Becoming Cinderella

Becoming Cinderella
C H A P T E R 21



Ara menoleh ke arah Jevan. “Je, kamu kenal Mbak Natasya?” tanya Ara sambil tersenyum senang ke arah Jevan. “Aku sama Mbak Natasya udah ketemu dua kali, Je,” ujarnya memberitahu.


Jevan masih diam dan memandang lurus ke arah Natasya yang juga tengah menatapnya dan Ara bergantian.


“Je,” panggil Ara lagi, kali ini sambil menggoyangkan lengan Jevan.


Jevan tersadar dan berdeham singkat. Dia menoleh kepada Ara yang masih menatapnya sambil tersenyum.


“Kita pulang,” ujar Jevan sambil menarik tangan Ara keluar restoran.


“Kenapa buru-buru, Je?” tanya Ara kesusahan menyamai langkahnya dengan langkah lebar milik Jevan. Apalagi, kini Ara mengenakan sepatu yang jarang dia pakai.


“Diam, Ara,” geram Jevan marah.


“Jevan!”


Ara menoleh ke belakang, Natasya juga tengah berjalan setengah berlari menuju ke arah mereka.


“Je, kayaknya Mbak Natasya lagi ngejar kita,” kata Ara.


Jevan hanya diam dengan rahang mengetat. Laki-laki itu tidak mengeluarkan suaranya sedikit pun, membuat Ara heran melihatnya.


“Jevan, tunggu!”


Ara menatap bingung kepada Natasya dan Jevan. Namun, dia tidak bisa berbuat banyak. Ara mana berani menghentikan Jevan?


“Jevan, stop!” Kali ini Natasya sudah berada di samping Jevan dan menghentikan lelaki itu dengan menarik lengannya.


Jevan diam dan mengempaskan tangan Natasya yang tengah menyentuhnya dengan kasar. Matanya menyorot tajam ke arah Natasya yang berdiri di sampingnya.


“Aku nggak disuka disentuh,” katanya.


Natasya mengangguk. “Oke, sekarang bisa kita bicara?” tanyanya sambil menatap ke arah Ara yang memandang mereka dengan bingung.


Jevan tidak menjawab, dia lebih dulu menoleh ke arah Ara. “Kamu pergi ke mobil lebih dulu. Tunggu aku di sana.”


Walau merasa heran dan sangat ingin tahu, Ara tetap mengangguk dan berjalan ke arah mobil Jevan. Untung saja sekarang mereka sudah berada di tempat parkir. Kalau tidak, mungkin saja Ara akan salah arah saat Jevan menyuruhnya pergi ke mobil lebih dulu.


Setelah memastikan Ara tidak dapat mendengar pembicaraannya dengan Natasya, Jevan menatap perempuan di depannya dengan tajam.


“Cepat, aku tidak punya waktu berlama-lama dengan kamu,” katanya sinis.


Walau merasa sakit hati mendengar perkataan Jevan, Natasya mencoba bersabar. Bukankah akhir-akhir ini dia memang sering mendengar perkataan yang lebih pedas dari ini? Lagi pula, sekarang bukan itu permasalahannya. Gadis bernama Ara yang pergi bersama Jevan. Siapa dia?


“Gadis tadi. Dia siapa?” tanya Natasya.


Jevan memandang Natasya tidak suka. “Kenapa kamu peduli? Itu bukan urusanmu!”


“Aku hanya ingin tahu. Apakah dia gadis yang menggantikan posisiku sekarang?”


Jevan menatap Natasya dengan sinis. “Memangnya kenapa kalau dia orangnya? Kamu merasa tersingkirkan sekarang? Ingat, Natasya, aku Jevan Smith. Aku tidak akan kehilangan arah, hanya gara-gara perempuan seperti kamu telah meninggalkan aku.” Setelahnya Jevan berbalik badan, berjalan ke arah mobilnya, meninggalkan Natasya yang masih terkejut di tempatnya.


Jevan masuk ke mobil dengan ekpresi marah. Ara yang tadinya hendak bertanya pun, mengurungkan niatnya karena takut lelaki itu akan melampiaskan amarahnya kepada dirinya.


“Jalan, kita pulang,” kata Jevan kepada sang sopir.


Tanpa banyak bantahan, sopir itu segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat parkir restoran itu.


Di sepanjang perjalanan, Ara sesekali mencuri pandang ke arah Jevan. Lelaki itu masih sama, rahangnya masih mengetat, tangannya juga terkepal dengan erat. Apakah hubungan Jevan dan Natasya tidak baik, sehingga Jevan harus semarah ini saat bertemu dengan perempuan itu?


“Ara,” panggil Jevan setelah beberapa menit mereka hanya diam.


“Iya,” jawab Ara sambil menoleh.


“Mbak Natasya?” tanya Ara memastikan.


“Dan aku nggak suka dengar kamu menyebut namanya,” ujar Jevan sambil memelotot kepada Ara.


Ara meringis. “Maaf,” gumamnya pelan.


“Siapa namanya dan bagaimana sikapnya ketika kalian bertemu, kamu harus lupakan itu. Anggap saja kalian berdua tidak saling mengenal. Kamu paham?”


Ara bisa apa selain mengangguk? Walau penasaran, Ara memilih bungkam. Jevan tampak tidak baik-baik saja sekarang.


***


Sementara di lain tempat, tepatnya di apartemen milik Nicol, Natasya tengah duduk dengan gelisah di sana. Dia tengah menunggu Nicol yang sedang berada di kamar mandi.


“Jadi, ada hal apa yang membuat lo sampai mau datang ke apartemen gue malam-malam gini?” tanya Nicol yang baru keluar dan berjalan ke arah kulkas untuk mengambil dua kaleng soda.


“Gue ketemu sama Jevan,” kata Natasya.


Nicol mengangguk. “Bagus, dong. Terus gimana?”


“Gue udah sempat ke rumah dia, ibunya ngundang gue buat datang ke rumahnya. Setelah gue di sana, kami liburan bareng ke Bali. Gue sama dia sempat berantem dan Jevan memutuskan buat pulang lebih dulu, dan akhirnya gue balik juga setelahnya,” jelasnya.


Nicol manggut-manggut. “Terus?”


“Malam ini, gue ada reuni SMA di salah satu restoran. Gue kebetulan ketemu Jevan di restoran yang sama, bareng cewek, namanya Ara.” Natasya mengamati wajah Nicol dengan teliti. Dia benar-benar ingin tahu siapa Ara, dan apa arti wanita itu bagi Jevan. “Gue yakin lo tahu siapa Ara. Iya kan, Nic?”


Nicol tidak langsung menjawab. Dia membuka kaleng soda dan meminumnya. “Kenapa lo nggak tanya sendiri ke Jevan?” tanya lelaki itu sambil memandang lurus kepada Natasya.


Natasya mengembuskan napas pelan. “Gue udah tanya. Jevan nggak kasih jawaban yang pasti. Dia nggak bilang siapa Ara.”


Nicol diam. Dia bingung harus menjawab bagaimana. Jika Jevan menjawab dengan tidak jelas, itu artinya lelaki itu belum ingin memberitahu siapa pun tentang siapa Ara baginya.


“Jujur aja, gue sebenarnya juga kurang yakin, apa hubungan Jevan dan Ara. Karena selama ini, semenjak gue kenal Ara, Jevan nggak pernah bilang dengan jelas siapa gadis itu,” kata Nicol jujur.


“Terus?” Natasya menatap Nicol ingin tahu.


“Yang gue tahu, Ara kerja sebagai OG di perusahaan Jevan, dan mereka emang lagi dekat.”


“OG?” ulang Natasya tidak percaya. “Office girl maksud lo?” tanyanya memastikan.


Nicol mengangguk. “Ya.”


Natasya menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. “Nggak mungkin Jevan mau sama cewek kayak gitu,” gumamnya pelan.


“Awalnya gue juga nggak percaya, sih. Tapi setelah gue lihat beberapa kejadian secara langsung, Jevan emang dekat sama Ara,” kata Nicol.


Natasya masih diam sambil memejamkan matanya. Dia masih tidak percaya Jevan mau bergaul dengan gadis seperti Ara.


 


 


Perempuan itu segera duduk dengan tegap, begitu mengingat masih ada satu pertanyaan yang belum dia lontarkan kepada Nicol. “Rumahnya Jevan sekarang di mana?”


 


 


-N O V E L T O O N O F F I C I A L-