
Natasya tidak mengira pemandangan pertama yang dia lihat setibanya di rumah Jevan adalah Ara.
Awalnya Natasya ke mari untuk berbicara dengan Jevan mengenai hubungan mereka. Namun, dia malah dikejutkan oleh keberadaan gadis itu.
Apakah Jevan benar-benar telah melupakannya?
Apakah posisinya sudah tergantikan oleh gadis sederhana seperti Ara?
Kini, mereka bertiga, Jevan, Ara, dan Natasya, duduk di sofa ruang tamu rumah Jevan. Selama beberapa menit mereka hanya diam. Sampai Mbok Ijah menyajikan minuman di meja, Jevan baru mengeluarkan suaranya.
“Kamu tahu alamat rumahku yang sekarang dari mana?” tanyanya kepada Natasya yang duduk di depannya, sementara Ara yang duduk di sampingnya hanya diam dan menunduk.
Natasya mendengus mendengarnya. “Penting kamu tanya itu ke aku sekarang?”
“Buat kamu memang nggak. Tapi, ini penting buatku. Aku nggak suka orang lain tahu tempat tinggalku,” kata Jevan.
“Orang lain kamu bilang? Aku mantan tunangan kamu, tapi kamu bilang aku orang lain? Je, lalu apa kabar dengan dia yang tinggal bersama kamu?!” tanyanya sambil menatap sinis ke arah Ara.
Jevan berusaha meredam amarahnya mendengar Natasya bertanya dengan nada tinggi.
“Jaga nada bicara kamu. Kamu pikir, kamu siapa? Sampai bisa berteriak saat berbicara denganku?” Jevan memberikan tatapan tajamnya kepada Natasya.
“Gimana aku nggak menaikkan nada bicaraku, saat aku tahu lelaki yang aku cintai tinggal bersama gadis lain?! Memangnya kalian sudah menikah?”
Ara sedikit melirik ke arah Natasya ketika pertanyaan terakhirnya terucap dari mulutnya. Menikah? Ara memang sempat membayangkan hal itu, tapi saat Jevan sama sekali tidak menyinggung masalah itu, Ara perlahan menghilangkan impiannya tersebut. Ara sadar, dia tidak berhak bermimpi seperti itu.
Saat Jevan dan Ara diam, Natasya kembali bersuara. “Kalian nggak menikah tapi tinggal bersama?”
Jevan mengembuskan napasnya pelan, tangannya terulur memijit pelipisnya yang mendadak terasa pusing. Sial. Dia harus memberi pelajaran untuk Nicol, karena Jevan yakin, Nicol-lah yang memberitahu Natasya alamat rumahnya.
“Je, jangan diam aja, kasih aku penjelasan. Kamu nggak menikah sama dia, lalu untuk apa dia tinggal di sini? Dia pembantu kamu?” Sedetik kemudian, Natasnya menggeleng. “Dia nggak mungkin pembantu kamu. Majikan mana yang membawa pembantunya untuk makan malam di restoran mahal?”
“Jaga bicara kamu. Jangan bicara hal yang kamu sendiri tidak tahu kebenarannya,” ujar Jevan. Dia tidak suka mendengar Natasya menyebut Ara sebagai pembantu.
Natasya berdiri dari duduknya. “Terus kamu minta aku gimana? Diam aja, sementara kamu nggak kasih penjelasan siapa dia di rumah ini?!”
Dia berjalan mondar-mandir di depan Jevan dan Ara. Natasya benar-benar tidak terima dengan keberadaan Ara di rumah Jevan. Jevan mengajak Ara makan malam di restoran mewah, tapi gadis itu bekerja sebagai OG ketika di kantor, dan sekarang Natasya melihat Ara tinggal bersama dengan Jevan.
Natasnya menatap Ara yang terus menunduk sedari tadi. Gadis itu tidak mengeluarkan suaranya sedikit pun. Natasya menatapnya tajam.
“Oh, aku tahu dia siapa,” katanya, yang membuat Jevan menatapnya bingung. “Dia perempuan sewaan kamu, kan? Berapa kamu bayar dia? Udah sampai milyaran?” tanyanya sambil menatap Ara meremehkan.
Ara terkejut menatap Natasya. Walau apa yang dikatakan perempuan itu benar, tetap saja hati Ara tidak terima mendengarnya. Dia tidak suka mendengar Natasya memanggilnya perempuan sewaan.
“Jangan buat aku nyeret kamu pergi dari rumahku, Ca.” Jevan menatap Natasya dengan marah.
“Kenapa? Karena yang aku omongin bener? Dia perempuan sewaan kamu. Seberapa puas kamu sama dia? Aku yakin aku lebih bisa puasin kamu daripada dia.”
“Natasya!” seru Jevan marah sambil bangkit berdiri.
Ara sendiri sudah meneteskan air matanya. Ini memang salah. Dirinya memang salah melakukan hal ini. Namun, haruskah seseorang memperjelas statusnya seperti itu? Ara juga tidak mau melakukan ini, tapi mau bagaimana lagi? Takdir hidupnya yang mengharuskan Ara melakukan ini.
“Kamu pergi dari rumahku, atau aku yang seret kamu keluar dari sini,” sentak Jevan.
Natasya tidak peduli dengan gertakan Jevan. Dia sudah cukup marah sekarang. Kalau pun Jevan menyeretnya keluar dari sini, dia tidak peduli.
“Tapi aku belum selesai bicara. Apa yang aku bicarakan, itu memang fakta, kan?” Natasya berjalan ke tempat duduk Ara. Dia meraih bahu Ara agar ikut berdiri sejajar dengannya. “Bilang, berapa Jevan bayar kamu? Berapa lagi uang yang kamu butuhkan supaya kamu pergi dari hidup Jevan? Bilang! Jangan cuman diam dan nangis aja!” sentaknya marah.
“Cukup, Aca!” Jevan melepas paksa tangan Natasya yang berada di bahu Ara. “Kamu keterlaluan. Kamu nggak punya hak untuk tahu tentang kehidupanku. Kamu nggak punya hak untuk tahu siapa aja yang tinggal bersamaku. Kamu orang lain bagiku sekarang. Aku peringatkan sekali lagi, sebelum aku berbuat kasar, lebih baik kamu pergi dari rumahku. Sekarang.”
“Oke, aku pergi. Tapi, jangan kamu pikir aku bakal diam aja setelah melihat semua ini.” Natasya tersenyum sinis melihat Ara yang menunduk dan menangis. “Jangan panggil aku Natasya, kalau aku nggak bisa buat kamu jadi milikku lagi. Karena tujuanku pulang ke Indonesia adalah kamu.” Setelahnya, perempuan itu melenggang pergi dari hadapan Jevan dan Ara.
Jevan mengumpat setelah kepergian Natasya. Dia sangat mengenal perempuan itu. Natasya tidak pernah main-main dengan perkataannya. Entah apa yang akan dilakukan gadis itu setelah ini.
Jevan beralih memandang Ara yang menangis dalam diam. “Ara,” panggilnya pelan.
Ara menatap ke arahnya tanpa bersuara, kedua tangannya berusaha menghapus air mata di pipinya.
“Kamu masuk kamar. Istirahat.”
Ara hanya mengangguk dan segera berjalan ke kamar.
Setelah kepergian Ara, Jevan menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan mata terpejam. Dia tidak tahu apa yang akan Natasya lakukan setelah ini. Dia harus waspada.
Saat tengah terpejam, Jevan teringat siapa yang membuat kekacauan ini. Jevan membuka matanya dan meraih ponselnya di meja. Dia segera menghubungi orang itu.
“Di mana lo, sialan?!” Tanpa banyak berbasa-basi, Jevan langsung mengumpati orang itu ketika sambungan telepon mereka terhubung.
“Santai, Je. Gue di apartemen”
“Tunggu gue di sana.” Tanpa menunggu lawan bicaranya menjawab, Jevan langsung memutus panggilan mereka.
***
“Oke, oke, gue bisa jelasin,” sentak Nicol ketika tidak melihat tanda-tanda bahwa Jevan akan mengakhiri pukulannya.
Memang Nicol penyebab kekacauan yang terjadi di rumah Jevan beberapa saat yang lalu. Setelah sambungan telepon terputus, Jevan segera meraih kunci mobil dan mendatangi apartemen lelaki itu. Jevan langsung saja memberikan pukulan bertubi-tubi kepada Nicol setelah tiba di sana.
Bugh.
Jevan tidak memedulikan perkataan Nicol. Dia butuh seseorang untuk melampiaskan amarahnya, dan orang di depannya ini memang pantas menerimanya.
“Je, serius! Gue keceplosan, gue nggak bermaksud bilang sama Natasya.” Nicol mencoba menghindar dari Jevan.
“Gue belum puas. Ke sini lo sekarang,” ujar Jevan sambil berjalan ke arah Nicol yang berhasil meloloskan diri tadi.
“Je, gue berani sumpah. Lo tahu kan, gue nggak berani bilang hal suci itu, tapi sekarang gue bilang. Sumpah, gue nggak sengaja bilang itu ke Natasya.”
Jevan mengembuskan napasnya kasar dan menatap Nicol jengkel. Dia masih sangat marah, tapi saat melihat raut wajah Nicol, sepertinya mau tak mau Jevan terpaksa menerima bahwa temannya itu berkata sungguh-sungguh.
Jevan akhirnya memilih duduk di salah satu sofa dengan napas terengah-engah. “Ambilin gue minum,” suruhnya kepada Nicol yang hendak duduk di sampingnya.
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-