
Dua hari berlalu setelah kejadian di mana ibu Jevan menyuruh lelaki itu untuk menikahi Ara. Gadis itu merasa sikap Jevan berubah. Lelaki itu terlihat marah, tapi kepada siapa?
Seperti pagi ini, Ara tengah menyiapkan sarapan bersama Mbok Ijah. Kemarin malam, Sarah dan Nicol sudah pulang ke rumah masing-masing. Jevan tidak menyuruh, tapi keduanya merasa keberadaan mereka sudah tidak diperlukan lagi.
Ara tengah menuangkan sirup dalam gelas, ketika Jevan turun dari tangga sambil mengenakan jas miliknya. Ara tersenyum tipis melihatnya. Lelaki itu terlihat tampan.
“Je,” panggil Ara ketika melihat Jevan hendak berjalan melewatinya begitu saja.
“Apa?” tanya Jevan sambil berhenti melangkah, tapi kini dia sudah meraih ponsel dalam saku celananya. Dia terlihat sangat sibuk.
“Aku udah siapain sarapan buat kamu. Kita sarapan bareng, yuk,” ajaknya.
Jevan menggeleng. “Aku nggak bisa. Ada meeting penting pagi ini. Aku harus buru-buru sampai di kantor.”
“Oh, kalau gitu aku bawain bekal aja, gimana?”
“Aku buru-buru, Ara.”
“Iya, cuman sebentar.”
“Kamu dengar aku nggak, sih? Aku buru-buru!”
Ara yang hendak membalikkan badan kembali ke arah dapur, terhenti dan termenung beberapa saat. Cukup terkejut mendengar sentakan yang Jevan berikan. Padahal, dia hanya ingin membawakan bekal untuk lelaki itu.
Sedangkan Jevan juga ikut terdiam melihat raut wajah gadis itu yang tampak terkejut. Dia mengembuskan napas pelan.
“Aku tadi bilang sama kamu. Aku buru-buru.” Kali ini lelaki itu memelankan suaranya.
Ara mengangguk, perlahan senyuman tipis tersungging di bibirnya. “Iya, nggak apa-apa. Nanti sampai sana, jangan lupa sarapan ya, Je.”
Jevan mengangguk, setelahnya tanpa berpamitan lagi, lelaki itu berlalu begitu saja meninggalkan Ara.
Gadis itu terdiam melihat kepergian Jevan. Sebenarnya ada apa dengan lelaki itu? Dia tampak berbeda dari sebelumnya. Kenapa? Apa Ara melakukan kesalahan, yang membuat Jevan marah? Tapi, apa? Ara merasa jika dirinya tidak melakukan kesalahan apa pun.
“Kamu kenapa, Je?” gumamnya pelan.
Sementara Jevan diam setelah dia berada di dalam mobil yang akan membawanya ke kantor. Tidak ada meeting pagi. Tidak ada yang perlu diributkan di kantor. Semuanya baik-baik saja.
Jevan hanya sedang tidak ingin bertatap muka dengan Ara terlalu lama. Dia marah. Tapi, entah dengan siapa?
Dia mengembuskan napas kasar. Ini semua karena ulah Ibunya. Karena pernikahan sialan itu. Bukannya Jevan tidak mau menikah dengan Ara. Tapi, jujur saja dia belum terpikirkan menikah dalam waktu dekat. Siapa pun wanita yang akan mendampinginya. Termasuk Ara.
***
Siang ini, Ara telah menyelesaikan masakannya. Rencananya dia akan mengantar makan siang ke kantor Jevan. Anggap saja ini sebagai permintaan maafnya. Entah untuk kesalahan yang mana. Tapi, Ara tetap akan melakukannya, karena Jevan terlihat marah.
“Mbok, ini tolong dimasukin ke wadah, ya. Aku mau siap-siap dulu,” kata Ara kepada Mbok Ijah yang membantunya sedari tadi.
“Iya, Mbak.”
Setelah mendapatkan jawaban dari Mbok Ijah, Ara segera berjalan ke arah kamarnya untuk berganti baju yang lebih pantas. Agar Jevan tidak akan malu saat Ara kunjungi nanti.
Di sinilah Ara berada sekarang. Berdiri di depan kantor Jevan sambil membawa wadah berisi makan siang untuk lelaki itu. Tadi, dia kemari menggunakan angkot.
Ara berjalan masuk, dan langsung menaiki lift. Sesampainya di lantai ruangan Jevan berada, Ara berjalan menghampiri Sarah yang masih berkutat dengan layar komputer di depannya.
“Mbak Sarah,” sapanya ramah.
“Memangnya kenapa, Mbak?” tanya Ara yang merasa heran melihat Sarah yang bertingkah terlalu berlebihan menurutnya.
“Itu, si Bapak dari pagi tadi ngomel-ngomel mulu. Kesalahan dikit aja, ngamuk. Bikin orang ikut darah tinggi juga,” dumelnya.
Ara menatap ke arah pintu ruangan Jevan yang tertutup. Sepertinya lelaki itu membawa amarahnya sampai di kantor. Tapi, apa penyebab sebenarnya?
“Ara, kok, diam?” tanya Sarah.
Ara kembali menatap ke arah Sarah sambil mengulum senyum. “Aku boleh masuk, Mbak?”
Sarah mengangguk dengan semangat. “Boleh, dong. Masuk aja.”
Setelah menggumamkan kata terima kasih. Ara segera berjalan ke depan pintu ruangan Jevan, mengetuk pelan, sebelum membukanya. Di sana, di tempat duduknya, Jevan tengah duduk sambil membelakangi pintu. Lelaki itu menghadap ke jendela besar di sana.
Kening Ara mengerut pelan. Katanya sibuk, tapi kelihatannya tidak begitu.
“Je,” panggil gadis itu pelan.
Jevan membalikkan badan dengan cepat. Lelaki itu terkejut melihat kedatangan Ara di ruangannya. Lelaki itu bangkit berdiri dari duduknya, dan berjalan ke arah Ara.
“Kamu ngapain ke sini?!”
Ara diam mendengarnya. Dari nada yang Jevan keluarkan, terdengar seperti lelaki itu tidak menginginkan keberadaannya di sini.
“Aku ngantar makan siang buat kamu,” katanya pelan.
Jevan mendengus mendengarnya. Dia melirik wadah yang masih dalam genggaman tangan Ara. Demi Tuhan, dia belum ingin melihat keberadaan gadis itu sekarang.
“Kamu pikir aku nggak mampu beli makan siang, sampai kamu harus antar makan siang ke kantorku?!”
“Ya?” Ara bertanya dengan bingung. Tentu saja bukan itu maksudnya. Uang yang Jevan miliki, lebih dari cukup untuk sekadar membeli makan siang. Tapi, dia hanya ingin membawakan lelaki itu masakannya. Apakah sesalah itu?
Jevan berdecak. “Kamu pulang, dan bawa balik makanan kamu. Aku bisa makan siang di luar!”
Ara diam. Jevan mengusirnya. Secara kasar. Ada apa dengan lelaki itu?
“Tapi, ini aku masak buat kamu. Jangan makan di luar, Je. Nanti-”
“Ara!” Jevan menyela dengan keras. “Aku bisa beli makan di luar. Kamu sekarang pulang aja.”
Ara masih diam. Dia menatap Jevan dengan terluka. Dia hanya ingin membawakan Jevan makan siang. Tapi, reaksi Jevan terlalu berlebihan.
Suara pintu terbuka, membuat Jevan menoleh ke arahnya. Sedangkan Ara masih diam sambil memandang wadah yang tengah dia genggam dengan erat.
Di sana ada Nicol yang berdiri dengan wajah marah, begitu pun dengan Sarah yang berdiri di belakang lelaki itu dengan wajah penasaran.
“Ra, pulang aja. Jevan kayaknya banyak pikiran, makanya agak nggak waras kayak sekarang,” ujarnya sambil menatap sinis ke arah Jevan, sedangkan Jevan sendiri mendengus sebal mendengarnya.
Ara mengangguk, dia menatap ke arah Jevan yang tengah menghindari tatapannya.
“Je, aku pulang sekarang. Jangan terlalu capek, ya. Kalau nggak ada waktu buat beli makan, makan masakan aku aja. Aku taruh di meja, ya.” Ara berucap sambil meletakkan wadahnya di meja kecil di sana.
Ara menatap ke arah Jevan yang masih enggan menatapnya. Dia tersenyum tipis. “Aku pulang.”
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-