
Sudah tiga hari sejak kepergian ibunya, tapi keadaan Ara belum juga membaik. Gadis itu masih sering termenung dan jarang berbicara. Dia masih suka menghabiskan waktunya di kamar, padahal Ara yang dulu sangat senang melakukan aktivitas.
Selama itu pula, Jevan tak pernah meninggalkan Ara dalam jangka waktu yang lama. Sebisa mungkin lelaki itu mencoba berada di sisi Ara. Seperti saat ini, Jevan tengah membujuk Ara agar gadis itu mau sarapan di meja makan bersamanya.
“Mbok udah masak soto ayam. Enak banget, tadi aku cobain sedikit. Kamu udah lama kan nggak makan soto? Makan, yuk.” Jevan berkata dengan lembut.
Namun, Ara tetap menggeleng. “Nanti aja.”
Jevan mengembuskan napas melihatnya. Akhirnya dia mengangguk, lalu pergi setelah menepuk pelan kepala Ara. “Aku makan dulu, ya. Habis makan, aku ke sini lagi.”
Jevan keluar kamar dan membiarkan Ara sendiri. Di meja makan, sudah ada Nicol dan Sarah yang terlihat meributkan sesuatu. Ya. Keduanya masih tinggal di rumah Jevan. Lagi-lagi Jevan yang meminta. Kalau di rumah ini hanya ada dirinya, rumah akan semakin terasa sepi, dan itu tidak baik untuk Ara.
“Ara masih belum mau turun, Pak?” tanya Sarah ketika Jevan duduk di depannya.
“Iya,” jawabnya mengangguk. Lelaki itu terlihat lesu. Mau sampai kapan Ara akan seperti ini? Gadis itu terlihat seperti kehilangan semangat hidup, dan Jevan tidak tahu bagaimana cara mengembalikannya seperti dulu.
“Kalau gitu, saya ambilin sarapannya Ara.” Sarah beranjak ke dapur.
Beberapa menit kemudian, Sarah sudah keluar sambil membawa nampan berisi makanan. Jevan hendak bangkit, tapi Nicol menahannya.
“Mau ngapain?” tanya Nicol.
“Bawain sarapan buat Ara,” jawab Jevan pelan. Dia hendak beranjak, tapi lagi-lagi Nicol menahannya.
“Duduk!”
Jevan berdecak. “Gue harus memastikan kalau Ara emang makan sarapannya.”
“Je, gue bilang duduk.” Nicol terlihat tidak ingin dibantah. “Lo kelihatan sakit. Banyak pikiran, dan tidur nggak teratur. Kalau lo mau jagain Ara, lo harus sehat. Karena bisa aja setelah Ara sembuh, lo malah yang sakit. Menghadapi Ara yang sekarang, butuh energi yang banyak, Je.” Nicol beralih memandang Sarah yang masih berdiri tidak jauh dari mereka. “Sar, kamu antar makanannya ke kamar Ara. Seenggaknya paksa dia makan walau cuman dua sampai tiga suap.”
Sarah mengangguk, dan segera berjalan menaiki tangga menuju kamar yang ditempati Ara. Jevan mengembuskan napasnya kasar. Yang dikatakan oleh Nicol memang benar. Dia sakit. Tubuhnya terasa lelah, tapi pikirannya jauh lebih lelah. Dia ingin Ara kembali seperti dulu.
“Makan,” ujar Nicol sambil mulai meraih piring dan mengisinya untuk sarapan Jevan. “Kurang baik apa gue sama lo? Udah kayak ibu lo gini, ngambilin makan, nasihatin lo. Kalau lo masih ngeselin aja, lo emang minta dihajar.”
Jevan mengabaikan perkataan Nicol dan mulai memakan makanan yang diambilkan oleh Nicol tadi.
Sementara Sarah, kini tengah membuka pintu kamar Ara dengan pelan. Ara menoleh ke arahnya. Sarah pun melemparkan senyuman lebarnya.
“Aku bawain sarapan buat kamu,” katanya sambil berjalan ke arah ranjang.
Ara masih diam, tapi pandangannya mengarah pada pintu yang sengaja dibuka oleh Sarah itu.
“Ara,” panggil Sarah kepada Ara yang masih memandang pintu itu dengan lama.
“Oh, kamu cari Pak Jevan, ya? Bapak lagi sarapan sama Pak Nicol di bawah.”
Mendengar itu, Ara beralih memandang Sarah yang tengah mengambilkan nasi untuknya.
“Kasihan tahu, Ra, si Bapak. Dia kelihatan capek banget. Dia juga kadang suka lupa makan, karena kamu juga nggak makan. Kadang juga sering melamun. Katanya, sih, bingung harus bagaimana lagi supaya kamu kembali kayak dulu. Pak Jevan kangen kamu yang dulu, Ra.”
Ara menunduk melihatnya. Dia juga ingin. Tapi, rasa sakit yang dia alami membuatnya membenci menjalani kehidupan.
“Maaf,” gumam Ara pelan, yang membuat Sarah menoleh ke arahnya dengan terkejut, tapi akhirnya gadis itu menggeleng sambil tersenyum manis.
“Nggak apa-apa, kok, Ra. Nggak usah minta maaf. Pak Jevan cuman mau kamu kembali kayak dulu. Ara yang selalu nggak apa-apa walau menghadapi masalah apa pun.”
Air mata Ara kembali jatuh. Sarah kelabakan sendiri melihatnya. Dia meletakkan nampan di meja kecil di sebelah ranjang, lalu buru-buru meraih Ara ke dalam pelukannya.
“Maaf, Ra. Aku nggak maksud bikin kamu nangis. Aku tahu, kok, ini berat buat kamu. Tapi, aku cuman mau kamu tahu, kalau kamu nggak sendiri, Arana. Ada Pak Jevan, ada aku, ada Pak Nicol. Kita semua di sini, Ara. Di samping kamu. Kita semua sayang sama kamu. Jadi, kamu nggak usah khawatir.”
Ara mengangguk dalam pelukan Sarah. Beberapa detik kemudian, Sarah melepas pelukannya.
“Makan, ya. Supaya Pak Jevan senang lihatnya. Kamu beberapa hari terakhir ini makannya cuman sesuap doang. Padahal masakannya Mbok Ijah enak-enak.”
Ara kembali mengangguk. Melihat itu, Sarah tersenyum senang. Dia meraih nampan, lalu menyuapi Ara dengan semangat. Jika Ara menghabiskan sarapannya, siapa tahu saja Jevan akan menaikkan gajinya. Gadis itu terkikik geli di dalam hati. Dia tulus membantu Ara selama ini. Sungguh. Namun, kalau Jevan memberikannya kenaikan gaji sebagai bonus, Sarah tidak akan menolak.
Beberapa menit kemudian, Sarah pamit keluar kamar dengan senyuman lebar. Ara memakan sarapannya setengah piring. Itu pasti akan membuat Jevan senang.
“Ara makan setengahnya, Pak,” jawab Sarah.
“Beneran?” Jevan berdiri dan berjalan ke arah Sarah, memeriksa bekas piring makan Ara. Senyum tipisnya ikut mengembang begitu melihat kebenarannya. Dia memandang Sarah sambil tersenyum. “Makasih, Sar.” Setelahnya, Jevan langsung berjalan ke arah kamar.
Jevan langsung membuka pintu kamarnya begitu dia sampai di sana. Dia melihat Ara yang tengah memandangnya dengan kedua mata memerah.
“Hei, ada apa? Kamu nangis?” tanyanya sambil berjalan mendekat setelah menutup pintu.
Ara hanya menggeleng dan berusaha menghapus air mata di pipinya. Ketika Jevan mendekat ke arahnya, Ara segera meraih tangan lelaki itu, menggenggamnya.
“Ada apa?” Jevan bertanya sambil berusaha menghapus air mata Ara.
“Maaf,” gumam Ara pelan.
Jevan menggeleng mendengarnya. “Maaf kenapa? Kamu nggak melakukan kesalahan, kan?”
Ara tetap menangis. “Aku udah buat kamu susah,” katanya pelan.
Jevan tersenyum tipis. Entah apa yang dilakukan dan dikatakan Sarah kepada gadis di depannya ini, tapi apa pun itu Jevan sangat bersyukur, karena Ara sudah mulai berbicara lebih dulu.
“Jangan bilang gitu. Aku nggak merasa dibuat susah sama kamu.”
Ara diam, dia menatap ke arah wajah Jevan. Lelaki itu memang tampak lelah, tapi dia masih berusaha tersenyum untuknya.
“Aku janji nggak akan sedih-sedih terus. Maafin aku, Je. Aku cuman takut membayangkan kalau aku udah nggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini.”
Jevan menggeleng. “Kamu punya aku. Aku akan selalu ada di samping kamu, Ara.”
Kali ini Ara mengangguk pelan. “Aku percaya. Kamu jangan sakit, kalau kamu sakit, aku gimana?”
Jevan terkekeh pelan. “Iya, kamu juga nggak boleh sakit-sakit lagi.”
Saat keduanya masih menikmati suasana, sambil saling melemparkan pandangan dengan senyuman, dering ponsel Jevan membuat lelaki itu meraih ponsel di saku celananya.
Untuk sesaat lelaki itu termenung, tapi dia kembali memandang Ara yang memandangnya.
“Sebentar, ya. Aku mau angkat telepon dulu.” Sebelum mendengar jawaban Ara, lelaki itu sudah keluar kamar lebih dulu.
Beberapa menit kemudian, Jevan kembali ke dalam kamar. Ara masih duduk di tempatnya tadi. Lelaki itu melangkah menghampiri gadis itu.
“Aku keluar sebentar, kamu nggak apa-apa?” tanyanya.
Ara mengangguk dan tersenyum. “Iya, nggak apa-apa.”
Jevan mengusap rambut Ara pelan, sebelum menjatuhkan kecupan ringan di sana. “Nanti aku suruh Sarah ke sini, kalau kamu masih nggak mau keluar,” katanya sebelum melangkah keluar kamar.
Jevan meraih kunci mobilnya, lalu berjalan menghampiri Nicol dan Sarah yang tengah duduk dan menonton televisi di ruang tengah.
“Sar, nanti lihatin Ara, ya. Saya mau keluar sebentar,” ujarnya.
“Ke mana?” tanya Nicol ingin tahu.
Jevan diam beberapa saat, sebelum akhirnya lelaki itu memilih berkata jujur. “Ketemu sama Natasya.”
Sarah yang sedari tadi tengah mengunyah buah, terdiam. Dia memandang Jevan penuh selidik.
“Buat apa?” Pertanyaan yang Nicol lontarkan, membuat Sarah mengangguk, dan menatap Jevan penuh tanya.
“Gue mau selesain semuanya. Jagain, Ara.” Setelahnya, Jevan berlalu dari kedua orang itu.
***
-N O V E L T O O N O F F I C I A L-