Kamu butuh uang, kan?”


Walau bingung, gadis itu tetap mengangguk. Sementara Jevan menelan salivanya sendiri. Baru kali ini, dia merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya ketika melihat wanita lain dan entah kenapa wanita di depannya terlihat ingin sekali dia miliki sekarang juga.


“Saya bisa kasih kamu berapa pun,” ujar Jevan dengan angkuh.


Mata gadis itu membulat. Entah kenapa hal itu membuat Jevan merasa semakin tergoda.


“Berapa pun?!” ulang gadis itu masih dengan sisa-sisa keterkejutannya.


Jevan hanya mengangguk. “Kamu hanya perlu melakukan satu syarat dariku.”


“Apa?” tanya gadis itu dengan ragu.


Jevan mengangkat segaris senyuman di ujung bibirnya. Tangannya perlahan menyentuh hidung gadis yang bahkan tingginya tidak sampai bahunya. Kini Jevan tahu mengapa kakinya bergerak ke arah gadis ini. Jevan tahu, ya, Jevan sangat tahu kalau dia jatuh cinta pada pandangan pertama.


“Menjadi wanitaku.”


“Apa?!” kali ini mata gadis itu bukan hanya membulat tapi juga terlihat seperti ingin keluar. “Kau gila?!” bentaknya seraya ingin meninggalkan pria itu, tapi secepat kilat sebuah tangan menariknya hingga tubuh gadis itu menabrak ke dada bidangnya.


“Bukannya kau tidak ada pilihan lain, heuh?” bisik pria itu di telinga sang gadis yang merasa ini terlalu gila walau hanya untuk dipikirkan. Gadis itu pun tak bergerak di tempatnya, membuat sang pria melepas genggamannya tadi.


“Ahhh... baiklah, jika kau tidak menjawabnya, aku anggap kau memang tidak mau,” katanya hampir meninggalkan gadis yang kini berbalik menarik tangannya.


“Tunggu!" teriak gadis itu menahan tangan kekar sang pria. "B-baiklah a-ku mau!”


Sang pria mengembangkan senyumannya, tangannya perlahan berpindah ke bahu gadis yang sudah memutuskan untuk mengambil tawarannya. “Mulai hari ini, kau jadi milikku!” bisiknya penuh penekanan membuat bulu roma gadis di sampingnya berdiri.


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-