Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 65



Setelah kepergian Ara, Jevan masih berdiam diri di dalam kamar. Sendirian. Apakah tadi Ara telah mengungkapkan perasaannya kepada dirinya? Astaga. Bagaimana bisa gadis itu melakukannya?


Jevan berdecak kesal. Kenapa setelah mendengar ungkapan cinta dari Ara, jantungnya malah berdetak tidak karuan begini. Apakah sekarang dirinya tengah menjadi anak ABG yang baru saja puber?


Suara pintu terbuka membuat Jevan menoleh, dia menemukan Ara masih dengan pipi memerah tengah berdiri di sana. Jevan berdecak, dia berjalan ke arah Ara, hendak memarahi gadis itu, tapi dia lebih dulu berkata.


“Je, sebelum kamu ngomong sesuatu. Aku mau bilang lebih dulu,” katanya pelan.


Jevan mendengus mendengarnya. “Apa?!” tanyanya tidak santai.


“Ada Ayah sama Ibu kamu di ruang tamu.”


Jevan terkejut mendengarnya. Dia berjalan keluar kamar, dan mengintip ke arah bawah di mana ruang tamu bisa terlihat dari tempatnya. Benar saja. Ada kedua orangtuanya di sana, tengah duduk berdampingan dengan Nicol dan Sarah.


Jevan berdecak. Dia berjalan kembali ke arah Ara yang masih diam di tempatnya berdiri tadi.


“Kamu udah ketemu mereka?” tanya Jevan.


Ara menggeleng. “Tadinya aku mau ke bawah. Tapi, Mbok Ijah bilang ada Ayah sama Ibu kamu. Jadi, aku balik ke kamar lagi, bilang sama kamu,” ujarnya sambil meringis.


Lelaki itu mengangguk, menghela napas pelan, sebelum meraih tangan Ara dan menggenggamnya.


“Ayo kita temui mereka,” katanya sambil berjalan menggandeng Ara.


Ara diam, dia menurut. Tapi, langkahnya terasa berat. Dia tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang. Dia belum pernah bertemu dengan kedua orangtua Jevan dalam keadaan baik seperti sekarang. Mereka pasti akan mengintrogasinya.


“Je,” panggil Ara sambil menahan langkah Jevan.


“Apa?”


Ara menggigit bibir bawahnya. “Aku takut,” katanya jujur.


Jevan memberikan senyuman menenangkan. “Tadi ada yang berani bilang cinta sama aku. Sekarang kenapa jadi gini?”


Ara cemberut mendengarnya. “Orangtua kamu pasti nggak suka sama aku.”


Jevan tidak menjawab, dia kembali tersenyum. “Ibu aku akan lebih marah, kalau kita nggak turun-turun. Kamu mau?”


Gadis itu buru-buru menggeleng pelan.


“Makanya, ayo ke sana.”


Jevan membawa Ara menuruni tangga dan sampai di depan kedua orangtuanya. Sedari tadi, Ara sudah berusaha melepas genggaman tangan Jevan di tangannya, tapi lelaki itu malah mempereratnya, yang berakibat kepada ibu Jevan yang memerhatikan tangan mereka sedari tadi.


“Ayah dan Ibu kemari. Kenapa nggak bilang Jevan lebih dulu?” tanya Jevan santai sambil membawa Ara untuk duduk di sampingnya, berhadapan dengan kedua orangtuanya. Sementara Nicol dan Sarah berada di sisi kanan dan kiri.


“Ayah sudah akan menghubungi kamu. Tapi, Ibu kamu melarang,” jawab ayah Jevan.


“Bu,” panggil Jevan ketika sang ibu terus memandang ke arah yang kini tengah menunduk.


Sang ibu akhirnya beralih menatap Jevan. “Ibu mau bicara.”


Jevan mengangguk. “Bicara apa?”


“Dengan gadis itu.”


Ara mendongak menatap takut ke arah ibu Jevan, yang juga tengah menatapnya.


“Berdua.”


Gadis itu menelan ludahnya susah payah. Bagaimana ini? Apakah ibu Jevan akan menghinanya? Atau dia akan melarang Jevan berhubungan dengannya? Ara melepas tangan Jevan pelan, yang membuat Jevan menoleh ke arahnya. Baiklah. Dia akan pasrah apa pun yang akan dikatakan oleh ibu Jevan nanti.


“Di sini aja, Bu. Ngapain juga berduaan,” kata Jevan menyuarakan keberatannya.


Sang ibu berdecak, dan menoleh ke arah Jevan. “Kenapa? Kamu takut ibu akan melukai gadis itu?”


Kali ini giliran Jevan yang berdecak. “Bukan gitu, Bu.”


“Je,” panggil sang ayah, yang membuat Jevan menoleh. “Biarkan Ibumu bicara berdua dengan Arana.”


Ara meringis mendengarnya. Jika ayah Jevan saja sudah setuju, bisa dipastikan kalau kedua orangtua lelaki itu kompak tidak menyukainya. Ara mendesah pelan, dia harus melakukan apa?


“Kamu masih mau duduk di situ?”


Pertanyaan itu membuat Ara mendongak, dan melihat ibu Jevan yang sudah berdiri dari duduknya. Ara segera ikut berdiri, dan mengikuti langkah ibu Jevan yang mengarah ke arah kolam renang.


“Duduk,” suruh ibu Jevan ketika dia sudah duduk di salah satu kursi yang ada di sana.


Ara menurut, dan duduk di samping wanita itu.


“Arana,” jawab Ara pelan.


“Umur kamu?”


“Tahun ini dua puluh satu.”


“Pendidikan terakhir kamu apa?”


Ara menatap takut ke arah ibu Jevan. Benar dugaannya. Ibu Jevan akan mengintrogasinya, dan berakhir menyuruhnya berpisah dengan Jevan.


“SMA, Tante. Saya nggak bisa lanjut kuliah, karena nggak ada biaya. Ibu saya juga sakit waktu itu, jadi saya fokus cari uang buat biaya rumah sakit Ibu,” jawab Ara.


Ibu Jevan diam mendengarnya, tapi matanya memandang Ara secara menyeluruh.


“Bagaimana bisa kamu bertemu dengan Jevan?”


“Saya pertama kali bertemu dengan Jevan di rumah sakit. Jevan menawarkan bantuan untuk membayar perawatan Ibu saya yang waktu itu harus dioperasi, asal saya mau-” Ara menggigit bibir bawahnya, bingung harus mengatakan apa kepada ibu Jevan.


“Mau apa?”


“Menjadi wanitanya,” kata Ara pelan sambil menunduk.


Ibu Jevan mendengus mendengar itu. “Lalu, kamu mau?”


Ara kembali menoleh ke arah ibu Jevan, sebelum kemudian dia memilih mengangguk.


“Saya butuh uang. Jadi, saya terpaksa melakukan itu. Maaf, Tante. Tapi, saya sama sekali tidak bermaksud untuk memanfaatkan Jevan. Saya hanya-”


“Kamu tidur dengan Jevan?” sela ibu Jevan.


“Eouh?” tanya Ara terkejut. Gadis itu tidak menyangka perempuan paruh baya di depannya ini bisa bertanya dengan begitu frontal seperti sekarang.


“Arana, jawab pertanyaan saya,” ujar ibu Jevan dengan tegas.


“I-iya,” jawab Ara pelan, sambil kembali menunduk.


Terdengar hembusan napas dari ibu Jevan, yang membuat Ara tidak berani mengangkat kepalanya. Wanita itu pasti mengira jika Ara adalah gadis tidak baik. Menghalalkan segala cara, aga bisa memperoleh uang. Seandainya saja, Ibunya tidak sakit, Ara juga tidak akan mau melakukan itu.


“Ikut saya!”


Ara kembali mendongak, saat ibu Jevan bersuara. Wanita itu bangkit dari duduknya, dan kembali berjalan masuk ke dalam rumah. Ara yang merasa heran, hanya bisa mengikutinya dari belakang.


Sudah?


Hanya seperti ini? Apakah benar pembicaraannya dengan ibu Jevan berakhir seperti ini?


“Jevan,” panggil sang ibu ketika dia sudah berada di ruang tamu.


“Ibu sudah bicara dengan Ara? Cepat sekali,” kata Jevan bingung.


“Ibu mau tanya sesuatu sama kamu.”


Jevan mengangguk. “Tanya apa?”


“Saat kamu melakukannya dengan Ara. Apa kamu pakai pengaman?”


Sontak saja hal itu membuat semuanya terkejut, kecuali ayah Jevan. Lelaki tua itu terkekeh pelan mendengar pertanyaan sang istri. Sarah berdeham canggung, dan mengalihkan pandangannya dari ibu Jevan, tapi sayangnya dia malah menatap ke arah Nicol yang menampilkan ekspresi menggoda di wajahnya. Sarah segera membuang muka mendengarnya.


Ara sendiri hanya bisa diam, dan menunduk untuk menutupi pipinya yang memerah. Jika saja di sini hanya ada dia, Jevan dan Ibunya. Maka, Ara pastikan dia tidak akan merasa semalu ini. Tapi, ini berbeda. Ada ayah Jevan, ada Nicol, dan ada Sarah. Bagaimana bisa ibu Jevan menanyakan hal privasi seperti itu?


“Je, kenapa diam aja?!” desak sang ibu lagi, ketika Jevan hanya diam karena terkejut.


Jevan berdeham pelan, dia melirik ke arah Ara yang tengah menunduk, sebelum kemudian menggeleng. Kenapa pembicaraan ini sungguh membuatnya merasa terpojoki.


“Kamu nggak pakai? Selama ini?” Kali ini giliran ibu Jevan yang terkejut. Wanita itu berjalan dan kembali duduk di samping sang suami. Dia meraih gelas minum, dan meminumnya rakus.


“Kamu dan Arana,” katanya setelah menghabiskan segelas minuman tadi. “Kalian berdua harus menikah. Secepatnya.”


“Apa?!” seru Jevan terkejut.


Sedangkan Ara juga tidak jauh berbeda. Gadis itu melotot kaget sambil memandang ke arah ibu Jevan.


“Kenapa? Kamu sudah sudah melakukannya! Kamu harus bertanggung jawab!. Mungkin saja calon penerus keluarga Smith, sudah ada di dalam perut dia. Ibu nggak mau cucu Ibu, terlahir di luar pernikahan. Jadi, kalian harus menikah secepatnya!!”


***


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-